
...•••••...
"Istrinya dijaga baik-baik lho Ed, kamu jagain anak orang seumur hidup sekarang!" Elisa menepuk-nempuk bahu adik laki-lakinya.
Edgar mengangguk.
"Yasudah Kaka pulang dululah ya, selamat menunaikan ibadah yang sangatlah luar biasa." Alex menimpali.
"Kalian apaan deh," Edgar mendelik.
"Edgar, Amih pulang yah? sekarang kamu udah jadi suaminya Rika, jaga dia baik-baik, karena dia juga berasal dari keluarga yang sangat baik!" Atika berpesan.
"Iya Mih!" sahut Edgar.
"Papi pulang juga?" Edgar menatap Akbar lekat.
"Iya, .. masa mau nginep disini, bobo bareng sama Dede Edgar!" ledek Akbar kepada putra bungsunya.
"Inget Ed, ini masih sore! jangan di gas sekarang." Akbar berbisik.
"Papi sama bang Alex tuh sama aja yah! seneng banget ledekin aku!" cicit Edgar, dia terlihat memutar bola matanya.
Tidak lama setelah itu Rika keluar dari kamar, lalu menghampiri keluarga suaminya yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Sudah ganti baju?" Elisa menatap Rika.
Gadis itu mengangguk, seraya tersenyum malu-malu.
"Pake bulu mata bikin mata aku jadi gantuk, ka!" jawab Rika.
"Mau pulang? kenapa cepat sekali? padahal Bunda lagi goreng risoles buat gemil," ucap Rika.
"Tidak usah repot-repot, makanan disini sudah sangat cukup, ... jadi boleh panggil ayah sama bundanya Erika?" Atika tersenyum kepada menantunya.
"Oh iya Amih!" tukas Rika, lalu berjalan kearah dapur rumahnya, dimana Risma dan Yuda sedang berada disana.
"Ayah, bunda ... itu pada mau pulang!" jelas Rika.
Yuda yang kini tengah menata risoles kedalam sebuah wadah pun menoleh.
"Iya tadi udah bilang, makanya ayah bungkus risolesnya," kata Yuda.
"Yasudah, ayok masukin risoles ke tempat satunya lagi, biar cepat!" timpal Risma.
Rika mengangguk, kemudian segera mendekat untuk membantu sang ayah, sementara Risma, wanita itu masih sibuk menggoreng.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Rika kembali bersama Yuda dan juga Risma dengan sebuah kotak berukuran sedang di tanganya.
"Maaf, kalian menunggu lama!" ucap Yuda.
Akbar dan Atika tersenyum, seraya menggelengkan kepala.
"Ini ada risoles, buat gemil nanti dirumah," Risma memberikan kotak berisi risoles itu kepada Atika.
Ibu dari Edgar itu menerimanya dengan raut wajah sumringah.
"Ini bikinan sendiri lagi?" Atika bertanya.
Risma tersenyum, dia menoleh kearah putrinya yang beridiri tidak jauh dari Edgar.
"Semalam Erika yang bikin, isiannya macam-macam, ada keju mozzarella, isi mayo pedas, dan keju beef mayo!" Risma tersenyum.
Sementara Atika menatap Rika penuh kagum.
"Mami yakin, pulang dari sini perut Edgar pasti buncit!" katanya sambil tertawa.
"Yasudah, kalau begitu kami pamit pulang, mari," pamit Akbar.
"Iya hati-hati!" Yuda menjawab.
Keluarga Edgar berjalan kearah mobil Pajero hitam yang sudah menunggunya di luar pagar rumah orang tua Rika.
"Edgar mau Risoles juga?" Risma bertanya.
"Nanti saja Bun, Edgar mau istirahat dulu. Semalam kurang tidur!" kata Edgar kepada ibu mertuanya.
"Yasudah, biar nanti Rika yang bawa ke kamar saja yah ... ayok ambilkan dulu, kasian suami kamu itu, mau nikah sampe lupa caranya istirahat." Risma berucap penuh candaan.
Edgar dan Rika saling menatap satu sama lain, kemudian tersenyum canggung.
"Bunda cuma bercanda, jangan dimasukin hati apalagi sampai kepikiran!" sergah Yuda.
"Masuk dan istirahatlah, Rika juga semalam nggak bisa tidur. Nanti pusing kalo nggantuknya di tahan!" sambung Yuda kembali.
Rika mengangguk.
"Kami istirahat dulu ya Bunda .. Ayaha!" pamit Rika.
Kedua orang tua Rika mengangguk, kemudian beranjak kearah ruang tengah.
"A-ayank mau mandi dulu?" Rika bertanya.
Edgar hanya mengangguk, lalu berjalan ke arah luar.
"Lho, ... kok malah keluar yank?" Rika menjengit.
"Aku ambil koperku dulu!" jawab Edgar sambil terus berjalan, mendekat kearah Fortuner silver miliknya.
Rika menyusul.
"Kamu bawa koper? apa kita mau tinggal disini, di rumah ayah bunda?"
Edgar yang sedang membuka bagasi mobil pun menoleh sesaat, mengeluarkan koper miliknya lalu menutup kembali.
"Jika kamu mau disini dulu, ya hayu aja!" katanya sambil berjalan kearah Rika.
"Satu Minggu boleh?"
Edgar mengangguk. "Izin dulu sama ayah, boleh nggak kamu bawa nginep cowok disini!?" pria itu tersenyum.
"Ish ... bolehlah, orang kamu suami aku sekarang." Rika tersipu malu.
"Hemm ... ayok kita istirahat? aku lelah semalam mengerjakan banyak hal."
Rika mengangguk, lalu berjalan terlebih dulu menuju kamarnya. Oh tidak, kamar mereka berdua lebih tepatnya.
Klek!
Rika membuka pintu ruangan itu, tampaklah sebuah ruangan sedang, dengan sebuah ranjang tidur yang juga berukuran sedang.
"Maaf, kamarnya kecil!" Rika mempersilahkan Edgar masuk.
"Tapi semuanya tertata dengan rapih ya?" Edgar berujar.
Rika mengangguk, lalu menutup pintu kamarnya.
"Aku nggak punya terlalu banyak barang, jadi ya .. masih enak dilihat lah," jelas Rika.
"Oh .. Ayank mau mandi yah? pintu kamar mandinya ada di samping lemari pakaian aku."
Rika duduk di tepi ranjang, sementara Edgar hanya berdiri sambil memperhatikan Rika yang sudah kelihatan gugup.
Edgar menggeser koper miliknya ke arah sudut, kalau berjalan mendekati Rika, prempuan yang duduk sambil memainkan jemari tangannya.
Edgar menumpukan kedua tangannya di atas kasur, mengungkung tubuh Rika yang duduk dengan punggung yang sedikit membungkuk.
"Kamu kenapa sayang?" Edgar berbisik, tepat dihadapan wajah gadis yang saat ini sudah menjadi istri sahnya.
"Huumm .. ak-aku .. aku bingung!" Rika tergagap-gagap.
Edgar menyeringai.
"Kau takut yah?" tubuh Edgar semakin maju, begitupun dengan Rika yang terus berusaha menjauh.
"Kamu kenapa siih?" Edgar kembali menggoda istrinya.
"Bukanya Ayank mau mandi? ya mandilah."
"Mandi bersama?" Edgar berbisik.
"Tapi aku sudah mandi!" jelas Rika.
Pria itu kembali tersenyum, dengan mata yang terus memperhatikan Rika, lalu mendekatkan wajahnya dan ..
Cup!
Edgar mencium bibir Rika singkat.
Deg!
Tubuh Rika mematung, matanya membulat saat Edgar mengecup basah bibirnya.
"Ayank masih siang!" suaranya terdengar pelan, lalu Rika menoleh kearah pintu.
"Aku juga nggak kunci pintunya," ucap Rika kembali.
Dengan cepat Edgar bangkit, lalu mengunci pintu kamarnya.
Trek .. trek ...
Risma dan Yuda yang sedang asik berbincang di rumah tengah pun saling melihat satu sama lain.
"Padahal ini masih siang!" Yuda menjengit.
"Ayah kaya nggak pernah muda aja!" Risma menepuk bahu suaminya.
"Iya tapi mereka bisa melakukan nya tengah malam nanti," cicit Yuda lagi, dia tampak sedikit kesal.
"Anter bunda ngasih kue pengantin ke tantenya Erika yuk, kalo di nanti-nanti takut kelupaan." Risma langsung menarik tangan suaminya.
"Kue ini terlalu banyak kalo kita makan sendiri, jadi lebih baik kasih ke sodara-sodara, sambil ngasih kabar bahagia hari ini!" Risma meraih kotak berisi kue, lalu berjalan kearah depan.
"Ka ... kita ke rumah Tante Herlin dulu yah? kalo mau tidur pintu rumahnya di kunci juga!" Risma berteriak, kemudian beranjak tanpa menunggu jawaban dari kedua pengantin itu.
"See? mereka bahkan lebih mengerti!" Edgar kembali tersenyum.
Edgar melepaskan jasnya, beralih ke kancing kemeja sambil terus mendekat kearah Rika yang terus bergeser, berusaha menghindar.
"Ayank!" Rika ternyehak saat pria itu menarik kakinya.
"Diem kenapa sih? jangan gerak-gerak mulu!" suara Edgar terdengar parau.
"Aih jangan!" Rika menjerit saat Edgar melempar kemejanya.
"Berisik Erika!" tegas Edgar, lalu dia kembali menundukan kepala, dan segera meraih bibir ranum milik Rika.
Gadis itu diam, dia bingung harus berbuat apa saat lidah Edgar mulai menerobos secara paksa.
"Kita harus pemansan dulu, biar nggak susah masuknya!" kata Edgar saat mendeja kegiatan bibirnya.
Rika diam.
Dengan sekali tarikan Edgar menarik kaos oblong milik Rika, sampai kain hitam berenda itu terpampang nyata.
"Pasrah sekali? tadi berontak mulu!" Edgar mengejek.
"Sudah aku bilang, aku bingung!" cicit Rika.
"Yaudah, biar aku saja!" kata Edgar yang langsung menarik celana panjang yang Rika kenakan.
Seketika Rika menutup matanya, ketika melihat Edgar, yang juga mulai menanggalkan celananya.
"Sayang, bukalah mata mu .. tatap aku!"
"Kamu nggak pake baju, aku malu yank!"
"Mau pakai selimut?"
Rika mengangguk.
"Baiklah," Edgar meraih selimut itu, lalu memakain sampai menutup tubuh keduanya.
"Kamu masih pake Dal*man, tapi kenapa malu? kan aku yang nggak pake baju!" Edgat terus merancau, dengan tangan yang mulai nakal.
"Ayank jangan!" Rika kembali menjerit, saat Edgar akan menarik kain terakhir yang masih menempel di tubuhnya.
"Kalo nggak di lepas gimana cara mainnya?" Edgar mendegus.
"Oh yaudah," Rika menjawab.
Sekali tarikan Edgar melepaskan celana Dal*m milik Rika, lalu melemparnya kesembarang arah.
"Ayank udah pernah yah? kok kaya berpengalaman?"
"Hanya insting alamami!" sahutnya singkat.
Edgar mulai mengarahkan miliknya, membuka paha Rika selebar mungkin.
"Jangan tegang, aku akan pelan-pelan."
Perlahan Rika membuka matanya, lalu menatap Edgar yang sudah mengarahkan senjata itu kearahnya.
"Ayank aku nggak mau!" sergah Rika.
Edgar menatap Rika sesaat, namun tidak menghiraukan perkataan Rika, pria itu terus berusaha mendorong pinggulnya.
"Ayank aku nggak mau!" cicit Rika lagi.
"Sayang ini susah, jadi diamlah!" kata Edgar sambil terus berusaha.
"Ini rasanya aneh, aku nggak mau!"
"Baru kepalanya!"
Rika terhenyak.
"Aww .. Ayank aku nggak mau!" Rika mulai menangis.
Edgar tidak mendengarkan rintihan Rika.
"Awww .. sakit aku nggak mauu!" Rika menangis kencang.
"Padahal ini belum apa-apa sayang," Edgar kembali mencium bibir Rika.
"Aku nggak mau ... rasanya aneh!"
Edgar mengehela nafasnya, lalu bangkit.
"Yaudah, maafkan aku terlalu memaksa!" pria itu tersenyum, turun dan menyelimuti Rika yang masih manangis.
Cup!
Edgar mencium kening Rika.
"Maafkan aku, sudah ya .. jangan nangis lagi, aku mandi dulu!" suara Edgar terdengar lembut.
Dengan langkah gontai Edgar berjalan kearah pintu kamar mandi, lalu menghilang setelah ia menutupnya rapat.
...••••••...
Jangan lupa like, komen dan dukungan lainnya dong.
Klik favorite juga! biar othor makin semangat updatenya.