
...••••••...
Tepat pada pukul 05:00 pagi hari.
Anna terlihat bangkit, duduk di tepi ranjang beberapa saat, untuk mengumpulkan kesadasannya.
"Ah, .. dia merajuk!" Anna tersenyum, saat melihat David terlelap di atas sofa.
Pria itu memilih tidur di atas sofa besar yang berada di kamarnya, setelah beberapa kali Anna menolak dan terus berusaha menjauh karena aroma sabun di tubuh David yang tidak Anna sukai.
Anna meraih laci nakas, lalu membawa sesuatu yang sudah tidak sabar ia gunakan pagi ini. Anna menatap kota itu dengan senyuman hangat, menggenggamnya erat lalu membawa benda itu kedalam kamar mandi.
Trek!
Anna mengunci pintu, berjaga-jaga suapaya David tidak datang di waktu yang tidak tepat.
"Aih ... aku tidak percaya akan secepat ini! aku harap ini bukan asam lambung yah." Anna yang sedang berdiri di depan washtafel pun terkikit pelan.
Anna membuka kota itu dengan hati yang berdebar, meski ini bukan pertama kalinya untuk Anna.
"Astaga! ini lebih menegangkan dari pada aku memeriksakan kehamilan Balqis dulu!" prempuan itu bermonolog, menyimpan sebuah cairan yang sudah Anna tampung, kemudian meletakan testpack didalam sana.
"Kesana dulu yah, aku mau gosok gigi!" kata Anna lalu menggeser wadah tersebut.
Selesai membasuh wajah dan menggosok giginya, Anna kembali menatap benda tersebut. Sempat ragu dan sedikit agak takut kecewa, namun tak urung juga Anna membawanya agar bisa melihat dalam jarak yang sangat dekat.
"Hhha ... ya ampun!" Anna hampir saja berteriak.
Anna menutup mulutnya, dengan mata yang terlihat sudah berkaca-kaca.
"Jadi benar feeling aku beberapa hari terakhir ini! ahh ... aku senang sekali! Balqis punya adik." ucapnya dengan tangis haru.
Tok ... tok ...
"Sayang, kau didalam?" suara ketukan pintu dan David bersahutan di luar sana.
Dengan cepat Anna merapihkan tempat itu seperti semula, lalu mengusap pipinya cepat dan segera berjalan kearah pintu.
"Darling are you oke?" David kembali memanggil Anna, saat ia tidak bisa langsung masuk karena pintu kamar mandi terkunci dari dalam.
Trek ... klek!
Langsung saja David mendorong pintu itu, sampai terbuka lebar.
"Ann kau menangis? kenapa?" pria itu mendekat, sedikit membungkukkan tubuhnya.
Tatapan keduanya bertemu, bahkan jemari David mengusap pipi Anna yang masih terlihat sedikit basah.
"I have a special gift for you!"
David menjengit.
"Hadiah spesial!?" David menatap Anna lekat.
Anna mengangguk, dia tersenyum namun matanya kembali terlihat berkaca-kaca. Prempuan itu kembali menangis haru, saat rasa bahagia terus menyeruak, apalagi kehamilannya saat ini tidak akan se-menyedihkan dulu, karena ada David bersamanya.
"Kau jangan membuat ku takut, ada apa dan bicaralah .. jangan menangis seperti ini!" David panik, lalu memeluk Anna erat.
Cup!
Satu kecupan David berikan di kening istrinya.
"Papa?" Anna memanggil.
"Ya? kenapa kau menangis? apa kau merindukan ayah dan ibu lagi! jika benar bagaimana kalau kita mengunjungi rumah lama mu, siapa tau bisa mengobati rasa rindu mu!" David mengusap pungung istrinya.
"Ini ...
Anna mendonga, lalu memperlihatkan sebuah testpack dengan dua garis merah yang terlihat sangat jelas.
Pria itu mematung, meraih benda itu dan menatapnya cukup lama.
"Are you seriously?!" David menatap Anna dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia.
"Ya!" Anna kembali memeluk David, dan isakan haru itu kembali terdengar.
David tersenyum bahagia, kemudian mengangkat tubuh Anna dan berputar sampai membuat prempuan itu berteriak.
Anna menundukan pandangannya, sementara pria yang kini sedang memangku tubuh Anna mendongak, hingga kening keduanya menyatu.
"Selamat Papa David, bibit ungulnya sudah dibuahi." Anna terkekeh.
"Sungguh aku tidak menyangka akan setopcer ini!" David tertawa. "Kemarin aku hanya bercanda, tapi Tuhan memang segera memberikannya untuk kita!" sambung pria itu lagi.
Anna diam, begitu dengan David dan ...
Cup!
Anna meraup bibir suaminya.
"I love you om David, terimakasih sudah berusaha meraih cinta mu lagi!" kata Anna.
"Aku lebih mencintaimu Kyara Anna, kau tau? cinta itu sangat gila. Sampai aku terus berusaha mendekati mu kembali, walau kau terus menolak ku .. aku membuang harga diriku jauh-jauh, hanya untuk cinta mu kembali kepada ku!"
"Hemmm ... dan om berhasil." Anna tersenyum.
"Ish enak saja! kamu lebih tua dua belas tahun dari ku tau!" sergah Anna.
"Apa maksud mu itu, kau suka pria muda atau bagaimana?"
"Turunkan aku dulu!" katanya yang langsung David turuti.
"Aku suka pria matang seperti mu suami ku." Anna mencubit pipi David.
David tersenyum samar, dia medekat satu langkah, meraih pinggang Anna dan menariknya agar lebih mendekat.
Anna melingkarkan kedua tangannya di bahu David, dan mereka saling mencembu satu sama lain, tanpa menyadari ada sepasang mata yang memperhatikan keduanya.
Gadis kecil itu bergerak, lalu menuruti tempat tidur.
Tap .. tap .. tap ..
Suara langkah kaki Balqis terdengar sangat jelas, sampai membuat cumbuan keduanya terhenti dan menoleh kearah suara.
"Sayang mau kemana?" David beteriak, memanggil sosok kecil yang terlihat berjalan sempoyongan.
"Ke kamar Nenek!" katanya singkat.
"Tunggu! Papa dan Mama mempunyai sesuatu."
David mendekat kearah Balqis yang sudah berdiri di depan pintu, meraih tangannya untuk mendekat ke arah Anna.
"Kenapa pagi-pagi suka ke kamar Nenek sama Kakek sih? tumben banget!" Anna duduk di tepi ranjang.
Balqis memeluk tubuh Anna, seraya berbisik.
"Jangan bilang Papa yah! aku suka makan tiramisu cake sama coklat!"
Prempuan beda usia itu saling menatap.
"Shutt! only Mama sama Aqis!" dia menempelkan satu jari telunjuk di bibirnya.
Sementara David, pria itu menatap anak dan istrinya dengan satu alis yang terangkat.
"Papa mau bilang apa tadi? cepatlah Aqis kengen Kakek Nenek."
"Papa tidak suka kalian main rahasia-rahasiaan!" ucap David.
Pria itu memasang raut wajah yang sedikit menakutkan.
"Balqis suka ke kamar ibu kar ..
Balqis menutup mulut ibunya dengan tangan kecil itu.
"Baiklah, hanya kita yang tau!" Anna tertawa pelan setelah menyingkirkan tangan kecil itu.
"Ah nggak jadilah, Papa ngambek!" David mendelik, dia cemberut lalu duduk di sofa kamar.
Balqis yang melihat ayahnya sedikit berbedapun turun, lalu menghampiri ayahnya.
"Papa mau bilang apa?" Balqis merayu.
"Nggak jadi, Papa ngambek!" David memanglingkan wajahnya dari Balqis.
Gadis kecil itu tidak kehabisan ide, dia meraup wajah ayahnya dan memberinya kecupan basah beberapa kali.
"Jangan marah Papah!" kata Balqis.
Akhirnya David tertawa.
"Jadi Papah mau bilang apa?"
David mengangkat Balqis, dia bangkit dan duduk di samping Anna.
"Ada adek di perut Mama." David membawa tangan Balqis dan meletakkannya di atas perut Anna.
"Adek bayi?"
David menjawab dengan anggukan kepala.
"Jadi jangan minta gendong sama Mama yah, kasian adek bayi berat nanti!" ujar David yang langsung mendapat anggukan dari putri sulungnya.
"Hallo baby's Kaka love you!" Balqis berbicara, lalu mencium perut Anna yang masih terlihat rata.
"Baiklah nanti siang kita ke Dokter, untuk memeriksakan kandungan mu." David langsung mencium kening Anna.
...••••...
Jangan lupa!
Like, komen, sama kirim hadiah yang banyak. Klik favorite juga yah jangan lupa!
~Selamat bobok, kemaren yang mau Anna hamil udah bisa bobo nyenyak yah😌~
Follow juga @_anggika15
Papay ..