My Ex Husband

My Ex Husband
Tanda-tanda?



...•••••...


Suasana sunyi, saat David sampai di kediaman kedua orang tuanya. Dia berjalan pelan kearah pintu kamar, dengan jas dan juga dasi yang sudah David lepaskan.


Klek!


Pandangan David meneliti sekitar ruangan yang terlihat gelap.


"Tumben nggak pake lampu tidur!" dia bergumam, lalu berjalan kearah pintu kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


Cukup lama David berada di dalam sana, setelah hampir tiga puluh menit akhirnya dia keluar, dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


Dia menekan saklar lampu hingga ruangan itu terang, kemudian David kembali berjalan mendekat kearah lemari pakaian.


Mata Anna mengerjap, saat cahaya lampu tiba-tiba menyala di seluruh ruangan. Dia menggeliat, dan membuka matanya dengan sempurna.


Prempuan itu bangkit, mendudukan dirinya sesaat lalu berjalan kearah David yang masih berdiri di depan lemari pakaian mencari piama tidur miliknya.


"Astaga!" David terkejut, saat ada dua tangan kecil melingkar di pinggangnya.


Anna diam, seraya menempelkan wajahnya di punggung polos David.


"Kamu bangun!?" David mengusap tangan Anna yang masih melingkar di pinggangnya.


"Kenapa baru pulang? ini sudah sangat larut!" suara Anna terdengar manja.


David melepaskan tangan Anna, lalu ia berbalik arah, hingga mampu menatap wajah sembab Anna.


"Bukannya besok kita harus pergi? jadi aku harus menyelesaikan banyak pekerjaan hari ini!" katanya sambil meraup wajah Anna.


Prempuan itu menepis tangan David, melangkahkan kaki lalu kembali memeluk tubuh berotot milik David.


"Sudah makan?" Anna bergumam.


"Belum." David mengusap rambut Anna.


"Mau makan atau kopi? eh .. masa ngopi malem-malem yah!" Anna mendongak, menatap wajah David yang saat ini sedang tersenyum kepadanya.


David meraih pipi Anna, mengusapnya lembut lalu menyematkan helaian rambut ke belakang telinga.


"Belum, aku tidak mau makanan luar!" David berujar.


Anna mengangguk, lalu melepaskan pelukannya dan berjalan kearah kamar mandi.


"Mau apa kesana?" David menatap punggung Anna heran.


"Mau cuci muka, terus bikinin kamu roti isi!"


Anna menjawab dengan suara yang sedikit berteriak. Sementara David, pria itu menggelengkan kepala sambil tersenyum.


Selesai membasuh wajahnya, Anna kembali ke dalam kamar, dengan rambut panjang yang ia Cepol tinggi.


"Mau tunggu disini? atau kita ke meja makan?" Anna berjalan kearah sofa, dimana suaminya duduk saat ini.


"Ayok ke meja makan!" David bangkit, mengulurkan tangan kepada Anna, yang langsung Anna raih dan menggenggamnya erat.


"Dari jam berapa Balqis tidur? apa dia tidak menanyakan aku sampai kalian tidak menelfon!?" katanya sambil terus berjalan.


"Jam delapan dia sudah tidur, seharian ini dia bermain bersama ibu ... sampai melupakan kamu mas."


"Mereka memang sangat kompak!" David menghela nafas pelan.


Klek!


Keduanya keluar, lalu berjalan kerah meja makan bersamaan.


"Pakai selai saja, tidak usah masak telur mata sapi!"


"Lho, kalo mau nggak apa-apa. Aku kedapur sebentar, sekalian bikin teh hangat."


David menepuk kursi kosong di sampingnya.


"Isi selai kacang saja, minumnya air putih hangat, nanti saja ... biar aku yang ambil!" kata David kepada istrinya.


"Beneran?"


David tersenyum.


"Kemarilah cepat, aku sudah lapar!" David melambaikan tangannya.


Anna pun segera duduk, meraih beberapa lembar roti tawar kupas. Dan mengoleskan selai kacang cukup banyak.


"Ini, makanlah yang banyak ... agar tidurnya nyenyak, dulu ibu suka bilang gitu ke aku!"


David meraih roti itu, lalu menyantap dengan perlahan seraya menikmatinya.


"Kamu rindu ibu?"


Anna mengangguk.


"Kapan terakhir ziarah?" David menatap Anna lekat.


"Tahun lalu."


"Yasudah, kapan-kapan kita berkunjung ke makam ibu. Aku juga sudah lama tidak menemuinya."


"Baiklah."


Anna bangkit, berjalan ke arah dapur. Dan kembali dengan segelas air putih hangat, lalu meletakan di hadapan David yang terlihat sudah menghabiskan rotinya.


Mereka saling berhadapan.


Sesaat David diam, diam meraih gelas yang Anna berikan. Lalu meminumnya hingga tandas.


"Ada apa?" David berkata sambil menyusut kedua sudut bibirnya dengan tissue.


"Entahla, aku merasa dia sedikit aneh. Bukannya dia pernah kuliah jurusan administrasi yah? tapi dia bilang tidak bisa kalau menjadi admin di usaha Sambal ku!"


"Setahuku iya, dia berhenti kuliah karena terkendala biaya."


"Kenapa Sisil ingin kembali mengasuh Balqis, seharusnya dia senang karena cita-citanya sudah tercapai." Anna merasa heran.


Pria itu diam, dia tampak berpikir.


"Apa ada sesuatu!?"


"Aku tidak tau ... apa mungkin, dia malu yah kerja bareng Syaif, setau aku Sisil memang suka sama bujangan itu!" jelas Anna.


"Mungkin salah satunya itu, dia malu dan tidak bisa fokus bekerja." ujar David.


"Terus bagaimana? aku tidak melarangnya untuk kembali, tapi dia segan dengan mu. Karena mas melarangnya mengurus Balqis lagi."


"Aku tidak melarangnya kembali, aku hanya bilang dia boleh kembali kalau Balqis sudah mau mempunyai adik!" sergah David.


"Jadi bagaimana? sudah ada tanda-tanda kamu hamil?" David tersenyum, dengan tangan yang juga mulai meraih perut Anna dan mengusapnya.


"Sepertinya belum, kita menikah saja belum ada satu bulan, ... jadi jangan terlalu terburu-buru mas!"


"Yasudah, jadi biarkan saja Sisil bekerja di tempat mu dulu, dia akan kembali kalo adik Balqis akan lahir."


"Mungkin hanya untuk mengantar Balqis sekolah saja mas, masa tidak boleh!"


"Tidak, Balqis sudah harus mulai membiasakan diri!"


"Kamu ingin putri kita mandiri?"


David mengangguk.


"Tapi kamu selalu memanjakannya?" Anna memutar bola mata.


"Tidak, aku hanya menyayangi dia sayang." David membela diri.


Setelah berbincang banyak hal, akhinya David bangkit, meraih tangan Anna dan menuntunnya untuk kembali kedalam kamar.


Anna menaiki tempat tidur terlebih dulu, lalu berbaring di samping Balqis yang sudah tertidur nyenyak.


Trek!


Lampu ruangan padam.


"Tidak usah menyalakan lampu tidur!" kata Anna kepada David.


"Kenapa? nanti Balqis ketakutan." David berdiri di dekat nakas.


"Lampu di luar sudah cukup, ini lebih nyaman."


"Baiklha," David segera naik, lalu berabaring di samping Anna.


"Selamat malam sayang, maaf sudah membangunkan mu!" David memeluk Anna dari belakang.


Cup!


Satu kecupan David berikan di puncak kepala Anna.


Anna memutar tubuhnya, mendongak lalu mencium bibir David.


"Selamat tidur Papa, i love you!" katanya kemudian Anna menyurukan kepalanya di dada bidang David.


Pria itu tersenyum.


"Seandainya aku tidak lelah, maka aku akan membuat mu kelelahan!" dia tertawa.


"Yasudah, tidur saja."


Cup!


David mencium kening Anna.


"Ish ... aku sangat mencintai mu!" ucapnya dengan gemas.


"Tidurlah, kamu mulai berisik. Nanti putriku bangun tau!" Anna mengomel.


"Ahaha ... so sorry cutiepie."


Suasana sudah terasa hening, hanya tersisa hembusan nafas yang saling bersahutan, lalu keduanya terlelap setelah beberapa saat dengan tangan yang saling memeluk.


...•••••...


Guys, jangan lupa like, komen dan hadiahnya! yang masih ada vote boleh lempar kesini.


Jangan lupa juga klik favorite, agar notifikasinya berbunyi saat othor update eps terbaru dan terhot pokoknya.


~Zeyeng kalian, terimakasih atas dukungannya untuk othor remahan rengginang ini~


Ig. @_anggika15.