
...••••••...
Dikediaman Rika, tepat pukul 09:00.
Sebuah mobil Fortuner silver berhenti tepat di halaman rumah kedua orang tua Rika. Lalu keluarlah beberapa orang dengan pakaian serba rapih, dan wajah yang berbinar dengan kedua sudut bibir yang terlihat terus tersenyum.
"Sudah datang?" Rika menatap sang ibu yang berdiri tepat diambang pintu.
Wanita itu tersenyum, lalu menjawab dengan anggukan kepala.
Rika tersenyum bahagia, hatinya terasa berdebar dengan nafas yang tiba-tiba memburu, sampai Rika memegangi dadanya.
"Yasudah, Bunda sambut dulu keluarga calon suami kamu!"
"I-iya bunda."
Pintu kamarnya kembali di tutup, lalu Rika berdiri dan berjalan mendekat kearah jendela, berusaha melihat kearah luar.
Dan disanalah Edgar, pria itu berdiri di jajaran paling depan, dengan kemeja putih dan stelah jas berwarna hitam.
Rambutnya klimis, dengan bibir yang juga tampak tersenyum. Membuat jantung Rika kembali berdebar dengan tempo yang sangat cepat.
"Oh calon suamiku!" gimana Rika pelan dengan tatapan penuh kagum.
"Kenapa hari ini kau semakin tampan!" ucap Rika kembali.
Mereka terlihat memasuki rumah, saat Risma dan Yuda menyambut calon besan mereka.
"Silahkan masuk, maaf rumah kami tidak seluas kediaman kalian." sambut Yuda.
"Saya rasa sama saja, rumah kami atau Pak Yuda, yang besar hanya rumah Edgar." ayah Edgar menimpali.
"Kalau begitu silahkan duduk!" ucap Risma kepada rombongan yang terlihat hanya beberapa orang yang mendampingi Edgar.
Tanpa ragu mereka duduk memenuhi ruang tamu kecil beralaskan karpet.
Sementara Edgar, pandangan pria itu terus mengedar, mencari sosok yang akan segera ia tarik kedalam kehidupan pribadinya.
"Rika ada di dalam, biar Bunda panggilkan dulu!" kata Risma kepada pria tampan itu.
"Oh, .. iya bunda," Edgar mengangguk, kemudian tersenyum gugup.
Klek!
"Ka?" Risma memanggil.
"Iya bunda?" gadis itu tersentak.
"Ayok, calon mertua dan suami kamu sudah menunggu!" Risma datang menghampiri Rika yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Aduh, aku deg-degan Bun!" Rika memegangi dadanya.
Sementara Risma, wanita itu hanya tersenyum, saat melihat raut wajah panik dari putrinya Rika.
"Tidak apa, ayok." Risma menggenggam telapak tangan putrinya.
Dengan segera Risma menarik tangan putri semata wayangnya itu, lalu berjalan kearah luar.
Seketika semua mata tertuju kepada Risma, saat wanita itu berjalan di depan dengan satu tangan menarik gadis cantik di belakangnya.
Edgar terhenyak, matanya membulat sempurna, menatap Rika penuh kagum.
Wanita tomboi, dan selalu berpenampilan sederhana itu kini berubah menjadi sosok anggun dengan gaun putih panjang, dan rambuta yang di tata rapih sedemikian ruma.
Gadis itu tersenyum malu-malu, bahkan Rika menunduk saat pipinya terasa panas.
Sungguh, apa itu Rika yang selalu bersama ku? pikir Edgar.
"Cantik sekali menantu Amih!" Atika memuji.
"Dalam selera wanita .. putra kita satu selera dengan ku!" jelas Akbar kepada istrinya.
"Papi, langsung ke acara intinya .. jangan ngaco!" seorang prempuan berbicara, dengan bayi mungil yang terlelap dalam pangkuannya.
"Biar nggak terlalu tengang Ka, kasian adik kamu itu!" elak Akbar sambil tertawa, kemudian menoleh kearah Edgar.
"Yasudah, saya tidak mau berbasa basi lagi. Pak Yuda .. Bu Risma, dan Nak Rika. Tujuan keluarga kami kemari, ingin meminang putri dari bapak dan ibu untuk putra bungsu kami .. Edgar Hardana Akbar."
Yuda mengangguk, seraya menoleh kearah Rika yang duduk di samping Risma dengan kepala yang terus menunduk.
"Saya serahkan jawabannya kepada Rika, dia putri kami satu-satunya, jadi dia yang akan menentukan pilihan!" Yuda tersenyum.
Namun gadis itu terus menunduk, sambil memainkan jemarinya karena gugup.
"Rika? Edgar nungguin jawaban kamu!" Risma berbisik.
"Ehem .. em itu aku bingung harus jawab apa."
"Sekali lagi aku tanya, maukah kamu menjadi istriku? menjadi belahan jiwaku dan menjadi ibu dari putra-putri ku nanti? Edgar menatap Rika, dengan raut wajah serius.
Keadaan menjadi hening.
"Iya aku mau?" Rika berusaha santai, meski jelas ia menahan rasa malu sekaligus gugup di hadapan calon ipar dan mertuanya.
Senyuman bahagian diantara kedua orang tua mereka pun terbit.
"Edgar pernah berbicara kepada kami, soal pernikahan yang ingin segera di laksanakan. Apa Nak Rika sungguh hanya ingin mengadakan akad nikah saja? jujur saja kalau Nak Rika ingin pesta kami akan adakan, dan tidak usah memikirkan biaya, biar Papi yang siapkan semuanya."
Untuk beberapa saat semuanya terlihat diam.
"Iya ... akad saja sudah cukup, yang penting itu bukan mewahnya, tapi langgengnya, agar kami bisa terus bersama sampai akhir hayat nanti." Rika menjawa.
Risma dan Yuda hanya tersenyum.
"Hanya ingin akad? sungguh?" Edgar menatap wajah calon istrinya lekat.
Gadis itu mengangguk yakin.
"Ada banyak hal yang harus kita lakukan setelah berumah tangga nanti, jadi alangkah baiknya, .. uang untuk pesta kita jadikan sebagai modal bisnis lainnya agar bisa terus berputar, atau mungkin semakin banyak." kata Rika kepada Edgar.
Pria itu diam, dia menatap kearah orang tuanya, lalu beralih kepada orang tua Rika.
"Jika di izinkan, bolehkan kita adakan Akadnya sekarang juga?" Edgar menatap mata Yuda.
Yuda tertegung.
"Kami belum ada persiapan apapun Nak Edgar!"
"Ini hanya acara keluarga, untuk kerabat mungkin kita adakan acara syukuran dan makan malam bersama Minggu depan. Bagaimana? apa ayah mengizinkan Edgar menikahi putri ayah hari ini juga?"
Yuda menata kedua calon besan nya, lalu beralih menoleh, dimana Rika dan Risma berada.
"Niat baik tidak boleh di tunda bukan? jika Edgar ingin mempercepatnya kita dukung saja!" ucap Risma.
"Betul ... Amih setuju!" Atika m engamini.
"Betul, sekarang atau nanti sama saja bukan?" Elisa berujar.
"Baiklah, jadi kita berangkat ke KUA atau penghulunya yang kita panggil kesini?"
"Kita laksanakan disini saja Pak, sesudah itu kita langsung makan bersama. Ada beberapa hidangan yang kami buat spesial untuk keluarga Bapak Akbar dan Ibu Atika." usul Risma.
"Yasudah, biar Abang yang urus semuanya." Elisa berbicara lagi, lalu menatap suaminya.
"Iya Pih, Alex aja!"
Akbar mengangguk.
Semuanya sibuk membahas persiapan akad hari ini, namun tidak dengan Rika. Dia hanya diam dengan berbagai pikiran yang terus berputar di dalam isi kepalanya.
"Apa perlu kita sewa kebaya?" Edgar menatap Rika.
Gadis itu diam, hingga Edgar memanggilnya beberapakali, dan baru tersadar saat sang ibu menepuk bahunya.
"Kok ngelamun? di tanyain calon suaminya itu!" seru Risma.
"Apa, tanya apa yank?"
"Ck! dasar. Mikirin apa sih sampe segitu nya?" Edgar bertanya.
Mikirin nanti malem kita bakal ngapain! umpat Rika dalam hati.
"Sayang .. hey!?"
"Apa sih yank?" cicit Rika.
"Mau sewa kebaya atau nggak?" Edgar mengulangi pertanyaannya.
"Nggak usah, gini aja yank." sahut Rika.
"Kalo mau kamu sewa fotografer aja Ed, biar momen sakral nya ada." jelas Elisa.
"Emmm .. btw boleh minjem kamarnya nggak? Shanum tidur?"
"Oh iya ka, boleh .. kalo gitu ayok Rika antar." ujarnya kemudian bangkit, berjalan menuju kamar bersama calon kaka iparnya.
...••••••...
Vote dan hadiah nya dong ...
Like sama komen itu udah pasti harus ya guys .. biar makin semangat nulisnya.
~Zeyeng kalian semua, my beloved readers~