My Ex Husband

My Ex Husband
Bibit unggul.



...•••••...


Akhirnya, setelah mengalami drama pagi hari yang cukup membuat keduanya pusing, Anna dan David pun kembali ke rumah dimana putri mereka mungkin sedang menunggu.


Dan benar saja, baru beberapa detik mobilnya terhenti. Balqis sudah tampak berlari, di ikuti Rosa yang berjalan di belakangnya sambil tersenyum.


"Papah!" gadis kecil itu berteriak, lalu memeluk pinggang David erat.


Balqis mendonga, sementara David menundukan kepala.


"Kok aku nggak di ajak, padahal kerumahnya teteh Sisil kan??" Balqis cemberut.


"Oh itu ... tetehnya sakit, jadi Balqis nggak boleh nengok dulu!" kata Anna, prempuan itu berdiri tepat di samping suaminya.


Balqis menoleh, menatap Anna penuh tanya.


"Sakit?" ucapnya lalu Balqis menatap wajah kedua orang tuanya bergantian.


David mengangguk, lalu membawa Balqis kedalam pangkuannya, dan segera berjalan masuk terlebih dulu, meninggalkan Anna dan ibunya Rosa.


"Bagaimana? apa masalahnya serius?!" Rosa berbisik.


"Ini cukup rumit Bu, mereka saling menyalahkan dirinya sendiri. Terutama pegawai Anna, sama ayahnya Sisil."


Rosa menjengit.


"Kenapa pegawainya?" Rosa bingung.


"Dia menyalahkan diri dia sendiri karena telah membuat Sisil merasa tidak nyaman bekerja bersamanya, sampai Sisil berbohong dan tetap berangkat kemari, dan kejadian tragis itu terjadi saat malam tadi, dimana Sisil dan Alvaro kami biarkan untuk bersama." jelas Anna.


"Alvaro?"


Anna mengangguk.


"Jadi, ... kejadian sebenarnya itu seperti apa Ann, ibu bingung!"


"Alvaro melakukan hal yang tidak pantas Bu, dia merenggut mahkota Sisil. Dan mungkin, ini kesalahan aku dan Mas David karena meninggalkan mereka berdua waktu itu ... ah aku menyesal!" katanya sambil terus berjalan.


"Asal Alvaro mau bertanggung jawab, itu sudah lebih baik Ann. Kadang tuhan mempunyai cara sendiri untuk menyatukan hambanya!" Rosa mengusap punggung Anna.


"Walau Sisil sempat tidak mau, tapi akhirnya pernikahan itu berjalan lancar, setelah orang tua Alvaro meyakinkan."


"Sisil menolak Al?" Rosa terkekeh. "Padahal Alvaro termasuk golongan pria tampan yah, dan sedikit mapan." sambungnya kembali.


"Karena dia masih mempunya harapan kepada cinta pertamanya Bu,"


"Siapa?"


"Syaif, tapi mungkin setelah ini tidak. Karena Sisil sudah ia buat sakit hati." jelas Anna kepada Rosa, wanita yang masih menatap Anna bingung.


...~flashback~...


"Ayoklah temui Al sebentar, ibu tau ini sulit. Setidaknya mereka ada itikad baik atas apa yang anaknya perbuat." Ningsing terus berbicara, berusaha membuat putrinya yakin dan bersedia keluar kamar untuk menemui kedua orang tua Alvaro yang baru saja tiba.


Sisil diam, dia menatap sang ibu lekat dengan wajah sembabnya. Pernikahan impian, gaun dan dekorasi yang indah, diiringi alunan Saxophone, bersanding bersama seorang pria yang sangat ia cintai. Kini hanya tinggal mimpi, nyatanya mereka datang dengan niat yang sangat baik, menikah kan Sisil dengan putranya, meski mereka tidak saling mengenal dekat, lalu bagaimana dengan cinta? sebuah dasar dari hubungan keduanya.


"Setidaknya bayimu akan mempunyai ayah, jika itu terjadi." Ningsih meraih tangan Sisil, menggenggamnya erat.


Deg!


Bayi? apa aku akan mempunyai bayi?


"Ibu mohon jangan seperti ini, ibu tau ini sulit ... tapi akan lebih sulit jika kamu tidak mau menerima niat baik mereka." Wanita itu berkata lirih, dengan satu tetes air mata yang mulai membasahi pipi.


"Bagaimana bisa, aku hidup bersama dengan pria yang tidak Sisil cintai Bu, begitupun sebaliknya!"


"Apa Syaif masih menempati posisi itu?" Ningsih bertanya, dan langsung di jawab anggukan oleh Sisil.


"Yasudah, ibu akan menolak niat baik mereka." Ningsih hampir bangkit, namun Sisil menahannya.


"Ibu tidak akan memaksa, jika ini keputusan kamu, ibu akan menghargainya."


Sisil menggelengkan kepala, lalu dia bangkit.


"Aku tidak akan membuat bapak dan ibu malu." katanya lalu berjalan keluar kamar dengan kedua tangan yang saling menggenggam.


...~Flashback off~...


"Kalau begitu Anna ke kamar dulu ya Bu," pamit Anna kepada ibu mertuanya.


"Belum, nanti kalo mau kita ambil sendiri aja Bu," kata Anna lagi yang langsung di jawab anggukan oleh Rosa.


Anna berjalan kearah pintu kamarnya yang sudah tertutup, meraih handle pintu dan menekannya perlahan.


Suara tawa putri kecilnya menggema di dalam ruangan sana, bersahutan dengan suara David.


"Mamaa ... Papa nakal!" anak itu merengek, namun terus tertawa saat David menggelitik nya.


Prempuan itu berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang, memperhatikan keduanya dengan raut wajah berbinar.


Mereka sangat menggemaskan! pikir Anna.


David menghentikan aksinya, kemudian beralih kepada Anna, dia memeluk perut istrinya erat, seraya meletakan kepalanya di atas pangkuan Anna.


"Ish Papa ... itukan Mamanya Aqis!" Balqis memukul bahu David kencang, lalu ikut memeluk Anna erat.


"Diam dulu, Papa mau bicara sama Adek bayi!" ucap David lalu mencium perut Anna beberapa kali.


Pandangan Anna tertunduk, lalu mengusap kepala David perlahan, saat pria itu terus menghujani perutnya dengan ciuman.


"Emang ada adeknya?" Balqis menatap Anna, gadis kecil terlihat berbinar.


"Mama nggak tau!"


"Papah ... ada dedenya emang!?" Balqis ikut berbaring telungkup di samping sang ayah seraya menatap perut Anna.


"Ada, kita lihat saja bulan depan!" ucap David, dia menatap Anna.


"Jangan terlalu berharap Papa, nanti kecewa lho ... kita mau dapat Balqis aja nunggu dua bulan dulu!" Anna tersenyum.


"Tapi entah kenapa aku yakin, dia sudah ada disini ... kau tahu? benih yang ku tanam sekarang adalah bibit unggul!" pria itu terkekeh.


"Memangnya Balqis bukan bibit unggul?!" Anna tertawa kencang, Samapi kepalanya ikut mendonga dengan mata terpejam.


"Unggul, hanya saja dia tumbuh terlalu lama!" David ikut tertawa.


"Yayaya, aku tau." Anna mengamini.


"Lho!" David terkejut.


"Apa?" Anna menjengit saat melihat raut wajah suaminya.


"Kaka tidur." David menatap Anna, kemudian kembali menatap Balqis yang sudah terlelap dengan posisi tengkurap.


"Kaka?"


"Iya, Kaka Balqis ... karena adiknya akan segera hadir."


"Kamu sangat yakin." Anna berujar.


"Feeling ku kuat sayang, sekarang kau sedang mengandung. Hanya saja kau tidak menyadarinya!"


"Tidak mungkin secepat itu Mas!" sergah Anna lagi.


"Sudah ku bilang, bibit ku sayang satu ini unggul. Kamu tau karena apa?"


"Apa?" Anna tersenyum.


"Karena lima tahun aku menyimpannya." David tergelak.


"Baiklah, sana siap-siap. Kamu haru ke kantor bukan?" Anna ikut tertawa.


"Ini sudah sore, hari ini aku benar-benar meninggalkan banyak pekerjaan."


"Ada beberapa karyawan, mungkin mereka bisa mengatasinya." Anna berseru.


David menggelengkan kepala.


"Mereka sibuk di bidangnya masing-masing lho sayang, mana bisa mencampuri pekerjaan ku!"


"Ehhmmm ... kalau begitu awas! aku mau tidur sore, ngantuk." prempuan itu menepuk-nepuk pelan bahu David, agar pria itu bangkit dari pangkuannya.


David menganggukan kepala, lalu ia ikut berbaring di samping Balqis, kemudian mereka tidur bersama sore hari ini.


...•••••...


Vote nya dong!!! : )