
...••••••...
Setelah drama rumah tangga pagi hari tadi. Akhirnya, tanpa banyak bicara David mengantar istrinya ke rumah kedua orang tua Sisil.
Satu jam duduk di kursi kemudi mengendalikan setir. Akhirnya mobil Mazda Hitam milik David melamban, dan berbelok memasuki sebuah halaman rumah yang terlihat sudah ramai.
Bahkan mobil putih yang selalu Anna kendaraan dulu, tampak terparkir disana.
Seketika semua sorot mata tertuju pada sebuah mobil hitam yang sangat mereka kenali, berhenti tepat di samping mobil berwarna putih.
Wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu Sisil tampak tersenyum hangat, dia berjalan kearah luar untuk menyambut kedatangan David dan Anna.
Anna menarik handle pintu mobil, kemudian dia keluar, di susul Balqis yang membuka pintu belakang, juga David yang berada di sisi lain.
"Neng?" Ningsih menyapa.
"Sedang sibuk kah, Bu?" Anna berjalan menghampiri.
"Tidak, pekerjaan ibu jadi lebih cepat selesai." katanya yang langsung Anna jawab dengan angguka dan senyum samar di kedua sudut bibirnya.
"Hey, Kaka Balqis sudah terlihat lebih tinggi yah!" Ningsih mengusap kepala Balqis.
"Tiap hari Nenek bikin Susu, Bu. Teteh kemana? kok nggak pernah nengokin aku sih!" gadis kecil itu menengadah, memandang wanita paruh baya yang berdiri tepat di sampingnya.
"Mungkin sebentar lagi datang. Kalau begitu mari, kita tunggu Teteh datang di antar om Al." Ningsih meraih tangan kecil itu, dan menariknya kearah dalam.
Mereka berjalan masuk.
David terkesiap saat melihat sosok gadis cantik duduk di atas ubin, dengan perkakas dapur dan sekantong bawang yang yang berada di hadapannya.
"Kamu disini?" David menatap Nova.
Gadis itu langsung mengalihkan pandanganya kearah suara berada. Dia mendongak, menatap David yang berdiri di ambang pintu.
Nova mengangguk.
"Iya om, aku datang kemarin pagi," Nova tersenyum.
"Mau tinggal disini sampai berapa hari?" David kembali bertanya, sementara Anna diam, menatap gadis itu dengan tatapan bingung.
"Sayang, ini Nova," jelas David.
"Nova?" Anna memincingkan mata, berusaha mengingat.
"Yeah, adiknya Alvaro. Apa kamu lupa, atau tidak pernah bertemu sama sekali yah!" David menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Emm .. aku lupa!" Anna tersenyum canggung, pun dengan Nova yang tampak malu-malu seperti biasa.
"Nova sini," David menggerakan tangan agar adik dari asisten pribadinya itu mendekat.
Gadis itu mengangguk, dia bangkit dan berjalan kearah David, Balqis dan juga Anna yang berdiri di ambang pintu.
"Masuk dulu, ngobrolnya di dalam. Masa berdiri seperti ini!" ajak Ningsih, kemudian dia berjalan terlebih dulu kedalam ruang tengah.
"Kalau begitu kami masuk yah!" ucap Anna kepada para pekerjanya, yang sejak tadi berada di sana memperhatikan dia.
Faiqa, Ratmit, Anis dan Juga Syaif mengangguk seraya tersenyum ramah kepada keluarga bosnya yang baru saja tiba.
Namun David selalu bersikap dingin, dan itu lebih menusuk jika dia menatap Syaif. Seorang pria yang pernah berharap menempati posisinya saat ini.
Tampan memang, tapi yang pantas menjadi suami Kyara Anna tetap aku. David Julian, seorang pria matang dengan sejuta pesonanya.
Batin David berbicara, dengan rasa percaya diri yang juga terus bangkit didalam dirinya.
Tidak lama setelah mereka duduk, mobil sedan hitam datang, berhenti tepat di belakang mobil David.
Dan seseorang yang keluar dari sana menyita perhatian Balqis. Gadis kecil itu tersenyum sumringah, saat melihat Sisil berjalan kearah pintu masuk dengan Al yang juga berjalan di belakang prempuan itu.
Balqis yang sudah duduk kembali bangkit, kemudian berlari dengan teriakan yang juga memenuhi rumah itu.
"Ka, jangan lari ... nanti kamu jatuh!" David juga berteriak, ketika melihat putri sulungnya berlari dengan sangat kencang.
"Biarkan saja, dia rindu Sisil." kata Anna pelan.
Brugh!
Balqis langsung memeluk tubuh Sisil, benturan tubuh keduanya sangat kencang, sampai membuat Sisil terjerembab kebelakang, untung saja pria tinggi di belakangnya sigap menahan tubuh Sisil.
"Hey, hati-hati!" suara Al memekik, hampir berteriak, namun ia tahan saat mengetahui siapa yang memeluk tubuh istrinya saat ini.
"Sudah Papa katakan, hati-hati! kamu hampir membuat Teteh mu terjatuh ka! lain kali jangan begitu, atau adik bayi di dalam perutnya akan terluka dan menangis." David berjalan menghampiri.
"Aqis kangen Pah." katanya sambil terus memeluk tubuh Sisil.
Sisil mengusak rambut Balqis, sampai anak kecil itu mendongak, dan merentangkan gang di beberapa detik kemudian.
"Apa?" Al menjengit, menatap Balqis penuh tanya.
"Mau gendong!" dengan santainya Balqis menjawab.
Sementara dua pria itu membulatkan mata.
"Tida-tidak!" teriakan Al dan David terdengar cukup kencang.
"Ya ampun kalian ini!" cicit Anna.
"Biasa aja kale!" ujar Balqis sebal, bahkan saking kesalnya dia terlihat mendelik kearah asisten sang ayah.
"Aku mau Teteh!" Balqis berteriak.
"Baiklah, ayok kita duduk dulu." Sisil menepuk bahu anak asuhnya.
"Mau gendong." pintanya kembali, dengan raut wajah memohon.
Sisil yang tidak tega pun menoleh kearah suaminya.
"Yank, boleh yah?"
"Tidak! nanti Junior kenapa-napa."
"Ish, ... om Al pelit."
"Memang, kamu tahu. Om juga jahat, menitipkan adik om kepada Bu Ning, karena om tidak mau berbagi." katanya, lalu pria itu menjulurkan lidah.
"Papah."
Balqis mengadu.
"Sudah besar bukan? jadi jalan saja tidak usah di gendong." David kembali meraih tangan kecil itu dan kini tanpa perlawanan.
Raut wajah Balqis berubah, dia cemberut namun membuat semua orang yang berada di sana tersenyum-senyum.
"Ada adik bayi di dalam perut Teteh, jadi nggak boleh gendong Kaka! Kaka kan sudah besar, kenapa masih mau di gendong?" Anna mengusap kepala putri sulungnya.
"Aqis kesel!" dia cemberut.
"Jangan kesel, sini sama Bu Ning saja gendongnya."
Tawar wanita itu, namun Balqis menolaknya dengan gelengan kepala.
"Bu Ning sudah tua, mana kuat." celetuknya.
"Ini ada Tante Nova, ayok main sana." Bu Ning berujar.
"Nggak ah, malu!" kata Balqis saat pandangannya bertemu dengan Nova.
"Tidak usah malu, itu adik om Al." tukas Sisil, dia duduk di kursi rotan yang masih kosong di samping Nova.
"Nggak ah." Balqis tetap tidak mau.
Kini pandangan Sisil beralih kepada Anna.
"Ibu kesini? chek penjualan kah?" Sisil bertanya.
"Tidak, saya mau minta di bikinkan Asian sama ibu kamu."
"Asinan?" Sisil, Al dan juga Bu Ningsih berucap secara bersamaan.
"Aih kalian ini sangat kompak."
"Asinan apa?"
"Kol sama timun saja Bu, kayanya seger banget ... sampai terasa sudah berada di ujung lidah."
"Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar biar ibu buatkan."
Dengan cepat wanita itu berlalu, pergi meninggalkan keluar David, juga anak menantunya.
"Kamu tidak bantu ibu?" Al menatap Nova tajam.
"Tadi bantuin kok!"
"Abang ih, galak amat jadi orang." cicit Sisil pelan.
Al diam setelah Sisil berbicara seperti itu. Selamalam sudah cukup, saat Sisil terus mengomel, ketika pria itu benar-benar tidak mengizinkan adiknya ikut pulang.
"Kerja sana!" suara bariton itu menginterupsi.
"Sebentar lagi pak, kenapa bapak belum berangkat?!"
"Aku bos mu!"
"Hemm .. baiklah, aku berangkat sayang, dari pada gajiku di potong lagi seperti tahun-tahun sebelumnya."
Sisil mengangguk.
Cup!
"Tunggu aku pulang."
Katanya, lalu Al pergi setelah mencium kening Sisil.
"Astaga, bahkan ada saya disini!" geram David.
Senyuman di bibir Sisil pudar saat David berkata seperti itu. Dia bangkit, menarik Nova dan Balqis, lalu membawanya kearah dapur.
"Galak banget!" sindir Anna.
"Maaf." David tersenyum, dan mereka berdua pun terkikik pelan.
...•••••...
Jangan lupa like, komen, hadiahnya cuyung othor...