
...•••••...
Tok ... tok ...
"Bapak, ... ibu ... ini Sisil tolong buka pintunya!" suara Sisil terdengar parau.
Ningsih mulai mengerjap, saat suara Sisil terdengar samar terus memanggil dirinya.
Dia bangkit, duduk di tepi ranjang lalu menyentuh Irwan, menepuk bahu Irwan perlahan agar membuat suaminya itu terbangun.
"Pak, bangun! ibu denger suara Sisil!" wanita itu terus menggoyangkan tubuh Irwan.
"Jam berapa ini?" pria itu bangun.
"Hampir jam tiga, makanya ibu bangunin bapak takutnya bukan Sisil beneran."
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, ayok cepat. Kasian Sisil kalo nungguin lama di luar!" Irwan segera beranjak.
Tok .. tok .. tok ..
"Bapak? tolong bukain pintunya!"
Deg!
Ningsih meraih pergelangan tangan suaminya, saat suara rintihan prempuan mulai terdengar jelas.
"Bapak yakin itu Sisil!?" wanita paruh baya itu berbisik.
"Makanya kita lihat dulu!" kata Irwa.
Dia berjalan ke arah samping, membuka sedikit gorden untuk melihat kearah luar. Dan benar saja, Sisil tampak berjongkok memeluk lututnya erat menghadap pintu rumah.
"Putri ku!" cicit Irwan, dia panik dan segera membuka pintu rumahnya.
Klek!
Irwan membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Irwan terkejut, saat Sisil langsung bersimpuh dihadapannya.
Dia menangis tersedu-sedu, bahkan suaranya terdengar sedikit serak.
"Kamu kenapa nak?" Irwan meraih bahu Sisil, lalu mengangkatnya.
"Sisil? apa terjadi sesuatu?" Ningsih mulai terlihat panik.
Sisil tidak menjawab, gadis itu hanya menangis sampai tersedu-sedu.
"Ibu buatkan minum dulu!" Ningsih berlari kearah dapur.
Irwan merangkul putrinya, membawa dia duduk di kursi rotan tengah rumah, lalu menyalakan lampu.
Hoodie hitam kedodoran, juga jogers pants yang terlihat sangat besar. Sekilas tidak ada yang aneh, selain menunduk dan Sisil yang terus menangis.
"Apa kamu mimpi buruk? atau melihat sesuatu lagi!?" Irwan duduk tepat di samping Sisil.
Sisil menggelengkan kepalanya.
"Lalu apa? jangan membuat bapak dan ibu bingung!?" tiba-tiba saja Ningsih datang, dengan sebuah mug besar berisi teh manis hangat.
"Di minum dulu, biar Sisilnya tenang. Bicaralah jangan menangis terus, ibu dan bapak tidak mengerti!"
"Maafin Sisil bu!" gadis itu mengangkat wajahnya, lalu memandang sang ibu.
Deg!
Hatinya bagai dihantam benda yang sangat berat, sampai membuatnya sesak.
"Kamu kenapa?!" Ningsih menjerit, saat melihat wajah putrinya.
Wajah sembab, mata dan hidung yang terlihat sangat merah, dengan pipi kiri yang juga tampak sedikit bengkak dan sudut bibir yang lebam menyisakan sedikit noda darah.
Irwan mendekat, meraup wajah putrinya lalu menatapnya lekat-lekat.
"Siapa yang menyakiti mu? apa orang tua Balqis tau!?" suara Irwan bergetar, tampak pria tua itu menahan tangis.
Sisil bungkam, lalu memeluk Irwan dengan sangat erat.
"Bapak pasti kecewa sama aku, bapak juga pasti marah, pasti nyesel kan? anaknya kaya aku!" gadis itu merancau.
Ningsih menjengit.
"Sama sekali tidak, kamu putri kami satu-satunya! bicaralah, kami akan berusaha mengerti Sil!" Ningsih mengusap punggung putrinya.
Bukannya berhenti, namun Sisil malah menangis semakin kencang.
"Ak-aku ... aku ..."
Ningsih yang melihat Sisil pun semakin terenyuh, bahkan dia ikut menitikan air mata.
"Baiklah jangan dipaksakan sekarang, tenangkan dulu diri mu, lalu setelah itu kita bicara!" sang ibu berbicara. " Istirahat di kamar yuk, biar ibu temenin." wanita itu meraih tangan Sisil, dan segera membawanya masuk kedalam kamar.
Suara rintihan Sisil mulai terhenti, namun nafasnya masih tersenggal-senggal sisa tangisannya tadi.
"Sudah nyaman?" Ningsih bertanya dengan suara lembut.
Sisil mengangguk.
"Ibu jangan kemana-mana, aku takut!" suaranya lirih.
"Ibu disini!" Ningsih kembali mengusap kepala Sisil, menatap wajah Sisil lekat saat gadis itu mulai memejamkan matanya.
Dia merasa ada yang mengganjal dihatinya, namun wanita itu bingung, entah apa yang membuatnya merasa gelisah.
Ningsih beranjak, kembali ke arah tengah rumah menghampiri suaminya.
"Telfon salah satu orang tua Balqis sekarang juga!" Irwan tiba-tiba berbicara seperti itu.
Ningsih tertegung, dia menatap heran sikap suaminya.
"Besok pagi saja, tidak sopan kalau telfon sekarang."
"Sekarang saja, dia pergi dengan keadaan baik, tapi kenapa dia pulang dengan keadaan seperti itu! apa ibu tidak lihat? sudut bibirnya terlihat sedikit robek, pipinya merah, dan sudah pastikan itu bekas tamparan!"
"Baiklah." dengan cepat wanita itu berlari kearah kamar, untuk mengambil ponsel miliknya.
Ningsih duduk di atas tempat tidur, beberapa kali dia menghembuskan nafas perlahan, saat jantungnya kembali berpacu namun entah apa penyebabnya.
Tuut!
Suara sambungan telfon terdengar, namun Anna tidak menjawabnya bahkan sampai panggilan ke empat.
"Sekali lagi!" dia bermonolog.
—Hallo?
Akhirnya Anna menjawab.
"Ha-halo neng?"
—Iya Bu, kenapa?
"Begini, sebelumnya maaf karena saya kurang sopan, tapi Sisil baru saja pulang. Pipinya merah, sudut bibirnya robek, bahkan dia terus menangis dan tidak bisa menjelaskan sesuatu sampai kami bingung!"
Hening.
"Hallo? neng Anna masih disana?"
—Iya Bu saya masih disini, bagaimana keadaan Sisil sekarang?
"Dia tidur."
—Apa keadaannya ada yang aneh, atau mencurigakan?!
Ningsih mengangguk, seolah Anna melihatnya saat ini.
"Dia pakai baju dan celana kebesaran, sepertinya milik pria. Selebihnya tidak, hanya ada luka di sudut bibir dan pipi yang memarah, kalo kata bapaknya Sisil .. seperti bekas tamparan!"
Deg!
Anna terkesiap, sampai matanya membulat dengan sempurna.
—Jagalah Sisil terlebih dulu Bu, besok pagi saya dan Papanya Balqis kesana.
"Baik neng."
Lalu sambungan telfonnya terputus.
"Besok pagi Neng Anna kesini pak, jangan marah-marah ibu mohon, apapun kenyataannya!"
Irwan diam.
"Bagaimanapun mereka yang menolong kita, memberika ibu dan Sisil pekerjaan, sampai kami mampu membawa bapak berobat waktu itu!"
"Tapi bagaimana dengan keadaan putriku!" sergah Irwan.
"Mereka akan datang kesini pak, maka kita harus berbicara dengan kepala dingin."
"Ibu tau bapak khawatir, tapi ibu juga sama. Dan kita belum tau penyebabnya apa karena Sisil belum mau berbicara!" jelasnya kepada Irwan.
Pria itu mengehela nafasnya kasar, menyandarkan punggungnya kepada sandaran kursi, dengan kepala mendongak dan mata yang ikut terpejam.
"Bapak tau, pasti sudah terjadi sesuatu kepada Sisil!" kata Irwan dengan posisi yang masih sama.
"Ibu harap tidak!"
"Nyatanya itu sudah terjadi, dan siapa yang akan di salahkan dalam hal ini? tentunya aku, karena aku adalah seorang kepala rumah tangga!" emosi Irwan mulai tersulut.
"Meski dia bukan putri kandung kita, tapi aku sangat menyayanginya. Kita menemukan Sisil di depan pintu rumah, dan sejak saat itu dia sudah menjadi belahan jiwa ku!" Irwan menangis.
Wanita itu mendekat, lalu mengusap bahu suaminya.
"Jangan dibicarakan, ibu takut Sisil dengar." Ningsih berbisik.
"Seburuk apapun dia, dia tetap anakku. Bayi yang ku besarkan dengan penuh kasih sayang."
"Iya ibu tau, tapi sudahlah. Atau Sisil akan tau kenyataan ini dan ibu takut akan membuatnya pergi, untuk mencari orang tua kandungnya!" dan akhirnya, tangis wanita itu pecah.
Sementara di dalam kamar sana, gadis itu menggigit bibirnya kencang, menahan rasa ngilu yang kini terasa didalam ulu hati dan segera menjalar ke segala arah.
Satu tetesan air mata terjatuh, namun Sisil kembali memejamkan matanya, dengan perasaan yang sudah terasa sangat hancur, saat mengetahui kenyataan bahwa hampir 22 tahun, Irwan dan Ningsih menyembunyikan kebenaran bahwa gadis cantik yang sangat mereka sayangi adalah seorang anak yang di buang oleh orang tua kandungnya sendiri.
...•••••...
Jangan lupa like, komen, hadiah dan dukungan lainnya.
Klik favorite jangan lupa : )
Follow Ig othor juga @_anggika15.
~Zeyeng kalian~