
Derap kaki beralas pantofel menggema disebuah lorong yang gelap dan lembab. Di ujung lorong tersebut, sebuah cahaya lampu bersinar. Adam tetap dalam langkah stabilnya diiringi oleh suara pelatuk pistol yang ditarik. Langkah panjang Adam semakin mendekat ke arah sorotan lampu yang tak begitu terang itu. Dan tanpa aba-aba,
DOR!
Satu tembakan meluncur tepat mengenai betis seorang pria yang duduk terikat di kursi. Jerit kesakitan pria itu lantas memenuhi ruang bawah tanah yang kedap suara, membuat Carl yang berdiri di hadapan pria itu melayangkan tendangan di kaki yang tertembak.
"SHUT UP!"
Adam menepuk dada Carl, memerintah asistennya untuk menyingkir kemudian berdiri di depan pria yang masih tampak menahan sakit tersebut.
"Jackson Vernon. Kau asisten Lowell kan?" introgasi Adam seraya kembali menyiapkan pistolnya untuk melayangkan bidikan yang kedua.
"Mr Adam,"
"Legrand! Kau pikir kau sedang berbicara dengan siapa?!" Carl menyela dengan suara keras.
"Mr Legrand. S-saya, tidak ada hubungannya dengan orang yang anda maksud itu!"
DOR!
Suara tembakan kembali terdengar memenuhi gendang telinga disusul jerit pria bernama Jackson tesebut.
"Aku tidak mau menghabiskan peluruku dengan cuma-cuma, Jack. Jawab yang benar lalu kau bisa lepas dari siksaan ini." Adam menarik pelatuk untuk yang ketiga kali setelah menembak tepat di bahu tawanannya.
Tak peduli darah yang kini memercik mengotori kemejanya, Adam tak akan mundur sebelum mendapatkan informasi yang ia. butuhkan. Jackson menatap Adam dengan takut-takut, meminta belas kasihan pada pria itu.
"Jangan kau pikir Mr Legrand akan memberimu ampun sebelum kau membuka mulut tentang bos mu itu."
"Jangan menyakiti dirimu sendiri Jackson. Kau menjawab dengan benar, semuanya selesai. Aku tidak akan melanjutkan siksaan ini dan pergi meninggalkanmu. Jadi, bekerja sama lah dengan baik,"
Nafas Jackson terdengar tak beraturan. Keringat dingin juga mulai membanjiri pelipisnya. Di situasi yang sudah membuat Jackson sekarat pun, pria itu masih enggan membuka mulut.
"Atau, kau mau orang suruhanku bertindak mencelakai keluarga,"
"S-saya akan memberikan informasi itu!" Jackson meninggikan suaranya, menahan Adam yang sudah kembali menodongkan pistol. "S-saya, akan memberitahu semuanya pada Mr Legrand. Tapi saya mohon, jangan libatkan keluarga saya!"
"Okay then," Adam lantas berikan pistolnya pada Carl. Dengan tangan berseidekap, Adam pandangi Jackson yang raut wajahnya penuh dengan rasa takut. "Jawab semua pertanyaanku, Vernon."
"B-baik Mr Legrand. Saya, akan menjawab semua pertanyaan anda."
"Kau, asisten Lowell?"
Menunduk sebentar, Jackson kemudian kembali mengangkt kepala dan beradu pandang dengan Adam yang penuh intimidasi. "Benar Mr Legrand. Saya adalah asisten Mr Lowell, kaki tangan Mr Lowell yang kedua." terang Jackson.
"Yang kedua? Memang ada berapa asisten si brengsek itu?"
"Empat Mr Legrad. S-saya, saya hanya ditugaskan memantau tawanan yang ada di Honduras."
Adam menaikkan sebelah alisnya. Adam tahu pria bernam Jackson itu belum menuntaskan penjelasannya. Adam menuntut informasi yang lengkap.
"Lanjutkan penjelasannya." tukas Carl seraya berjalan ke belakang Jakson dan menodongkan pistol tepat di kepalanya.
Makin tak beraturan hembusan nafas Jackson. Mau tidak mau, Jackson harus membongkar semua rahasia bos nya yang selama ini Jackson simpan dengan baik. Hanya orang bodoh yang mau berurusan dengan Adam Legrand. Apalagi Jakson dulu pernah bersumpah, serumit apapun masalah yang Jackson lakoni di dunia gelap itu, keluarganya tidak boleh sampai terlibat. Maka dari itu Jackson memilih berkhianat daripada keluarganya yang menjadi korban.
"Dimana, asisten lainnya, Vernon?"
"Nomor 3 dan nomor 4, mereka ditugaskan di Mexico. Lalu asisten nomor 1, dia, dibawa oleh Mr Lowell,"
"Lalu kemana Lowell Pergi?"
Kedua tangan Jackson yang saling bertaut di belakang kursi bergetar. Carl menyadari itu semua, dan secara sengaja semakin menekan pistol yang sudah bertengger ujungnya di kepala Jackson. Deru nafas Jackson makin tak beraturan, dan terdengar pria itu menahan tangisnya.
“You won’t tell me where is he?” Adam merendahkan tubuhnya untuk menatap sorot mata Jackson yang begitu kalut.
“Berlin.”
Adam kembali menegakkan tubuhnya, lalu beradu pandang sejenak dengan Carl.
“Mr Lowell, beliau pergi ke Berlin, Mr Legrand.”
“Ah, I see,” Jackson tak berkutik saat Adam menepuk bahunya. Dirinya masih diselimuti rasa takut, dan itu semua belum menghilang meskipun informasi yang Adam butuhkan sudah terucap.
Jackson juga tak lagi merasakan ujung pistol yang semula menekan kepalanya. Sejujurnya ia ingin bernafas lega, tetapi masih terkurung dengan dua orang berbahaya di tempat seperti itu, bernafas lega bukanlah hal yang bisa Jackson lakukan untuk sekarang. Maka dari itu Jackson hanya terdiam, menunggu saat Adam dan Carl menjauh untuk berbicara empat mata, dan menegang kembali saat dua orang itu kembali mendekat.
“Kalau begitu, senang berkerja sama denganmu,”
DOR!
“Jackson Vernon.”
...***...
“Hei, Ma. Maaf melewatkan makan malam bersama kalian. Aku baru saja keluar dari rumah sakit, jadi tunggu aku di rumah okay!”
Haleth kembali menyimpan ponselnya setelah mengirim pesan suara pada Emery. Kini ia langkahkan kakinya lebih cepat mencari mobil yang ia bawa hari ini, karena entah mengapa seperti ada seseorang yang mengikutinya. Hanya perasaan atau bukan, Haleth sebisa mungkin bersikap tenang. Namun bersikap tenang juga tidak bisa menahan bagaimana berdebarnya Haleth saat ini. Mengingat dirinya hanya sendiri di lift saat menuju basement, terlebih suasana basement yang sangat sepi, tak heran jika Haleth panik saat ia merasa diikuti oleh orang lain.
Begitu melihat mobil milik Adam yang terparkir tak jauh darinya, Haleth bergegas membuka kunci, dan mempercepat larinya. Disaat itu juga Haleth mendengar ada langkah lain yang berderap cepat. Sudah dipastikan orang itu mengikuti Haleth yang tengah berlari. Saat berhasil membuka pintu, Haleth benar-benar dibuat terpenjat karena sebuah tangan yang menepuk bahunya. Haleth refleks menoleh, lalu bernafas lega begitu tahu siapa orang yang sedari tadi membuntutinya.
“Astaga, Niel. Jad kau yang mengikutiku?”
Niel mengusap tengkuknya dan tersenyum canggung. “Maaf. Tadi kamu terlihat panik sekali. Ternyata panik karena aku ikuti ya?”
“Ya Tuhan. Aku pikir aku diikuti orang jahat, tahu?!”
Niel terkekeh disusul Haleth yang kembali menutup pintu. Kini detak jantungnya mulai stabil. Ia juga bernafas lega begitu tahu yang mengikutinya bukan semacam penguntit atau bahkan rampok.
“Ada apa? Jam kerja mu hari ini sudah selesai?” Tanya Haleth.
“Yeah, sudah. Dari 1 jam yang lalu sebenarnya.” Jawab Niel kemudian perhatikan sekeliling. “Kamu, baru selesai sekali ya? Tumben sekali sampai melewati jadwal?” Sambung laki-laki itu bertanya.
“Ada pasien yang agak terlambat tadi. Jadi aku menunggu sampai dia datang. Kalau kau? Ada urusan apa sampai pulang terlambat?”
“Menunggumu sebenarnya,” Niel kembali mengusap tengkuknya, merasa gugup untuk mengatakan alasan mengapa ia sampai menunggu Haleth pulang meskipun jadwalnya hari ini sudah selesai.
“Hm, kenapa ya?”
“Aku dengar kamu, melewatkan makan malam bersama keluargamu. Kamu, belum makan malam kan? Mau makan malam bersamaku?”
Alasan klasik yang selalu Haleth dengar. Laki-laki di hadapannya ini, belum mau menyerah juga. Padahal Niel sendiri tahu kedekatan Haleth dengan Adam sekarang.
“Bagaimana?” Haleth terdiam sebentar.
Adam sedang tidak ada di California sekarang. Pria itu bilang akan pulang jika pekerjaannya di Honduras selesai. Tidak ada salahnya juga menyetujui tawaran Niel. Toh Adam juga tidak pernah melarang Haleth pergi dengan siapapun sekarang. Karena Adam sudah mendeklarasikan bahwa Haleth adalah miliknya. Lagipula, Haleth cukup lapar juga.
“Kau yang traktir, okay?” Haleth menyahut disusul senyum Niel yang mengembang.
“Okay! Jadi, mau makan apa?”
“Hm, wagyu?”
“Let’s go then!”
Zona pertemanan tak semenyakitkan itu kan?