My Ex Husband

My Ex Husband
Tasha Dan Wanita Asing



"Tasha ingin ke restoran yang ini kan?"


Kepala gadis kecil itu mengangguk antusias pada sayang Ayah yang melongok kebelakang. Tasha tersenyum lebar, lantas melepaskan seat belt yang semula masih terpakai.


Mobil Rolls Royce yang Adam kendarai itu lantas diparkirkan. Bergegas pria itu turun, untuk membuka pintu belakang dan menggendong Tasha. Dengan Haleth yang mendahului masuk, Adam hanya menyusul mengikuti wanitanya yang berjalan menuju meja yang sudah Adam reservasi sebelumnya.


"Tumben mau makan di sini? Biasanya Tasha nggak mau?" tanya Haleth setelah waiters yang menulis pesanan mereka pergi.


"Oma bilang ini restoran tempat Momy dan Daddy dulu sering kencan. Makanya Tasha ingin tau."


Adam terkekeh seraya mengacak rambut Tasha. Tak menyangkal ucapan gadis kecil itu, karena apa yang Tasha ucapkan memang benar adanya.


"Sekarang Tasha sudah lihat. Bagaimana? Indah kan?"


Tasha mengangguk. "Indah sekali. Makanya Momy sampai jatuh cinta dengan Daddy. Selalu dibawa ke tempat romantis seperti ini sih,"


Muncul tawa hambar dari Haleth. Segera alihkan pandangan kala Adam menatapnya dengan senyum seduktif. Suasananya pun menjadi canggung, namun tak berlangsung lama karena kedatangan waiters yang membawa menu appetizer.


Dia meja itu pun lantas tak ada lagi suara, kecuali suara alat makan. Bahkan ketika makanan utama disajikan, tata krama diterapkan dengan baik oleh keluarga kecil itu.


"Tasha mau pipis," Tasha bergerak menuruni kursi setelah makan siang berakhir.


Adam dengan sigap menjadi pegangan putri kecilnya, lantas biarkan Tasha merapikan bajunya.


"Tasha mau diantar Momy?" Haleth menawarkan.


Namun Tasha menolaknya dengan menggelengkan kepala. "No. Tasha bisa sendiri kok Momy." katanya.


Setelahnya Tasha melambaikan tangan kepada sang Ayah dan sang Ibu, sebelum berlari kecil menuju toilet. Adam dan Haleth hanya perhatikan putri semata wayang mereka sampai Tasha menghilang dari pandangan mereka.


"Jadi, Tasha bilang seperti itu padamu?"


Haleth untuk sekilas melirik Adam. Wanita itu terkekeh kecil, menghela nafasnya dan kembali membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman berbicara dengan pria yang tengah bersamanya sekarang.


"Ya. Jujur mau bagaimana juga aku kaget sekali."


"Dia sudah mulai besar. Dia pasti merasa kesepian meskipun ada Emery."


"Ada-ada saja," Haleth kembali hembuskan nafas.


Mengenai permintaan Tasha semalam, mustahil Haleth untuk tidak terkejut. Bahkan saking terkejutnya, dia tanpa berpikir dua kali menginfokan nya pada Adam.


Mungkin bagi Adam itu wajar. Apalagi di usia Tasha sekarang, tak sedikit juga anak-anak diluar sana yang merasa bosan sendirian dan ingin mempunyai teman bermain di rumah. Akibatnya, terlontar keinginan ajaib yang biasanya dengan senang hati para orang tua kabulkan. Tapi untuk Tasha, tanpa diberitahu pun Adam tau, Haleth pasti menolak.


"Lalu menurutmu, bagaimana?" celetuk Adam bertanya.


"Bagaimana apanya? Tentu saja aku tidak mau. Maksudku, kau tau? Kita sudah tidak bersama lagi," jawab Haleth.


"Huh, aku sudah menduganya. Jika jelasnya sebuah hubungan adalah kuncinya, kenapa kita tidak rujuk saja kalau begitu?"


"Tidak semudah saat kau mengatakannya,"


Adam spontan raih tangan Haleth, menggenggamnya seraya tatap netra wanita itu. "Jangan lagi, hancurkan harapan putri kita Haleth,"


"I'm trying," kemudian helaan nafasnya kembali terdengar. "Aku pikir aku bisa mengembalikan rasa percaya ku terhadapmu setelah apa yang terjadi diantara kita. Namun ternyata itu semua tidak semudah yang aku pikirkan,"


Obrolan di meja itu tiba-tiba menjadi serius. Atmosfernya berubah menjadi menegangkan. Ekspresi Haleth pun kini berubah, yang semula senyum terus mengembang, kini berubah menjadi sendu. Hal tersebut selalu terjadi, jika seseorang sudah menyinggung hal sensitif yang masih menjadi momok bagi ibu muda tersebut.


"Aku memang serius dengan ucapan ku saat itu, yang mana aku bilang, aku akan berdamai dengan diriku sendiri, dan mencoba memberi kesempatan pada pria-pria yang menaruh hati padaku. Tapi, ya kau tau? Aku masih butuh waktu, apalagi tentang rujuk,"


"I know. It's okay then. Aku tidak akan mendesakmu, dan selalu menyinggung masalah itu. Aku akan menunggu kesiapan hatimu lagi, Haleth. Take your time," senyum Adam akhirnya muncul, beri perasaan tenang pada Haleth.


Bersamaan dengan usainya perbincangan keduanya, Tasha datang. Gadis kecil itu menarik-narik lengan kemeja Adam.


"Daddy, ayo pulang."


"Tasha sudah selesai? Tidak ingin makan ice cream dulu?" tawar Adam pada gadis kecilnya.


Tasha menggeleng, beralih tatap Haleth yang juga ikut mengernyit. "Momy kan harus bekerja lagi? Nanti terlambat loh,"


"Okay!"


"Haleth, kau selesai? Ingin pergi sekarang?" tanya Adam beralih pada mantan istrinya.


"Iya, ayo."


...***...


Usai mengantar Haleth, Adam lantas membawa Tasha kembali ke rumahnya. Jessica dan Emery joga sudah menanti sembari meminum teh di ruang tamu.


Adam menurunkan Tasha dari gendongannya saat suara Jessica terdengar mengisi ruangan besar tersebut. Wanita itu memanggil sang cucu untuk ikut bergabung. Namun alih-alih menghampiri sang Nenek, Tasha justru mengekori Adam yang hendak ke kamar.


Refleks pun Adam kembali hentikan langkah, berbalik dan merendahkan tubuhnya setinggi Tasha.


"Are you okay?" pertanyaan itu refleks talontar.


"Hng, yeah," jawab Tasha lirih. Matanya menatap sang Ayah berbinar.


"Can I go with you, Daddy?" gadis kecil itu lantas meminta izin, seraya rangkul leher sang ayah dengan kedua tangan mungilnya.


Adam terkekeh. Wajah memohon putrinya begitu menggemaskan dan manis pria itu pun tak tahan beri kecupan pada pipi tasha kemudian usap-usap puncak kepalanya.


"Of course you can," ucap Adam lalu angkat Tasha kedalam gendongan.


Tubuh kecil itu dibawa pergi oleh Adam. Diiringi langkah lebar sang Ayah, Tasha melambaikan tangannya pada kedua neneknya sambil bergumam, "Bye bye Oma,"


Sesampainya di kamar, Adam lantas turunkan Tasha di ranjangnya. Biarkan gadis itu merangkak memposisikan tubuh kecilnya untuk berbaring di sana, sementara Adam langsung duduk di balik meja kerjanya dan membuka laptop.


"Daddy, boleh aku pinjam ponsel?"


Adam angkat wajahnya sebentar, alihkan atensinya dari monitor laptop untuk tatap sang putri. "Ambil saja, Princess. Ada di dekatmu." ucap Adam memperbolehkan.


Bergegas Tasha raih benda elektronik keluaran terbaru itu. Jemarinya dengan lincah mengutak-atik layar ponsel tersebut, mengamati menu yang ada dan menekan salah satu yang menarik minat Tasha.


Sekian menit terlewati tanpa interaksi antara Ayah dan Anak itu. Yang terdengar menguasai hanya suara keyboard laptop yang ditekan oleh Adam. Tasha pun juga hanya diam dan tampak sibuk dengan game yang ia mainkan.


Namun berselang beberapa detik, sebuah suara yang berasal dari ponsel Adam terdengar menginterupsi. Adam spontan angkat pandangannya ke arah putrinya yang sudah berubah posisi.


"Someone messaged, Daddy,"


Dan belum ada dua detik berlalu, ponsel yang ada digenggaman Tasha berdering cukup lama.


"And now she's calling,"


Adam mengernyitkan dahinya seraya beranjak dari kursi. "She? Your Mom?"


"Bukan Daddy. Tapi, Tasha seperti tidak asing dengan wajahnya," ungkap Tasha ikut mengernyit. Tangannya terulur berikan gawai itu pada Adam, biarkan sang Ayah melihat siapa perempuan yang Tasha maksud.


"Oh? I met her before!"


Pernyataan Tasha cukup mengejutkan Adam. "Di mana?"


"Restaurant! Kami bertemu di toilet tadi, Daddy. Aunty itu tadi yang menemani Tasha dan mengantar Tasha kembali ke Momy dan Daddy,"


Adam mengangguk-angguk, sampai tak sadar dering di ponselnya berhenti. "Lalu?"


"Lalu, Aunty itu pergi begitu saja begitu melihat Daddy dan Momy. Aunty itu bilang, 'Jangan katakan pada Momy dan Daddy kalau Aunty yang mengantar mu ya,' begitu katanya," Tasha lantar lirik ponsel sang Ayah, "Apa Daddy mengenalnya?"


"Tentu saja Tasha," jawab Adam seraya usap puncak kepala Tasha dengan lembut. "Tunggu di sini selagi Daddy menelepon, okay?"


"Baik Daddy," Tasha mengangguk patuh.


Lantas Adam berjalan menjauh dari putrinya. Ia berjalan mendekati jendela. Membukanya dan keluar ke balkon. Tasha yang tampak penasaran hanya perhatikan sang Ayah dari dalam. Gadis kecil itu tangkap sang Ayah yang kini dekatkan ponsel ke telinga, dan sayup-sayup mendengar pria itu menyapa seseorang yang ia telepon.


"Halo, Iris?"