
...•••••...
Malam semakin larut, suasana di sana terasa bertambah dingin. Apalagi saat angin malam terus berhembus, hingga membuat Anna melapisi gaun tidurnya dengan jaket denim milik David.
Prempuan itu duduk di sebuah kursi, memperhatikan para pekerja dan putrinya yang sedang asik memanggang sosis, jagung, dan berbagai seafood juga marshmellow.
"Maama? mau sosis atau udang?" Balqis berteriak.
"Mau sosisnya deh satu, tolong pakein saus mayonya yah!" kata Anna.
"Siap Mama cantik!" gadis kecil itu langsung membawa satu sosis panggang, kemudian berjalan mendekat kearah Ratmi.
"Mbak, aku minta piring buat Mama," ucap Balqis kepada Ratmi.
Dengan cepat Ratmi memberikan apa yang gadis kecil itu minta.
"Saus mayonya mana Bu Ning?" celotehnya lagi.
"Itu, ada di mangkuk warna hijau!" katanya sambil terus membolah-balik cumi, udang bersama teman-temannya.
"Oh," Balqis menganggukan kepala.
"Satu sendok cukup Mam?"
"Iya cukup," sahut Anna.
Raut wajahnya terlihat berbinar, rambut panjang Balqis di kucir dua, dengan sweter berbulu tebal yang ia kenakan.
Dia berjalan pelan dengan penuh hati-hati menghampiri Anna, kemudian memberika piring berisi satu sosis bakar yang Anna minta tadi.
"Semoga Mama suka!" dia tersenyum manis.
Anna tersenyum, prempuan itu mengangguk kemudian mencium pipi putrinya gemas.
"Paapa mana Mam?" pandangan Balqis meneliti sekitar.
"Ada di atas, lagi kerja." jelas Anna.
"Kalo gitu selamat makan, Aqis mau bakar-bakar lagi sama Bu Ning!" Balqis berseru, kemudian kembali mendekati tiga pekerja Anna yang sedang berdiri di dekat sebuah alat pembakaran.
"Hati-hati! jangan terlalu dekat, nanti kena percikan apinya!" Anna memperingati.
"Tidak akan ... Aqis sudah besar."
Mendengar jawaban putrinya Anna hanya menghela nafas.
"Dasar anak sok besar!" Anna mengendikan kedua bahunya, dan segera meniup sosis yang masih terasa sangat panas, lalu menikmatinya.
Sementara itu di sebuah lantai dua bangunan tersebut, David baru saja menyelesaikan pekerjaan yang Alvaro kirimkan, dia mematikan laptop lalu menutupnya seraya meletakan benda itu di atas meja samping sofa.
Dengan segera dia beranjak dari kamar, berjalan cepat menuruni tangga, dan segera keluar dimana anak dan istrinya berada.
Klek!
David keluar, dengan Hoodie hitam, dan celana joger berwarna abu-abu. David berjalan setengah berlari menghampiri Anna yang duduk sambil menikmati sosis bakar yang diberikan Balqis kepadanya.
"Disini dingin sekali!" ucap David, dia membungkuk lalu meraih pergelangan Anna dan menyantap sosis bakar itu.
Anna mendongak, menatap pria yang sedang mengunyah makanannya dengan kedua tangan yang sudah terlihat di lipat di dada.
"Sudah selelaai?" Anna bertanya.
David mengangguk, kemudian duduk di samping Anna.
"Aqis ... hati-hati!" David berteriak saat melihat gadis kecil itu terus berada di depan pembakaran.
Mendengar suara sang ayah, seketika fokusnya terbuyar, dia menatap David, tersenyum kemudian berlari.
"Papah!" Balqis berteriak, lalu memeluk David.
Anna menjengit.
"Dari tadi kamu tidak seperti itu kepada Mama? kenapa sama Papa Aqis seperti tidak bertemu lama?" protes Anna.
Keduanya hanya tertawa, saat melihat Anna sedikit cemburu.
"Bu .. ini sudah selesai semua. Mau makan disini apa di dalam?" Ratmi bertanya.
"Didalam saja, disini dinginnya sampe ke ginjal." jelas Anna, prempuan itu bangkit dan berjalan masuk kedalam terlebih dulu.
"Iya kan Pah? Mama itu suka ngambekan!" gadis kecil itu terkikik geli.
"Apa kamu suka isengin Mama?" Davis berbisik.
"Baru sekarang, karena ada Papa yang pasti belain aku. Kalo dulu nggak berani, nanti aku di suruh bobo sendiri di kamar." jelasnya.
David mencubit hidung mancung Balqis, ia menariknya gemas sampai gadis itu memekik kesakitan.
"Papa sakit!" hidungnya memerah.
"Kenapa jadi tengil hemm?" ujar David.
"Kan aku lihat Papa."
David mengerutkan dahinya. "Mana ada Papa ajarin kamu isengin Mama."
"Ah masa sih!" seru Balqis. "Ah .. Papa udah tua, jadi pelupa." celetuknya sampai membuat tiga wanita yang masih berada disana tersenyum.
Astaga, kenapa dia seperti netizen sekarang! umpat David.
"Yasudah, ayok masuk kita makan malam didalam." David meraih Balqis, lalu memangku nya.
"Ayok ... ayok! aku udah laper banget, apalagi lihat cumi bakarnya. Uihh .. menggoda mata dan penciuman." kata Sisil, gadis itu berjalan masuk dengan piring besar berisi berbagai seafood bakar.
Sementara Bu Ningsih dan Ratmi berjalan menyusul di belakang Sisil.
...••••...
Selesai menyantap bebagai seafood bakar, Bu Ningsih tampak merapikan meja makan, dan mengelapnya dengan kanebo basah.
"Bu Ning, teteh dimana?" Balqis bertanya, ia berjalan mengahampiri wanita paruh baya itu yang saat ini berada di dapur.
"Memangnya di ruang tengah tidak ada?"
"Di ruang tengah cuma ada Mama sama Papa lagi ngobrol."
"Oh .. mungkin di kamar, coba di lihat gih!" titah Bu Ningsih kepada putri dari bosnya.
Balqis mengangguk, kemudian dia kembali berjalan kearah ruangan tengah, meninggalkan Bu Ningsih begitu saja.
Anna yang melihat Balqis terus mondar mandirpun menjengit, lalu bertanya.
"Nyari apa? cemilan kah?" tanya Anna.
"Bukan!" dia menggelengkan kepala. "Nyari teteh sama mbak."
Jelas Balqis sambil terus berjalan kearah pintu kamar yang tertutup.
Klek!
Balqis mendorong pintu kamar itu perlahan.
"Eh .. ada apa Dek?" Sisil yang tengah asik menonton pun bangkit.
"Ini kamar teteh?" dia bertanya, dengan mata yang terus menatap sekitar.
Ruangan yang luas, dengan beberapa tempat tidur yang berada di dalamnya.
"Iya." Sisil menjawab.
"Sama mbak Ami?" Balqis kembali bertanya.
"Hu'um," Ratmi mengangguk.
"Sama Bu Ning juga?"
"Iya adek bawel .. kenapa?" Sisil menjawab.
Seketika matanya berbinar, Balqis yang awalnya berdiri di ambang pintu pun berjalan masuk.
"Ish .. mau nginep sini ah!" Balqis berujar.
"Bilang Mama, boleh nggak!" tukas Ratmi.
Tanpa berpikir panjang Balqis mengangguk, kemudian kembali ke arah luar.
"Maamaa ... Aqis mau bobo sama teteh, mbak, sama Bu Ning!" dia berlari.
"Hey ... Mama bilang apa tadi? jangan lari-lari!" suara Anna memekik.
"Iya .. iya Mama bawel. Tapi boleh yah aku nginep di kamar teteh? kasurnya banyak, aku mau main Barbie-barbiean!"
"Memangnya bawa?"
Balqis menggelengkan kepala.
"Yang jadi Barbienya mba Ami! aku mau dandanin pake lipstik, terus rambutnya aku kucir .. terus banyak deh!"
"Yasudah, jangan nakal!"
"Nggak, Aqis janji!" dia mengangguk, lalu mengangkat dua jemarinya membentuk huruf V.
Setelah mendapat izin dari ibunya, Balqis kembali berlari kearah kamar yang di tempati Sisil.
David dan Anna saling menatap.
"Ratmi korban selanjutnya!" Anna berbisik, namun bibirnya tersenyum lebar.
David yang kurang paham hanya menjengit, menatap Anna penuh tanya.
"Maksudnya apa itu!?" David langsung menoleh kearah pintu kamar yang sudah tertutup.
Namun Anna tergelak.
"Ish ada apa?"
"Lihat besoklah." kata Anna lalu bangkit.
"Hey mau kemana? aku masih nonton bola, baru babak satu!"
"Mau cuci muka!" sahut Anna sambil terus berjalan menaiki tangga.
Klek!
Anna menutup pintu kamarnya, lalu berjalan kedalam kamar, sambil melepaskan jaket denim yang masih melekat di tubuhnya.
Anna mulai membasuh wajahnya, lalu menuangkan sabun dan meng-aplikasikannya keseluruh wajah.
Setelah selesai, Anna berjalan kembali kedalam kamar, lalu naik keatas tempat dan menenggelamkan diri dibawah selimut tebal.
Tidak lama setelah itu Anna tertidur.
...•••••...
Jam sudah menunjukan pukul 23:45.
David yang baru menyadari malam semakin larut pun langsung mematikan televisi, dia berjalan ke arah kamar yang di tempati Sisil kemudian mengetuknya.
Tok .. tok ..
Tidak ada sahutan, lalu David menekan handle pintu kamar itu.
Klek!
Suasana sudah sepi, dengan lampu ruangan yang juga sudah dimatikan, di ganti dengan lampu tidur.
"Mereka sudah tidur!" David bergumama, kemudian menutup pintu kamar itu kembali.
Trek!
David mematikan seluruh lampu ruangan, dan beranjak kelantai atas, Dimana istrinya berada.
Suasana yang sama pun terlihat, saat David memasuki ruangan itu. Sepi tanpa penerangan apapun sama sekali, hanya cahaya lampu dari luar yang terlihat menembus tirai putih tipis.
David berjalan ke dalam kamar mandi, membasuh muka dan juga menggosok gigi sebelum ia menyusul Anna yang sudah terlelap dalam gulungan selimut.
"Aku keasikan nonton yah!?" pria itu terkekeh, lalu ikut masuk kedalam selimut yang Anna pakai.
David terus bergerak, menyesuaikan posisinya lalu meraih tubuh Anna agar lebih mendekat.
Cup!
David mencium bahu Anna.
Anna menggeliat, saat merasakan hembusan nafas David di bahunya.
"Sayang?" David berbisik.
Anna kembali menggeliat tanpa memberi jawaban.
"Sayang? maaf aku terlalu asik menonton bola." David berujar.
David meneliti bahu Anna yang terbuka, hanya sebuah tali kecil yang mengait disana, hingga membuat Anna terlihat sangat menggoda.
David terus menyusuri bahu Anna, beranjak naik ke leher, tanpa memperludikan keadaan Anna yang sudah tertidur cukup pulas.
"Mas?" suara Anna terdengar parau.
"Heumm .. iya sayang?"
"Aku ngantuk!" Anna berbalik arah, lalu mendorong bahu David.
Namun David tidak menghiraukan rengekan Anna, dia kembali mendekat, dan segera meraut bibir Anna.
Anna berusaha terus menjauhkan David dari dirinya, namun rasa kantuk membuat tenaganya tidak bisa digunakan, seluruh tubuhnya terasa begitu lemas.
"Mas!" Anna membuka mata.
David tersenyum, seraya membalas tatapan sendu Anna.
"Tidur saja! biar aku yang bekerja." David menyeringai.
"Nggak mau .. aku ngantuk, kamunya kelamaan!" Anna kembali merengek, namun rengekan itu tidak membuat David iba, justru membuatnya semakin merasa gemas kepada Anna.
Tangan David mulai menelusup kedalam gaun Anna, mengusap paha mulus istrinya dengan sangat lembut.
David kembali tersenyum saat Anna menatapnya.
"Balqis sudah tidur?"
Dengan cepat David mengangguk, lalu membungkuk untuk meraih bibir Anna kembali.
Suara decapan mulai terdengar, saat Anna mulai membalas ciuman yang David berikan.
"Nggh!" suara Anna tertahan.
Sekatika David menjeda cumbuannya, lalu menempelkan kening mereka.
"Kau nakal .. sudah aku katakan pakai dal*man!" suara David terdengar sangat pelan.
"Tadi aku memakainya, tapi aku buka pas mau tidur." cicit Anna pelan.
"Mau berpacu dengan waktu .. atau ...
Anna lengsung menarik tengkuk suaminya, menempelkan bibir dan kembali saling mencumbu.
"Kamu berisik, kamu bawel, kamu terlalu banyak bicara!" sergah Anna dengan nafas memburu.
Cup! David mencium singak bibir Anna, dia bangkit lalu menarik Hoodie yang masih dikenakannya.
Anna membisu, saat kembali melihat tubuh kekar milik suaminya. Dada bidang, dengan perut kotak-kote bak seperti roti sobek.
Anna mengulurkan tangannya, lalu menyentuh perut David.
Pria itu menyeriangan, dia kembali membungkukkan badan untuk kembali melanjutkan cumbuan keduanya.
Mata Anna mulai terpejam saat menikmati setiap sentuhan tangan David yang menggerayangi setiap lekuk tubu itu.
Anna mend*sah.
Sementara David terus menyingkap gaun Anna sampai kain itu terlepas seutuhnya dari tubuh Anna, dan membuatnya polos tanpa sehelai benang pun.
Melihat Anna sudah pasrah, David segera melepaskan kain terakhir yang masih ia kenakan, hingga keduanya kini sama-sama polos.
Anna sedikit bangkit, menata beberapa bantal di belakang untuk menyangga tubuhnya.
"Are you ready ... my cutiepie?" David berbisik lagi, dia mendekat lalu meraih paha Anna dan sedikit menekuknya.
"Emmmh .. tunggu! apa ruangan ini kedap suara?" Anna menatap perut David.
"Ya ... jadi mereka tidak akan mendengar teriakan mu malam ini!"
David menekan pangkal paha Anna, lalu mengarahkan senjata tempur miliknya.
Suara lengguhan Anna terdengar jelas saat David mendorong pinggulnya perlahan.
Dor .. dor .. dor ...
"Maama?" suara Balqis bersahutan dengan gedoran di pintu.
"Mas .. Balqis bangun!" Anna berbisik.
"Baurkan saja!" David langsung berpacu, Hinggan hentakannya tidak beraturan.
Anna berteriak.
"Maama?"
Tok .. tok ...
"David stop!" Anna berusaha menghentikan suaminya.
Namun pria itu seolah tuli, dia terus berpacu di atas tubuh Anna, sampai prempuan itu menjerit beberapa kali.
"Mah?"
"Mamanya cape, kasian kita bobo aja yuk!" suara Sisil terdengar.
"Yaudah deh!" Balqis menjawab, kemudian mereka terdengar pergi.
Sesaat David menghentikan kegiatannya, ia menyeringai.
"Aku tidak akan berhenti, meski Balqis menangis di depan sana, sungguh tubuhmu membuat ku Gila Anna!" pria itu menggeram, dan segera menenggelamkan miliknya kembali.
"Ngghh ... Mass! pelan-pelan!" Anna merintih.
"Teruslah berteriak, ini yang aku ingin dengar."
Suara desah*n Anna terus menggema, bersahutan dengan suara benturan tumbuh yang terdengar sangat erotis.
David berhenti, dia memutar tubuh Anna jadi membelakanginya.
"David stop!" Anna merintih, saat David menerjangnya dari arah belakang.
Anna kelimpungan, dia sudah tidak sanggup saat David tidak terkendali.
"Oh sayang aku selesai!" David menggeram, dengan hentakan semakin tidak teratur.
"Daaviid ....
Anna menjerit, begitupun dengan David yang menggeram setelah keduanya sampai dipuncak kepuasan.
Nafas keduanya terdengar memburu, bahkan Anna langsung ambruk dengan nafas tersenggal-senggal.
David mengusap punggun Anna.
"Terimakasih sayang!" kata David.
"Kamu gila mas, Balqis pasti nangis tadi."
"Dia harus mulai terbiasa sayang, apalagi nanti saat adiknya hadir."
Pria itu melepaskan tautan tubuhnya, mendekati Anna lalu mencium kening istrinya penuh cinta.
Ahh Balqis buyarin hayalan othor ..💃💨
...•••••...
Jangan lupa like, komen dan hadiah dulu dong!
Onti online, kalo ada typo di teken langsung aja paragraf nya, biar othor langsung benerin yah.
Selamat bobo~
Bonusnya foto Mama Anna nih.