My Ex Husband

My Ex Husband
Renjana



“Ke Honduras?”


“Iya Haleth. Aku, Carl, dan beberapa rekan yang lain harus berangkat ke Honduras hari ini.”


Belum lepas atensinya dari Adam, Haleth lantas kernyitkan keningnya. “Berapa hari?” 


“Hanya 3 hari. Tapi semoga saja pekerjaanku selesai lebih cepat, jadi aku bisa pulang lebih awal.” setelah mematikan mesin mobil, Adam lantas melepas seatbelt untuk berikan ciuman pada Haleth. 


“Bawa saja mobilnya. Carl menjemputku.” ujar Adam. Pria itu lantas pergi meninggalkan Haleth usai berpamitan. Haleth pun juga bisa melihat, sosok asisten Adam bernama lengkap Carlioz Aston itu sudah menunggunya di tempat tak jauh dimana mobil yang Haleth kendarai terparkir.


Setelah Adam benar-benar pergi, baru Haleth keluar dan bergegas memasuki lift. Mengingat dirinya sendiri di dalam lift tersebut, Haleth pun buru-buru menuju ruangannya begitu lift terbuka. 


Di tengah perjalanan menuju ruangan, Seseorang menghentikan langkah Haleth. Rekan kerjanya, Sarah, berlari kecil menghampiri sosok Haleth usai memanggilnya. 


“Hei, Sarah. Ada apa?” Tanya Haleth.


“Oh, hanya memberitahumu, apa kau hari ini ada janji dengan pasien?”


“Iya. Tapi seingatku nanti siang. Kenapa memangnya?”


“Ah, aku pikir pagi ini kau ada janji dengan pasien. Karena seingatku juga, hari ini jadwalmu bertemu pasien dimulai dari selesai jam makan siang. Soalnya,” Sarah menolehkan kepalanya ke ada dimana ruangan Haleth berada. Refleks saja Haleth juga mengikuti arah pandang rekan kerjanya tersebut. “Ada wanita yang sedang menunggumu. Aku tidak tau siapa, tapi aku ingat wanita itu kemarin ada janji dengan Dokter Mora.” sambungnya kembali memandang Haleth.


Haleth mengernyitkan keningnya, coba amati lamat-lamat siapa sosok yang Sarah sebut itu. Karena jarak ruangannya yang cukup jauh, Haleth pun memutuskan untuk menghampirinya saja. Usai mengucapkan terima kasih pada Sarah, wanita itu melangkah agak cepat. Suara derap langkahnya bahkan sampai menggema di lorong yang tidak terlalu ramai itu. 


Semakin dekat, semakin jelas sosok yang katanya tengah menunggu kehadiran Haleth. Wanita itu hentikan langkahnya dengan jarak satu meter dari letak ruangannya. Ada rasa terkejut saat Haleth mengetahui, siapa orang yang menunggunya itu.


“Iris? Sedang apa?”


Wanita itu, Iris berdiri dari duduknya dan menghampiri Haleth. “Aku sudah menunggu daritadi tahu? Mereka bilang, kamu hari ini berangkat pagi.”


“Ya, aku berangkat pagi kan?”


“Tapi agak terlambat. Aku mau mengajakmu breakfast.”


Kening Haleth lagi-lagi mengernyit. “Kau datang kemari pagi-pagi hanya ingin mengajakku pergi sarapan?” Tanya wanita itu tak habis pikir. 


“Ng, yeah? Any problem with that?”


“Of course not. But, you know, Aku tidak pernah melewatkan sarapan bersama anakku. Jadi, ya, aku sudah sarapan.”


“What a pity,” jawaban Haleth tampak mengecewakan bagi Iris. “Padahal aku sudah bersemangat sekali untuk mengajakmu pergi sarapan bersama.”


“Ng, sorry?”


“Then how about lunch?” tak disangka, Haleth pikir Iris akan pergi, ternyata memberinya penawaran kedua. 


Tersenyum canggung, Haleth memandang Iris dengan heran. “Lunch?”


“Yeah? Kau tidak sibuk kan saat jam makan siang?”


Iris tampak benar-benar berharap Haleth menyetujui ajakannya. Pun dengan Haleth yang sedari tadi berpikir, tidak mungkin seorang Iris yang biasanya teramat sibuk bekerja, membuang-buang waktunya untuk menemui Haleth pagi-pagi begini hanya untuk mengajak sarapan. Haleth tahu, pasti ada hal yang ingin Iris bicarakan dengannya. Meskipun Haleth bisa menebak itu perihal masa lalu, tetapi Haleth juga kasihan jika harus menolak tawaran Iris yang penuh effort tersebut. Karena tak ingin melihat Iris memohon padanya, atau bahkan memberikan penawaran lainnya, maka Haleth pun mengiyakan. 


Haleth menyetujui ajakan Iris, meski sedikit merasa tak nyaman.


“Kalau tidak keberatan, cari saja restoran yang dekat dengan rumah sakit. Aku ada janji dengan pasien setelah jam makan siang.” Pesan Haleth.


“Okay. Itu bisa diatur.” Iris melebarkan senyumnya, kemudian meraih handbag miliknya yang tergeletak di kursi tunggu. 


“Kalau begitu, sampai jumpa siang nanti ya.”


“Iya, okay. Sampai jumpa. Hati-hati di jalan, Iris!” Haleth membalas dengan lambaian tangan yang mengantar perginya Iris. 


...***...


Adam melepaskan jas yang ia kenakan begitu sampai di lapangan terbang. Menyerahkannya pada Carl, pria tinggi bertubuh atletis itu lantas menyingsingkan kedua lengan kemejanya, dan melangkah mendahului Carl.


Tak jauh di depan sana, sebuah pesawat jet terparkir. Denging mesinnya pun tak terelakkan menusuk gendang telinga. Namun Adam abaikan hal tersebut, dan menaiki anak tangga selangkah demi selangkah sebelum akhirnya masuk ke dalam pesawat.


“Silahkan Bos.” 


“Bagaimana dengan Noah di Honduras?” Adam mengawali pembicaraan setelah duduk dan memasang sabuk keselamatannya.


Carl, menyusul di samping Adam lantas memperlihatkan sebuah gambar di ponselnya pada pria tersebut. “Ini Bos. Noah berhasil mengetahui markas yang menyembunyikan Lowell dan beberapa tawanan yang akan dijadikan wanita bayaran.” terang Carl.


“Yang kau bilang, prostitusi yang melibatkan anak dibawah umur, mereka rata-rata umur berapa?”


Carl menyimpan ponselnya guna menatap sang Bos yang tampak dipenuhi tanda tanya. 


“Bos, kau pasti tidak akan percaya ini.” Sebelah alis Adam terangkat dengan spontan. Tentu Carl paham, bahwa Bos nya ini penasarannya sudah berada di titik teratas.


”Katakan saja padaku.”


“Orang sinting itu, eksekusi saja begitu kita menemukannya.”


“Baik Bos. Tapi Bos,” Adam yang semula hendak menyalakan ponsel, menjadi urung saat Carl terdengar belum menyelesaikan kalimatnya.


“Apa?”


“Sebaiknya, Nona Tasha terus berada dalam pengawasan. Terlebih lagi, Bos sedang tidak ada di samping Nona Tasha."


Refleks saja Adam mendengus. Seringai tipis yang tampak licik tercetak dengan jelas di bibir pria tersebut.


"Lowell, sama saja menggali liang kuburnya sendiri jika berani-beraninya menyentuh putriku."


...***...


Ponsel yang tergeletak di dekat tangan Haleth tiba-tiba saja berbunyi. Itu alarm, menandakan sudah jam makan siang dan harusnya Haleth menjemput Tasha terlebih dahulu. Tetapi mengingat ia ada janji dengan Iris, Haleth pun mau tak mau mengabari Emery, dan meminta tolong pada sang Ibu.


Alarm dengan segera Haleth matikan. Ia menutup laptopnya, memasukkan beberapa barang yang sekiranya perlu dibawa ke dalam handbag, lalu mengganti coat nya. Begitu preparation nya selesai, Haleth pun segera melangkah keluar, dan memasuki lift menuju lobby.


Disela menunggu lift yang membawa Haleth ke lobby sampai, wanita itu sesekali melihat ponselnya yang menyala beberapa kali. Ada pesan masuk, dan itu dari Iris. Sangat dipertanyakan, bagaimana bisa Iris mendapatkan nomor ponselnya.


Isi pesan itu berisi tentang restoran mana yang Iris reservasi. Setelah membalas pesan tersebut, Haleth bergegas menghampiri Uber yang sudah menunggu di depan gedung rumah sakit.


Jarak tempuh dari rumah sakit menuju restoran yang Iris pilih tak lebih dari 10 menit. Cukup dekat, seperti apa yang Haleth pesankan pada Iris pagi tadi. Restorannya tak terlalu privat dan cukup fancy. Benar-benar berbeda dari apa Haleth kira. Haleth pikir Iris akan memilih restoran yang privat mengingat dirinya adalah seorang publik figur. Namun ternyata jauh dari perkiraan. Bahkan Haleth bisa melihat beberapa wartawan berkumpul di depan restoran tersebut, membuat Haleth maju mundur ketika hendak masuk ke dalam.


Tetapi melihat Iris yang sudah melambai-lambaikan tangan kearahnya, Haleth pun kemudian masuk. Haleth diantar oleh resepsionis ke meja Iris, lantas duduk berhadapan dengan wanita berambut pirang itu.


"Sorry, I'm late."


"No you're not. Aku juga baru saja sampai." balas Iris.


Tak lama setelah itu seorang waitress datang memberi buku menu pada Iris dan Haleth. Beberapa waktu mereka memilih, dan akhirnya memutuskan memesan menu yang sama. Waitress pun lantas segera pergi meninggalkan kedua wanita itu usai mencatat pesanan mereka.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu?" Iris mengawali obrolan selagi menunggu makan siang datang.


"Very well, I guess. How about you?"


"Aku? Ya, jika dibilang lebih dari kata baik. Karena, akhirnya aku bisa kembali keliling dunia setelah 4 tahun berdiam diri di Taiwan. Aku sudah seperti tawanan Negara." Iris mendengus.


"Selama itu? Memang alasannya apa?"


"Skandal itu,"


Haleth sempat berhenti bernafas selama 5 detik lamanya lantaran detak jantungnya yang tiba-tiba cepat. Bibirnya terkatup rapat, dan menunggu Iris melanjutkan ucapannya.


"Adam memblokir akses ku ke manapun. Jadi, aku hanya bisa melakukan aktivitas ku di Taiwan saja. Selain itu, Adam tidak ingin skandal itu semakin meluas. Jadi dia memenjarakan ku di Taiwan selama 4 tahun, kurang ajar."


Benar kan perkiraan Haleth. Iris, pasti akan menyinggung masa lalu itu lagi.


Tetapi Haleth tetap dengan wajah tanpa ekspresinya. Tak ingin bereaksi berlebihan, karena itu pasti akan menyulut gejolak Iris untuk semakin membahas yang sudah berlalu itu.


"Bukannya, memang sudah meluas. Mau bersembunyi atau lari kemanapun, skandal itu tetap berada di barisan paling atas, kan?" balas Haleth dengan suara tenang.


"Tapi, beberapa bulan setelah Adam membuang ku ke Taiwan, berita itu redup kok. Jadi, skandal itu tidak bertahan lama dan tertimbun oleh skandal yang baru."


"Ah, begitu,"


"Tapi berbicara tentang Adam, aku dengar-dengar hubungan kalian membaik lagi ya?"


Haleth terkekeh kecil. "Dengar dari mana itu?" tanyanya.


"Adam." seketika kembali datar sosok Haleth. Kalau sudah dari Adam sendiri informasinya, mau bagaimana Haleth mengelak?


"Jadi, apa kalian ada rencana mau rujuk? Atau hanya sekedar hubungan tak berstatus seperti ini?"


Haleth menggelengkan kepalanya. "Itu, hal yang belum bisa ku jawab untuk sekarang Iris. Lagipula, apa yang Adam katakan padamu belum tentu benar."


"Belum tentu benar bagaimana? Adam selalu bercerita tentangmu padaku jika kau ingin tau. Sampai-sampai aku muak dan pernah memarahinya agar mengajakmu rujuk saja. Gila! Dipikir aku ini pakar cinta apa?!"


Haleth tak menyahut ucapan Iris, hanya jatuhkan atensi yang tak terjeda pada wanita tersebut. Lagipula, Haleth juga bingung harus menjawab apa. Semakin ia mengelak, Haleth yakin Iris akan semakin membongkar kebohongannya.


"Tapi jangan tersinggung ya, Haleth. Meskipun Adam selalu bercerita tentangmu padaku, aku hanya sekedar mendengarkan dan selebihnya memaki. Jadi, jangan khawatir. Aku, tidak akan merebutnya lagi darimu."


Merebut. Iya, wanita di hadapannya ini, Iris, pernah merebut seseorang yang begitu berarti bagi Haleth dulu. Sangat diherankan, mengapa kini Haleth sudi berada di satu meja dengan Iris. Entah karena Haleth yang sudah berdamai dengan diri sendiri, atau justru kian mewaspadai kehadiran wanita itu lagi. Haleth pun bahkan tidak tau alasan jelasnya.


Tapi ada satu hal yang kini masih berputar di pikiran Ibu anak satu itu. Apakah Haleth, sudah memaafkan sosok Iris?


"Haleth? Masalah di masa lalu itu memang salahku dan Adam. Aku tau kau pasti sudah memaafkan Adam. Lancang memang aku bertanya. Tapi, apa kau mau memaafkan ku?"