
...•••••...
Di sepanjang perjalan menuju kantor David terus tersenyum, matanya berbinar dengan debaran yang tak kunjung berhenti setelah kejadian tadi pagi.
Bagaimana hatinya tidak terus berdesir, satu ciuman lolos dengan sangat lancar atas bantuan putri kecilnya.
Aih, dia memang putri David Julian! pikir David.
"Aku tau ini awal yang baik, tuhan menjadikan Balqis sebagai jalan .. ya jalan! ini sudah skenario nya sampai kita bisa kembali se ini, Ann." David bermonolog, dengan kedua sudut bibir yang terus menyimpulkan senyum.
Laju mobil yang saat ini David tumpangi melamban, kemudian berbelok ke kiri dimana sebuah gedung menjulang tinggi, yang hampir setiap hari di datanginya.
"Kita selesaikan pekerjaan hari ini dengan cepat! lalu kita pulang dan temui putrimu itu David .. emm atau ibunya yah!?" katanya lalu tertawa hingga kepadanya mendongak dengan mata yang juga tampak terpejam.
Dia sangat bahagia.
...••••...
"Selesai!" suara Anna menyerupai anak kecil saat selesai mengganti kain perban di kening gadis kecil itu.
Balqis tersenyum, entah kenapa hari ini balita itu juga kelihatan sangat bahagia.
"Mam, aku mau makan sama sup makaroni boleh? pakein telur puyuh," pinta Balqis.
"Oke, Mama lihat bahannya dulu ... mau tunggu disini atau ikut Mama ke bawah?" Anna menyugar rambut panjang Balqis yang terurai.
"Ikut kebawah!" Balqis bangkit, kemudian turun dari atas ranjang besar yang selalu ia tempati bersama ibunya Anna.
Mereka melangkah bersama, dengan jemari yang saling tertaut, diiringi ocehan gemas Balqis yang terus menceritakan banyakhal, sementara Anna hanya menganggukan kepala dengan bibir yang juga ikut tersenyum.
"Ingat! kalo nggak ada Mama atau teteh. Nggak boleh naik tangg sendirian!" Anna menundukan pandangannya, menatap Balqis yang kini terlihat mengangguk.
"Semalam kaki akunya keseleo, jadi jatuh." ujar Balqis.
"Nah itu .. makanya jangan lari, jangan naik tangga sendiri. Minta anter siapa aja kalau Mama nggak ada!" tukas Anna.
"Iya Mam."
"Good girl!"
Sesampainya di dapur Anna berjalan kearah lemari pendingin dengan Balqis yang terus mengikutinya.
"Udah mau kosong Ma? kenapa belum ajak aku belanja?" Balqis mendonga.
"Nanti sebelum liburan, kita belanja dulu yah? kalo sekarang masih ada beberapa lauk buat kita makan." jelas Anna.
Gadis itu diam.
"Kita liburan?" Balqis bertanya, dan langsung dijawab angguka oleh Anna.
"Yeay!" Balqis bersorak.
"Nah .. tolong bawa ini ke atas meja sana yah?!" Anna memberika wortel dan satu kotak makaroni kepada tangan kecil yang sudah siap menerima.
Dengan hati-hati Balqis berjalan ke arah meja, meletakan apa yang dibawanya tadi perlahan.
Sementara prempuan itu beridir di hadapan kompor, menyimpan panci berisi air di atasnya dan segera menyalakan kompor tersebut.
Balqis beranjak, berjalan ke arah sudut dapur untuk membawa bangku kecil.
"Jangan terlalu dekat dengan kompor, berbahaya sayang!" Anna memperingati.
"Nggak Mam .. aku disini!" sahutnya seraya meletakan bangku kecil itu di dekat washtafel.
"Kalau begitu, tolong cuci wortelnya." pinta Anna. "Sekalian ambil makaroninya biar Mama masak sekarang, airnya sudah mendidih!" ucapnya kembali.
Gadis kecil itu menurut, dia mengangukan kepala, lalu berjalan ke arah meja dan segera membawa wortel dan satu kotak makaroni itu kepada Anna.
Balqis kembali berdiri di dekat washtafel, mulai mencuci beberapa wortel setelah meletakan makaroni di samping Anna terlebih dulu.
Melihat ketelatenan putri kecilnya Anna tersenyum, dengan pandangan yang sama sekali tidak teralihkan.
"Mana pisau?" Balqis menatap Anna.
"Tidak usah, biar Mama yang potong-potong " tukas Anna.
"Aku aja, mau belajar!" cicit Balqis.
"No .. nggak boleh!" sergah Anna.
"Tidak sayang, nanti kalau Aqis terluka. Mama yang di marahin Papa." jelas Anna. "Tadi saja Mama dimarahin karena Aqis jatuh, nggak kasian kalau setelah ini Mama juga di marahin karena tangan Aqis kena pisaunya?" lanjut Anna.
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, tunggu di ruang tengah. Nyalakan TV, kartun kesukaan Aqis pasti sudah mulai." Anna berujar.
"Tetehnya masih sakit yah?" Balqis bertanya.
"Iya, jadi jangan ganggu!" seru Anna.
Balqis mengangguk, ia berjalan meninggalkan dapur menuju ruang tengah.
...••••...
"Cutiepie? sini sayang. Sup nya sudah jadi!" Anna memanggil Balqis yang sedang duduk di atas sofa dengan nyaman.
Balqis menoleh.
"Makan disini boleh?" dia tersenyum manis, membujuk Anna.
"Nggak boleh, makan ya di meja makan." sergah Anna.
"Aku janji nggak berantakan." Balqis sedikit berteriak.
Sesaat Anna diam.
"Mama?" panggil Balqis.
"Baiklah, tapi kesini ambil dulu supnya." titah Anna.
"Oke Mama Anna yang cantik!" Balqis bangkit, lalu berjala kearah meja makan dimana Anna berdiri saat ini.
"Nasi?"
Balqis menggelengkan kepala.
"Sup saja, banyakin telurnya." kata Balqis.
"Nah .. makanlah yang banyak, hati-hati tumpah!" prempuan itu tersenyum.
"Oke." katanya dan segera kembali kearah sofa.
Suara dering ponsel milik Anna yang berada di dalam kamar berbunyi nyaring.
"Tunggu sebentar ya, Mama angkat telfon duku!" Katanya yang langsung melesat kelantai atas dimana kamarnya berada.
Anna meraih benda itu yang berada di atas nakas, menatapnya untuk beberapa detik ketika Anna tidak mengenali nomor kontak tersebut.
"Hallo selamat pagi?" Anna menyapa setelah menggeser.
—......—
"Ini siapa ya, maaf?" Anna terlihat bingung.
—......—
"Edgar? kukira siapa."
—.....—
"Sore? kenapa mengajak ku? terus kamu dapat nomor ku dari Rika!?"
—......—
"Hemm .. baiklah kalau begitu, kabari saja." kata Anna.
Anna memutuskan sambungan telfon itu, kemudian segera keluar untuk kembali menemani putrinya yang tengah asik dengan tontonan pagi hari ini di ruang tengah rumah mereka.
...•••••...
Jangan lupa waktunya ngevote Weh🥳🥳
Maaf telat, kepala author agak kleyangan hari ini.
~cuyung kalian~