My Ex Husband

My Ex Husband
As you wish.



...••••••...


Mazda CX-5 hitam itu berhenti tepat didalam garasi rumah besar yang saat ini mereka tempati.


Anna melepaskan seatbelt yang masih melilit di tubuhnya, dan segera meraih handle pintu. Namun tangan kiri David menahan pergelangan tangan prempuan itu cukup kencang.


Keduanya saling menatap dalam diam.


"Apa?" tanya Anna ketus.


"Tunggu disini, aku antar Kaka masuk dulu sebentar." kata David, dia melihat ke arah kursi belakang, dimana Balqis masih terlelap.


"Nggak mau, aku mau tidur!" dia menghentakan tangannya, sampai genggaman tangan itu terlepas begitu saja.


Anna keluar, dia membanting pintu mobil dengan sangat kencang.


David mengusap wajahnya kasar, pria itu ikut melepaskan tali seatbeltnya lalu keluar dan segera membuka pintu di samping Balqis untuk membawa tubuh kecil itu kedalam rumah.


David membawa Balqis kearah pintu kamar Rosa yang terbuka.


"Lho, sudah pulang lagi?" ucap Rosa yang saat ini duduk di sofa bersama suaminya Daniel.


"Aku titip Balqis disini Bu, Anna ingin istirahat ... perutnya sedang keram." katanya lalu merebahkan tubuh Balqis di atas tempat tidur, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Apa terjadi sesuatu kepada Anna?" Daniel terlihat khawatir.


David mengulum senyum, lalu dia menjawab pertanyaan ayahnya dengan angguka kepala.


"Ada seseorang yang datang, dan itu membuat Anna kesal."


"Seseorang? siapa?" Rosa menjengit, lalu berjalan mendekat kearah putranya.


"Entahlah aku juga tidak pernah mengetahui dia siapa, tapi wanita itu mengaku sebagai kerabat Anna." jelas David lagi.


"Apa benar dia kerabatnya? siapa tau hanya mengaku-ngaku!" Daniel ikut penasaran.


David kembali mengangguk.


"Kejadian tadi seperti membuka luka lama yang sudah Anna berusaha sembuhkan sejak lama. Kalau begitu David ke kamar dulu, titip Balqis ya!"


Lalu David beranjak pergi, berjalan kerah luar kamar dan menutup pintu ruangan itu. Dengan langkah cepat David berjalan kerah pintu kamar yang tampak sedikit terbuka, dia menyembulkan kepala, menatap kearah kamar sana.


Tidak ada Anna disana. seketika David masuk, menutup pintu itu dan tidak lupa menguncinya dari dalam.


Klek!


Anna keluar dari kamar mandi dengan drees rumahan, rambut panjangnya ia cepol tinggi, dengan wajah yang terlihat segar dan sedikit basah.


Anna tertegung saat melihat David yang sudah berdiri di ambang pintu. Sorot matanya terlihat mematikan, dengan raut wajah yang juga terlihat muram.


Mas David marah! tapi kenapa? bukannya aku yang kesal, kenapa jadi terbalik.


Ucap Anna dalam hati.


Pria itu berjalan kearah Anna, dengan manik yang terus menusuk penglihatan prempuan cantik itu.


"Aku tidak suka di bantah, ku bilang tunggu di dalam mobil! kenapa malah masuk dan meninggalkan aku begitu saja!" David menggeram.


Anna yang mulai merasa terancam pun mundur beberapa langkah, namun itu sua-sia. Tangan itu sudah lebih dulu meraih pinggangnya.


"Mau menghindar lagi? apa selama ini belum cukup memberitahu mu, bagaimana menakutkannya kemarahan ku Kyara Anna!" suaranya terdengar rendah, dan di detik kemudian dia menyatukan kening keduanya.


Suasana kembali hening, mereka diam cukup lama, saling menikmati hembusan nafas masing-masing yang terus menyapu wajah keduanya.


"A-aku lelah, adik mau tidur!" Anna mendorong dada suaminya untuk menghindar.


"Alasan macam apa itu?" ucap David penuh penekanan.


"Bu-bukan alasan mas, sungguh aku lelah dan mau tidur siang." Anna terus bergerak, berusaha melepaskan diri dari David, namun tak kunjung berhasil.


David diam, dia terus menatap wajah Anna yang mulai terlihat ketakutan, namun membuat prempuan itu jelas lebih menantang.


"Mas, aku mau tidur ... lepa—"


Suara Anna terhenti, saat David membungkam mulutnya dengan ciuman penuh hasrat.


"Kamu berisik! bawel dan terlalu banyak berbicara." tegas David.


Dengan gampangnya David memangku tubuh Anna, dan membawanya keatas tempat tidur.


"Seandainya tidak ada bayi ku di dalam sana, sudah ku lempar seperti biasa keatas tempat tidur ini." David berbisik, lalu mengigit daun telinga milik istrinya.


Mata Anna terpejam, jemari tangannya bahkan meremat bahu David, saat sesuatu mulai menyeruak di dalam tubuhnya.


"Ini masih siang, mas!" suara Anna lirih.


"Memangnya kenapa kalau masih siang? kamar ku kedap suara, tidak akan ada yang mendengarnya." kata pria itu seraya melucuti pakaian yang masih melekat di tubuhnya.


"Tapi Balqis?" Anna masih memperhatikan drees di yang sudah berada dalam genggam David.


"Bisa diam? kamu terus mengulur waktu ku!" sergah David.


Anna bungkam, dia mulai pasrah atas apa yang akan David lakukan.


Akhinya, setelah beberapa detik mereka berdua sama-sama polos tanpa sehelai benang pun.


Pandangan Anna menatap tubuh atletis di atas sana, pria yang juga sedang menatap dirinya dengan raut wajah yang tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata.


Tubuh yang tampak sedikit berisi, kulit yang mulus dan putih tanpa kekurangan apapun, dengan perut yang sudah membulat, dan itu membuat Anna terlihat semakin menggemaskan.


Pelahan David mengusap perut Anna, membungkukan tubuh dan menghujaninya dengan ciuman basah.


"Kamu kangen Papa? kita akan bertemu sebentar lagi, jangan protes! apalagi membuat ibu mu kesakitan okey?" dia berbicara tepat di hadapan perut Anna.


Prepuan yang sudah terlihat pasrah itu mengusap kepala suaminya pelan, dan seulas senyuman pun terbit ketika melihat David begitu antusias dengan kehamilannya saat ini.


Pandangan David menengadah, melihat prempuan yang sedang tersenyum kepadanya dengan wajah datar seperti biasa.


David bangkit, dia mulai memposisikan diri di antar kedua paha Anna yang sudah terbuka.


Kedua tangannya menyentuh Pangkal paha Anna, dan menekuknya perlahan saat miliknya sudah siap ia benamkan.


Dada Anna membusung, matanya terpejam dengan jemari yang meremat kuat lengan David, sampai bekas cakaran terlihat jelas memerah di tangan pria itu.


David tersenyum, kemudian mengigit bibirnya, saat rasa gemas kembali menguasai dirinya. Ingin dia menghajar Anna habis-habisan tanpa ampun, tapi dia tidak bisa, karena ada bayi di dalam sana yang tidak boleh ia guncang dengan getara tinggi.


(Eaaa ... mereka main guncang-guncangan) : 0


"Mmmhhh ... Papa pelan-pelan!" rintihan Anna mulai terdengar, saat David mulai menggerakan pinggulnya di bawah sana.


Pria itu diam, dia hanya fokus menatap wajah Anna yang mulai terlihat memerah.


Tubuh David membungkuk, segera meraih bibir untuk memangutnya lembut, saling menukar saliva dan menyentuh lidah satu sama lain.


"Ahh ..." des*Han Anna terdengar memenuhi ruangan itu.


Sementara David terus menyusuri wajah Anna, mencium kening, beralih kepada mata, pipi dan turun ke leher.


Tubuh itu terus bergerak tidak beraturan, bahkan tangannya tidak diam, Anna mencengkram kain pelapis di bawahnya dengan sangat kencang.


Melihat Anna seperti itu membuat David hampir lepas kendali. Namun tangan Anna segera menyentuh perut David untuk menghentikan pergumulan itu sesaat.


"Why?!" ucapnya dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Tidak boleh terlalu kencang, perutku keram lagi!" suaranya lirih, dengan mata yang terus memandang manik kelam suaminya.


"Hanya sebentar, aku selesai sayang." David mengusap pipi Anna, lalu dia kembali melanjutkan permainannya.


Suara erotis percintaan keduanya menggema di dalam sana, ******* dan geraman saling bersahutan, mengantarkan hasrat untuk segera mencapai puncak.


"Faster please ... Papa!" pinta Anna, bahkan prempuan itu berteriak saat hasratnya sudah hampir sampai.


"As you wish Babe." David mengeratkan rahangnya.


Hentakan pria semakin cepat, begitupun dengan leguhan panjang saat David berusaha mengejar pelepasan istrinya.


"Astaga Anna!!" dia menggeram, tubuhnya bergetar saat sesuatu kembali menyembur memenuhi rahim Anna.


Nafas dua sejoli itu memburu, dadanya naik turun, lalu mereka tersenyum.


"Kamu lepas kendali lagi!" ucap Anna lemas.


David mencium kening Anna, turun ke bibir dan berakhir mencium perut, lalu melepaskan tautan tubuh mereka.


"Maaf, aku selalu bersemangat saat mendengar suara mu." jawab David, dia berbaring di samping Anna, dan memeluk tubuh istrinya erat.


Anna menarik selimut, menutupi tubuh keduanya, dan segera membenamkan wajah di dada yang selalu terasa nyaman milik pria tampan di dekatnya itu.


"Aku mau tidur." gumam Anna.


"Tidurlah." balas David seraya mengusap puncak kepala Anna penuh kasih dan sayang.


...••••••...


Gimana? cuacanya panas nih!!!


Jangan lupa like, komen, hadiah dan dukungan lainnya. Klik favorite juga jangan lupa!


~Dan untuk kesekian kalinya othor mau bilang ... Cuyung kalian~