
Suara pintu tertutup sukses alihkan atensi Haleth yang tengah berkutat di dapur. Tangannya refleks saja matikan kompor, lantas langkahkan kaki menuju sumber suara. Terdengar derap langkah yang Haleth pikir itu Emery. Namun begitu berpapasan dengan orang yang tanpa izin memasuki rumahnya, seketika Haleth memasang wajah terkejut.
"Hei, kembali lagi? Ada yang tertinggal?" tanya Haleth pada sosok Adam dihadapannya.
"Iya, ada,"
"Apa? Aku ambilkan."
"Kau,"
Haleth kernyitkan keningnya untuk beberapa saat guna mencerna ucapan Adam. Begitu sadar, tak ayal keduanya pun terkekeh. Adam rangkul bahu Haleth, dibalas rangkulan pada pinggangnya oleh wanita tersebut.
"Dasar," Haleth mendengus, lantas giring Adam menuju dapur. "Aku membuat kopi. Kau mau?"
Tawaran itu ingatkan Adam dengan Iris beberapa yang beberapa saat lalu menikmati kopi bersama. Ada perasaan ingin memberitahukan kedatangan Iris ke California pada Haleth. Namun entah mengapa, ada rasa ragu menyelinap sampai-sampai Adam hanya bisa diam, dan angguki tawaran wanita tersebut.
"Boleh. Tapi bukannya besok kau kerja? Minum kopi bisa membuatmu susah tidur nantinya." ujar Adam seraya dudukkan dirinya di kursi tinggi.
"Masuk siang. Jadi aku besok lembur di rumah sakit."
"Oh ya? Kalau begitu hubungi aku jika perlu sesuatu, okay?"
"Okay,"
Sebuah mug dengan asap yang masih mengepul Haleth letakkan di meja. Secara bersamaan, Haleth duduk di samping Adam, sesap perlahan kopi dari mug di tangannya sebelum perhatikan Adam yang lakukan hal yang sama.
"Klien, sudah bertemu?" tanya Haleth sembari letakkan mug nya di meja.
"Sudah. Setelah aku tanda tangani kontraknya, aku langsung kemari. Carl ada di sana, jadi sisanya Carl yang handle." terang Adam dengan sedikit dusta di sana. Tidak mungkin pria itu terang-terangan jujur pada Haleth, bahwa dirinya baru saja bertemu dengan Iris meski itu sebuah unsur ketidaksengajaan.
Haleth pun juga hanya angguki itu, percaya-percaya saja karena memang Adam sedari awal sudah bilang padanya, bahwa akan ada klien dari Bangkok yang ingin menemui pria tersebut. Alhasil kini keduanya kembali lanjutkan obrolan. Membicarakan hal yang acak yang sekiranya tak cepat membuat bosan.
Belum sadar hingga beberapa menit berlalu, sebuah paper bag berisi box yang tidak diketahui isinya dianggurkan. Namun hal tersebut tak berlangsung lama lagi, karena Haleth alihkan atensi ke benda tersebut dan menariknya. Pasalnya Haleth ingat, Adam membawa paper bag tersebut saat kembali.
Sontak saja Adam urung meminum kopinya kembali, guna membantu Haleth mengeluarkan apa yang ada di dalam paper bag berwarna coklat dengan ukuran tak terlalu besar.
"Apa ini?"
"Makanan. Baru ingat aku bawa ini. Aku membelinya untukmu tadi," ujar Adam lantas buka box tersebut. "Kau lapar?"
"Mhm," Haleth mengangguk. "Mau makan bersama?"
"Boleh. Aku ambilkan chopsticks nya,"
Haleth beri senyuman teduhnya pada Adam yang melangkah menuju dapur. Selagi menunggu pria tersebut, Haleth singkirkan mug kopi yang semula mendominasi meja makan, menggantikan posisi dua benda yang terbuat dari keramik itu dengan box berisi makanan berbau harum yang sontak buat perut Haleth berbunyi.
Usai Adam kembali, mereka pun menyantap makanan tersebut. Sesekali Adam suapi wanita yang duduk berhadapan dengannya itu, atau bahkan mengambil sisa gigitan di sumpit Haleth. Obrolan ikut andil, mengisi ruang makan yang biasanya hening. Bahkan suara tawa pun tak ayal ikut menggema di sela cerita yang keduanya bicarakan.
Suara dentang jam lantas menginterupsi, menghentikan sejenak perbincangan Adam serta Haleth. Bersamaan itu juga box makanan sudah kosong. Malam sudah larut, dan Haleth teringat putrinya segaduh apa di rumah sang Ayah, sedangkan Adam sama masih di sini sampai sekarang.
"Kau pulang jam berapa? Ini sudah malam sekali, kalau Tasha mencari bagaimana? Kau tadi bilang Tasha kalau mau ke sini?"
Adam yang baru saja datang pun sontak kernyitkan dahinya. "Kan ada Emery dan Jessica?"
"Memangnya Tasha tidak rewel kau tinggal?"
"Biasanya seperti itu kan?" tangan Adam terulur membelai rambut Haleth yang memanjang. "Lagipula sudah larut. Bukankah seharusnya Tasha sudah tidur sekarang?"
Haleth hanya mampu hela nafasnya, angguki ucapan Adam yang seharusnya benar. Adam tatap kedua netra Haleth dengan tatapan yang begitu dalam, lantas segaris senyum muncul getarkan hati Haleth yang entah mengapa akhir-akhir ini begitu sensitif.
Benar. Haleth tidak menyukainya. Dia merasa gampang diluluhkan kembali oleh sosok Adam dihadapannya.
"Kalau aku pulang, kau sendiri,"
"Itu bukan masalah besar." sahut Haleth buru-buru alihkan pandangan.
"Kau sendiri. Boleh aku menginap saja di sini?"
Belum ada dua detik, Haleth kembali berpandangan dengan Adam. "Huh?"
Kini senyum seduktif Adam perlihatkan pada mantan istrinya tersebut. Disusul Adam remas perlahan leher bagian depan Haleth, dan menariknya hingga posisi keduanya tersisa beberapa sentimeter saja.
"Ayolah, kali ini saja,"
"Tasha akan mencari mu,"
"Tasha cukup tenang dengan kedua Oma nya. Aku pikir Tasha juga akan memaklumi, kalau Momy dan Daddy nya ingin menghabiskan waktu bersama."
Adam geser tangannya melingkari pinggang Haleth. Dekatkan wajahnya dengan wajah wanitanya yang sekilas tampak merona. Ekspresi yang semula terlihat seduktif berubah menjadi begitu teduh.
Aroma musk tak tanggung-tanggung menyeruak penuhi indera penciuman Haleth. Sontak hal tersebut membuat Haleth jatuhkan kepalanya di bahu Adam, hirup dalam-dalam aroma yang menenangkan itu dengan mata terpejam.
Tak bisa bayangkan, bagaimana jika tubuh beraroma khas favoritnya itu Haleth dekap sepanjang malam.
Setelah berpikir cukup lama, Haleth lantas setujui permintaan Adam. Tak butuh waktu lama untuk pria tersebut bawa Haleth menuju kamar. Mengunci pintu yang terbuat dari kayu jati disusul remangnya keadaan di ruangan tersebut.
Hal yang pertama kali Adam rasakan saat melangkah mendekati ranjang, adalah lembutnya permukaan kulit yang dingin diterpa oleh angin yang berasal dari pendingin ruangan. Dengan pencahayaan lampu meja yang minim, Adam masih bisa melihat bahwa Haleth baru saja melepas kain satin yang semula melapisi gaun tidurnya.
Desau angin dari pendingin ruangan menjadi satu-satunya suara yang terdengar di ruangan besar tersebut. Kedua insan yang menghuni pun enggan untuk membuka mulut, lantaran sibuk saling menyentuh dan merasakan suhu tubuh satu sama lain.
Adam tak henti beri kecupan di sekujur bahu sang puan. Hanya kecupan ringan yang tidak meninggalkan bekas. Kedua tangannya pun andil, merengkuh tubuh semampai yang hanya berbalut gaun tidur berbahan satin tersebut. Lamat-lamat Adam hirup aroma mawar dari tengkuk Haleth. Mengecupnya ringan lantas menuntunnya untuk berbaring di ranjang.
Yang terjadi selanjutnya, hanyalah di mana Adam rengkuh tubuh Haleth dalam-dalam. Meringkuk dengan balutan selimut seraya tak henti bubuhkan kecupan di bahu maupun punggung sang wanita. Pun Haleth tak melayangkan protes. Karena sensasi itu adalah sensasi yang ia rindukan selama ini. Haleth seolah merasa cintanya yang belum tuntas kembali datang. Perlahan merengkuhnya ke dalam kehangatan yang tak berujung, sampai membuat matanya panas dan lelehkan air mata tanpa sadar.
Haleth rasakan dadanya menghangat. Ribuan kupu-kupu terasa mengerubungi perutnya, hantarkan sensasi menggelitik yang membuat seluruh tubuhnya meremang. Perlahan ia kecup tangan Adam yang merengkuh erat dirinya. Menggenggamnya dan memeluknya seolah tak ingin pria yang mendekapnya kini pergi lagi. Mengesampingkan pikiran, di mana Haleth bisa saja merasakan luka lama yang terulang kembali.