
...••••...
Klek!
Anna menutup pintu rumah segera, sesaat ia terdiam menyandarkan punggungnya di balik pintu, lalu melihat kearah luar dari balik gorden.
Anna melihat mobil David masih berada disana, namun setelah beberapa detik langsung melaju perlahan.
Prempuan itu bernafas lega, bahkan satu tangannya menyentuh dada ketika debaran itu tak kunjung hilang.
"Kenapa dia ini?" Anna mendengus, bahkan raut wajahnya sudah terlihat sangat kesal.
Anna berjalan gontai, menaiki setiap anak tangga dengan malas. Entahlah! keberadaan David saat ini terasa sangat mengganggu, namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa, karena Balqis bahagia dengan keberadaan ayahnya saat ini.
"Keadaan yang sulit!" katanya, lalu menghempaskam tubuh itu ke atas tempat tidur.
Tubuh Anna terlentang, matanya menatap lurus langit-langit kamar. Tiba-tiba saja Anna memikirkan hubungan baru, ya mungkin itu salah satu cara agar David tidak terus meangganggunya pikir Anna.
"Ish .. nggak ah! gimana kalo sakit hati lagi? serem weh, sakitnya nggak ketulungan." ucap Anna seraya memiringkan tubuhnya.
"Bukannya semua pria tidak sama? jadi tidak ada salahnya untuk mencoba." kata Anna lagi.
"Eh .. nggak deh! hidup santai seperti ini lebih asik dari pada hidup dengan cinta tapi ujung-unjungnya sakit hati." prempuan itu terus bermonolog.
Anna baru tersadar ketika ponselnya berbunyi nyaring.
"Hallo .. Onti? kenapa?" Anna menyapa, seketika ekspresi wajahnya berubah.
Dia tersenyum.
—Nanti malem ajak Balqis main yuk? kita makan di luar, gua baru gajian.
Raut wajah Anna semakin berbinar, bahkan ia bangkit dan langsung duduk di tepi ranjang.
"Emang hari ini nggak kerja?" Anna bertanya.
—Ini kerja, tapi jam 6 gua udah minta pulang sama Bu Elsa.
"Yaudah ayok! mau kemana kita?"
—Mall mungkin! ponakan gua pasti mau main di time zone.
"Oke .. oke! nggak usah traktir, hidup gua udah lebih baik, cukup temenin wanita kesepian ini Onti Rika." Anna terkekeh pelan.
—Hem .. makanya nikah lagi, biar nggak kesepian.
Anna menggelengkan kepala, seolah Rika dapat melihatnya dari kejauhan.
"Big No! gua kagak mau, kagak butuh. Buat apa!" seru Anna.
Mendengar penjelasan Anna Rika tampak meringis.
—Ish .. ngeri juga gua sama lu, Ann.
"Kok ngeri, pungsinya laki-laki buat gue apa? nafkah? kan gua udah bisa dapetin uang sendiri." kata Anna.
—Iya .. iya! serah lu dah. Pokonya nanti sore lu jemput gua ke rumah yah?
"Iyah!" sahut Anna.
—Yaudah, bye .. bye ..
"Hu'um ... sun jauh dulu dong."
—Dih, najis.
Rika langsung memutuskan sambungan telfonnya, hingga membuat Anna tertawa kencang.
"Untung ada elu Rik, nggak tau kalo lu nggak ada gua harus gimana." Anna bermonolog, seketika Anna mengingat kisah hidupnya yang sulit, dan ada Rika yang selalu siap membantunya
Anna meletakan ponsel miliknya di atas nakas, kemudian ia kembali berbaring seraya memejamkan mata.
Tidur siang adalah hal yang paling sering Anna lakukan sekarang, apalagi setelah sekian lama ia fokus dengan usahanya, sampai membuat ibu muda itu melupakan banyakhal termasuk istirahat yang cukup.
"Oh .. ini nyaman sekali!" tukasnya dengan mata yang sudah terpejam.
...••••...
Ting!
Pintu lift dilantai 15 terbuka, lalu keluarlah sosok pemilik perusahaan yang baru saja tiba pada hampir jam 10 siang ini.
"Al, bagaimana rapat nya?" David melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Semuanya lancar, hanya saja ..
Alvaro tidak meneruskan kata-katanya, lalu pandangan itu menoleh kearah pintu ruangan David.
"Kenapa?" David memincingkan mata.
"Ada istri anda di dalam, dia sempat histeris! tapi saya berhasil menenangkannya.
"Ada apa? kenapa dia histeris?" katanya lalu berjalan menuju pintu ruangan nya yang tertutup rapat.
Klek!
"David!" sosok itu langsung berdiri ketika pintu ruangan itu baru saja terbuka.
Pandangan keduanya bertemu.
"Kenapa pagi-pagi kamu kesini?" David masuk.
Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menatap David yang sedang berjalan ke arah meja kerjanya dengan tatapan sendu.
"Kamu terlambat karena menemui Anna?" suara Mika bergetar. "Apa kamu benar-benar tidak bisa melupakan Anna? apa aku tidak berarti apa-apa bagi mu, David!?" Mika mulai banyak bertanya.
"Bahkan sejak 5tahun lalu alasan aku menikahi mu karena kau sakit, ini permintaan terakhir mu bukan?" David berucap.
"Kau jahat!" sergah Mika.
"Ya aku jahat, dan kalian licik! kau menggunakan orang tua mu untuk menyerang ku, meminta banyak hal. Berbicara seolah akulah yang paling jahat karena menikah disaat putrinya tengah mengidap gagal ginjal yang sangat parah!" mata David berkaca-kaca.
"Tidak bisakah kau bersikap dewasa? minum obat mu dengan benar, berhenti mengancam ku, aku lelah Mika. Aku lelah!"
"Kau menghancurkan hidupku David!" Mika berteriak.
"Kau juga menghancurkan hidupku, seharusnya aku bahagia dengan putriku sekarang! tapi aku malah memilih hidup dengan mu, hanya karena aku merasa bersalah dengan apa yang pernah orang tua mu katakan." cecar David yang juga mulai tersulut emosi.
Mikaila diam dengan air mata yang terus bercucuran.
"Minumlah obat mu dengan benar, cepatlah sembuh agar aku bisa melanjutkan hidupku, tentunya kau juga Mika. Tidak selamanya kita harus hidup seperti ini! ini tidak nyaman." ujar David kembali.
"Aku hanya ingin kau kembali, hanya kau David!" Mikaila mendekat, kemudian memeluk suaminya.
"Nyatanya aku tidak bisa, Anna pergi membawa semuanya." ucap David lirih.
"Baiklah, aku akan berusaha sembuh. Dan membiarkan mu hidup dengan semestinya bersama Anna dan putri kalian."
"Maka dari itu, berhentilah bersikap bodoh. Kau tidak meminum obatmu hanya agar aku tetap iba dan terus memilih bersama mu."
Sesungguhnya aku lelah, meminum obat setiap hari, melakukan cuci darah dengan rutin, tapi aku tidak pernah mendapatkan apa yang sudah lama ku kejar.
"Maafkan aku David." Mika mengeratkan pelukannya.
"Aku memaafkan mu, tapi berhentilah bersikap egois! pikirkan semuanya dengan baik, jangan hanya karena ke egoisan mu, kau malah menghancurkan hidupmu sendiri!"
Mika merenggangkan pelukannya, menatap wajah David lekat.
"Bolehkan aku meminta Alvaro untuk mengantar ku pulang? aku ingin tidur." prempuan itu tersenyum.
"Bukan aku?" kata David yang juga sedang menatap wajah pias itu.
"Aku hanya ingin bersama sahabatku, berbicara banyakhal, seperti dulu sebelum aku bersama mu." jelas Mika.
"Baiklah." David mengangguk.
Mika mudur beberapa langkah, meraih tas miliknya yang berada di atas sofa, kemudian berjalan kearah luar.
...••••...
Honda Civic itu melaju dengan kecepatan sedang, sementara dua manusia yang berada didalamnya hanya saling diam, mendengar alunan musik yang terdengar sedikit kencang.
"Al?" Mika mulai membuka pembicaraan.
Namun Alvaro hanya menoleh, kemudian kembali fokus menatap jalanan yang berada didepannya.
"Apa aku sudah meminta maaf soal hubungan kita dulu? aku lupa tapi aku akan mengulangi kata maaf itu." Mika tersenyum getir.
"Hah! sudahlah, yang lalu biarlah berlalu." Alvaro berujar.
Mika menganggukan kepala, wajahnya tampak memerah ketika ia berusaha menahan air mata yang sudah berlinang di setiap sudut mata.
"Aku tahu aku bodoh, aku egois, aku licik dan ..
"Mika stop!" sergah Alvaro. "Berhenti merancau tidak jelas, dan diamlah." tegas Alvaro.
"Tidak Al, jangan biarkan aku tenggelam dalam rasa bersalah." Mika mengusap sudut matanya.
"Hanya karena aku ingin mengangkat derajat kedua orang tuaku, aku malah memilih memacari bos mu."
Alvaro diam.
"Aku tau kau kecewa, kau marah. Tapi kenapa kau tidak memarahi ku, kamu hanya diam dengan senyum dan keceriaan mu yang hilang."
"Sudahlah." sikap Alvaro semakin dingin.
"Maafkan aku?"
"Sembuhlah, maka aku akan memaafkan mu!"
"Ginjalnya sudah rusak taau!" Mika tertawa, namun air matanya juga terus berderaian.
"Setidaknya keadaan mu harus lebih baik dari pada sekarang, lihatlah! kau pucat sekali, bibir mu kering seperti mayat hidup."
Mika menundukan kepala.
"Apa kita masih sahabat?" kemudian Mika menatap Alvaro.
Pria itu menganggukan kepala. "Tentu!" katanya.
"Walau aku sudah menyakiti mu?"
"Kau tahu Mika? titik tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan. Dan aku ikhlas dengan kebahagiaan mu dulu hingga saat ini." kata Alvaro yang seketika membuat keadaan kembali hening.
"Mmmm .. Al? apa aku boleh meminta sesuatu?"
"Tentu, apa itu?"
"Antar aku kerumah Anna!" ucap Mika, hingga Alvaro menginjak rem mobilnya secara tiba-tiba.
"Jangan mulai lagi!" Alvaro menggelengkan kepalanya.
"Kumohon!"
...•••••...
Jangan lupa like nyaaaaa ....