
...••••...
Aku Kyara Anna, gadis malang yang sangat beruntung di pertemukan dengan seorang pria bernama Daniel dan istrinya Rosa.
Manusia berhati mulia dan tidak pernah memandang kasta seseorang. Entah apa yang membuat mereka menunjuku sebagai menantu di rumahnya, yang jelas aku bersyukur pernah berada diposisi saat ini.
Semakin hari hubungan ku bersama pria bernama David Julian semakin membaik, sikap dinginnya terus berkurang, tentu saja! dia memang berusaha membuka diri dan menerima ku sebagai istrinya.
Saat satu bulan usia pernikahan kita, dia pulang dengan coklat dan bunga mawar. Memberikannya kepadaku dengan ucapan cinta yang tak hentinya dia katakan.
Aku tidak menyangka bahwa sikapnya akan semanis itu.
Setiap jam makan siang aku selalu pergi kekantor, mengantarkan makan siang untuk mas David suamiku.
Awalnya semua terus berjalan seperti semestinya, akupun tidak pernah merasakan hal yang aneh. Tapi saat hampir 2 bulan pernikahan kami, aku merasa ada yang tidak beres dengan gelagatnya, bukan sikapnya terhadapku, tapi gerak-geriknya yang selalu mencurigakan.
Dia selalu tidak ada di ruangannya saat jam makan siang, bahkan beberapa kali aku ketiduran karena menunggunya yang beralasan ada beberapa pekerjaan diluar kantor, namun anehnya dia tidak pernah membawa Alvaro bersamanya.
Sampai disuatu malam, suamiku benar-benar pergi setelah mendapat panggilan telfon entah itu dari siapa. Aku tidak bisa melihat wajahnya, namun aku merasa dia sangak khawatir.
"Maafkan aku sayang!"
Dia mengatakannya setelah mencium keningku, ya waktu itu aku berpura-pura tidur, tidak maksudku aku belum benar-benar tertidur.
Dadaku terasa sesak dan tidak nyaman, entah apa namun hatiku berbicara untuk segera mengikutinya.
Suasana rumah sudah sangat sepi, aku berjalan mengendap ketika melihat mas Davis berlari kearah luar dengan jaket denim yang ia kenakan.
Setelah mobil miliknya keluar dari pekarangan rumah, dengan cepat aku menyusul.
"Pak jangan di tutup dulu!" kataku kepada security rumah.
"Mau kemana neng? udah malem!"
"Aku minjem motor pak Yasir boleh?"
"Tapi Eneng mau kemana?"
"Cepet pak!" aku sedikit memaksa.
Pria itu mengangguk, lalu merogoh saku celana dan memberikan kunci motor matic itu kepada ku.
Tampa berpikir lebih panjang aku keluar, melajukan motor itu dengan kecepatan tinggi.
Ini kegilaan pertama yang kulakukan, bahkam aku mengendarai motor dengan hanya piama berlengan pendek.
Aku terus berpacu, berusaha mengejar mobil hitam yang melesat sangat kencang. Pikiranku kacau, mulai menerka-nerka hal buruk yang suamiku lakukan.
Dan aku sangat terkejut ketika mobil itu berbelok masuk kedalam kawasan rumah sakit yang terlihat sangat besar.
"Siapa yang sakit?"
Setelah mobirnya terparkir, mas David keluar dan tampak berlari tergesa-gesa. Raut wajahnya muram, entah apa yang memenuhi pikirannya, sampai ia tidak menyadari keberadaan ku yang duduk di atas motor tidak jauh dari pintu masuk.
Sama halnya dengan mas David, aku meninggalkan motor milik pak Yasir begitu saja, mengikuti suamiku yang sudah berjalan terlebih dulu.
"Maaf, mbak! ada yang bisa kami bantu?" seorang petugas keamanan menghalangi langkahku.
"Saya harus melihat keluarga saya, tadi suami saya sudah masuk lebih dulu." kataku.
Pria itu menoleh, melihat mas David yang sedang berjalan menyusuri lorong.
"Ini bukan jam besuk mbak, maaf."
"Kita ganti jaga pak, nanti sodara saya yang sedang jaga mau pulang." aku berbohong.
Sesaat pria itu diam.
"Pak, nanti saya ketinggalan suami saya!"
"Baiklah, silahkan. Jangan lebih dari dua orang yang menunggu ya mbak!" serunya dengan raut wajah yang tampak serius.
Aku mengangguk, lalu segera mengejar mas David yang sudah berjalan jauh di depan.
Pikiran ku semakin kacau, jantung terus berpacu lebih cepat ketika aku berjalan seperti seorang penyusup, mengikuti suamiku sendiri yang sedang berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sudah tampak sepi.
"Ck! kaya lagi mergokin suami selingkuh nggak sih?" batin ku berbicara.
Klek!
Mas Davis mesuk kedalam salah satu ruang rawat inap.
Dengan langkah sedikit berlari aku mendekat, lalu menahan pintu itu agar tidak tertutup sepenuhnya.
"Bagaimana? operasi nya lancar?" suamiku berbicara entah dengan siapa, aku hanya menajamkan pendengar tanpa melihat keadaan didalam sana.
"Lancar, dari tadi Mika menanyakan keberadaan nak David. Dia bawel sekali!" sahut seseorang.
Mika! jadi yang sakit Mika? dan mas David sangat mencemaskan dia!?
"Kamu lama Dav, katanya pulang kerja mampir! tapi sampai jam sembilan malam aku menunggu kamu tidak kunjung menemui ku."
Dada ku terasa semakin sesak.
"Aku harus menunggu Anna tidur, kau tau sendiri keadaan ku!"
"Operasi ku sudah selesai, jika nanti aku pulih bolehkah kita honeymoon?"
"Jangan gila!"
"Hemm .. tentu tidak, kamu kan ada beberapa proyek di luar kota, bilang saja kamu sedang memantau pembangunan disana, dan bawa aku bersama mu."
Operasi? pulih? honeymoon? apa ini!?
Sungguh, dada ku semakin bergemuruh. Entah apa yang kupikirkan saat itu sampai berani mendorong pintu ruangan dengan sangat kencang.
Hingga membuat beberapa orang yang berada disana tersentak, termasuk suamiku.
"Jadi kalian sudah menikah!?"
"Ann, kamu!?" wajah mas David memerah.
"Katakan ... apa mas sudah menikah?" suara ku menggema.
Aku tidak peduli, mungkin sebentar lagi security datang dan akan mengusir ku.
"Sayang, kita harus bicara!" pria itu berjalan menghampiri ku.
"Tidak, ini sudah sangat jelas." sekuat tenaga aku menahan tangis, meski air mata sudah berlinang.
"Maaf, tapi hanya sampai dia sembuh." David menatap ku penuh permohonan.
"Memangnya dia kenapa?" aku menunjuk ke prempuan yang sedang berbaring di atas tempat tidur.
"Ceritanya panjang, tapi ...
"Stop, apapun alasannya! perbuatan mu tidak dibenarkan mas.
Dia diam.
"Lanjutkan apa rencana kalian, tidak usah sembunyi-sembunyi lagi!" aku tersenyum, namun air mata ini menetes begitu saja.
Air mata sialan, kenapa kau jatuh! lihat .. dia menatap ku penuh iba.
"Anna tidak begitu!" dia menahan lenganku, saat aku sudah siap untuk pergi.
"Selamat atas pernikahan mu dengan mbak Mika, kekasih mu yang sudah lama di nanti."
"Anna?" prempuan itu memanggilku.
"Jangan panggil aku Mika, panggil saja Dira. Karena itu panggilan sayang David kepadaku." katanya yang membuat hatiku semakin terasa ngilu.
"Mika stop!" mas David berteriak.
"Lepas!" aku lari sekencang mungkin, saat cengkraman tangan mas David terlepas.
"Anna!"
Dia mengejar ku, tapi aku tidak peduli. Aku hanya terus berlari ke arah luar, melewati beberapa orang yang tampak bingung.
"Anna jangan seperti itu!" mas David kembali berteriak.
"Annaa!"
Aku tidak peduli, aku memacu motor yang sedang ku kendalikan dengan sangat kencang. Entahlah, ku harap ada mobil yang akan segera menghantam ku saat ini.
Sungguh rasa nya aku ingin mati, aku tidak sanggup dengan rasa perih yang ku rasakan saat ini.
Ambil saja semua yang ku sayangi, dan sekarang kau boleh mengambil ku wahai dzat yang maha agung!
Batin ku berbicara, dan berharap Tuhan akan membawa ku pulang malam ini juga.
Suara klakson mobil terus terdengar, aku yakin itu mas David yang berusaha menghentikan aku. Namun sekali lagi aku tegaskan, aku tidak peduli, aku hanya memacu motor itu dengan kecepat tinggi.
...••••...
Pernah nggak sih kalian nangis sambil bawa motor : ) rasa nya sedep-sedep gurih loh : (
Jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya besok. Klik favorite juga agar tidak tertinggal di setiap eps yang update setiap harinya.
~Zeyeng kalian pokok nya~
...Instagram: @_anggika15....