My Ex Husband

My Ex Husband
Bertemu 'Teman' Lama



Sebenarnya, Adam itu tidak menyangkal bahwa dirinya pernah menoreh luka di hati sang mantan istri. Mau menyesali juga untuk apa? Toh sudah terlambat. Waktu tidak bisa diputar kembali, dan sekarang Adam benar-benar kehilangan sosok Haleth. Meskipun kiri mereka bisa saling menyentuh, menatap, bahkan saling mencumbu, Haleth masih tetap menjadi sosok yang sulit Adam gapai.


Lenguhan sayup-sayup terdengar kala Adam remas pinggang ramping yang terkurung dibawah kuasanya itu. Tempo hentakannya melambat, guna nikmati sisa-sisa pelepasan yang beberapa saat lalu datang. Deru nafas Adam dan Haleth bersahutan, saling menerpa beri sensasi menggelitik yang menyengat.


Tiap inci permukaan kulit Haleth di jamah, diberi kecupan yang meninggalkan jejak berwarna kontras di atas kulit seputih porselen. Haleth pun hanya bisa terkekeh geli, seraya usap punggung Adam yang tertinggal bekas goresan kukunya.


"Sudah. Katanya mau ada meeting?"


"Ck, duh! Malas sekali. Lebih baik aku meniduri mu hingga pagi,"


Haleth rotasi bola matanya. Perlahan kedua tangannya mendorong tubuh yang lebih besar darinya itu, menatap Adam dengan kening mengernyit.


"Klien mu sudah menunggu di lounge kan?" tanyanya. Dan Adam hanya anggukkan kepalanya singkat.


"Lalu kau mau membatalkannya begitu saja?"


"Kalau begitu biarkan mereka menunggu beberapa jam lagi,"


"Adam,"


"Aku tidak mau meninggalkanmu, Haleth,"


Adam memeluk Haleth erat-erat. Mendengkur manja di dada wanita tersebut. Leher Haleth pun juga tak lama kemudian menjadi sasaran empuk bibirnya yang tak henti bubuhkan kecupan. Harum wanita di rengkuhannya, sukses buat Adam candu. Jika sudah diberi akses untuk menjajah leher jenjang tersebut, Adam rasanya ingin kembali menerkam Haleth sampai Haleth menjerit kan namanya lantaran kenikmatan.


"Kau bisa datang kemarin kapanpun kau mau. Kasihan itu klien kamu,"


Menghela nafas, Adam lantas angkat wajahnya. Ia tatap Haleth dengan penuh rasa damba, seolah ingin membuktikan bahwa dirinya benar-benar tidak ingin meninggalkan sosok cantik tersebut.


Namun Adam baru ingat, bahwa apa yang Haleth katakan itu mutlak. Tak bisa dibantah, dan kini baru pria itu sadar, ekspresi Haleth sudah berubah.


"Honey,"


"Pergi meeting dulu. Kasihan klien kamu jauh-jauh dari Bangkok hanya untuk menemui mu ke sini."


Daripada harus menghadapi kemarahan sang mantan istri, Adam pun mau tak mau mengangguki. Kembali dekap tubuh polos Haleth untuk kesekian kali, dan berbisik akan pergi sebentar lagi.


Setelah cukup lama, Adam pun bangkit untuk membersihkan diri. Haleth memilih untuk membaringkan tubuhnya lebih lama sembari menunggu Adam selesai.


Jika diperhatikan lebih teliti, kini interaksi antara keduanya tak lagi canggung. Haleth dan Adam mulai berikan afeksi satu sama lain, meski hubungan diantara mereka hanya sebuah hubungan ranjang.


Tersirat jelas dalam tatapan mereka, ada rasa rindu yang perlu diungkapkan. Mereka saling menginginkan, namun terlalu takut untuk kembali memulai sebuah hubungan yang sakral. Maka mereka hanya bisa ungkapkan dengan sentuhan yang nyata. Bercinta, dan saling menggenggam untuk salurkan rasa rindu yang sudah mengendap terlalu lama.


Tiap aktivitas yang Adam lakukan setelah keluar dari kamar mandi menjadi pusat atensi Haleth. Dimulai dari Adam mengenakkan pakaian, bahkan sampai mondar-mandir merapikan diri sebelum pergi. Begitu selesai, Adam bergegas hampiri Haleth kembali. Pria itu darat kan kecupan yang lama pada kening Haleth, kemudian berkata,


"Aku pergi ya? Istirahat yang benar."


...***...


Suasana di lounge hotel yang menjadi tempat meeting Adam dengan klien memang tak ramai. Carl meminta pada manajemen hotel agar membatasi pengunjung lounge untuk malam ini, karena Adam sendiri tak suka jika harus bertemu dengan klien dalam keadaan ramai, sedangkan klien, ingin bertemu dengan Adam di lounge tersebut. Jadi Adam hanya datang saja, asal lounge dalam keadaan tak ramai dengan pengunjung.


Sang pemeran utama di pertemuan tersebut pun tak sepenuhnya mempersiapkan diri. Adam datang hanya dengan pakaian seadanya. Menggunakan kaos Balenciaga berwarna hitam dan celana selutut yang dipadu dengan sandal kulit. Datang pun juga dengan tangan kosong, karena selebihnya Carl yang mempersiapkan. Orang penting. Asal datang, semua aman.


"Kontrak kerjasamanya mana? Saya tandatangani."


"Eh, maaf?" salah satu klien yang baru saja selesai presentasi itu membeo bingung.


Adam mengernyitkan dahi, kemudian mengambil kertas kontrak di meja. "Mau kerjasama kan? Ini, saya tandatangani ya," ucap Adam seraya membubuhkan tandatangan miliknya di kontrak tersebut.


"Mr Legrand, langsung menerimanya?"


"Loh memang kenapa? Kalian mengajak saya kerjasama kan, bukan untuk menipu?"


3 orang klien yang kini tengah dilanda rasa bingung, hanya saling berpandangan satu sama lain untuk sesaat.


"Ini, maaf. Saya tidak bisa lama-lama karena ada janji lain. Jangan tersinggung," Adam hela nafasnya, kemudian amati arlojinya sebentar. "Saya harus kembali menemui mantan istri saya. Dia baru saja memberi saya kesempatan, jadi saya tidak mau menyia-nyiakan untuk mendapatkan lagi wanita yang saya cintai,"


Adam lantas terkekeh, dan mau tak mau pun keempat orang yang tengah bersamanya ikut terkekeh meski terdengar canggung.


"Tenang saja. Kalian sudah terikat kontrak dengan perusahaan saya, jadi tidak perlu khawatir lagi. Untuk yang di sini, sisanya saya serahkan pada asisten saya."


"Baiklah kalau begitu. Ini, sebelumnya kami sangat berterima kasih kepada anda, Mr Legrand."


"Duh, santai saja," Adam ambil jaket yang Carl serahkan padanya, lantas berdiri untuk memakai tekstil tebal tersebut.


Tak lama ketiga kliennya ikut berdiri, berulang kali mengucapkan terima kasih sebelum Adam pergi. Pria itu lantas melangkah keluar dari lounge sendiri, karena menolak Carl yang hendak menemaninya sampai ke basement. Untuk sekarang Adam membiarkan asistennya itu menyelesaikan urusan dengan klien yang masih menunggu di lounge.


Sampai di basement Adam bergegas kendarai mobilnya, dan tinggalkan hotel. Mobil mewah itu ikut mengisi penuhnya jalan raya, melaju dengan kecepatan stabil diantara kendaraan beroda empat lainnya.


Selama diperjalanan, atensi Adam tak selalu fokus ke depan. Sesekali ia pandangi coffee shop atau toko-toko di pinggir jalan yang buka. Itu karena dia ingat Haleth yang sendirian di rumah, karena Emery memutuskan untuk menginap di rumahnya. Adam ingin membeli makanan untuk Haleth, agar wanita itu tak repot-repot berjalan kesana-kemari setelah Adam habiskan waktu berjam-jam bersama Haleth di ranjang.


Namun ketika Adam belum memutuskan untuk membeli makanan apa untuk Haleth, netra nya tanpa sengaja melihat seseorang yang tampak tak asing baginya. Tengah duduk sambil bercengkrama dengan entah tak tau siapa. Tiba-tiba saja Adam hentikan mobilnya di depan sebuah coffee shop yang cukup ramai itu.


Setelahnya Adam menurunkan kaca mobilnya, tarik atensi pengunjung coffee shop tersebut termasuk orang yang Adam perhatikan sedari tadi.


"Hey, Iris?"


"Adam?"