My Ex Husband

My Ex Husband
(Serakah)



...•••••••...


Plip ... klek!


Alvaro mendorong pintu apartemen menggunakan sikutnya, kemudian dia masuk dan kembali menutup pintu tersebut.


Keadaan di dalam sana sudah hening, bahkan lampu-lampu di setiap ruangan sudah tampak padam.


Seketika pandanganya tertuju kearah jam dinding, yang sudah menunjukan pukul sepuluh malam.


"Hah, .. tiap hari seperti ini! haruskan aku mengundurkan diri, rasanya berat jika setiap hari harus pulang selarut ini!" dia bermonolog.


Pria itu berjalan gontai kerah pintu kamar yang tampak sedikit terbuka.


Lagi-lagi Al menghela nafasnya perlahan, saat melihat Sisil yang sudah berbaring di bawah gulungan selimut.


Wanita yang sangat di cintanya tertidur.


Keadaan di dalam sana temaran, semua lampu mati dengan gorden kamar yang masih terbuka, memperlihatkan indahnya lampu malam di atas ketinggian.


Alvaro meletakan tas dan jasnya di atas sofa, lalu melepaskan dasi dan segera berjalan mendekat kearah tempat tidur.


Dia duduk di tepi ranjang, sedikit membungkukan badan, lalu.


Cup!


Satu kecupan hangat dia berikan di kening Sisil.


Cup!


Lalu pipi dan segera menegakan tubuhnya kembali.


"Pasti kamu nungguin Abang lagi yah?" Al mengusap kepala Sisil.


"Kamu juga, ... nungguin Papa yah? pasti belum minum susu, karena Papa pulang telat lagi!" ucapnya lagi, dan kini tangannya beralih mengusap perut Sisil.


Tubuh yang tersembunyi di balik selimut itu mulai bergerak-gerak, Sisil menggeliat lalu membuka matanya perlahan.


Seorang pria tampan tengah tersenyum, dengan satu tangan yang terus mengusap-usap perutnya lembut.


"Abang membangunkan kamu yah?" Alvaro lebih mendekat.


Cup!


Al mencium bibir istrinya.


Sisil menggeliat.


"Sudah minum susu?" tanya Alvaro.


Sisil belum menjawab, dia memegang erat tangan suaminya, kemudian bangun dan menyandarkan punggung kepada beberapa bantal yang sudah Sisil simpan sebelumnya.


"Belum, aku lupa." Sisil mengusak kedua matanya. "Abang baru pulanh?" suara prempuan itu parau.


Bibir Alvaro terus melengkung, entah kenapa dia selalu terlihat bahagia saat di dekat Sisil, bahkan rasa lelahnya pun pudar begitu saja saat melihat prempuan yang kini berada di hadapannya.


"Abang sudah makan?" Sisil mengusap tangan suaminya yang kini terletak di atas perut sana.


"Belum, Abang hanya ingin cepat menyelesaikan pekerjaan hari ini, terus pulang. Berjauhan dengan mu rasanya berat, walau hanya beberapa jam ... tapi Abang nggak bisa." pria itu mengeluh, merengek seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada ibunya.


Sisil langsung menegakan tubuh.


"Kalau begitu ayok kita makan, aku juga sudah lapar lagi." Sisil tersenyum, kemudian dia menarik tangan Al untuk dia bawa menuju dapur.


Alvaro melepaskan genggaman tangan Sisil, dia beralih merangkul wanita yang tingginya hanya sedada.


"Abang bikinin aku susu, aku panasin lauknya yah!" tukas Sisil sambil terus berjalan keluar dari kamar.


"Baiklah, mau rasa apa? strawberry atau mocca?"


"Strawberry saja, Pah!" Sisil tersenyum dengan malu-malu.


Alvaro mengulum senyum, dia mengangguk lalu melepaskan rangkulannya.


Segera Alvaro membawa gelas, lalu susu dan mulai meraciknya.


Sementara Sisil, prempuan itu mulai menyalakan kompor, membawa beberapa lauk yang sudah dia masak tadi sore.


Ada paru sambal ijo, dan tumis sayur sawi putih kesukaan suaminya.


"Sayang, ini susunya!" kata Al saat dia meletakan segelas susu hamil rasa strawberry di atas meja makan.


Sisil menoleh, dia tersenyum lalu mematikan kompor.


"Tolong ambilin piring, nasinya juga .. lauknya sudah selesai aku panaskan."


Alvaro mengangguk.


Sisil meletakan sayur dan paru sambal ijo di di atas meja makan. Kemudian beranjak untuk meyiapkan air putih untuk dia dan suaminya.


Alvaro meletakan nasi dan piring, kemudian dia duduk.


Prempuan itu menjawab dengan gelengan kepala.


"Memangnya harus mual dan muntah yah, biar ketahuan aku hamil?" dia balik bertanya, lalu meletakan piring berisi nasi di hadapan suaminya.


"Biasanya begitu, dulu Mama seperti itu saat hamil Nova. Bahkan tidak bisa masak karena tidak suka dengan bau tumisan bawang." ujar Al.


"Sepertinya Junior pintar, dia membuat aku bahagia di kehamilan ini .. tidak pusing, mual atau muntah! aku hanya sering mengantuk dan lapar saja." jelas Sisil, lalu dia ikut duduk.


Dan mereka menikmati makan malam bersama, dengan sedikit obrolan santai dan saling melontarkan candaan satu sama lain, sampai gelak tawa memenuhi ruangan paling belakang apartemen itu.


...•••••...


Selesai makan dan merapikan meja makan. Mereka kembali kedalam kamar, keduanya duduk di sofa kamar dengan keadaan gelap, memandang ke arah kaca besar yang menyuguhkan pemandangan yang sangat indah pada malam hari.


Tangan Al tak hentinya mengusap perut Sisil, saat prempuan itu juga duduk bersandar membelakangi nya.


"Oh iya, tadi Mama telfon aku." Sisil menoleh kebelakang, menengadahkan pandangan untuk menatap wajah Al yang juga tampak sedikit menunduk.


"Apa katanya, apa mereka meminta kita untuk pulang kesana?"


"Tidak, malah Nova yang mau liburan kesini. Diakan baru saja selesai ujian!" kata Sisil.


"Nova kesini? mau tidur dimana dia!"


"Disini, bareng aku." seru Sisil.


"Bertiga!" Alvaro hampir berteriak. "Terus, aku ... maksudku kita tidak bisa melakukan sesuatu, pacaran misalnya!?" keningnya berkerut.


"Berdua, Abang tidur di sofa ruang tengah." kata Sisil, prempuan itu terkikik pelan.


"Apa!" kali ini pria itu benar-benar berteriak, sampai Sisil meringis dan menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan.


"Sayang kamu tega sekali!" ucap Alvaro kembali.


"Terus bagaimana?" prempuan itu bertanya.


"Nova saja yang tidur di sofa ruang tengah!" katanya sedikit ketus.


"Itu kamu yang lebih tega, masa adik sendiri kamu nistakan, mana prempuan. Satu-satunya pulak!"


"Tapi kamu milik aku, kenapa harus Nova yang tidur sama kamu .. dan aku sendiri!"


"Abang aneh, masa sama adik sendiri cemburu!" cicit Sisil.


Prempuan itu bergerak, lalu berbalik arah sampai kini keduanya saling berhadapan.


"Memang, dalam hal ini aku serakah. Aku tidak mau berbagi teman tidur bersama siapapun!" dia tampak serius dengan ucapannya.


"Jadi bagaimana? kasian Nova kalau kamu larang, sementara aku tidak akan tega jika dia harus tidur diatas sofa." Sisil berusaha membuat Alvaro mengalah.


"Jadi, ... bisakah Papa mengalah untuk Tante Nova, kasian dia!"


Alvaro diam, pria itu masih merasa tidak rela. Apalagi harus kehilangan waktu berpacaran dengan sang istri.


"Papa!" Sisil meraih tangan suaminya.


"Aku tidak bisa, sebaiknya kita yang kesana, Nova bisa berlibur dengan mu. Dan aku bisa tetap tidur dengan mu .. bangaimana?"


"Tapi Nova yang mau kesini! mungkin dia mau aku ajak jalan ke mall."


"Dia kesini, jalan-jalan sebentar. Lalu kita antar dan berlibur disana!" sergah Al.


"Kerjaan kamu?"


"Aku bisa menyelesaikan desain di dalam iPad, dan mengirimnya via Email."


"Ta—"


"Aku tidak suka di bantah! dan .. aku mau mandi dulu, ini sudah terlalu larut."


Dengan cepat dia bangkit, lalu menghambur kedalam kamar mandi, dan menutup pintu kamar itu rapat meninggalkan Sisil yang masih duduk di atas sofa begitu saja.


"Papanya Junior memang beda!" Sisil menggeleng-gelengkan kepala dengan kedua sudut bibir yang terlihat melengkung.


Sisil tersenyum.


Dia bangkit, dan kembali merebahkan tubuh di atas tempat tidur, menyembunyikan tubuhnya kembali di bawah selimut tebal.


"Junior, kita harus cepat tidur .. kalau tidak, kita akan di serang habis-habisan." Sisil mengusap perutnya, dengan mata yang juga mulai terpejam.


...•••••...


Alhamdulillah 2eps yah :)


Jangan lupa like, komen dan hadiah ...


Klik favorite juga jangan lupa oke! agar notifikasi berbunyi saat eps terbaru meluncur ...


~Selamat bobo cuyung-cuyungnya othor~