My Ex Husband

My Ex Husband
(Takut)



...••••••...


Langit kuning keemasan sudah mulai menghitam. Cahaya matahari meredup ketika jam sudah menunjukan pukul setengah enam sore.


Bahkan suasan lantai teratas gedung tempat Al bekerja pun sudah sepi, hanya tersisi beberapa pekerja yang masih terlihat duduk di meja masing-masing.


Klek!


Pandangan Al dari layar laptop seketika teralih, dia menoleh kearah pintu ruangan David yang terbuka.


"Kau selesai?" katanya dengan satu tangan yang tampak menarik gagang pintu sampai benda itu kembali terurup rapat.


"Sebentar lagi." sahut Alvaro.


David mengangguk.


"Kalau begitu saya duluan."


Katanya lalu beranjak pergi, dengan jas yang sudah terletak di atas lengannya dengan dasi yang juga sudah terlepas.


Alvaro menyandarkan punggungnya sesaat, dia memejamkan mata lalu memijat pelipisnya pelan.


Pria itu kembali menegakan tubuh, meraih ponsel yang terletak di sampingnya.


Tuutt ...


Pria itu melakukan panggilan suara kepada seseorang.


Beberapa menit dia menunggu, namun panggilan itu masih belum tersambung.


"Kenapa tidak di angkat!" gumam Al, dia menjauhkan layar ponsel, seraya menatapnya lekat.


Mendapati panggilan suaranya tidak di terima, dengan cepat dia mengirimkan sebuah pesan.


—Sayang, sebentar lagi Abang pulang. Kamu mau Abang belikan apa?


Pesan itu terkirim.


Alvaro kembali meletakan ponsel miliknya, lalu dia kembali fokus menatap layar laptop.


...•••••...


Langit sudah terlihat semakin gelap, begitupun dengan suasana kantor yang sudah tampak sangat sepi. Terlihat dari beberapa sudut ruangan gelap, dan hanya menyisakan lampu di meja kerja Al yang masih menyala.


Pria itu menutup laptop, lalu bangkit dan meraih beberapa barang milinya kemudian beranjak pergi.


Dia berjalan perlahan, menyurusi lorong sepi di malam hari ini. Langkah Alvaro berhenti tidak jauh dari sebuah pintu besi yang tertutup, kemudian menekan salah satu tombol, dan pintu itu terbuka setelah beberapa detik Alvaro menunggu.


Alvaro berjalan cepat ke arah luar dimana mobilnya terparkir, pria itu tersenyum, lalu memganggukan kepala saat beberapa security menyapa.


Suara deruman mesin mobil sudah sangat jelas terdengar, tanpa menunggu lebih lama lagi Alvaro memacu mobilnya, meninggalkan area perkantoran untuk segera menemui Sisil, prempuan yang sangat dia cintai.


Sekitar satu jam Alvaro memacu Civic hitamnya dengan kecepatan sedang. Menyusuri jalanan kota yang terlihat sedikit lenggang pada malam hari ini, akhirnya dia sampai, mobil itu berbelok memasuki pekarangan rumah Sisil.


Pandangan mata Al langsung tertuju kepada mobil putih, yang ia ketahui milik istri bosnya dulu.


Beberapa orang berjalan kearah mobil itu, dengan kardus berukuran sedang yang juga mereka masukan kedalam bagasi mobil.


Faiqa terlihat menatap kearah mobil hitam yang baru saja terhenti. Pintu mobil itu terbuka, dan keluarlah seorang pria tampan dengan kemeja putih dan celana bahan hitamnya.


"Inget! itu lakik orang." ucap Anis.


Dia berbisik tepat saat memasukan kardus itu kedalam bagasi mobil milik Anna.


"Apaan sih!" Faiqa langsung membuang muka, lalu kembali berjalan kearah dalam.


"Kamu datang? mau ibu buatkan kopi, Al?" Ningsih datang menghampiri, saat wanita paruh baya itu melihat kedatangan menantunya.


Alvaro tersenyum, dia meraih tangan ibu mertuanya, lalu mencium punggung tangannya.


"Sisil ada? dia tidak membalas pesan ku sejak dari sore bu!" kata Al kepada ibu mertuanya sambil terus berjalan masuk.


"Dia tidur!" Ningsih terkekeh. "Hamil membuatnya menjadi sosok pemalas yah! sejak sampai dia masuk kamar, tidak pernah keluar lagi jika tidak ada sesuatu yang dia inginkan, pas ibu lihat ... eh dia tidur nyenyak." katanya lagi.


Alvaro tampak terus tersenyum samar, tanpa menjawab sepatah katapun sampai akhirnya dia berhenti di sebuah ruang tengah.


"Bapak sedang apa?" sapa Al saat melihat ayah mertuanya duduk di kursi rotan, dengan sesuatu di tanganya.


"Ini, gagang cangkul bapak copot tadi, ya jadinya harus di perbaiki."


Alvaro mengangguk, kemudian dia duduk tepat di samping ayah mertuanya.


"Ibu bikinkan kopi yah!" kata Ningsih.


Namun dengan cepat Al menggelengkan kepala.


"Air putih saja."


"Hanya air putih? serius tidak mau ibu buatkan kopi?" Ningsing kembali menanyakan.


"Yasudah!" ucap Ningsih, dia pun kbali berjalan kearah dapur.


"Kamu sudah makan? ibunya Sisil bikin gulai ayam tadi."


"Nanti saja, tunggu Sisil bangun dulu! takutnya Sisil belum makan." ucap Al kepada ayah mertuanya.


"Kalau sudah lapar, makan saja duluan." Ningsih berucap.


Tampak wanita itu berjalan, membawa sebuah tatakan dengan satu gelas air putih di atasnya.


"Ibu bangunin dulu Sisil kalau begitu!" Ningsih bangkit setelah meletakan air minum untuk Al.


Alvaro meneguk air putih itu sampai tandas, lalu meletakan gelasnya kembali di atas meja.


"Jangan Bu, kasian." sergah Alvaro.


Ningsih yang hampir menekan handle pintu kamar Sisil menoleh, menatap Al dengan seksama.


"Nanti saja, Al juga mu istirahat dulu!" dia bangkit. "Pak, Al mau masuk dulu." pamitnya kepada Irwan, kemudian berjalan kearah pintu kamar Sisil.


"Masuklah." Irwan tersenyum


"Yasudah, ibu kembali kebelakang saja kalau begitu."


Ningsih segera meninggalkan tepat itu, dia beranjak kembali kearah dapur, dimana semua para pekerja Anna masih sibuk mengerjakan pekerjaannya.


Klek!


Alvaro langsung menutup pintu kamar Sisil. Dia menatap prempuan yang sedang berbaring meringkuk begitu saja.


Kaki Alvaro melangkah dengan perlahan, kemudian duduk di tepi ranjang berukuran sedang kamar milik Sisil itu.


"Sayang?" Al mengusap pipi Sisil dengan punggung tanganya.


Tubuh Sisil meggeliat, prempuan itu menoleh, lalu mengerjapkan mata.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia mendekat, lalu memeluk tubuh Al dengan erat.


"Kamu tidur?" kata Al dengan tangan yang terus mengusap pipi Sisil dengan penuh kasih sayang.


"Aku ngantuk terus, nggak tau kenapa! susah di tahan juga!" suara Sisil parau.


"Kamu belum makan?" Alvaro kembali bertanya.


Dia mulai berbaring, dan membawa Sisil kedalam dekapan hangatnya.


"Abang lapar?" Sisil mengurai pelukannya, pandangan Sisil menengadah, dia melihat wajah tampan dengan gurat wajah lelah dan kedua mata yang juga ikut terpejam.


"Kamu ini kebiasaan. Orang ditanya tuh di jawab, bukan nanya balik." dia sedikit bergumam, Alvaro terlihat benar-benar lelah, sampai matanya tidak ia buka meski sedang berbicara.


"Iya, ... kalo Abang mau makan aku ambilin." ujar Sisil kepada suaminya.


"Tidak usah, nanti saja!" katanya seraya mengeratkan pelukan di tubuh Sisil.


Tangan Al terus bergerak-gerak, dan berhenti ketika sudah berada di atas perut istrinya yang masih terlihat rata.


"Bagaimana junior, apa dia nakal. Mual muntah, atau membuat mu pusing?" Al mengusap perut itu perlahan.


"Tidak, dia pintar. Saking pintarnya, dia selalu membuat aku tidur!" Sisil menumpukan satu tangannya di tangan Alvaro.


Seketika kedua mata tajam itu terbuka, sampai pandangan keduanya saling beradu.


"Ish ... ish! pulang kerja aja masih ganteng, apalagi kalau mandi."


Puji Sisil, menyentuh wajah Al kemudian kembali menyurukan wajah di dada bidang Al.


"Jangan terus bergerak seperti itu! nanti aku menginginkan sesuatu. Selain belum makan nasi, abang juga belum makan yang lain selama beberapa hari ini." Al berbisik.


"Abang mau?" Sisil ikut berbisik, namun suara Sisil masih bisa di dengar dengan jelas oleh Al.


"Memangnya bisa?"


Sisil menjawab dengan angguka pelan. Dia malu-malu.


"Ah ... Abang takut lepas kendali, bagaimana jika Abang kembali membuat perut mu sakit!" Alvaro khawatir.


"Maka dari itu turunkan temponya!" Sisil mendongak.


Alvaro menyeringai. Pria itu merangsek lebih mendekat, menyatukan kedua keningnya lalu berkata.


"Apa tidak masalah kita melakukannya disini?"


...•••••...


Like komen dulu! nanti lanjut kalo dapet hadiah banyak ... :)


Semangat othor pudar, kalian nggak pada nongol di komen lagi 🥺