
Haleth menyandarkan tubuhnya di kursi sambil melepas kedua stiletto nya. Kakinya terasa pegal, bercampur perih akibat luka lecetnya. Meskipun sudah tertutup plester, gesekan stiletto itu cukup menyiksa. Haleth menghembuskan nafasnya dengan lega saat merasakan kebebasan pada kakinya.
Tetapi hal itu disalahartikan oleh Adam yang baru selesai mengenakkan seat belt. Pria itu mengira, helaan nafas Haleth adalah hal yang cukup menyinggung dirinya jika dijabarkan.
"Kau, benar-benar tidak ingin satu mobil denganku?" dengan hati-hati pria itu bertanya.
Haleth spontan menoleh dan mengernyit. "Apa sih? Cepat jalan saja!" perintahnya kemudian tak lagi menatap Adam.
Pria itu lantas melakukan apa yang Haleth katakan. Mobil itu melaju dengan kecepatan stabil. Jalan raya di siang hari itu tidak terlalu padat sehingga Adam bisa sesekali melirik ke arah Haleth yang tak lagi membuka suara. Adam menyadari, wanita itu tampak begitu lelah. Ia mulai sedikit ragu untuk membawanya makan siang di luar. Apalagi jika Tasha tidak ada. Pasti Haleth akan memaksa pulang meskipun harus berjalan kaki.
Ah, tentu saja, Adam belum memberitahukan kepada Haleth tentang Tasha. Itu bukan rencananya. Tapi tiba-tiba saja Emery menelepon dan mengabarinya, Tasha dibawa oleh Ibu dan mantan mertuanya itu ke Los Angeles dengan alasan jalan-jalan. Padahal alasan utama mereka membawa Tasha adalah agar Haleth dan Adam menghabiskan waktu berdua. Meyakinkan Haleth, jika Adam layak diberi kesempatan kedua.
Tetapi begitu melihat Haleth yang terlihat begitu lelah, membuat Adam berpikir dua kali. Selain khawatir, Adam juga tidak ingin membuat mood Haleth menjadi buruk akibat keinginannya. Memang ia ingin bisa menghabiskan waktu berdua dengan Haleth selagi Tasha menikmati acara jalan-jalannya bersama kedua Oma nya. Tapi hal utama yang harus Adam lakukan agar Haleth merasa nyaman, adalah sebuah perhatian.
Adam menolehkan kepalanya menatap Haleth saat ia menghentikan mobilnya di lampu merah. "Kau, baik-baik saja?" tanyanya.
Haleth menggeleng lalu ikut menoleh pada Adam. "Bisa, antar aku pulang saja? Efek dari mabuk semalam masih terasa hingga sekarang." wanita itu bergumam.
"Kau memakan sup buatan ku tadi pagi?"
"Ya. Aku menghabiskannya. Terima kasih,"
"Ingin makan apa setelah ini?" pria itu kembali bertanya.
Haleth menggelengkan kepala lalu menyandar di jendela. "Ajak saja Tasha makan siang hingga dia kenyang. I'm good."
Terdengar Adam mendecak saat lampu lalu lintas kembali hijau. Pria itu membelokkan arah mobilnya ke kiri, dan itu sukses membuat Haleth kembali menegakkan tubuhnya dengan kening mengernyit.
"Ini bukan jalan menuju rumahku dan juga sekolah Tasha. Kau mau membawa ku kemana?!"
"Kau butuh sesuatu untuk di makan!" Adam kemudian menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran Jepang yang berletak di sisi kiri jalan. Setelah mematikan mobilnya, Adam lantas menatap Haleth sudah memasang wajah masam.
"Masih suka sushi?" pria itu bertanya.
Haleth tidak menjawab, dan hanya menyandar sambil menatap keluar dari jendela. Namun Adam mengartikan diamnya Haleth adalah jawaban 'iya', sehingga Adam melepaskan seatbelt dan membuka pintu. "Tunggu di sini sebentar." katanya lalu keluar.
Haleth masih tak menghiraukan Adam bahkan sampai pria itu memasuki restoran. Salah satu sifat Adam yang menyebalkan bagi Haleth. Pria itu pemaksa. Tidak peduli ratusan kali Haleth berkata tidak, Adam akan bersikeras mewujudkan apa yang pria itu inginkan. Singkatnya, percuma saja menolak.
Tak sampai 15 menit, Adam kembali masuk ke dalam mobil setelah meletakkan beberapa box sushi di jok belakang. Pria itu kembali melajukan mobilnya menuju rumah Haleth.
Sesampainya di rumah wanita tersebut, Haleth terlebih dahulu keluar dengan menenteng kedua stiletto nya. Adam yang baru saja menutup pintu setelah mengambil sushi di jok belakang, merasa terheran. Dengan setengah berlari Adam menyusul Haleth dan berjalan di belakang wanita tersebut.
"Kenapa tidak di pakai sepatunya?"
Haleth menoleh sebentar. "Pegal," jawabnya singkat.
Namun saat Adam menatap ke arah kaki Haleth, pria itu mendecak lantas berseru memanggil Frank. Dengan setengah berlari Frank keluar dari pos nya guna menghampiri Adam, dan menunduk memberi hormat untuk beberapa detik.
"Ada yang bisa dibantu Mr Legrand?"
"Bawa ini!" Adam menyerahkan kantung-kantung berisi box sushi yang semula itu bawa pada Frank, kemudian berlari menyusul Haleth dan menggendongnya.
Wanita itu sempat memekik karena terkejut saat kakinya tak menginjak paving halaman rumahnya. "Kurang ajar! Apa yang kau lakukan?!"
"Diam! Tidak usah sok kuat mentang-mentang kau Dokter! Bagaimana bisa kakimu luka seperti itu?!"
Haleth merotasi bola matanya lalu memukul bahu Adam. "Turunkan aku!"
"Tidak akan sampai kau masuk kamar."
Haleth membelalak dan semakin meronta. Sial! Tidak lagi! Adam tidak akan paham se trauma apa Haleth dengan kamar, dan Adam!
"Astaga! Haleth! Berhenti meronta! Kau bisa jatuh!" pria itu memperingatkan.
"Biarkan! Cepat turunkan aku!" Haleth menatap Frank yang berjalan di belakang Adam tanpa berhenti meronta. "FRANK! PUKUL SAJA ORANG INI! CEPAT!"
Tetapi Frank hanya menundukkan kepalanya kemudian berkata, "Maaf Mrs Haleth,"
Pada akhirnya Haleth mulai diam sampai Adam masuk ke dalam rumah usai Frank membukakan pintu.
"Bawa makanan itu ke ruang makan. Aku bisa mengatasi Haleth," ucapnya pada Frank.
Begitu Frank pergi, disaat itulah Haleth dilanda rasa cemas luar biasa. Dia tidak tau apa yang Adam rencanakan. Apa yang ada di otak pria itu? Berantakan pikiran Haleth.
Jantungnya makin berdegup kencang saat Adam mendudukkannya di ranjang. Pria itu juga menyimpan kan stiletto dan handbag nya. Setelahnya, Adam mengambil kotak p3k di tempat biasa Haleth menyimpannya. Tentu saja dia hafal. Adam bahkan tau, Haleth selalu menyimpan setidaknya ada satu kotak p3k di setiap ruangan yang ada di rumah tersebut.
Okay. Kini Haleth mulai bisa tenang. Mungkin memang benar, hanya dirinya saja yang terlalu cemas.
"Kenapa bisa terluka seperti ini?" interogasi Adam sambil duduk di karpet. Tangannya menarik perlahan salah satu kaki Haleth yang terluka dan melepaskan plester yang bahkan tidak bisa menutup sempurna luka tersebut.
"Stiletto," jawab Haleth.
"Kan biasanya tidak memakai stiletto saat bekerja. Jadi luka kan! Sudah tau tidak bisa lama-lama pakai stiletto."
Haleth menghela nafas. "Aku tergesa-gesa. Ada janji dengan pasien, kau juga tau sendiri tadi."
"Saat aku mengantar sarapan, kakimu sudah seperti ini?" tanya pria itu lagi, dan hanya dijawab gumaman oleh Haleth.
Adam menghela nafasnya. Dengan telaten ia mengobati luka lecet itu dan memplester nya kembali dengan benar.
"Sudahlah, Adam. Ini hanya luka kecil. Lebih baik kau menjemput Tasha saja! Aku khawatir. Dia pasti sudah menunggu,"
"Tasha tidak sekolah hari ini." Adam memotong ucapan Haleth.
"Kenapa?"
Seraya membereskan isi kotak p3k, Adam menjawab, "Aku yang mengizinkannya. Karena, ya kau tau, Tasha ingin terus dengan Daddy nya."
"Lalu? Dimana Tasha sekarang? Dia masih di rumahmu?"
Pria itu bangkit untuk menyimpan kembali kotak p3k itu. "Tidak," ia menjawab. "Tasha dibawa ke Los Angeles oleh Jessica dan juga Emery,"
"What?!" Haleth yang terkejut tiba-tiba saja turun dari ranjangnya dan berjalan menghampiri Adam. "Kau tidak mengatakannya padaku?! Untuk apa mereka pergi ke LA?!"
"Jalan-jalan, kurasa."
"But, you guys didn't say anything to me!" wanita itu mengernyit.
"Tidak perlu cemas, Haleth," Adam mengusap kedua bahu Haleth, namun ditepis cepat oleh sang empu. "Jessica merindukan Tasha. Mereka berdua pasti akan menjaga Tasha." ungkap Adam.
"Ya! I know! Tapi setidaknya beritahu aku, Adam! Aku Ibu Tasha! H-how, ck! Nevermind!" Haleth menghembuskan nafasnya kasar dan berbalik kembali menuju ranjang. "Pulanglah Adam."
Adam berjalan menghampiri Haleth yang menutupi tubuhnya dengan bed cover. Pria itu mendudukkan dirinya di tepi ranjang. "Hey, don't be mad. Bukannya tidak mau memberitahu mu. Tapi, melihat kau yang selalu sibuk jika sudah di rumah sakit, jadi Emery memintaku untuk memberitahumu secara langsung."
"Tidak perlu beralasan," wanita itu menyahut pelan. "Kau selalu berbohong padaku. Pulanglah."
"Sorry?"
Haleth kembali menghela nafas. "Emery selalu memberitahuku terlebih dahulu sebelum membawa Tasha pergi. Kemanapun itu."
"But,"
"Go home,"
"Haleth,"
"Just go home!"
Haleth meninggikan suaranya yang sukses membuat Adam terdiam. Pria itu beranjak tanpa suara. Namun saat hendak menutup pintu, Adam kembali menatap Haleth yang tidak bergerak dari posisinya.
Adam menghela nafasnya, meremas handle pintu itu. Mengalah? Lagi?