My Ex Husband

My Ex Husband
Kita beda?



...•••••...


Tok ... tok ..


"Sil, orang tuanya Balqis sudah tiba!" kata Bu Ningsih.


Tidak lama setelah ia mengetuk pintu kamar Sisil, pintu itu pun terbuka.


Klek!


"Kamu tidur yah? kok mata kamu sembab?" Ningsih bertanya.


"I-iya, aku ketiduran. Maklum dulu susah banget tidur siang bu!" jelas Sisil.


"Yasudah, ayok!"


Sisil mengangguk pelan, kemudian ia berjalan pelan di belakang sang ibu, dengan kepala menunduk, menghindari tatapan dari seseorang yang sangat Sisil kagumi.


Mobil Mazda CX-5 hitam milik David berhenti sempurna di halaman rumah sederhana milik kedua orang tua Sisil.


"Bu Anna beli mobil baru yah!?" Syaif berbinar, sungguh beberapa Minggu tidak melihat Anna, membuat perasaanya tak karuan.


Namun senyuman Syaif perlahan pudar, saat orang pertama yang turun dari mobil tersebut adalah seorang pria berperawakan tinggi, dengan pakaian serba hitam, siapa lagi kalau bukan David. Pria tampan dan mapan, sosok yang mungkin tidak akan pernah bisa iya tandingi.


Pria dengan kaca mata hitam itu berjalan memutari mobil, lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Kenapa harus di bukain sih! terus kacamatanya kenapa harus di pake lagi? mau tebar pesona sama siapa? Bu Ningsih, hem!?" Anna menggerutu.


David tersenyum singkat, lalu meraih tangan Anna untuk digenggamnya.


"Aku tau ada pria yang sedang tebar pesona padamu! aku harus terlihat lebih keren, agar dia tau diri ... siapa yang memiliki mu saat ini!" David berbisik.


Anna menoleh, pandangannya mendonga menatap wajah pria yang ia pasang dengan sangat serius.


"Selamat siang Neng, ... Den David?" Bu Ningsih menyambut.


"Jadi, dimana kalian memproduksi usaha Sambal milik istri saya!?" David berbicara dengan suara sedikit kencang.


Deg!


Istri! apa mereka sudah rujuk? pikir Syaif, dengan hati yang mulai begemuruh.


"Di dalam, silahkan masuk!" Ningsih mempersilahkan.


"Sil, kamu kenapa?" Anna bertanya saat melihat wajah gadis itu yang tampak sembab.


"Sisil baru bangun Bu, adek kemana? nggak ikut?" Sisil melihat kearah mobil.


"Nggak, lagi di ajak main sama Kakek, Nenek nya!" jawab Anna.


Sisil mengangguk, kemudian melangkah mengikuti Anna yang mulai berjalan masuk kedalam rumahnya.


"Sayang, aku rasa ini terlalu sempit!" David menoleh ke arah istrinya.


"Tidak, orang dapur Bu Ningsih luas gini!" sergah Anna, ia merasa tidak enak saat ibu dari Sisil itu menoleh kearahnya.


"Kamu yakin, sayang?" ucapnya kembali.


"Iya mas, .. bukalah kacamatanya!" cicit Anna.


"Tidak usah!" sahut David, lalu berjalan terlebih dulu untuk melihat-lihat.


Anna melangkah ke sisi lain, melihat Ratmi yang sedang sibuk menghaluskan tomat dan cabai.


"Gimana? enakan disini atau di rumah saya!?"


Ratmi tersenyum.


"Dapurnya luasan disini Bu, kalo di rumah ibu terlalu kecil untuk produksi sambal sebanyak ini!" Ratmi tersenyum.


"Baiklah, kerja dengan semangat yah! walau saya nggak mantau kalian!"


Ratmi mengangguk, lalu Anna beranjak kearah Syaif, Anis dan Faiqa yang masih sibuk mengupas bawang.


"Oh iya ... saya lupa bawa tomples nya If! kamu ambil kerumah yah, sekalian bawa mobil saya dan simpan disini." kata Anna.


Namun pria yang Anna ajak bicara hanya diam, dengan mata yang terus memandangnya.


"Ehem .. sayang! ayok pulang .. kasian putri kita." David mulai kesal, apalagi saat matanya terus memperhatikan tingkah Syaif.


"Nanti dulu!"


"Tidak ada penolakan, aku harus mengantar mu pulang. Setelah itu aku harus berangkat ke kantor!"


"Iya iya ... kalau begitu Sisil jadi partner kamu ya If, kamu chek data .. Sisil pegang uang, dia gantiin saya." kata Anna.


"Sayang ayok pulang!" lagi-lagi pria itu memanggil.


"Iyas mas .. iya! tunggu saja di mobil."


Terlihat Anna langsung membuka tas kecilnya, lalu merogoh sesuatu dan ia berikan kepada Sisil.


"Ini kunci rumah, ini kunci mobil. Mulai sekarang kamu yang pegang, dan saya percayakan semuanya ke kamu .. ingat Sil! kamu gantiin saya sekarang!"


Sisil mengangguk, lalu tersenyum samar ke arah Anna.


"Sayang cepatlah!" David kembali berteriak.


"Ish ... iya! sabar sedikit kenapa sih?"


"Sekarang ambil barang-barang di rumah sana, ambil mobil dan simpan untuk transportasi kalian." Anna menatap Sisil dan Syaif bergantian.


"Kalian, Faiqa .. Anis! kerjaan kalian tetap sama, bungkusin barang yang sudah siap kirim."


"Siap Bu!" jawab Anis dan Faiqa bersamaan.


"Bu Ningsih, saya pamit. Kalau ada apa-apa telfon saya saja yah!"


Wanita paruh baya itu mengangguk.


Dengan cepat Anna berjalan kearah suaminya berdiri, yang sedang menyandarkan punggungnya di mobil hitam miliknya.


"Senang sekali kau berlama-lama disana! apa karena anak ingusan itu?" David berbisik penuh penekanan.


"Apaan sih, orang aku lagi ngasih kerjaan sama mereka." Anna memutar bola matanya.


Namun pria itu tidak percaya, dia melepaskan kacamata hitamnya, dan menatap Anna tajam.


"Masuk!" titah David kembapa Anna.


"Iya mas .. iya!" Anna meraih handle pintu mobilnya, lalu masuk terlebih dulu.


Setelah mereka masuk, mobil itu terlihat mundur perlahan, lalu melaju dengan kecepan sedang meninggalkan pekarangan rumah milik kedua orang tua Sisil.


...•••••...


Di rumah Anna.


Sisil terlihat sibuk, merapihkan semua kardus berisi toples berukuran sedang, yang selalu di jadikan wadah berbagai macam sambal yang Anna jual.


Dengan sangat hati-hati Sisil membawanya ke arah luar, lalu menyusun di dalam bagasi mobil putih yang kini sudah Anna serahkan kepada dirinya bersama Syaif.


"Bang, di dalam ada dua dus toples berukuran besar, boleh bantuin nggak? agak berat soalnya?" Sisil berbicara kepada pria yang sedang duduk melamun di kursi teras.


Pria itu mendonga menatap Sisil yang sedang berdiri.


"Nggak bisa ngerjain sendiri emang?" raut wajahnya sedikit tidak enak di pandang.


Sisil menggelengkan kepala.


"Yang kecil-kecil udah aku masukin semua, tinggal yang ukuran agak besar, aku nggak bisa .. berat soalnya." jelas Sisil, gadis itu sedikit canggung.


"Ck!" Syaif bedecak sebal, lalu mendengus dengan mata yang juga ikut mendelik.


"Nggak tau apa? gue tuh lagi nggak enak hati, lu gimana sih! ngerjain gini doang nggak becus!" cecar Syaif sambil terus berjalan ke arah dalam.


Sisil yang mendengar perkataan Syaif pun hanya diam, merasa tidak percaya dengan sikap pria itu yang berubah seketika.


Sisil duduk, menunggu Syaif datang. Namun pria itu tak kunjung kembali setelah beberapa menit masuk kedalam sana.


"Bang Syaif, ayok! udah siang." Sisil berteriak.


"Bang?!" Sisil menyembulkan kepalnya ke arah dalam.


Suasan hening, lalu Sisil memutuskan untuk kembali. Dan disanalah Syaif, duduk dengan kedua tangan yang meremat rambut didalam ruang kerja Anna.


"Bang, kita di tungguin lho!" Sisil berkata pelan, dia berdiri di ambang pintu.


Pria itu masih diam, dengan posisi yang sama.


"Aku tau ini sulit, mungkin bang Syaif udah berharap banyak tentang kedekatan kalian, tapi Bu Anna memang begitu, dia ramah kepada siapapun, bukan berarti ada rasa atau ...


"Bisa diem nggak sih? lu berisik banget anjir ... baru di angkat jadi admin aja udah belagu! yang harusnya ada di posisi lu itu Faiqa atau Anis, lu nggak pantes .. modal ngurus bayi lama kok kepedean jadi admin. Mikir Sil, mikir! lu nggak pantes ada di posisi sekarang, lu cuma Babysitter."


Syaif mencecar, lalu pergi setelah memaki Sisil ke arah luar hingga menabrak bahu gadis itu cukup kencang.


Hatinya terasa sakit, dadanya sesak, saat pria itu mencecarnya dengan perkataan kuran enak di dengar.


Sisil berjalan perlahan, saat melihat Syaif keluar memangku beberap dus kearah mobil.


"Nggak usah baper! lu boleh marah kalo yang gua omongin itu nggak bener." kata Syaif.


Sisil diam.


"Gua ngomong fakta, jadi terimain aja! sama lu nggak usah kepedean sama gua, inget ... kita beda." katanya lagi lalu masuk kedalam mobil.


Sementara Sisil terus diam, berusaha menahan air mata yang sudah berkumpul di sudut mata.


"Cepetan!" Syaif memanggil.


"I-iya," Sisil pun segera beranjak dan masuk kedalam mobil.


...•••••...


Jangan lupa, budayakan like dan komen setelah baca ya guys!


Klik favorite biar novel ini muncul kepermukaan.


~ Sayang kalian semua, terimakasih atas dukungannya, selamat malam, selamat bobo~