
HALETH POV
Konyol. Konyol sekali. Apa-apaan itu tadi? Membiarkan mereka yang menaruh hati bersaing dengan baik? Lucu sekali Haleth. Baru saja tadi siang kau merendahkan kaum-kaum lelaki yang bertekuk lutut padamu. Lalu setelah bertatap muka dengan mantan suami mu, kau secara gamblang mengatakan bahwa kau sudah berdamai dengan diri sendiri dan bahkan berkata ingin mencoba membuka hati?
Oh, benar. Selamat. Hidupmu sudah berada di puncak komedi sekarang.
Benar-benar memalukan!
Lagi-lagi aku menenggelamkan diri ke dalam bathtub yang dipenuhi air tanpa busa itu. Ingin lenyap dari dunia rasanya.
Kurang ajar! Tak mampu menelan rasa malu! Bagaimana aku harus bersikap di hadapan Adam setelah ini? Huh, konyol. Bahkan aku masih bisa memikirkan bagaimana aku harus bersikap?
Benar-benar, apa yang sudah aku lakukan? Ini begitu memalukan, aneh, dan terlalu terlihat bahwa aku kalah. Sial! Sial! Hanya satu kali, Haleth, pria itu menyentuhmu! Itu pun hanya sebuah kecelakaan karena kebodohan mu! Tapi, kau selalu memikirkannya setiap waktu. Seolah-olah kini kau mulai rindu belaian seorang pria. Seolah-olah kini kau rindu dimanja. Andai saja kau setengah sadar saat itu, pasti hidupmu tak lagi dipenuhi oleh rasa penasaran.
...***...
NORMAL POV
"Bagaimana makan malam mu dengan Adam?" baru saja Haleth menempatkan diri di samping sang Ibu, wanita paruh baya itu sudah gencar menginterogasinya.
"Apa kalian membicarakan tentang rujuk?"
Mendesah sebal, Haleth merotasi bola matanya. "Tidak ada obrolan seperti itu. Hanya makan malam biasa." jawabnya tak ingin sang Ibu terus salah paham.
Tetapi sepertinya memang dasar Emery saja yang ingin terus salah paham. Karena semenjak Emery tau tentang 'Malam Rahasia' sang anak, Emery seolah tak ingin melewatkan sedikitpun apa yang Haleth lakukan dengan Adam.
Seperti saat Emery tau bahwa putrinya dan juga mantan menantunya itu makan malam bersama tadi. Baru saja Haleth menginjakkan kaki setelah keluar dari mobil, Emery sudah berlari dengan senyum merekah di bibirnya. Bertanya apapun yang bisa ditanyakan, bahkan hingga Haleth masuk ke dalam kamarnya.
Haleth pikir Ibunya akan berhenti begitu ia memutuskan untuk membersihkan diri. Tapi ternyata, setelah Haleth menyelesaikan rutinitas nya, sang Ibu kembali mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama.
"Begitu terus. Ayo dong, ada kemajuan!"
Bisa saja Haleth pergi agar Ibunya berhenti mengomel. Tapi berhubung Haleth bosan, tidak ada salahnya mendengar semua keluh kesah Emery yang hampir putus asa membujuk putri semata wayangnya.
"Sudah tidur bersama, masa tidak ada niatan rujuk."
Tudingan itu pun kini membuat Haleth bereaksi. Sebuah helaan nafas yang terdengar kasar keluar dari bibir Haleth, terkekeh geli dengan penuturan sang Ibu.
"Memangnya yang Mama lihat malam itu hasil dari aku bercinta dengan Adam?" meski terdengar seperti Haleth menyangkal tudingan tersebut, wanita itu sebenarnya tengah berusaha menutupi insiden itu dari Emery yang talkative setengah mampus.
"Loh? Memangnya bukan dengan Adam? Lalu dengan siapa?"
Haleth mendecak. "Maksudku, bukan karena bercinta dengan siapapun!"
"Lantas?"
"Astaga, Ma. Sudah, lupakan saja!" Haleth menyangga kepalanya yang memberat dengan telapak tangan. Ia juga mengalihkan atensi dari sang Ibu yang semakin gencar menggoda.
Namun usapan lembut pada pahanya reflek membuat Haleth kembali menatap sosok Emery meski sebentar. Wanita itu tersenyum penuh arti, lantas duduk lebih dekat dengan Haleth.
Ugh! Mau apa lagi Ibunya ini?!
"Haleth. Kamu ini, sudah bertahun-tahun menjanda, tidak pernah jalin hubungan dengan lawan jenis, tolak laki-laki yang ingin meminangmu. Apa kamu ini tidak lagi penasaran, sama yang namanya bercinta dengan pria?"
Tubuh Haleth menegang. Astaga, Ibunya ini. Sebenarnya maunya apa sih? Segala bertanya seperti itu, memangnya Haleth penasaran?
Tentu saja, iya.
Haleth benar-benar merasa hasratnya tak tertuntaskan dengan benar. Tiap malam ia harus terus merapal doa agar Adam tak lagi hadir dalam mimpinya. Namun sepertinya sia-sia saja. Bahkan alam bawah sadarnya saja mendukungnya untuk kembali melakukan hubungan seksual dengan sang mantan suami. Sial!
"Ini, Adam loh Haleth. Sudah tampan, berwibawa, gagah luar biasa. Dulu kamu dapat badannya yang masih kurus. Sekarang, aduh! Berotot bukan main. Apa kamu nggak ada pikiran, ingin menyicipi Adam yang sekarang?"
Astaga. Ya Tuhan. Apa-apaan Ibunya ini?!
Tak kenal umur, ucapannya sebinal wanita muda yang tengah di mabuk asmara. Sebenarnya, yang menginginkan Adam itu, Haleth atau Ibunya sih?!
Haleth abai, biarkan sang Ibu terus lontarkan kata-kata hasutan yang luar biasa seduktif. Haleth tahan-tahan setengah mampus rona kemerahan yang berontak ingin muncul mewarnai wajahnya yang kini pucat pasi. Rasakan bulu roma berdiri akibat kata-kata nakal yang Emery tujukan pada sang putri.
"Coba kamu turunin sedikit itu gengsi kamu. Sebenarnya kamu juga mau kan? Memang dasar kamu saja yang tinggi gengsi!"
"Aduh, sudah sudah! Mama ini apa sih?!" Haleth pun lantas berikan respon marah pada Emery yang mendengus. "Sudah Haleth bilang, Haleth dan Adam itu tidak mungkin bisa bersama lagi!" lanjutnya.
"Lalu, kenapa tadi kamu tumben diajak makan malam sama Adam mau?" selidik Emery masih tau mau hilangkan pikiran negatifnya.
Hela nafas, Haleth coba jelaskan pada sang Ibu.
"Ya Mama kan tau sendiri, bagaimana Adam kalau ajakannya di tolak," terangnya. "Daripada dia setiap hari datang ke rumah sakit hanya untuk ajak aku makan siang atau makan malam karena aku tolak ajakan awalnya, aduh, malas sekali Mama. Dia itu kalau minta tidak ada habisnya."
Emery mengangguk-angguk, benarkan ucapan putrinya itu.
"Ya sudah, aku iyakan saja waktu dia ajak Haleth makan. Hm, ya not bad lah."
"Huh, begitu,"
Haleth hanya mengangguk. Pandangannya bergulir menatap sang Ibu yang mulai menggeser posisi duduknya. "Tasha tidak ikut pulang?" tanyanya.
"Memangnya Tasha mau pulang sebelum Araym kembali ke Abu Dhabi?" jawab Emery dengan sebelah alis terangkat.
Wanita itu hanya mendengus. Dasar anaknya itu. Padahal hingga umurnya hampir menginjak 6 tahun, gadis kecil itu menghabiskan waktunya bersama sang Ibu. Tapi entah mengapa, sang Ayah lah yang lebih mendapat cinta gadis kecil itu.
Merasa tak ada lagi yang dibicarakan, Haleth pun beranjak dari sofa.
Sontak undang pertanyaan dari Emery. "Mau tidur? Bukannya besok kamu off?"
"Hm. Lelah. Aku tidur dulu, Ma!" jawabnya kemudian berlalu begitu saja.
Sampai di kamar, Haleth langsung rebahkan tubuhnya di ranjang setelah mematikan lampu utama. Menyisakan lampu tidur yang menyala remang. Ia melepas robe berbahan satin yang ia gunakan sebelumnya untuk tutupi gaun tidurnya.
Hela nafas lega terdengar di ruangan yang sunyi itu. Namun sepertinya Haleth masih belum tampak tenang sepenuhnya. Ia gelisah, guling ke kanan ke kiri cari posisi yang nyaman untuk tidur. Itu dikarenakan jantungnya tak henti berdetak kencang. Membicarakan Adam dengan sang Ibu penyebabnya. Entah, seberbahaya apa pria itu di hidupnya sekarang. Buktinya, Adam yang dulu tidak mampu luluhkan sosok Haleth, kini berhasil buat wanita itu berdebar bahkan hanya karena menggosipkan nya.
Tak kunjung pejamkan mata, Haleth lantas raih ponselnya yang tergeletak di nakas. Ia lihat pesan masuk di sana, dari Niel, dan Adam.
Namun matanya abaikan nama Niel yang tertera, dan reflek tekan pesan masuk dari Adam. Tidak biasanya. Karena pria itu lebih sering meneleponnya jika ada sesuatu.
Dan saat matanya baca lamat-lamat isi pesan itu, jantungnya lagi-lagi rasanya akan meledak. Wajahnya merona meski tak terlihat. Bahkan kini wanita itu tak sanggup tahan senyumnya.
Tasha's Dad
Selamat malam Haleth. Kau sudah bekerja keras dengan baik hari ini. Selamat tidur!
Astaga! Ya Tuhan! Lemas! Rasanya, Haleth ingin mati saja!