
...••••••...
Setelah mengantar Balqis kepada ibunya Rosa, David segera beranjak mendekat kearah pintu kamar yang tertutup rapat.
Klek!
Pria itu masuk, meraih saklar untuk menyalakan lampu, lalu kembali menutup pintu tersebut rapat-rapat.
"Sayang, bangunlah .... ayok!" pria itu naik keatas tempat tidak, kemudian memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Tidak ada sahutan dari prempuan itu, gurat wajah kelelahan jelas terlihat. Sampai membuatnya terlelap hingga beberapa jam lamanya.
Cup!
David mencium pipi Anna beberapa kali, namun prempuan itu sama sekali tidak merespons, sampai David mempunyai ide gila, dan segera melakukannya.
"Aduh!" Anna memekik, matanya mulai mengerjap lalu menoleh kearah belakang, dimana suaminya itu berada.
Pria itu menyeringai, lalu kembali mendekat dan menghujani pipi Anna dengan kecupan basah.
"Kok gigit-gigit gitu! aku nggak suka ish!" Anna menggerutu.
Namun pria itu malah tertawa kencang, sampai membuatnya memejamkan mata dengan kepada yang mendongak keatas.
"Aku gemas sama kamu Anna!" kata David dengan santainya.
"Ini kadeerteh ... mau aku laporin!?" Anna bangkit, lalu duduk membelakangi suaminya.
David mengulum senyum, dia merangsek lebih mendekat, lalu mendekap tubuh Anna dari belakang, dan meletakan kepalanya di ceruk leher Anna.
"Apa sekarang kamu yang marah?" David mencium leher Anna.
"Nggak ada ... mas gigitnya ke kencengan tauk!" cicit Anna mengusap telinganya yang terlihat memerah.
David sedikit menjauhkan pandangannya, lalu melihat telinga Anna.
"Oh .. terlalu kencang yah?" David kembali terkekeh.
"Balqis mana?" Anna menatap David.
"Lagi main sama Kakek, Nenek nya!"
Anna mengangguk, menyibak selimut lalu berjalan kearah kamar mandi.
"Sayang?" David memanggil, hingga Anna kembali berhenti dan menoleh.
"Hemm .. kenapa mas?" wajah Anna masih terlihat sembab.
David turun dari atas tempat tidur, kemudian berjalan mendekan kearah Anna, lalu memeluk tubuh mungil prempuan itu erat.
"Kamu tidak apa-apa?"
Pelukan keduanya terlepas, saat David mendorong bahu Anna, lalu menatap wajah istrinya itu dengan seksama.
Anna diam beberapa saat, lalu mengangguk.
"Aku mau mandi dulu," Anna menepis pelan tangan David.
Namun pria itu menahannya.
"Apa tadi aku lepas kendali?" David khawatir.
"Menurut mas?"
"Maaf!" tatapan David menjadi sendu.
Anna menghembuskan nafasnya kasar.
"Sudah terjadi, jadi lupakan saja." Anna mulai beranjak, tapi lagi-lagi David meraih lengannya.
"Mas ... aku mau mandi dulu!" Anna merengek, dia kesal.
"Apa tubuh kamu sakit? bilang bagian mana yang sakit? siapa tau harus ke Dokter!"
"Menurut Mas sakit nya dimana? lagian kalo cemburu kok sampe segitunya. Aku udah berusaha redain kemarahan mas, tapi nyatanya aku tetep nggak bisa."
David bungkam.
"Mereka hanya melihat ku, mungkin yang Mas bilang juga benar. Tapi tetap, aku milik mu, dan mereka hanya bisa mengagumi!" jelas Anna.
David itu masih bungkam, seraya menatap Anna penuh penyesalan.
"Sudahlah, aku mau mandi. Nanti terlalu malam ... aku malah flu lagi, padahal ini baru baikan!" kata Anna.
Pria itu hanya diam, dia tidak mampu berkata-kata.
Pintu kamar mandi tertutup rapat, kemudian terdengar suara Anna bersenandung dan air mengalir secara bersamaan.
David mengusap wajahnya kasar, dia menghela nafas lalu kembali kearah tempat tidur, dan duduk di tepi ranjang untuk menunggu Anna.
Sekian lama David menunggu, akhirnya pintu kamar mandi terbuka. Dan munculah Anna dengan bathrobe hitam kedodoran miliknya.
Prempuan itu berjalan kearah kaca, dan segera mengusap rambut panjang yang masih terlihat meneteskan air.
"Biar aku bantu!" David datang menghampiri.
Anna memberikan handuk kecil ditangannya, dan membiarkan David melakukan apa yang pria itu usulkan.
"Kenapa?" tanya David saat pandangan keduanya beradu.
Anna hanya tersenyum.
"Wajah kamu pucat!" cicit Davi, dia segera memutar tubuh Anna, sampai kini mereka berhadapan.
"Ahh .. seharusnya kamu jangan mandi!" David mendengus.
"Aku cuma hapus riasan, nggak kenapa-napa kok!" tukas Anna.
Ibu jari David mengusap bibir Anna, yang terlihat sedikit membengkak. Lalu pandangannya beralih ke arah mata, sampai mereka berdua saling menatap satu sama lain.
"Maaf ... sifat aku yang itu belum hilang, pencemburu!" David berbisik.
Anna tersenyum, dia meraih tangan David untuk menggenggam nya.
"Aku tau kadar cinta kamu ke aku seperti apa, jadi mungkin itu wajar."
"Aku pikir, aku keterlaluan tadi. Membuat mu menjerit, menggigit bibir mu kencang, dan tidak membiarkan mu beristirahat setelah pulang dari puncak."
"Baiklah, apa masih ada baju aku di dalam lemari pakaian?" Anna mengalihkan pembicaraan.
"Bajumu masih ada disana, dengan posisi yang sama. Tapi mungkin agak bau apek, sayang."
David berjalan kearah lemari pakaian, lalu membuka dan memilah gaun tidur untuk Anna.
"Mau aku pinjamkan daster ibu?" David menoleh.
"Itu saja, bisa pakai parfum punya kamu," Anna tersenyum.
"Punya ku?" David menjengit.
"Hu'um." prempuan itu mengangguk.
"Apa minyak wangi kamu habis, atau ketinggalan?"
"Nggak, aku kan suka bau kamu!" kata Anna.
David diam.
"Yasudah, mau pakai yang mana?"
Anna berjalan beberapa langkah, lalu melihat-lihat dan menarik satu kaos dan celana pendek yang biasa ia kenakan saat tidur.
...•••••...
Suasana di kediaman Daniel ini terasa lebih ramai dan hangat. Saat keberadaan Anna kembali melengkapi keluarga itu, begitupun dengan Balqis celotehan khas anak kecil terus terdengar, bahkan tidak jarang membuat semua orang tertawa lepas, salah satunya Daniel.
Setelah makan malam bersamanya selesai, keluarga itu kini pindah ke ruang tengah. Duduk di atas sofa besar, dengan televisi yang menyala.
"Kalian tinggal disini lagi?" Daniel menatap Anna dan putranya bergantian.
Anna diam, lalu melirik suaminya.
"Balqis mau tinggal sama Kakek, Nenek?" Daniel beralih kepada gadis itu.
"Mau ... Aqis mau tinggal disini aja Mam, rumahnya lebih besar!"
Daniel dan Rosa tersenyum sumringah.
"Sayang, apa kamu mau tinggal disini lagi? kalo misalnya tidak mau tidur di kamar ku, kita bisa pindah kamar."
"Tidak ... bukan masalah kamar mas, tapi rumah aku bagaimana?"
"Bisa dijadikan kantor!"
"Begitu yah?" Anna bingung.
"Iya, sekalian mobil itu kamu jadikan untuk pengiriman setiap barang! berikan kepada pegawai kepercayaan mu maksud ku!" ujar David.
Anna terlihat berpikir.
"Kami tidak akan memaksa, jika kamu berat karena kenangan masa lalu yang cukup rumit, tidak apa! kami mengerti Ann." Rosa menimpali.
"Iya, Ayah setuju!"
"Tapi Aqis mau disini Mam, nemenin Kakek biar jalannya lancar, nggak perlu pakai tongkat ... iyakan Akek!?"
Pria tua itu tersenyum.
"Baiklah, kita tinggal disini. Dan menginap dirumah kecil sana beberapa kali saja." Anna memutuskan.
Balqis melompat-lomoat, lalu beranjak mendekati Daniel dan Rosa, seraya memeluk mereka secara bersamaan.
"Yeay ... aku udah punya Papa, Kakek sama Nenek!" Balqis terlihat sangat bahagia.
Begitupun dengan David, dia tersenyum. Lalu merangkul bahu Anna.
"Lihatlah, dia bahagia sekali bukan? keluarga utuh adalah keinginannya sejak lama!" suara David terdengar rendah, namun masih bisa Anna dengan dengan jelas.
"Iya mas." Anna mengangguk, dia tersenyum lebar saat melihat interaksi antara Cucu dan Nenek Kakeknya.
...•••••...
Seperti biasa! masa harus othor ingetin mulu : )