
...•••••...
Setelah ijab kabul dadakan, serta makan siang bersama setelahnya. Kini Anna duduk di kursi teras belakang rumah, bersama Daniel yang juga ada disana.
Mereka terus berbincang, membicarakan banyak hal, termasuk bisnis Anna yang baru saja berjalan beberapa tahun, namun sudah mendapatkan respon yang sangat baik.
"David ke kantor?" Daniel bertanya.
Anna menjawab dengan anggukan kepala.
"Iya, Alvaro datang menjemput. Katanya ada beberapa berkas yang harus Mas David tanda tangani." jelas Anna kepada ayah mertuanya itu.
"Balqis bercerita, kalau dia akan liburan bersama Mama dan Papanya! apa itu benar? kalian merencanakan ini untuk kebahagiaan Balqis cucuku?"
"Tidak, liburan kali ini untuk para karyawan sebenarnya. Karena Balqis libur .. ya sekalian aja kita liburan, tapi kami sama sekali tidak merencanakan ini, hanya saja Balqis terus meminta Papanya untuk ikut!"
Sesaat keadaan hening, keduanya terdiam seraya menikmati hembusan angin sore yang terasa sangat sejuk.
"Maama?" suara Balqis terdengar memanggil dari arah rumah.
Seketika Anna menoleh, kemudian tersenyum saat melihat putrinya yang terlihat baru saja terbangun dari tidur siangnya.
"Sini!" Anna mengulurkan tangan.
"Pulang!" pinta gadis kecil itu.
"Kenapa buru-buru sekali? main saja dulu sama Kakek dan Nenek," Daniel berucap.
Bibir Balqis mengerucut, lalu menggelengkan kepala dengan raut wajah yang masih terlihat sedikit kurang bersahabat karena baru bangun tidur.
"Aku belum berkemas, besok aku mau ke puncak ... lihat kebun Teh!" suaranya serak.
"Tapi Papa belum pulang? apa tidak mau menunggu?" Daniel kembali bertanya.
"Aku maunya sekarang!" Balqis merengek.
"Baiklah, jangan seperti ini!" Anna bangkit.
"Kalau begitu Anna pamit pulang dulu yah. Balqis rewel, terus Anna lupa di mobil ada daging, takutnya malah bau karena nggak langsung di masukin ke dalam freezer."
Daniel tersenyum.
"Hati-hati, jangan ngebut bawa mobilnya," Daniel berujar.
"Mana berani Anna ngebut .. ayah ini suka bercanda!" prempuan itu tertawa pelan.
Hatinya merasa lega, entah kenapa. Yang pasti, melihat Anna kembali tertawa adalah hal yang paling membahagiakan bagi Daniel bersama Rosa tentunya.
"Pamit dulu sama Kakek!" kata Anna kepada putrinya.
"Aqis pulang ya .. Kakek?" gadis itu mendekat, lalu memeluk tubuh Daniel. "Papay!" sambungnya kembali seraya melambaikan tangan.
Daniel tersenyum, lalu membalas lambaian tangan Balqis.
"Mungkin maksud Aqis baybay?" Daniel melirik Anna.
Prempuan itu mengangguk.
"Dulu seperti itu ... tapi karena aku sering niruin dia, keterusannya sampe sekarang."
"Oh ... baiklah!" Daniel terkekeh.
Anna menuntun tangan Balqis, berjalan masuk kedalam rumah, mencari sosok yang suka heboh dan paling antusias, siapalagi kalau bukan Bu Rosa.
"Lho, Balqis sudah bangun?" Rosa keluar dari pintu dapur, kemudian berjalan menghampiri keduanya.
Balqis tidak menjawa, dia justru memeluk pinggang Anna dengan raut wajah muram.
"Balqis sakit?" Rosa membungkuk, menatap wajah cucunya.
Balqis diam, dia cemberut.
"Ann .. dia kenapa?" Rosa menatap Anna.
"Biasa baru bangun tidur, kadang-kadang memang seperti ini!" jelas Anna kepada ibu mertuanya.
"Oh .. !" Rosa mengangguk-angguka kepala dengan bibir yang membentuk huruf O.
"Maama ... ish ayok pulang!" Balqis merengek.
"Oke .. oke!" Anna menunduk, lalu mengusap kepala Balqis.
Kini Anna beralih memandang Rosa.
"Kami pamit Bu, Balqis sudah rewel."
"Balqis tidak mau nungguin Papa pulang dari kantor dulu? sebentar lagi pasti pulang?"
Lagi-lagi putri kecil Anna itu tidak menjawab.
"Moodnya sedang tidak baik Bu, jadi biarkan saja!" Anna terkekeh. "Kami pulang duluan Bu, ada beberapa belanjaan daging juga yang harus Anna segera masukan kedalam freezer."
"Baiklah, hati-hati. Biar ibu yang panggilkan Sisil dibelakang ... kalian duluan saja, tunggu di mobil!"
Anna tersenyum seraya menganggukan kepala.
"Terimakasih Nenek." kata Anna kemudian mereka beranjak dari sana.
...•••••...
Setelah mengantar Balqis masuk, membiarkannya duduk di sofa depan tv. Kini Anna sedang sibuk membawa kantong belanjaannya di bantu Sisil.
"Sisanya tolong ya Sil, biar saya beresin disini. Biar lebih cepat!" kata Anna.
"Iya Bu, tapi ibu istirahat saja. Biar saya juga yang bersin ini!" kata Sisil.
"Tidak apa-apa, cuma sedikit."
Anna membuka lemari pendingin yang berada di dapurnya, menata beberapa ikan, ayam, daging dan bahan makanan lainnya dengan sangat rapih.
"Astaga!" Anna menepuk jidatnya kencang.
"Sisil?" Anna menoleh kepada gadis yang sedang duduk menata sabun di lemari penyimpanan bagian bawah.
Gadis itu menoleh.
"Saya lupa beli body care itu, gimana kalau kamu saja yang beli? ke Guardians ... disana banyak macamnya, kamu bisa pilih!" kata Anna.
"Boleh emang?" Sisil bertanya.
"Boleh, besok kita udah berangkat. Kalo mau beli dulu, pergi saja. Nanti malem kamu harus bantu saya berkemas!" jelas Anna.
Dengan semangat Sisil menata setiap sabunnya dengan cepat, kemudian bangkit setelah semuanya selesai.
"Kalau begitu saya pamit dulu!"
"Pake uang kamu dulu yah? nanti notanya kasih kesaya biar diganti!" Anna berseru.
Brak!
Balqis berlari, mendorong pintu dapurnya sangat kencang.
"Ya ampun! kenapa harus seperti itu?" Anna berteriak karena terkejut.
"Mau ikut teteh!" katanya.
"Mana bisa, tunggu saja. Bukannya tadi lagi mainin iPad?"
"Ih .. aku mau ikut! boleh ya Mam?" Balqis melompat-lompat.
"Janganlah, nanti teh Sisilnya repot!"
"Yasudah ayok kalo mau iku .. tapi teteh pake taksi online lho!" kata Sisil.
"Main time zone sebentar yah?" Balqis menatap wajah pengasuhnya.
"Di izinin nggak? kalo nggak mana berani teteh bawa Aqis." cicit Sisil.
"Kamu repot nggak?" Anna menatap Sisil lekat.
"Nggak Bu, mana ada repot," katanya.
"Yasudah, jangan pulang terlalu sore!"
Balqis bersorak.
"Mama nggak jadi masak pastanya yah!?"
Balqis mengangguk, kemudian mengangkat kedua jempol tangannya.
"Aku berangkat ya Mam, Papay!" ucapnya kemudian meraih tangan Sisil dan menariknya dengan segera.
Dasar!
Anna kembali fokus, membuka setiap kantung belanjaan, memisahkan setiap barang, kemudian menatanya ditempat masing-masing dengan sangat telaten.
Dan sampailah di bagian terakhir. Anna membuka lamari bagian atas, mulai mengeluarkan makanan ringan yang Balqis beli, lalu menatanya disana dengan kaki yang sedikit berjinjit.
"Susahnya!" Anna bergumam.
Seketika mata Anna menoleh kearah sudut dapur.
"Pake bangku yang suka Balqis pake .. kuat kali yah!" katanya sambil berjalan membawa benda tersebut.
"Nah .. ini lebih gampang!" Anna terkekeh. "Lagian, bikin lemari penyimpanan tinggi amat dah!" Anna terus bermonolog.
Anna terdengar bersenandung, mencairkan suasana yang sedikit tegang karena rumahnya terasa sangat sepi.
(Anna penakut) kata para readers : )
Anna menahan nafasnya sesaat, membutlatkan mata kemudian berteriak sekencang-kencangnya saat ada dua tangan yang tiba-tiba melingkar di atas perutnya cukup erat.
"Berisik! kenapa kamu senang sekali berteriak?" suara David memekik saat telinganya terasa berdenging.
Plak!
Anna memukul lengan yang masih betah memeluknya.
"Kebiasaan! lama-lama aku jantungan tau."cicit Anna kesal.
Sementara David hanya tersenyum, dia meletakan kepalanya di ceruk leher Anna.
Cup!
Satu kecupan David loloskan di tengkuk istrinya.
"Kenapa tidak menunggu ku? kenapa pulang lebih dulu dan tidak memberi kabar sama sekali?" David berbisik.
"Balqis rewel, dia ngajak pulang," kata Anna.
"Sekarang kemana dia? tv menyala, tapi tidak ada orangnya .. apa dia .. naik tangga sendiri lagi?" David menjengit, dia melepaskan dekapannya lalu mulai beranjak.
"Balqis lagi main time zone, Sisil mengajaknya pergi." Anna berteriak.
Sementara David yang hampir menaiki tangga pun menghentikan langkahnya.
Dia kembali kedapur.
"Jadi tidak ada orang?"
"Ada .. aku masih manusia mas!" sergah Anna seraya menutup lemari penyimpanan itu lalu turun dari atas bangku kecil milik Balqis.
David menyeringai, dia berjalan menghampiri Anna.
"Stoop! ini masih sore." Anna menahan dada pria yang kini sudah kembali menjadi suaminya itu.
"Memangnya kenapa? aku hanya ingin mencium istriku!" sergah David yang terus berusaha mendekat.
"Ih, nggak ah. Nanti ada setan lewat!" Anna menghindari, dia berlari ke arah ruang tengah.
Dia mau main kucing-kucingan rupanya!
David beranjak dari dapur, menuju ruang tengah. Namun ia tidak menemukan Anna, sampai pandangannya tertuju pada pintu ruang kerja yang tiba-tiba tertutup rapat.
David terkekeh pelan, sambil terus berjalan kearah sana.
"Kamu ini kenapa? aku tidak akan berbuat apa-apa tapi kamu malah ketakutan seperti itu!?" David berdiri di depan pintu ruang kerja Anna.
Tok .. tok ..
"Anna buka!" titah David.
"Anna buka sayang!" ucapnya kembali.
Sementara prempuan itu sedang duduk di pojok ruangan. Wajahnya tampak merah padam, saat rasa gugup, takut, malu.
Semuanya berpadu menjadi satu.
Suara ketukan di selingi panggilan dari David terus terdengar.
"Anna, apa seperti ini kamu menyambut suami mu pulang? setidaknya beri aku air putih kalau kamu tidak mau membuatkan ku kopi!" suara David kembali terdengar.
Sesaat Anna diam.
"Hah! akunya kepedean inimah!" cicit Anna.
Prempuan itu segera berjalan kearah pintu, untuk membuka kunci.
Klek!
Namun dorongan kuat dari luar terasa, David masuk kemudian menutup pintu itu kembali.
"Ka-katanya mau kopi? kenapa mas malah masuk?" Anna gelagapan, kakinnya bahkan mundur beberapa langkah.
Duk!
Kaki Anna membentur sofa, sampai tubuhnya terjerembab kebelakang kemudian ia berbaring di atas sofa.
Nafas Anna memburu, dadanya kembang-kempis saat debaran itu terasa semakin meningkat.
David tersenyum, lalu merangsek keatas tubuh Anna dan mengungkung prempuan itu diantara kedua tangannya.
Cup!
David mencium singkat bibir Anna.
"Kamu takut?" David berkata dengan suara rendah.
Mata keduanya saling menatap satu sama lain.
"Aku ... belum siap sekarang!" Anna menjawab.
Pria itu tersenyum, mengusap pipi Anna dengan punggung tangannya. Mata Anna terpejam, jemari tangannya meremat kaos yang saat ini David kenakan.
Dengan segera David meraup bibir ranum Anna, menyesap perlahan kedua belahan kenyal yang sangat menggiurkan sejak tadi siang.
Awalnya Anna hanya diam dengan mata yang terus terpejam, namun setelah beberapa menit akhirnya ia membuka mulutnya, dengan permainan David yang mulai Anna balas.
Tangan Anna sudah melingkar erat di bahu David, dengan bibir yang terus saling berbalas ciuman yang mulai memanas. Sampai suara decapan itu terdengar sangat jelas di dalam ruang kerja Anna.
"Aku merindukan mu Anna!" ucap David saat menjeda kegiatannya.
Perlahan mata Anna terbuka, menatap David sendu, saat kabut gairah mulai menguasainya.
Cup! Cup! Cup!
David mencium bibir Anna beberapa kali, lalu ia bangkit.
"Ayok, kamu harus menyiapkan semua keperluan Balqis untuk besok." David meraih tangan Anna, lalu menariknya dari sana.
Anna mengerjapkan mata, saat kesadarannya belum terkumpul penuh, namun David menarik dirinya tanpa aba-aba.
"Astaga mas ... aku masih pusing!" cicit Anna, yang langsung di balas kekehan kencang pria yang terus menari tangannya kearah sofa ruang tengah.
...•••••...
Cye .. Cye .. pada nungguin yah 💃💨
Pending dululah, kasian ini masih siang ngahahaha.
Jangan lupa like, komen, hadiahnya juga yah!
Klik favorite untuk notifikasi setiap update-an eps terbarunya.
~Cuyung kalian~
Instagram:@_anggika15.