
...•••••...
...~Saya nikah dan kawinkan, putri kandung saya Erika Tatyana Binti Yuda Adiguna. Dengan engkau ananda Edgar Hardana Akbar bin Haikal Akbar, dengan mas kawin seperangkat alat solat, dan mas kawin berupa cincin berlian di bayar tunai~...
Edgar menatap wajah Yuda lekat, lalu menghentakan jabatan tangan antara keduanya.
...Saya terima nikah dan kawinnya putri kandung Ayah. Erika Tatyana binti Yuda Adiguna, dengan mas kawin tersebut di bayar tunai....
Dengan lantang dan penuh percaya diri Edgar mengucapkan janji suci di hadapan Yuda dan para saksi lainnya.
"Bagaimana saksi?" penghulu itu melihat kearah kiri dan kanan.
Sah!
Seketika Edgar memejamkan mata, lalu menghembuskan nafasnya pelan, dengan perasaan bahagia yang tidak bisa di gambarkan.
Selesai mengucapkan janji suci, akhirnya Edgar melihat Rika berjalan keluar dari arah kamar, bersama Kaka prempuan dan ibunda dari prempuan itu.
Pria itu tersenyum, lagi-lagi menghela nafas untuk menetralkan hatinya yang terus bergemuruh karena bahagia.
Rika duduk tepat di samping Edgar, dia tampak kembali menundukan kepala, saat merasa malu dan gugup.
"Boleh di pasangkan dulu cincinnya!" ucap penghulu.
"Oh .. iya!" Edgar mengangguk, dia meraih kotak cincin beludru berwarna biru tua, lalu mengeluarkan sebuah cincin dengan permata yang terlihat sangat indah.
Pria itu mebenarkan posisinya, merangsek lebih mendekat lalu mengulurkan tangan.
Pandangan keduanya beradu, Edgar menatap Rika lalu tersenyum, berbeda dengan Rika yang lagi-lagi menunduk dan senyum malu-malu.
Perlahan Edgar memasangkan cincin itu, hingga kini melingkar di jari manis Rika dengan sangat sempurna, begitupun sebaliknya, dengan perasaan campur aduk Rika memasangkan cincin di jari manis Edgar.
"Di cium tangan suaminya." Yuda tersenyum, namun matanya tampak berkaca-kaca.
Rika menoleh, menatap Yuda sesaat kemudian meraih tangan Edgar dan mencium punggung tangan pria yang saat ini sudah menjadi suaminya.
Cup!
Tanpa aba-aba Edgar mencium kening Rika.
Deg!
Rika terkesiap, hingga nafasnya terhenti sesaat.
Astaga jantung ku, ini baru cium kening! apakabar dengan cium yang lain, apa aku akan pingsan!?
Batin Rika berbicara.
Otak syalan, berhentilah berfikiran kotor! batinnya lagi.
Acara berjalan dengan sangat lancar, memasangkan cincin di jemari satu sama lain, menanda tangani buku nikah, kemudian berpose di depan fotografer dengan beberapa gaya.
"Silahkan, dinikmati hidangannya! ini saya sendiri yang masak Jeng." ucap Risma kepada Atika.
"Hebat sekali, bisa masak hidangan sebanyak ini!" Atika menatap kagum.
"Hanya sedikit, karena memang awalnya ini hanya acara pertemuan keluarga bukan? tidak menyangka akan langsung menikah," jelas Risma.
"Wah, ... ini kesukaan saya. Ikan Tri pake kacang tanah." Atika berseru!
"Kalau begitu silahkan," kata Risma kepada Atika.
Dengan semangat Atika meraih piring, dan mulai menata setiap hidangan yang tersedia.
...••••••...
**Di Villa yang saat ini Anna tempati.
Anna tampak menuruni setiap anak tangga dengan sangat hati-hati. Hidungnya terlihat sangat merah, dengan wajah yang juga sedikit pucat.
"Pada kemana mas? kenapa sepi?" Anna menghampiri suaminya yang saat ini duduk di sofa ruang tengah, dengan laptop menyala diatas pangkuannya.
David menoleh, ia melepaskan kacamatanya, lalu tersenyum dan menggeser laptop miliknya.
"Sudah bangun? bagaimana keadaan mu sayang?" David merentangkan tangan, yang langsung di sambut Anna.
Prempuan itu mengangguk, lalu memeluk bahu suaminya, dengan posisi Anna duduk di atas paha pria itu.
"Kenapa?" David mengukir wajah istrinya, lalu menyingkirkan rambut Anna, dan mengaitkannya di daun telinga.
"Balqis kemana mas!?" suara Anna pelan.
"Dia sedang pergi ke area bermain lagi, bersama ketiga ajudannya." David berujar, kemudian terkekeh.
"Aku juga mau jalan-jalan, aku bosan mas!" Anna merengek manja.
"Tidak! istirahat saja, kau alergi dingin. Makanya demam." tegas David.
Anna mengangkat kepalanya, lalu menatap David.
"Ini ulah kamu tau! kita bermain di kamar mandi terlalu lama," cicit Anna.
David meng-gigit bibirnya, menahan tawa saat pria itu merasa lucu sekaligus gemas.
"Itu permintaan kamu sayang!" sergah David.
"Tapi kamu terlalu lama, bahkan sampai beberapa ronde!" rengeknya kembali.
"Tapi aku suka!" sambung Anna lagi, lalu memeluk bahu David saat pipinya terasa memanas.
"Dasar nakal!" David tertawa, hingga kepalanya mendonga dengan kedua mata yang juga ikut terpejam.
Duk!
Anna memukul dada suaminya sangat kencang, sampai ia memekik kesakita lalu terbatuk-batuk.
"Sayang, sakit!"
"Senangnya," ledek Ana.
Lalu berhenti saat Anna mendorong bahu David.
"Jangan lagi, nanti ada yang bangun dan aku sedang tidak bisa menidurkannya." Anna menatap mata David lekat.
Lagi-lagi Anna membuat David tergelak.
"Selain seksi kau juga menggemaskan, oh istriku Kyara Anna!" cicit David, kemudian kembali menghujani wajah Anna dengan kecupan basah.
"Ihh ... nanti di lihat orang mas!"
"Siapa?"
"Ketiga ajudan Balqis, mungkin!" Anna terkekeh.
"Jadi, mau pindah ke atas?"
Pria itu memeluk pinggang Anna erat, lalu bangkit dan segera berjalan menaiki tangga, dengan langkah penuh hati-hati.
"Mas jangan, sungguh aku sedang pusing." cicit Anna penuh permohonan.
David bungkam, pria itu hanya terus berjalan masuk kedalam kamar yang mereka tempati.
Brug!
David melempar tubuh itu, sampai Anna terlihat melayang sebelum benar-benar terjatuh di atas tempat tidur.
"Apaa?" David merangkak di atas tubuh istrinya.
"Apanya yang apa!?" Anna menjengit.
"Tatapan kamu kenapa? mau protes karena aku lempar, heumm?"
"Ti-tidak .. tidak! kau boleh melempar ku kapan saja, seperti dulu!"
Deg!
Tiba-tiba saja Anna diam, saat ingatan pilu kembali melintas dipikirannya.
Pikiran David pun sama, memorinya kembali dimana mereka baru saja saling mengungkapkan rasa cinta, melakukan banyak hal, tapi itu hancur bigitu saja. Saat Anna mengetahui pernikahan sirinya bersama Mika.
"Awas!" Anna mendorong David, lalu bangkit.
"Sayang!" David mencengkram pergelangan tangan istrinya.
Langkah prempuan itu terhenti.
"Aku tau pikiran mu, ... maafkan jika luka itu tidak bisa sembuh. Tapi sungguh sayang, aku ingin menebusnya sekarang." David berbicara pelan, namun masih terdengar lembut.
"Kau tau, ...." ucapannya terhenti.
Anna memeluk tubuh David, lalu menangis.
"Apa selama ini aku salah mas? aku menganggap perbuatan mu hina, menikah secara sembunyi-sembunyi karena ingin membuat Mika sembuh. Tapi bagaimana dengan Tuhan? dia pasti menganggap mu berhati mulia, karena menolong seseorang dari penyakitnya!"
David menggelengkan kepala.
"Niat ku memang benar, hanya saja aku salah memilih jalan. Berpikir pendek, tidak memikirkan perasaan mu terlebih dulu, jadi maafkan aku sayang," David semakin mengeratkan pelukannya.
"Setelah kau pergi, hati ku hancur, hidupku juga berantakan. Sempat aku ingin mengakhiri hidupku, hingga ibu berbicara kalau putriku sudah lahir dan berusia 8bulan, saat itu juga keinginan ku untuk hidup ada kembali."
"Syukurlah kau terus berhubungan baik dengan ibuku, hingga dia iba dan mulai berbicara tentang kalian, setelah sekian lama dia juga menyembunyikan mu dari ku!" sambung David.
Anna mendorong tubuh suaminya, lalu menatap pria yang juga sudah berkaca-kaca.
"Menangislah jika ingin, aku bersikap seolah akulah yang paling menderita. Ternyata tidak .. kita sama-sama terluka dan menderita buka!?" Anna meraup kedua pipi suaminya, menatap mata pria itu lekat.
David tersenyum.
"Aku berusaha membenci mu, mengingat betapa jahatnya apa yang kamu lakukan terhadap ku, tapi hati aku menolak mas, dia berbicara bahwa kau juga pernah meraih tangan ku saat aku terluka ketika ibu meninggal," Anna terus menangis.
Satu tetes air mata membasahi pipi David, namun bibirnya terus tersenyum saat menatap Anna.
"Lima tahun aku berusaha melupakan mu, tapi tidak bisa!" Anna merintih.
Dengan cepat David kembali mendekap tubuh Anna, memeluk prempuan itu erat seraya menghujani kepala istrinya dengan kecupan penuh cinta.
"Tuhan memang tau caranya, agar membuat kita kembali, lihat kuasanya? dia menitipkan Balqis di rahimu, agar apa? agar hubungan kita tetap terjalin."
Suara tangisan Anna semakin menggema.
"Maama ... Paapa?" Balqis berdiri di ambang pintu.
David dan Anna pun menoleh.
"Kenapa menangis?"gadis kecil itu berlari, dengan wajah yang sudah terlihat memerah.
Anna berjongkok, merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Balqis.
"Don't cry Mam, please!" tangan kecil itu mengusap pipi Anna.
"Papa saya kalian!" David meraup tubuh keduanya.
"Paah? Mama kenapa?" gadis itu bingung.
David tidak menjawab, pria itu justru mencium pipi kedua prempuan itu secara bergantian.
"Tetaplah begini, sampai aku tua nanti. Aku butuh kalian!" ucap David lirih.
...••••••...
Jangan lupa! like, komen, hadiah, dan votenya yang masih punya.
Klik favorite yah, biar notifikasinya bunyi saat othor update eps terbaru.
~Terimakasih untuk setiap dukungan yang kalian berikan, i love you**~