My Ex Husband

My Ex Husband
Kejutan.



...•••••...


Keesokan harinya.


Mobil Mazda CX-5 hitam milik David terlihat melesat di jalanan kota dengan kecepatan sedang.


Suara alunan musik di dalam sana terdengar cukup kencang, sampai membuat sosok gadis kecil yang duduk di kursi belakang terus bergerak-gerak sesuai irama.


Anna menoleh kearah belakang, melihat Balqis yang terus bergerak dengan kedua mata yang terpejam.


"Anak mu, mas!" Anna menatap David yang kini sedang fokus melihat jalanan di hadapannya.


Sesaat dia menoleh, melihat Anna kemudian beralih menatap sepion di hadapannya.


Seulas senyum terbit di kedua sudut bibir pria itu.


Dengan jahilnya David mematikan musik yang masih mangalun, sampai membuat kedua mata Balqis terbuka seketika.


"Papa ... ish!" raut wajah Balqis muram.


Namun pria itu tertawa, saat mendapati putrinya berteriak kesal.


"Maa! Papa nakal itu." dia mengadu kepada sang ibu.


"Minta Papa biar di hidupkan lagi musiknya." seru Anna.


"Papa, jangan di matiin!" dia merengek manja.


"Baiklah sayang." katanya lalu kembali menghidupkan musiknya.


Raut wajah Balqis kembali berbinar, gadis kecil itu kembali merebahkan tubuh dan memejamkan kedua matanya.


"Aku mau nonton konser BTS tau!" celetuk Balqis.


Sementara dua orang dewasa saling terdiam, dengan pandangan yang terus melihat kearah luar.


"Bahkan dia baru saja lima tahun, tapi sudah mengagumi tujuh pria tampan." Anna tertawa pelan.


Tangan kanan Anna mulai mengusap perut bulatnya, saat getaran-getaran kecil mulai terasa.


Anna tersenyum.


"Geli!" Anna terkekeh, sampai membuat David menoleh, menatap istrinya heran.


"Kenapa?" tangan kiri David terulur, dia menyentuh perut istrinya.


"Hey .. kamu sedang apa?" David berbicara kepada jabang bayi yang ada di dalam sana, lalu kembali menegakan duduknya setelah menyentuh perut bubcit Anna yang terlihat sangat menggemaskan.


"Getarannya semakin terasa." ucap Anna.


"Tentu, dia pasti sangat sehat. Terlihat dari dirimu, sekarang sudah tidak mual dan muntah lagi bukan?"


"Ya, justru nafsu makan ku yang semakin bertambah." Anna terkekeh, begitupun dengan David.


"Itu lebih bagus sayang!" David melirik kearah Anna, dengan senyuman yang terus tersungging.


Tentu saja, guratan wajah bahagian sudah jelas terlihat.


"Jadi ... mau kemana kita?" Anna bertanya.


"Kejutan, tunggu saja. Kamu ini seperti Balqis .. tidak sabaran!


" kata David.


"Ya kasih clue-nya saja!" Anna memaksa.


David bungkam, sejak mereka berniat pergipun tidak pernah sama sekali menjawab pertanyaan anak dan istrinya. Dia memilih diam di bandingkan harus memberi tahukan kejutan apa yang akan dia berikan.


Namun Anna membelalakkan mata, saat mobil yang mereka tumpangi melewati sebuah gapura yang tentu saja sangat Anna kenali.


Anna menatap David, mencoba meyakinkan sesuatu di dalam dirinya.


"Ini ... mas, apa kita akan pulang ke rumah ku dulu?" Anna meraih lengan suaminya.


David hanya tersenyum.


Anna membuka kaca mobil di sampingnya, dia melihat kearah luar. Dia terlihat seperti orang linglung, mencoba mengingat tapi banyak sekali perubahan sampai membuat Anna ragu.


"Sudah berapa lama aku tidak kesini? sampai aku lupa!" cicit Anna pelan, matanya terlihat berkaca-kaca.


David masih diam.


Laju mobil David semakin melamban, lalu menepi untuk berbelok, melewati sebuah pagar besar yang terbuka cukup lebar.


Anna semakin terkejut, prempuan itu diam dengan pandangan yang terus tertuju kepada rumah besar di hadapannya.


"Welcome home." ucap David saat mobil itu benar-benar berhenti.


"Ini rumah siapa, pah?" Balqis segera melepaskan seatbelt nya, lalu mencondongkan tubuh ke arah depan.


"Rumah Nenek dulu. Papa sudah memperbaikinya, ayok masuk .. papa yakin kalian mau melihatnya." David mengusap rambut Balqis.


"Sayang, ayok!" ajak David dengan penuh semangat.


Namun prempuan di sampingnya terdiam, dengan air mata yang terlihat sudah berderaian membasahi pipi.


"Kamu mengubahnya?" Anna menangis.


Deg!


David bungkam, lalu pandangannya juga tertuju kepada rumah itu.


"Bukan. Aku hanya merasa aneh saja! tampilannya sudah jauh berbeda, tapi kenapa aku merasa ingin terus menangis yah!" Anna meraih tissue, dan mengusap air matanya perlahan.


"Mam .. are you okay?" Balqis menepuk bahu ibunya.


Anna mengangguk, dia memutar tubuh sampai pandangan keduanya bertemu.


Anna tersenyum, mengusap kepala putrinya seraya berkata.


"Ini rumah Mama dulu, tapi dulu tidak sebagus sekarang. Karena sekarang rumah ini milik Papa!" suara Anna bergetar .


"Sayang! ini rumah kamu dan anak-anak. Jadi ayok kita turun." David mengusap air mata di pipi Anna terlebih dulu, kemudian dia beranjak keluar dari dalam mobilnya.


Saat Davis keluar, beberapa pekerja tampak datang menghampiri.


"Selamat siang pak David?" sapa salah satu pekerja.


"Siang, bagaimana? semuanya sudah selesai?"


"Sembilan puluh lima persen, pak. Tinggal menata semua barang-barang dan sedikit merapikannya."


David mengangguk.


Anna turun, dia berjalan kearah David di susul Balqis, gadis kecil itu langsung meraih tangan ibunya.


"Ayok, kita masuk." David meraih tangan Anna dan menggenggam nya erat.


"Mari pak." Anna tersenyum, kemudian dia berjalan masuk mengikuti langkah kaki suaminya.


Anna menatap kagum bangunan itu dengan hati yang terus bergemuruh. Tentu saja, rumah kecil yang sempat dia jual, kini terlihat besar dengan gaya modern.


"Ini sungguh indah, mas." ungkap Anna saat melihat bagian dalam rumah.


Sofa besar yang sudah terletak didalam sana, juga beberapa furniture dan aksesoris rumah lainnya dengan nuansa yang serba putih.


"Tentu, aku dan Al membuat desain nya. Ini untuk mu ... untuk kalian!" David menatap Anna dan Balqis bergantian.


"Andai ibu masih ada, dia pasti senang karena rumah kecilnya berubah menjadi rumah impian berukuran besar." bibir Anna tersenyum, namun airmata juga ikut terjatuh membasahi pipi.


"Aku memberi kejutan ini agar kamu bahagia. Ahh aku menyesal karena membuat mu terus menangis seperti ini."


"Ish, Papa ini! aku bahagia tau!" Anna menepuk bahu suaminya kencang.


"Emmm .. kamar Aqis mana? apa kamar Aqis barengan sama Adik?"


Balqis mendongak, menatap ayah dan ibunya bingung.


"Mama nangis terus ya, pah!" cicit Balqis.


"Mama bahagia sayang."


"Bahagia itu tertawa, bukannya menangis seperti Mama sekarang."


Seketika David tergelak cukup kencang.


"Baiklah, ayok kita lihat ruangan lainnya!" kata David penuh semangat.


Pelahan David menarik tangan Anna dan Balqis kearah sisi lain rumah itu.


"Ini kamar utama. Masih belum selesai sepenuhnya ... tapi sudah terlihat bagus bukan?" ujar David saat mendorong pintu ruangan tersebut, dan terbuka sangat lebar.


Ruangan yang luas, dengan tempat tidur yang juga berukuran besar, juga di lengkapi sofa dan meja rias yang sudah terlihat berada di dalam sana.


"Tumben nggak abu-abu!" ledek Anna.


"Tentu, sepertinya warna putih terlihat lebih segar. Apalagi saat cahaya matahari masuk, kelihatan indah sekali bukan!?"


Anna mengangguk.


"Baiklah, di sebelah sini ada kamar Kaka sama adik." mereka beranjak memasuki satu ruangan berukuran sedang.


Dua ranjang tidur berukuran kecil dengan motif yang berbeda.


"Kenapa kuning? Aqis maunya pink!" protesnya ketika melihat ruangan itu.


"Takutnya adik bayi berjenis kelamin laki-laki, jika nanti prempuan ... tinggal kita cat ulang." jelas David.


"Mau melihat ruangan lain? dapur dan ruang keluarga misalnya!"


"Boleh."


Namun sebelum mereka kembali melangkahkan kaki, suara seseorang berteriak, memanggil nama Anna sampai menggema di dalam ruangan itu.


Keduanya saling menatap, mereka bingung.


"Sepertinya aduan para pegawai benar, suka ada beberapa orang yang mengaku kerabat mu." jelas David.


"Kerabat!?"


"Ya, mereka tinggal tidak jauh dari sini. Pengakuan mereka seperti itu!"


"Bibi!" cicit Sisil pelan.


...••••••...


Jangan lupa like, komen dan hadiah .. vote nya juga kalau ada.


Tapi kalo nggak ada cukup like sama komen aja ... biar popularitasnya naik ...


~Cuyunh kalian~