
...••••...
Tepat pada pukul 02:30 dini hari.
David menepikan mobil miliknya tepat didepan gerbang hitam yang menjulang tinggi, menunggu seseorang membuka pintu tersebut agar ia bisa memasukan mobilnya dan segera beristirahat.
"Malam pak Yasir!" David menyapa.
"Selamat malam pak David." pria itu menganggukan kepala, kemudian kembali menutup pintu gerbang rumah besar yang saat ini di huni Daniel dan Rosa.
Mesin mobil sudah David matikan, namun ia masih diam menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Matanya terpejam, kemudian sebuah ingatan kembali berputar didalam isi kepalanya.
Malam ini, tepat di hadapan Bu Yani dan Bapak Malik, berserta Asisten saya sekaligus sahabat dari putri kalian. Saya David Julian Menalak anda Mikaila Adira saat ini juga.
Bibir David tersenyum, hatinya lega. Namun entah kenapa terasa begitu perih.
"Astaga Tuhan. Apa engkau masih menghukum ku? jika tidak, maka permudahlah jalan untuk aku kembali kepada salah satu ciptaan mu yang sangat ku cintai!" David berkata lirih.
Matanya masih terus terpejam, menikmati rasa gundah gulana yang terus memenuhi dirinya sejak saat Anna pergi, meninggalkan tanpa sepatah kata pun.
Hah!
David menyusut sudut mata yang tiba-tiba saja basah.
"Rasanya nikmat sekali bukan? maka nikmatilah, ini yang Anna rasakan dulu atas kebodohan mu sendiri, atau mungkin lebih. Tapi dia kuat, bisa melewati semuanya sendiri, sampai membesarkan gadis mungil yang aku titipkan dirahimnya, walau sempat tidak ku ketahui." David bermonolog.
Tok .. tok ...
Seseorang mengetuk kaca mobilnya, hingga membuat kesadaran David kembali dan membuka matanya.
"Ibu!" David terhenyak ketika melihat prempuan tua membungkuk seraya menempelkan wajahnya di kaca mobil.
"Kau pulang?" Rosa bertanya.
Wanita itu tersenyum, sudah cukup ia berkeras kepala, kini saatnya ia kembali, menyalurkan rasa rindu kepada putra semata wayangnya yang sempat pergi, dan membuat hubungan mereka memburuk.
Segera David membuka pintu di sampingnya, kemudian keluar dan memeluk Rosa dengan sangat erat.
"Masuk, disini dingin." tukas Rosa.
"Maaf membangunkan ibu, tadinya aku akan kesini pagi-pagi saja. Namu aku lelah dan tidak tau harus pulang kemana!" suaranya bergetar.
Rosa mengangguk, menepuk bahu anaknya pelan kemudian berbicara.
"Masuklah dulu, baru kita bicara." Rosa mendorong tubuh David.
Pria itu menangis.
Mereka berjalan masuk bersamaan, menuju ruang keluarga yang sudah terlihat sangat gelap.
Trek!
Rosa menekan saklar lampu, hingga seluruh ruangan kembali terang.
"Sini .. duduklah!" Rosa menepuk sisi kosong disampingnya.
Dengan sangat senang hati David datang menghampiri, namun bukanya duduk. David justru merebahkan tubuhnya, menajdikan paha Rosa sebagai tumpuan.
"Aku merindukan ibu!" dia memeluk Rosa kembali, lalu menangis lirih, sampai suara rintihan menyedihkan itu sangat jelas terdengar.
"Ya, kamu datang ke tempat yang tepat!" Rosa mengusap kepala David.
"Kenapa? apa Balqis tidak mau menemui mu lagi?" Rosa terus mengusap kepala putranya.
David menggelengkan kepala pelan.
"Aku sudah menalak Mika, bu!" Jelas David.
Rosa menjengit.
"Kamu menyesalinya? lalu kenapa kamu melakukan hal bodoh lagi!" wanita itu memukul bahu David kencang.
"Tidak, justru aku sangat bahagia karena sudah mengakhiri kekonyolan ini," kata David.
"Terus apa?" Rosa bertanya.
"Anna masih tidak memaafkan ku .. ish ini rasanya sesak sekali, dengan denyutan yang juga terasa sangat perih." David terkekeh, suaranya mendengung.
Rosa diam sesaat, memberi waktu untuk David menumpahkan keluh kesahnya.
"Itu tidak mudah, pasrahlah mulai sekarang! mungkin Anna sudah memiliki gandengan baru." Rosa berujar.
"Hu'um .. dan aku belum siap, jika posisiku akan segera digantikan orang lain." kata David jujur.
"Papanya Balqis, aku baru saja menjalin hubungan baik dengan putriku. Aku tidak siap jika Anna menikah dan Balqis tidak membutuhkan aku lagi sebagai Papanya." jelasnya dengan rasa sesak yang terus menjalar.
"Bu? ayah sudah tidur?" David menatap Rosa sesaat.
"Tadinya sudah, tapi aku tidak menemukan istriku!" suara itu tiba-tiba menyambar.
David bangun, menatap Daniel yang sedang berjalan ke arahnya dengan bantuan tongkat.
"Ayah sejak kapan berdiri disana?" Rosa bertanya.
"Sejak dia bilang merindukan ibunya!" jawab Daniel kemudian duduk, dan menyimpan tongka miliknya tidak jauh dari sana.
David berusaha menyembunyikan wajah sembabnya itu dari Daniel.
"Cih! laki-laki kok nangis." Daniel meledek.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu." David menghindar, pria itu berlalu begitu saja, meninggalkan Daniel yang baru saja duduk.
Daniel menatap lekat Rosa.
"Apa?" tanya Rosa.
"Kenapa dia selalu seperti itu? dia tidak pernah bersikap manis dihadapan ku!" Daniel menggerutu.
"Kalian itu sebelas dua belas! gengsinya gede." cicit Rosa.
Rosa tersenyum, wanita itu bangkit lalu meraih tangan suaminya.
"Tidurlah lagi, ini masih sangat pagi! kenapa ayah malah bangun." kata Rosa.
"Aku mendengar suara putraku, makanya aku bangun." Daniel bangkit dengan bantuan Rosa, lalu membawa tongkat itu berjalan kembali bersamanya.
...••••...
Trek!
David menyalakan lampu kamar.
Hawanya terasa dingin, setiap sudutnya terlihat rapih dengan posisi dan tata letak yang masih sama seperti dulu, saat Anna masuk dan juga menjadi penghuni kamar miliknya.
Yang membedakannya kali ini adalah, adanya beberapa boneka beruang berukurang besar dan sedang, milik putrinya yang sengaja ia simpan.
Pria itu berjalan menuju tempat tidur, kemudian menaiki ranjang besar itu, lalu memeluk satu boneka milik Balqis.
David kembali memejamkan mata, memeluk boneka itu erat seraya menghirup aromanya kuat-kuat.
"Papa rindu kalian." ucapnya lirih.
David kembali menitikan air mata, mengingat setiap momen manis bersama Anna meski hanya dua bulan saja.
"Rindu ini berat, rindu ini menyiksa ku Ann!" David merintih.
David merogoh ponsel di saku celananya, membuka kunci layar kemudian mencari foto yang pernah Sisil kirimkan.
"Oh .. aku merindukan kalian. Sungguh!" ujar David ketika melihat foto Anna bersama Balqis.
Cup!
David mencium layar ponsel miliknya, lalu meletakan benda pipih itu di atas nakas samping tempat tidurnya.
Pria itu kembali memeluk boneka milik Balqis, berusaha memejamkan mata seraya membayangkan yang dipeluknya saat ini adalah putrinya.
Prempuan lain yang memiliki wangi tubuh yang sama seperti Anna. Jelas, bahkan terkadang wajahnya persisi seperti prempuan itu, walau wajah David lebih mendominasi wajah putrinya.
Suara Isak tangis itu mulai memudar, lalu benar-benar hilang setelah beberapa menit, berganti dengan suara dengkuran halus pria itu.
David tertidur, seraya memeluk boneka Teddy Bear dengan rasa rindu yang terus menyeruak, sampai David kelimpungan tidak tau cara mengendalikannya.
Adududu ... yang nangis sampe keboboan!!
...••••...
Guys, jangan lupa! Like, komen, kopi, bunga, dan vote disetiap hari Senin yah!
Klik favorite atau tanda love, agar tidak tertinggal setiap othor update eps terbaru!!
~Yuhuu! cuyung kalian semuah~
Jangan lupa! follow Ig othor juga.
@_anggika15.