
Hangatnya sinar matahari yang semula masih terasa kini tergantikan oleh dinginnya salju. Bersamaan dengan itu, mobil Adam berhenti di halaman rumah Haleth.
Setelah memutuskan untuk meninggalkan taman, mereka tak langsung pulang, melainkan mampir terlebih dahulu ke sebuah pusat perbelanjaan dan restoran. Itu semua karena keinginan Tasha, dan yang pasti Adam setujui tanpa berpikir dua kali.
"Beli banyak barang seperti ini untuk apa?" omel Haleth kala pandang penjaga rumahnya tengah turunkan barang-barang yang Tasha dan Adam beli.
Haleth gelengkan kepala, tak habis pikir dengan kedua orang dengan sifat yang tak jauh berbeda tersebut.
"Tentu saja untuk Tasha, Emery, dan kau."
"Itu, terlalu berlebihan Adam,"
"Ck! Duh, ini bukan apa-apa. Aku bahkan bisa beli saham pusat perbelanjaan itu untukku."
"Sinting,"
Adam terkekeh begitu Haleth langkahkan kakinya pergi. Wanita itu masuk ke dalam rumah, tinggalkan dirinya dengan beberapa penjaga yang masih sibuk dengan belanjaan.
"Bawa saja nanti ke dalam. Saya susul Haleth dulu," ucap Adam sebelum akhirnya angkat kaki dari halaman.
"Hei, Adam? Kamu mampir?" celetuk Emery saat Adam sampai di ruang tamu. Wanita itu sedang meminum teh, seraya membaca majalah yang kini tergeletak di sofa.
Adam seketika hentikan langkah, berjalan hampiri Emery dan peluk wanita itu untuk beberapa detik. "Hi! Ini hari yang menyenangkan. Jadi aku mampir dulu sebelum pulang." katanya.
"Ah, tentu saja kan? Kapan lagi kalian akur seperti ini?" Emery tepuk bahu Adam seraya terkekeh.
"Hahaha, iya benar. Ngomong-ngomong, Haleth,"
"Ada di kamar. Masuk saja,"
"Okay. Kalau begitu, aku akan menemui Haleth dulu,"
Emery untuk kedua kali tepuk bahu Adam sebelum Adam meninggalkan ruang tamu. Pria itu langkahkan kaki menuju kamar Haleth, dan ketuk pintu itu sebelum akhirnya pintu dibuka oleh sang pemilik kamar.
"Mau apa lagi?" wanita itu kernyitan dahi.
"Boleh masuk sebentar?" tanya Adam.
Untuk beberapa saat netra keduanya saling berpandangan penuh arti. Segaris senyum seduktif juga tercetak di bibir Adam. Rotasi bola mata, Haleth pun lantas menyingkir dari pintu.
"Get in,"
......***......
Dilahirkan di keluarga dengan finansial berlebihan memang menjadi hal yang paling di impi-impikan oleh hampir semua orang. Tak perlu repot-repot pikirkan mau makan apa hari ini, mau kemana naik apa, atau dengan siapa. Duh, untuk apa? Semuanya sudah tersedia.
Namun kejayaan finansial kerap membuat salah satu pihak atau bahkan keduanya buta. Untuk apa bersanding jika sudah mempunyai apapun yang dibutuhkan? Seolah-olah uang adalah segalanya, tanpa mereka berfikir ada kloning mereka yang membutuhkan kehangatan sebuah hubungan rumah tangga.
Sebut saja namanya Tasha. Putri tunggal Adam Legrand dengan Haleth Vasthi yang statusnya adalah bercerai dari beberapa tahun lalu. Dulu, gadis kecil itu merasa hampa. Meski ia punya segalanya, dan juga kasih sayang seorang Ayah dan Ibu. Tapi Tasha tidak pernah puas dengan semua itu.
Melihat bagaimana kedekatan kedua orang tuanya yang perlahan mulai terjalin kembali, tentu saja buat Tasha merasa bungah. Pagi tadi adalah hal yang? paling membahagiakan dalam hidupnya. Bisa bercengkrama dengan sang Ayah dan sang Ibu dengan tawa lepas yang sudah lama tidak Tasha tunjukkan pada keduanya, adalah hal paling melegakan dalam seumur hidupnya. Apalagi saat ketahui sang Ayah dengan sang Ibu saling mempertemukan bibir tadi. Itu, bukan rasa bahagia lagi yang Tasha rasakan. Tasha sudah seperti menemukan secercah harapan, bahwa keduanya bisa bersatu kembali cepat atau lambat.
Emery tersenyum lebar, belai surai Tasha yang memanjang dengan mata berkaca-kaca.
"Syukurlah Tasha. Syukurlah. Semoga, Momy mau mempertimbangkan untuk kembali pada Daddy mu ya!"
Benar-benar tidak pernah disangka, semuanya berjalan begitu baik. Kini usaha itu perlahan buahkan hasil. Setelah dengar cerita dari Tasha, jujur mau dikatakan apapun Emery mulai lega. Tak perlu lagi mendesak-desak putri semata wayangnya itu.
Kini Emery tak perlu khawatir lagi jika ia ingin lepas tangan. Biarkan semuanya mengalir, tanpa campur tangannya maupun Jessica.
...***...
Sebenarnya perceraian itu bukan hal yang bisa membatasi seseorang untuk berhubungan dengan orang lain. Bukanlah hal yang perlu dijadikan sebuah trauma hingga seolah-olah tak lagi butuh kepuasan batin yang pasti perlahan-lahan akan menggunung.
Katakan itu di depan Haleth beberapa tahun yang lalu, wanita itu pasti tidak akan segan menampar.
Namun untuk kali ini, sepertinya persepsi itu benar adanya. Karena mau dikatakan sampai satu juta kali pun, Haleth akan mengangguki pernyataan yang tidak akan pernah bisa disangkal itu.
Buktinya kini tubuhnya lemah, pasrah, terkukung oleh gagahnya sosok Adam diatasnya. Tak ada penolakan, rontaan, dan juga umpatan yang keluar dari bibir Haleth. Karena satu-satunya hal yang kini terdengar dari Haleth, adalah lenguhan erotis akibat perlakuan Adam terhadapnya.
Sosok Adam adalah hal yang tidak pantas untuk ditolak. Pria itu sempurna. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, pria itu tidak ada cela sama sekali. Sudah tidak mengherankan lagi, mengapa Haleth sudi membuka kaki untuk sosok tersebut.
"J-just wait a second,"
Haleth hela nafasnya dengan panjang, coba dorong dada Adam yang kian menghimpitnya.
"Why? You want me, isn't?"
Haleth mengangguk, jawab pertanyaan seduktif Adam.
"I want you. But, not here. I beg you,"
Adam angkat sebelah alisnya, tatap mata sayu Haleth sebelum satukan kembali dua belah bibir mereka untuk beberapa detik.
"Ada Tasha dan Mama di rumah. Aku tidak ingin mereka tau."
"Ingin di rumahku? Atau ke hotel saja?"
"I, I don't know,"
Haleth sudah tak mampu buka matanya. Pening akibat hasrat yang menggebu buatnya tak lepas cekal lengan berotot Adam yang mengurungnya. Bahkan Haleth sungguh sudah tidak peduli kala tangan pria tersebut sudah menggerayangi tubuhnya. Berikan sensasi menggelitik yang untuk kesekian kali buat Haleth melenguh tanpa sadar.
"Shh, I miss you Haleth."
Tak menjawab bukan berarti Haleth tak rasakan hal yang sama. Jauh dalam lubuk hatinya, suaranya menggema. Haleth merindukan Adam. Rindukan sentuhan pria itu, cumbuan nya, semuanya. Persetan dengan kata munafik. Persetan dengan menjilat ludah sendiri. Haleth menginginkan sosok Adam sekarang.
"Okay," Haleth tarik nafasnya, hirup oksigen yang entah mengapa terasa begitu tipis di ruangan tersebut. "Let's go to the hotel, then."