My Ex Husband

My Ex Husband
IGD



...•••••••...


"Pah .. Papah?" Balqis menepuk-nepuk pipi sang ayah cukup kencang, setelah beberapa kali berusaha membuat pria itu bangun tapi hasilnya nihil.


Berhasil, akhirnya tubuh pria itu menggeliat, kemudian mengerjapkan mata dan menatap Balqis penuh tanya.


"Kenapa Ka? tidur lagi .. ini masih larut sayang!" pria itu bergumam.


"Mama pusing, ada di kamar mandi .. duduk nggak bisa bangun!" kata Balqis sampai membuat David bangkit, dan berlari kearah pintu kamar mandi yang terbuka.


Brak!


Pintu itu berbenturan dengan dinding kamar mandi.


Deg!


Mata David terbelalak, jantungnya berdebar sangat kencang, saat melihat Anna duduk dengan noda darah yang memenuhi gaun tidur putih miliknya.


Wajah Anna terlihat sangat pucat, dia mendongak, menatap wajah suaminya sendu.


"Perut aku sakit mas!" Anna merintih pelan.


"Sayang kamu kenapa?" David langsung meraup tubuh Anna, dan membawa tubuh istrinya keluar.


"Ka, tolong buka pintunya sayang!" David berteriak, dia panik.


Balqis mengangguk, dia meraih knop pintu dan membukanya selebar mungkin.


Balqis berlari di belakang ayahnya, gadis kecil itu terlihat muram, apalagi saat ia mendengar jeritan Anna sampai dia terjaga dari tidurnya.


"Pak Yasir tolong ambil kunci mobil saya, yang mana saja cepat!" lagi-lagi dia berteriak, sementara Anna hanya terus merintih seraya memejamkan matanya.


Di waktu yang bersamaan Rosa tampak berlari keluar dari kamarnya, dia menatap sekitar saat beberapa kali mendengar David berteriak.


"Terimakasih pak!" ucapnya kepada seorang pria itu.


Pak Yasir mengangguk, kemudian dia muncul beberapa langkah.


"Dav, kenapa?" Rosa menatap tubuh putranya yang membungkuk, memasukan tubuh Anna kedalam mobil sana.


"David kerumah sakit dulu ya Bu, titip Balqis." David berlari memutari mobil.


Namun dia berhenti sesaat, dan menatap wajah putrinya.


"Kaka, Papah bawa Mama dulu yah. Jangan menangis, doain Mama sama adik bayi."


Dengan cepat dia masuk, kemudian memundurkan mobilnya dengan cepat, dan melesat setelah keluar dari pekarangan rumahnya.


"Mama kenapa sayang?" Rosa berjongkok, menatap wajah cantik yang terlihat semabab dengan mata yang memerah.


Tangan itu mengusap pipi Balqis, menyelipkan beberapa anak rambut kearah belakang.


"Mama berdarah." ucapnya lirih.


"Berdarah? kenapa bisa begitu?" Rosa terperangah.


"Aqis tidak tau, Mama menjerit. Pas aku lihat Mama udah duduk, Mama nangis terus minta tolong aku buat bangunin Papa!"


Dia menangis kencang.


Rosa langsung memeluk tubuh Balqis, mengusap punggungnya lembut, kemudian menarik tangan mungil itu kembali masuk kedalam.


"Bibi, tolong bikinin susu hangat buat Kaka yah! tolong antar kamar Nenek."


Titah Rosa kepada salah satu asisten rumah tangga yang berdiri tidak jauh darinya.


Tentu saja, bahkan hampir semua para pekerja terbangun dan berlarian kearah suara saat mendengar David berteriak.


"I-iya Bu, bibi bikinkan dulu." katanya kemudian beranjak pergi.


"Kenapa?" Daniel keluar dari kamarnya, dia berjalan tertatih-tatih.


"Nanti saja, kita tenangkan Balqis dulu!" Rosa berbisik.


Daniel diam, namun matanya menatap lekat kearah istrinya, berusaha mencari jawaban secepat mungkin.


"Terjadi sesuatu dengan Anna?!" Daniel berbisik.


"Tiduran dulu yah, nanti bibi bawa susu hangatnya!" ujar Rosa seraya menyelimuti tubuh mungil Balqis.


Kini dia beralih memandang Daniel, kemudian menganggukan kepala.


"Kita berdoa saja!" Rosa berbisik.


"Nenek, apa Dede bayinya sakit? kenapa Mama sampai berdarah!" Balqis kembali merengek pelan, saat khawatir terhadap keadaan ibunya.


"Mama dan adik bayi baik-baik saja. Nanti pagi juga Papah pasti bawa Mama pulang." jelas Rosa.


"Ada Kakek jangan takut yah." tubuh renta Daniel langsung naik kembali ke atas tempat tidur, kemudian memeluk erat tubuh cucu kesayangannya.


Balqis mengangguk, lalu membalas pelukan Daniel dengan sangat erat.


...•••••...


Suasan ruang Intensif Gawat Darurat itu terlihat sangat sepi. Maklum saja, jarum jam baru saja menunjukan pukul tiga dini hari.


David berdiri di depan pintu ruang kebidanan, dia terlihat cemas, sampai beberapa kali mengintip kearah dalam.


Astaga tuhan! kumohon jangan ambil bayi ku sekarang, dia masih kecil dan belum sempat melihat dunia yang sangat indah ini.


Pria itu menyandarkan punggungnya, memejamkan sesaat agar hatinya terasa lebih tenang, meski itu sangat sulit.


David tersentak, dia kembali menegakan diri saat pintu di sampingnya terdengar dibuka.


"Bagaimana keadaan istri dan bayi saya Sus?!" David semakin panik.


Prempuan itu tersenyum.


"Hanya sedikit pendarahan, mungkin karena faktor kelehan juga! ditambah Bu Anna yang terjatuh, kandungannya sedikit lemah yah ... jadi saya sarankan untuk rawat inap saja ... tapi jika ingin di rumah juga boleh, nanti kami yang periksakan keadaan Bu Anna disana!" jelas petugas medis itu.


"Apa saya boleh masuk?"


Prempuan itu mengangguk.


"Setelah itu anda boleh urus kebagian administrasi ya Pak."


David mengangguk, kemudian dia masuk dengan tergesa-gesa.


Hati David mencelos, saat melihat Anna yang tampak memejamkan matanya di atas berangkar sana.


"Maafkan aku ... aku kurang siaga sayang, sampai kamu terjatuh pun aku tidak tahu kalau bukan putri kita yang membangunkan aku." David mengusap kepala Anna.


Dia beralih kepada tangan yang sudah di hiasi jarum infus. Pria itu meraih dan mencium punggung tangan Anna beberapa kali.


"Maafkan aku sayang, aku bukan Papa yang baik." ucapnya lirih.


Anna membuka matanya, dia menatap David yang sedang menunduk.


Pria itu merintih pelan, dan Anna tau pasti bahwa suaminya itu tengah menangis.


"Papah?" Anna mengusap kepala suaminya.


Seketika David menatap wajah Anna.


"Sayang, .. maafkan aku!" pria itu tersenyum, namun matanya terus menitikan air mata.


"Aku sudah baikan, perut ku juga tidak sakit lagi."


Anna mengusap tetesan airmata di pipi suaminya, prempuan biru tersenyum manis.


"Adik juga baik Pah, .. jangan menyalahkan diri sendiri yah! ini kecelakaan."


"Terlalu banyak pekerjaan, padahal hampir semuanya aku serahkan kepada Al, tapi tetap saja aku masih keteteran .. apa aku harus cari pegawai baru? minimal agar Alvaro terbantu saat aku benar-benar tidak bisa masuk kantor!"


"Sepertinya memang perlu, selain kejadian sekarang pun, Al dan Sisil mungkin membutuhkan waktu untuk berbulan madu." jelas Anna.


"Baiklah, nanti aku kabari Alvaro. Sekerang aku mau fokus menjaga mu saja."


Anna mengangguk.


"Kejadiannya seperti apa? kenapa bisa jatuh? terus apa benturannya kencang? sampai membuat mu pendarahan seperti itu."


"Awalnya ... ya aku mual. Pas berdiri di depan washtafel tiba-tiba pusing, pandangan aku jadi gelap banget. Terus tubuh aku jadi nggak seimbang, jatoh deh!"


Anna menjelaskannya sambil terus tersenyum.


Cup!


David mencium perut Anna.


"Terimakasih sudah kuat sayang, mungkin Papa tidak akan memaafkan diri Papa saat Papa tidak bisa menyelamat kan mu." David berbicara di depan perut Anna.


"Untung Balqis bangun!" kata David lagi.


Anna memandang ruangan sekitar, mencari keberadaan putri sulungnya.


"Sekarang Kaka kemana mas?"


"Dia di rumah, sama Kakek dan Nenek."


"Apa dia menangis?"


David mengulum senyumnya kuat-kuat.


"Hanya sedikit khawatir kepada Mama dan Adik bayinya, tapi ada ibu dan ayah yang akan membuat dia lebih tenang bulan?"


"Kita harus bermalam disini? sampai berapa hari?"


"Kamu bisa di rawat di rumah kalau mau, kasian Kaka kalau kita harus disini .. Balqis pasti rewel, tahu sendiri dia tidak bisa tidur kalau kamu tidak ada." jelas David.


"Oh syukurlah, aku bisa istirahat di rumah saja!" kata Anna.


"Setelah ini kamu harus janji! kalau mau kemana pun minta aku antar, seandainya aku tidurpun bangunkan saja." pinta David.


Anna mengangguk.


"Baiklah Papah, maaf aku kurang hati-hati." Anna mengusap pipi suaminya, dengan bibir yang terus tersenyum, agar membuat rasa khawatir David sedikit lebih berkurang.


...••••••...


Jangan lupa like, komen, dan hadiahnya yah zeyeng! Klik favorite juga jangan lupa.


Maaf othor telat up, kemaren suami othor sakit, jadi yah nggak bisa fokus buat nulis : )


Tapi jangan lupa like sama komen aja dulu!


~Papayo cuyung kalian~