
...••••••...
"Abang!" rintihan Sisil terus terdengar jelas di telinga pria yang sedang berpacu di atas tubuhnya.
Jemari lentik Sisil tampak mencengkram seprai yang membungkus tempat tidur berukuran besar itu, dengan satu tangnya lagi yang terus mengusap di perut bagian bawahnya menahan rasa nyeri yang terasa semakin intens.
"Abang stop!"
"Sebentar lagi, sayang." ujar Al dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Sakit!" suaranya lirih.
Sisil menatap mata suaminya sendu, berharap pria itu akan menghentikan aksinya.
Nihil, Alvaro terus menghentakan tubuhnya dengan sangat kencang, hingga terus membuat Sisil meringis dan merintih di waktu yang bersamaan.
"Sayang sakit!"
Akhirnya air mata Sisil lolos membasahi pipi, cairan bening itu terus mengalir cukup deras di sudut matanya.
Melihat Sisil yang menangis, akhirnya membuat Alvaro berhenti, dia membungkuk dan meneliti wajah Sisil dari jarak yang sangat dekat.
"Sakitt .. Abaang." suaranya melemah.
"Sungguh-sungguh sakit?" Alvaro membulatkan mata, dia mukai panik.
Sisil mengangguk, mengigit bibir bawahnya kencang dengan airmata yang terus bercucuran.
"Perut aku sakit, rasanya nggak nyaman, sampai membuat pinggang aku panas."
Alvaro bangkit.
"Tunggu!" katanya lalu beranjak menuju kamar mandi.
Tidak lama dia di dalam sana, akhirnya Alvaro keluar, memunguti pakaian tidurnya dan segera mengenakannya kembali.
Alvaro menatap Sisil, prempuan itu meringkuk dengan tangan yang sedikit menekan-nekan perutnya, untuk menghilangkan rasa nyeri itu sendiri.
"Babe, .. apa yang kamu makan sampai perut mu sesakit ini?" Alvaro duduk di tepi ranjang.
Dia mengusap kepala Sisil, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Ambilin baju aku." pinta Sisil.
Alvaro mengangguk, dia kembali bangkit dan memunguti pakaian istrinya.
"Abang rasa kamu butuh Dokter, atau Bidan." dia berujar seraya memakaikan Sisil pakaiannya kembali.
Prempuan itu mengangguk, dia sudah menghentikan tangisnya, namun wajah Sisil kini terlihat semakin pucat.
"Kamu kenapa? apa kita salah makan atau bagaimana?" Al mengusap perut Sisil.
Namun prempuan itu tidak menjawab, jujur saja dia sendiri bingung dengan keadaannya. Jelas, sakit yang ia rasakan saat ini, lebih sakit dari pada yang selalu ia rasakan di setiap bulannya.
Alvaro melirik jam yang baru saja menunjukan pukul lima pagi.
"Kita ke klinik terdekat yah?" Alvaro meremat tangan Sisil, saat kedua tangan mereka saling menggenggam.
Prempuan itu mengangguk.
"Mau minum atau makan sesuatu dulu, kamu terlihat sangat pucat sayang!" Alvaro khawatir.
"Abang bisa bikin teh manis? kalo bisa tolong."
Alvaro tersenyum, lalu memganggukan kepalanya perlahan.
Cup!
"Maaf, sudah membuat mu kesakitan." katanya lalu bangkit dan beranjak kearah dapur.
Sisil kembali merebahkan tubuhnya, lalu memejamkan mata agar ia bisa kembali menahan rasa sakit itu.
"Pagi-pagi sekali sudah bangun?" Rida yang tengah sibuk membuat masakan menyapa.
"Mau bikin teh manis hangat, perut istriku sakit Maa!"
Alvaro membuka laci, membawa teh dan juga gula, kemudian beralih menarik laci lainnya, lalu membawa mug berukuran besar.
"Sisil sakit?"
"Ya, perutnya sakit."
"Diare?"
Al menggelengkan kepala.
"Sepertinya bukan. Mungkin gejala mau haid atau .. ntahlah, rencana setelah ini aku mau ke klinik." jelas Al.
"Separah itu?"
Al mengangguk.
"Aku kasih tehnya dulu mah, maaf Sisil nggak bisa bantuin Mama."
"Ish kamu ini, memangnya Sisil siapa? dia menantu Mama bukan pembantu Mama." jelas Rida.
Alvaro beranjak pergi, membawa satu mug besar berisi teh hangat untuk Sisil.
"Tidak mau makan sesuatu?" tanya Al ketika dia menyodorkan teh hangat itu kepada istrinya.
Sisil menggelengkan kepala, dan mulai meminum teh hangat itu perlahan.
"Sudah?" kata Al pelan, saat Sisil memberikan mug itu kembali kepada dirinya.
"Baiklah kita berangkat, ayok!"
Alvaro berdiri, mengukurkan tangan untuk istrinya raih.
Sisil mendesis, tubuhnya sedikit membungkuk ketika rasa sakit itu kembali hadir.
"Aku ... nggak kuat jalan abang!" Sisil menengadahkan pandangan, dia menatap suaminya sendu, dengan mata yang terlihat sedikit membentak.
Tanpa menunggu lebih lama Al langsung meraih Sisil, membawanya di dalam pangkuan dan berjalan ke arah luar.
"Al, Mama ikut!" Rida tampak berlari dari arah dapur.
Pria itu tidak menjawab, dia hanya terus berjalan membawa tubuh Sisil mendekat kearah mobilnya.
"Sejak kapan perutnya sakit, Sil?" Rida bertanya, saat Alvaro meletakan Sisil di atas kursi, lalu memasangkan seatbelt untuknya.
"Emmm ..
Sisil menatap suaminya.
Ya masa aku harus bilang, pas lagi di gempur habis-habisan, kan malu!
Batin Sisil berbicara.
"Masuk, Ma! nanti aja interogasi nya."
Alvaro mendengus sebal, ketika ia juga merasa malu jika Sisil harus berbicara jujur penyebab perutnya sakit seperti itu.
Dia berjalan memutari mobil, kemudian masuk di kursi kemudi, begitupun dengan Rida yang langsung membuka pintu belakang.
...••••••...
"Keluhannya apa?" seorang petugas medis bertanya kepada Sisil.
Sisil yang sudah berbaring di atas tempat tidur menatap Al yang berdiri tidak jauh darinya bersama Rida.
Gimana jelasinnya?
Sisil membatin, dia bingung.
"Perut saya sakit Bu," Sisil mengusap perut bagian bawahnya.
Prempuan yang sedang menangani Sisil pun mengangguk, terlihat sedikit memijat-mijat pelan area sana, lalu kembali menatap Sisil.
"Kapan terakhir kali menstruasi?"
Sisil diam, prempuan itu tampak berpikir.
"Saya lupa, tapi memang tamu bulanan saya tidak lancar, kadang tidak mens lama, nanti tiba-tiba mens dan itu cuma 3-5 hari." jelas Sisil.
"Mbaknya abis ngapain? kok bisa sakit?" wanita itu tersenyum.
Deg!
"Ngg ...
"Masnya jangan terlalu di gempur yah! kasian anak sama istrinya, kalo kenapa-napa gimana?"
"Anak?!"
Ucap Alvaro dan Ibunya secara bersamaan.
Wanita yang kini memeriksakan keadaan Sisil menatap dua orang itu heran, lalu beralih menatap Sisil penuh tanya.
"Jadi .. saya?"
"Iya, prediksi saya mbak sedang mengandung. Sekitar tiga minggu mungkin, tapi untuk pemeriksaan lebih lanjut saya sarankan untuk pergi menemui bidan atau Dokter obgyn."
Alvaro mematung, debaran jantungnya terasa semakin cepat di setiap detiknya, saat seorang wanita yang sedang berdiri tidak jauh dari istrinya berkata demikian.
Dia menoleh, menatap ibunya kemudian tersenyum hangat. Raut wajah bahagia sangat jelas terlihat, bagaimana tidak. Ini yang ia harapkan sejak beberapa hari lalu.
"Kami sudah memeriksakannya menggunakan testpack, tapi hasilnya negatif." Alvaro mulai berbicara.
"Iya, testpack memang seperti itu. Ada beberapa yang kurang akurat, jadi saya usulkan untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya agar lebih jelas, .. dan satu lagi! mas harus puasa dulu, mungkin boleh sesekali, tapi keadaan bayinya masih sangat rentan .. jika tidak bisa melakukannya dengan perlahan, sebaiknya tidak melakukannya dulu!" wanita itu tersenyum.
"Terus kenapa perut menantu saya sakit? apa ada sesuatu?" Rida khawatir, dia terlihat bahagia dan ketakutan secara bersamaan.
"Disababkan oleh hentakan yang terlalu kencang, jadi perut ibunya sakit ... untung tidak ada bercak darah yah, kalo itu terjadi saya tidak tau apa yang akan terjadi kepada janinnya!"
Mendengar penjelasan itu membuat Rida menatap putranya tajam.
"Jadi kamu yang harus Mama interogasi!?"
Alvaro tersenyum canggung.
"Al nggak sengaja Ma, Al nggak tau kalo di perut Sisil sudah ada Cucu Mama." jelas Alvaro dengan kedua telapak tangan yang ia letakan di kedua telinganya.
...••••••...
Langganan jeweran mamak memang begitu :)
Jangan lupa! like, komen, hadiah dan vote kalo masih ada ..
Klik favorite juga jangan lupa!
~Zeyeng kalian~