My Ex Husband

My Ex Husband
Hanya itu?!



...•••••...


Di sebuah ruangan yang masih terlihat gelap. Gulungan selimut tampak bergerak, dan terlihatlah seseorang bertubuh sedikit kekar saat tanganya menyibakan selimut tebal itu.


Perlahan matanya mengerjap.


"Astaga!" gumamnya saat rasa pusing mendominasi, sampai Alvaro memijat keningnya.


Pria itu bangun, menata beberapa bantal dibelakangnya, lalu kembali menyandarkan punggung dengan mata yang masi terpejam.


Awhhhh ... saya mohon pak, hentikan saya bukan Bu Mika, saya Sisil!


Deg!


Mata Alvaro langsung membuka sempurna, saat rintihan dan jeritan Sisil yang memohon padanya kembali terdengar.


Matanya melihat sekeliling ruangan yang masih temaram, dia bangkit dan berusaha mencari keberadaan seorang gadis yang sudah ia renggut kesuciannya.


Alvaro melompat dari atas tempat tidur, lalu melempar pintu kamarnya yang sedikit terbuka sampai membentur tembok.


"Sisil!?" suaranya menggema di ruangan itu.


Alvaro berlari ke arah dapur, berharap gadis itu masih ada bersamanya. Sayang, ruangan itu kosong dan mungkin Sisil sudah pergi saat dia terlelap.


Pria itu kembali masuk kedalam kamar, lalu ia mendapati lemari pakaiannya yang terbuka lebar. Sesaat dia terdiam, lalu mengarahkan pandangannya kearah lain.


"Apa yang elu lakuin Al! lu rusak anak gadis orang!" dia mengusak rambutnya kasar, apalagi saat pandangannya menangkap sebuah gaun merah maroon yang tergelekat begitu saja.


"Mati lu Al, harus hidup sama prempuan yang nggak lu cintai!" pria itu kembali bergumam, seraya berjalan kearah kamar mandi dan menutup pintunya sangat kencang.


Brak!


Hampir satu jam Alvaro berada di bawah kucuran air shower yang dingin, akhirnya dia selesai, keluar dari kamar mandi dan segera membawa beberapa pakaian di dalam lemari pakaian miliknya.


Selesai berpakaian, Alavro meneguk satu gelas air putih terlebih dulu, kemudian menghubungi orang tuanya.


Tuutt ....


—Ya Al, kenapa?


Suara seorang pria menyapa.


Alvaro terlihat linglung, ia bingung harus berkata apa kepada ayahnya.


—Alvaro, kenapa? kamu ini kebiasaan suka bikin panik orang tua!


"Papah?"


—Iya, dari tadi Papa memanggil, apa sinyal ponselmu jelek?


"Mungkin!"


—Ada apa? tumben sekali anak Papah yang satu ini telfon.


Alvaro menghela nafas.


"Aku, .. membuat kesalahan fatal!"


—Kesalahan? fatal? kesalahan fatal yang seperti apa?!


"Ak-aku .. aku .. sudah merenggut kesucian seorang anak gadis, yang bekerja sebagai Babysitter anak Pak David pah!"


—Apa!!


Suara teriakan ayahnya terdengar sangat kencang, sampai Alvaro menjauhkan ponsel dari telinganya.


—Kalau begitu bertanggung jawablah! dasar berandalan!


"Apa tidak ada cara lain? ganti darah perawannya pake uang misanya!"


—Dasar bod*h, keluarga kita tidak serendah itu! temui keluarganya, nikahi dia sekarang juga!


"Mana bisa begitu pah ...


—Kami akan segera kesana, bertanggung jawablah atas perbuatan mu! tidak semuanya bisa di ganti pakai uang. Ck! memangnya kau punya uang berapa, lalu apa yang kau harapkan juga dari kami, kami hanya pemilik toko kelontong.


Alvaro di cecar habis-habisan.


—Apa kau dengar Al? ingat kau juga mempunyai adik perempuan, apa kau mau itu terjadi kepada dia?


"Tidaklah!"


—Nanti Papa sama Mama kesana .. haduh kau ini, ada-ada saja!


"Maaf!"


—Meminta maaflah kepada gadis itu, kenapa malah meminta maaf kepada ku!


"Baiklah, ... baiklah!"


Sambungan telfon itu terputus, lalu Alvaro meletakan ponsel miliknya di atas meja. Dia bingung, namun yang dikatakan ayahnya ada benarnya juga, pria itu meremat rambutnya kuat, seraya menundukan kepala.


Brak!


Alvaro tersentak, dia melihat David masuk dengan amarah yang sudah jelas terlihat dari sorot matanya.


Beberapa pukulan David berikan, Sampai suara rintihan pria itu terdengar.


"Aih ... kenapa kau baji*gan sekali!" David meletakan kedua tangannya di atas pinggang, dengan nafas yang sudah memburu.


Sementara Alvaro, dia bangkit seraya memegangi pipinya yang terlihat merah memar.


"Cepat bangun! temui kedua orang tua Sisil. Hadeuh ... mungkin kalau kau melihat keadaan Sisil kau akan menatapnya sendu, seperti itu!" ledek David.


"Bapak tau!?"


"Menurut mu? dia kerja pada istriku! tanggung jawabnya yang otomatis menjadi tanggung jawab ku. Dan dengan gampangnya kau merenggut kesuciannya, kau memang masih bodoh seperti dulu, ku berikan gadis polos agar membuatmu merasa terus di cintai, tapi malah kau rusak!" David mencecar.


Alvaro menyusut darah di sudut bibirnya, lalu dia bangkit.


"Kalau begitu ayok!" Alvaro menatap David tanpa ragu.


"Wah .. wah .. wah! cukup berani juga kau yah!"


"Bagaimana lagi, ayah saya sudah mengatakan bahwa saya harus menikahi dia."


David menjengit.


"Kau sudah bercerita kepada mereka?"


Alvaro mengangguk.


"Baguslah."


David melenggang kearah luar, memasukan dua tangan kedalam saku celananya, diikuti Alvaro yang terus memegangi pipi sebelah kirinya.


...•••••...


"Kenapa ramai sekali?" Alvaro bertanya saat mobil David berhenti tepat di halaman rumah Sisil.


"Mereka para karyawan istriku!"


"Kenapa disini? ap ...


"Diam dan turunlah, kau bawel sekali!" cicit David, pria itu langsung keluar meninggalkan Alvaro.


Seorang wanita dengan cepat datang menghampiri.


Plak!


"Sayang!" David langsung meraup tubuh Anna dan mendekatinya erat.


"Dasar gila! berani-beraninya kau berbuat hal keji kepada pengasuh putri kesangan ku!" Anna menjerit, sementara Alvaro hanya diam.


Apalagi saat kedua orang tua Sisil juga ikut keluar, dan berjalan menghampirinya.


"Maaf!" ucap Alvaro kepada Irwan dan Ningsih, lalu menundukan kepala.


Irwan memejamkan matanya, dia mengangguk lalu meraih lengan Alvaro.


"Masuklah, jangan disini. Malu kalau dilihat banyak orang, ini aib keluarga yang seharusnya tidak banyak orang tau!"


Hanya itu?! bahkan dia yang merobek selaput dara Sisil! tapi malah mendapatkan sambutan ramah, sementara aku!


Syaif menatap Alvaro tajam dan penuh dendam.


Mereka kembali masuk kedalam, mempersilahkan Alvaro duduk di kursi rotan bersama Irwan, dan Ningsih. Sementara yang lain hanya menyimak sambil berdiri.


"Sepertinya hal ini harus dibicarakan kepada orang tua mu, apalagi perbuatan mu sudah sangat merugikan Sisil. Bukan hanya masalah selaput dara, tapi psikisnya juga hancur."


Alvaro menjawab dengan anggukan. Berbeda dengan wanita yang duduk di hadapannya yang hanya menangisi nasib putrinya.


"Mereka sedang berencana akan kesini, mungkin sampai nanti sore." jawab Alvaro dengan suara pelan.


"Kenapa nak Alvaro melakukan itu? beberapa kali kita bertemu, bahkan nak Al tau sendiri siapa Sisil, tapi kenapa sampai seperti ini!"


"Itu di luar kendali ku Bu, maaf. Tapi ini sungguh-sungguh musibah, bahkan aku melakukannya saat kesadaran ku mungkin hanya 20%."


"Lalu kenapa kau tidak ..


"Shuttt! sayang, biarkan Alvaro berbicara. Kamu diam saja!" David membekap mulut Anna.


"Ish ... dia pengasuh Balqis, bagaimana aku tidak jengkel mas!" ucapnya saat sudah berhasil menepis tangan suaminya.


"Iya .. kita semua kesal, tapi setidaknya Alvaro sudah memiliki niat baik, mengakui perbuatannya, bahkan memberitahu kedua kedua orangan tua dia tentang kejadian ini!"


"Baiklah, awas saja kalau kau tidak bisa membahagiakan dia, ku peng*Al kepala mu pakai pisau dapur!"


"Sudahlah sayang, ancaman mu sangat menyeramkan!" David kembali membekap mulut Anna dengan tangan besarnya, lalu dia tertawa kencang, saat melihat Anna yang menurutnya sangat menggemaskan, apalagi saat marah.


...••••••...


...Om bewok istigfar, ini masih suasana tegang sama sedih lho, kok malah ketawa😌...


Tiga eps lho hari ini, gimana? seneng nggak? mudah-mudahan seneng lah yah.


Kalo gitu othor bobo dulu, papay cuyung-cuyung nya othor. Selamat malam Senin, pcuhh😘