My Ex Husband

My Ex Husband
Release (Season 2).



...~Ngasih bocoran dikit~...


Btw Othor nggak published disini yah!! 🤭


Balqis Raline Julian, gadis cantik nan manis dengan semua keceriaan dan pesonanya. Kini gadis kecil itu berusia 25tahun, dan sudah menjadi pengganti sang ayah di perusahaan milik mendiang kakeknya dahulu di usiannya yang masih sangat muda.


Tingkah dia yang konyol, membuat semua orang di sekelilingnya selalu tertawa lepas dan tersenyum bahagia. Tapi jangan salah! beliau adalah wanita paling garang ketika berada di kantor apalagi saat jam kerja masih berlangsung.


Namun keceriaan itu lenyap begitu saja, dia berubah menjadi prempuan angkuh dan dingin, bahkan kesalahan kecil saja bisa membuatnya sangat murka.


Terutama kepada Junior, asisten magang yang kini selalu berada disisinya hampir setiap saat.


Tentu, perubahan ini membuat Anna dan David bingung, sekaligus khawatir atas perubahan sikap Balqis, apa mungkin dia mengalami sesuatu yang berat? entahlah, hanya gadis itu dan tuhan yang tahu.


Satu yang lebih jelas, perubahan itu terjadi setelah sepulangan Balqis dari liburannya ke negeri ginseng (Korea).


Tok, .. tok!


Seorang prempuan paruh baya, berdiri di hadapan sebuah pintu yang tertutup rapat.


"Ka, Mama masuk yah!?" Anna berteriak, agar putrinya dapat mendengar dengan jelas.


Sementara gadis itu terhenyak saat mendengar suara seseorang yang sangat familiar. Matanya membulat, dengan jantung yang terasa berpacu lebih kencang dari pada sebelumnya.


Sesuatu yang berada di antara kedua jari Anna terjatuh begitu saja di atas lantai, dan dengan cepat Balqis menginjaknya, agar api dari puntung rokok tersebut mati.


"M-masuk saja, Mam!" sahut Balqis, dia terus menggerakan tanganya di udara, berusaha menghilangkan asap rokok yang masih mengepul memenuhi ruangan itu.


Ceklek!


Handle pintu bergerak pelan, kemudian munculah sosok prempuan cantik, yang tidak lain dan tidak bukan adalah ibunya sendiri.


Balqis bangkit dari kursi kebesarannya, seulas senyum pun bangkit, ketika pandangan mereka beradu.


"Ehehe, ... Mama antar makan siang lagi?" raut wajah Balqis tampak memerah.


Gadis itu mengalami gugup dan takut di waktu yang sama.


Anna berdiri di ambang pintu, menatap putri sulungnya lekat, saat menyadari sesuatu yang janggal lagi-lagi terjadi.


"Mam, masuklah! untuk apa terus berdiri di sana," lagi-lagi Balqis tersenyum.


Mati gue! Balqis mengumpat.


Klek!


Anna segera menutup pintu ruangan yang dulu milik suaminya itu rapat-rapat, kemudian berjalan kearah sofa dengan mata yang terus menatap gadis itu tajam.


"Hah!" Anna menghela nafasnya perlahan, lalu meletakan sebuah kotak bekal di atas meja.


Anna langsung duduk di sofa besar yang tersedia, menyandarkan punggung dengan kedua tangan yang sudah dia lipat di atas dada.


"Berapa kali kamu Mau menyangkal? berapa kali juga mau membodohi Mama mu ini? Mama tahu kamu merokok sekarang, tapi dengan tegas juga kamu menyangkalnya bukan?" kata-kata itu sukses membuat Balqis bungkam dan semakin ketakutan.


"Setidaknya jangan merokok di dalam ruangan ini, dulu Papa mu juga tidak melakukan itu, dia akan merokok di luar Ka, sampai ruangan ini selalu terasa wangi, tidak bau seperti sekarang!" tegas Anna.


Setelah sekian menit berdiam diri. Akhirnya Balqis berjalan mendekat kerah dimana ibunya berada.


"Hanya rokok, Mam!" ucapnya sambil duduk. "Papah juga dulu perokok bukan? tidak ada bedanya Mam, hanya saja aku wanita, dan itu membuat cara pandang Mama kepadaku berbeda." sambung Balqis kembali.


"Mama harus jawab apa jika Papa menanyakan ini? bahkan dia sudah lebih curiga dibandingkan Mama, ka!"


Balqis diam, dia menundukan kepalanya.


"Kamu ini kenapa? apa yang membuat mu berubah menjadi seperti ini!"


Mata Anna mulai memerah, dan menimbulkan genangan air di pelupuk mata sana.


"Sorry." hanya itu yang keluar dari mulut Balqis tanpa menjelaskan sesuatu.


"Apa Bianca tahu tentang ini?" tanya Anna penuh selidik.


Dengan cepat Balqis menggelangkan kepala.


"Nope, tidak ada yang tahu aku kenapa selain tuhan."


dulu ag—"


"Mam, stop!" sergah Balqis.


"Maka katakanlah!" Anna memohon, wanita itu benar-benar tidak sanggup saat melihat putrinya hancur, namun dia selalu berusaha terlihat baik-baik saja.


Tapi Anna adalah seorang ibu, batinnya bahkan berteriak saat menyadari jika saat ini Balqis tengah mengalami patah hati, dan prempuan itu bersikap seperti menghukum seseorang, tidak! lebih tepatnya menghukum dirinya sendiri.


Tapi kenapa? bukankah dia bahagia sebelum pergi ke Korea sana? apa yang terjadi dan membuat Balqis hilang kendali sejauh ini.


"Apa ada hubungannya dengan Han Seo hyun!?"


"Tidak ada Mam, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Ayoklah Mam, hanya rokok, tidak aneh-aneh kok!"


"Ck! Mama kira hanya darah dan wajahnya saja, nyatanya keras kepala Papa mu itu kau warisi juga," Anna berdecak sebal.


"Aku mempunyai sikap konyol juga seperti Mama, hanya saja sikap itu sedang aku simpan. Terkadang banyak tertawa juga di sepelekan orang lain!" jelas Balqis.


Anna tidak menjawab, dia memilih diam kemudian meraih kota bekal itu, segera membuka dan menyodorkannya kepada Balqis.


"Mama bikin ayam suir pedas kesukaan kalian, makanlah selagi hangat."


Balqis mengangguk, dengan seulas senyum tipis yang terbit diantar kedua sudut bibirnya.


"Mama pasti ke kampus Eca." ujarnya seraya menyantap nasi dan ayam suir yang Anna bawa.


"Tentu saja, dia akan merajuk jika Mama mengantar makanan kesini, tapi tidak ke kampusnya."


Balqis tertawa pelan.


"Thank you Mama, i love you."


Anna tersenyum, kemudian satu tangannya bergerak, lalu menepuk-nepuk bahu prempuan itu.


"Mama siap menjadi pendengar yang baik, katakan jika kamu memang sudah tidak sanggup menanggungnya sendiri."


"Mama berlebihan, aku baik-baik saja. Sungguh!" prempuan itu berdusta, namun dia tampak bersungguh-sungguh.


"Iya iya, si sulung yang merasa paling kuat." Anna mengusak rambut putrinya.


"Mam stop! rambut ku akan berantakan jika Mama terus-menerus melakukan itu, ayoklah, aku sudah dua puluh lima tahun!" raut wajahnya tampak sedikit kesal.


"Kamu tetaplah gadis kecil Mama, meski nanti usia mu menginjak tiga puluh tahun." ucap Anna sambil terkekeh pelan.


"Hemm, ... itu bagus! kalian harus sehat dan panjang umur, sampai cucu-cucu kalian lahir nanti!" celetuk Balqis.


"Cucu? apa kamu akan cepat menikah!" Anna tampak bersemangat.


"Belum kepikiran, belum mau juga!" tegas Balqis, hingga mampu membuat senyuman di bibir sang ibu memudar.


"Sepertinya Mama harus berbicara soal ini kepada Papa mu, agar mencarikan pria dan menjodohkan kalian."


"Astaga, kalian kolot! sudah tidak jaman di jodoh-jodohkan seperti itu!" sergah Balqis.


"Kalo saran ini tidak bisa kamu terima. Maka Mama akan memberi saran lain!"


Wanita paruh baya itu menatap lekat Balqis, kemudian memainkan alisnya sampai bergerak naik-turun.


"Apa itu?" dia terlihat antusias, disela makan siangnya yang terasa begitu nikmat.


"Carilah pria matang, mereka akan sangat mencintai mu."


Seketika Balqis menghentikan aktifitasnya .


"Ish, aku tidak mau!" Balqis bergidik ngeri.


"Pria matang itu akan lebih mengerti kita, di bandingkan pria seumuran, terkadang mereka masih mengutamakan ego!" jelas Anna lagi.


"Big no! seorang Raline Julian menikah dengan bujang lapuk? apa kata dunia Mam?"


"Dunia tidak akan berkata apa-apa, percayalah." Anna serius.


Namun beberapa detik kemudian, ruangan itu menggema dengan suara tawa dua prempuan berbeda usia itu.