
...•••••...
Alphard hitam yang sedang di tumpangi Anna bersama rombongannya melaju dengan cepat, melesat kencang di atas jalan tol setelah terjebak macem puluhan menit lamanya, di daerah puncak.
Seperti biasa, ketiga pekerjanya tertidur, pun dengan Balqis yang juga ikut terlelap. Berbeda dengan dua sejoli yang sedang perang dingin, hanya karena pembahasan Bali dan bikini tadi.
Setelah hampir tiga jam perjalanan, akhinya mereka sampai di kediaman Bu Ningsih.
Anna menoleh kebelakang, melihat wanita paruh baya itu yang baru sada tersadar dari tidur nyenyak nya.
"Terimakasih neng, kalo begitu saya pamit dulu. Den David terimakasih juga, mari!" katanya setelah dia keluar dari mobil.
Pria itu hanya mengangguk.
"Saya juga ikut turun disini sajalah Bu, terimakasih liburannya, Samapi bertemu Minggu depan," ucap Ratmi. "Pak .. saya pamit!"
Sementara Sisil, dia diam sambil terus melambaikan tangan kearah ibunya, dengan raut wajah sendu.
"Kamu mau pulang dulu Sil? turunlah." David menatap pengasuh Balqis dari kaca spion.
Sisil tampak bingung.
"Pulanglah, Balqis sudah besar. Kamu agak bebas sekarang."
"Bapak pecat saya?" Sisil menunjuk dirinya sendiri.
"Tidak, tapi mungkin setelah ini kamu bantuin produksi sambal usaha Anna, balik lagi kalo adeknya Balqis udah ada!" jelas David.
Sementara Anna hanya diam menyimak percakapan keduannya.
"Sekolah Aqis?"
"Dia sudah mau masuk sekolah dasar, jadi tidak mungkin terus di antar. Mulai Minggu depan kamu kerja di tempat Anna dulu."
Gadis itu tersenyum, kemudian menganggukan kepala.
"Kalo begitu saya pamit pulang dulu, terimakasih liburannya .. Pak David, Bu Anna?"
"Terimakasih kembali." sahut Anna, dia tersenyum kepada Sisil.
Sisil turun dari mobil, dengan tas ransel berukuran sedang yang ia bawa kemarin.
"Kita pulang ke rumah ku dulu!" ekspresinya datar, dengan sikap tidak sehangat biasa.
Anna hanya mengangguk, berbicara banyak hal pun hanya percuma. Pria itu akan menjawab Anna singkat, atau bahkan tidak jarang David hanya membisu.
Sesampainya di kediaman Daniel, David langsung turun, membuka pintu belakang dan segera membawa Balqis yang sedang tertidur kearah dalam.
"Haduh! perkara bikini doang, jadi begini. Padahal kejadiannya satu tahun yang lalu." Anna bermonolog.
Dengan langkah gontai Anna memasuki pintu besar rumah Daniel yang terbuka.
Suara sambutan Rosa terdengar, wanita tua itu terdengar bertanya banyak hal kepada pria yang jelas sama sekali tidak menanggapinya.
"Kebiasaan kalo ibunya nanya itu di jawab!" Rosa kesal.
"Kenapa bu?" Anna berjalan menghampiri, prempuan itu tersenyum lalu memeluk tubuh ibu mertuanya.
"David kalo ditanya gitu, diem aja sambil terus jalan." Rosa mengadu.
Anna tersenyum.
"Papanya Balqis lagi ngambek, padahal Balqis cuma cerita liburan ke Bali pakai Bikini, sepanjang jalan mas David diem."
Keduanya tertawa bersama.
"Mau makan?" Rosa bertanya.
"Tidak usah, kami mau istirahat dulu ya Bu. Sekalian nenangin Papanya Aqis yang ngambek!" Anna terkikik geli.
Rosa mengangguk.
"Yasudah, nanti makan malam saja yah?"
"Iya Bu." jawab Anna, lalu dia beranjak pergi.
Anna menghirup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskan perlahan sebelum menekan handle pintu kamar yang sempat ia tinggalkan beberapa tahun silam.
Klek!
Keadaan ruang itu terlihat gelap, saat semua kaca tertutup gorden tebal. Anna masuk, memandang sekitar.
Semuanya masih sama, bahkan foto pernikahannya masih tersimpan dengan sangat baik.
"Mas!" Anna sedikit berteriak, mencari sosok pria itu namun ia tidak menemukannya.
Seketika pandangannya tertuju kepada Balqis yang sudah berbaring nyaman di atas tempat tidur, berselimut bludru yang juga dulu sering Anna dan David kenakan saat dinginnya angin AC menyapu kulit.
Anna berjalan kearah salah satu pintu yang tertutup, lalu membukanya perlahan. Dan benar saja, David sedang duduk di kursi kerjanya sambil memejamkan mata.
Anna masuk, seraya menutup kembali pintu ruangan itu rapat-rapat dan berjalan kearah dimana suaminya berada.
Sesaat David membuka matanya, menatap kearah Anna yang tampak mengulum senyum, lalu kembali memejamkan mata saat ia masih tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya.
Tangan Anna meraih sandaran kursi yang sedang David duduki, menariknya kuat sampai kursi itu berputar.
"Pergilah aku sedang ingin sen ...
David berhenti berbicara, saat Anna tiba-tiba saja duduk mengangkang di atas pangkuannya.
David bungkam.
"Kamu ini kenapa? hanya karena hal sepele saja cemburunya sampai seperti ini! aku harus bangaimana? itu liburan tahun lalu, Balqis belum dekat dengan mu, kita juga masih jarang bertemu, jadi aku harus bangaimana? memutar waktu kah? sayangnya aku tidak bisa mas!" Anna berbicara selembut mungkin.
Tangan Anna perlahan bergarak, lalu ia letakan di atas behu David, dan melingkar erat di leher suaminya.
Cup!
Anna mencium bibir David.
"Jangan marah!" ucap Anna pelan, bahkan hampir berbisik.
David masih diam, matanya terus menatap Anna dengan seksama.
Keadaan hening, hanya terdengar hembusan nafas keduanya yang saling bersahutan.
Helaan nafas David mulai terdengar.
"Iya aku tau, aku hanya butuh waktu agar bisa memahami keadaan kita waktu itu!" akhirnya dia mulai berbicara.
"Bayangkan saja? tubuh indah mu di lihat teman-teman pria mu, mungkin tanpa kau sadari mereka juga mengagumi mu, Anna!" katanya kembali.
Anna memiringkan pandanganya, lalu tersenyum samar.
"Aku cemburu, aku tidak terima!" David gelisah.
"Rasanya ingin ku hajar mer ....
Anna langsung membungkam David dengan ciuman hangat. Untuk beberapa menit David diam, dia terkejut.
Namun di detik berikutnya dia membalas Lum*Tan Anna lebih menggebu-gebu, bahkan David mengangkat tubuh Anna dan meletakkannya di atas meja kerjanya.
Mata keduanya terpejam, saling menikmati kegiatan mereka yang mulai tak terkendali.
Kedua tangan Anna melingkar di leher David semakin erat, begitupun sebaliknya, David menekan punggung Anna agar cumbuan keduanya semakin dalam.
Nafasnya memburu, matanya tampak sayu saat hasratnya semakin menanjak.
Tanpa ragu David mengusap paha Anna, bergerak semakin naik, lalu menarik sebuah cenala pendek yang prempuan itu kenakan sambil terus mencumbui Anna.
Anna tersenyum saat David mulai sibuk menanggalkan pakaiannya.
"Kenapa?" ekspresi wajahnya masih datar seperti tadi.
Namun Anna terus tersenyum, seperti sedang menantang David yang sedang kesal sejak dari tadi.
"Hanya ini cara agar marah mu berhenti bukan?" Anna menyeringai.
David menarik paha Anna, membukanya lebar dan segera menerjangnya.
"Ngghh!" kepala Anna mendongak, matanya terpejam saat David melakukannya cukup kasar.
"Mas pelan-pelan!" Anna merintih.
"Ini hukuman untu mu Ann, beraninya kau memperlihatkan tubuh indah milik ku ini, kau milik ku, tubuh ini milik ku!" David menggeram.
David bergerak tidak beraturan, rahangnya tampak mengeras sampai suara decita gigi terdengar bersahutan dengan Des*han Anna.
Tubuh Anna melengkung, dia menjerit dan merintih saat pria itu bermain kasar.
"Apa kau akan melakukan itu lagi, hmm!?" pria itu menggeram, lalu menjambak rambut Anna.
"Yaa ...
Anna menjerit, namun David semakin tidak terkendali.
"Dasar kelinci nakal!" David berteriak.
"Stop biarkan aku berbicara!" Anna memohon.
"Tidak akan!"
David terus berpacu, menghantam inti tubuh Anna dengan sangat kencang, lalu permainan itu berhenti saat David selesai.
"Jika kau melakukannya, makan hukuman seperti ini yang akan kau dapatkan!"
Anna membuka matanya, nafas prempuan itu tersenggal, namun tetap berusaha berbicara.
"Sayang ... aku akan melakukannya, namun saat bersama mu!" suara Anna lemas.
David tidak menjawab, dia mengangkat tubuh Anna, lalu memindahkan nya keatas tempat tidur, diaman putrinya terlelap.
"Kau tau mas? readers suka kau marah dan cemburu. Karena akan berakhir seperti ini?"
"Benarkah?"
"Hemm ... padahal author tertekan, tapi readers rame kalo ngintip kita begini!"
Yaudah, tapa dulu yah😌
💃💨
...••••••...
Di like ... di masukin ke daftar buku Favorite .. di kasih hadiah juga dong yang banyak ..
~sayang kalian~