My Ex Husband

My Ex Husband
Seblak lv 30 (2)



...••••••...


"Yah! kok lu matiin si Ann, padahal gua butuh tutorial."


(Anjay, kata para readers)


Rika memandang layar ponselnya sendu.


"Sayang lagi apa kamu di luar!?"


Suara Edgar yang tiba-tiba terdengar membuat Rika sangat terkejut, sampai ponselnya terjatuh ke lantai cukup kencang.


"Yah .. hape aku jatoh!" prempuan itu berjongkok, lalu memungut ponselnya dengan raut wajah muram.


Edgar datang menghampiri, lalu berjongkok.


"Kamu kenapa sih? aneh banget hari ini!?" Edgar menatap Rika penuh tanya.


Prempuan itu bangkit, tanpa menjawab pertanyaan Edgar, lalu duduk di atas kursi yang tersedia di Balkon.


"Erika! aku nanya kamu yah!" Edgar sedikit meninggikan suaranya.


Rika tertegun, dia terkejut dengan suara Edgar, karena baru kali ini pria itu bersikap sedikit lebih keras.


"Kalo mau pulang, ayok. Aku antar tapi jangan salahin aku kalo aku jajan di luar yah!?" Edgar mengancam.


"Terus kenapa? kata Ayank keluar cari angin sambil jajan cimol kentang. Kok malah belok ke sini!" Rika berujar.


"Ya kalo nggak gitu kamu nggak bakalan mau, sementara kalo di rumah kamu bakal berisik banget, belum apa-apa udah jerit-jerit." ucap Edgar ketus.


Pria itu tampak frustasi, dengan sikap istrinya saat ini.


...~Flashback~...


"Sayang, jalan-jalan sore sambil jajan cimol kentang yuk! enak lho suasananya, adem." Edgar datang menghampiri Rika yang sedang duduk di sofa ruang tv.


Rika hanya menoleh, lalu kembali pada sinetron yang sedang tayang, sambil menikmati risoles buatannya sendiri.


"Sayang hayu!" Edgar duduk di samping Rika.


"Ini, risoles mau nggak? aku yang bikin tadi malem .. isinya Mozarella kesukaan ayank!" Rika meraih satu risoles, lalu memberikannya kepada Edgar.


Bukannya mengambil makanan itu dengan tanganya, Edgar justru langsung mengigitnya.


"Ayank pengang!" cicit Rika.


"Sayang hayu, jalan-jalan."


"Iya sebentar lagi, ini lagi seru tau!" jelas Rika.


"Keburu hilang sunset nya bebih!" Edgar menghempusakn nafasnya kasar.


"Ish .. yaudah hayu! bawel amat." Rika mendelik. "Bentar, telfon Bunda dulu."


"Ngapain di telfon, kita berdua a....


"Mau ngasih tau kita otw sayang, kamu mah aneh!" Rika kesal.


"Oh iya deh." Edgar mengangguk-anggukankepala sambil tersenyum.


...~Flashback off~...


Edgar berjalan masuk dengan raut wajah masam, pria itu benar-benar kesal, namun entah apa penyebabnya, tidak mungkin karena sikap Rika yang aneh bukan? Edgar berpikir.


Rika masuk perlahan, mengetahui Edgar yang sedikit tidak bersahabat, ia agak ketakuta.


Klek!


Rika menutup pintu Balkon, lalu menggeser gorden agar menutupi pintu kaca tersebut.


"Ayank marah?" Rika tersenyum samar, dia berjalan mendekat, kemudian duduk di samping Edgar.


Pria itu tidak menjawab, dia tampak meremat rambutnya dengan kepala yang tertunduk.


"Ayank, masa baru sehari nikah udah marahan ... mau jajan di luar pulak, nggak kasian sama aku, hemm!?"


Rika memberanikan diri meraih lengan Edgar, lalu memeluknya.


"Ayok pulang!" Edgar hampir bangkit, saat tiba-tiba Rika menarik tanganya.


Pandangan Rika mendongak, berusaha menatap mata Edgar yang terus menghindarinya.


"Ayank kok gitu!" prempuan itu bangkit, lalu memeluk Edgar, seraya meletakan kepalanya di dada bidang itu.


Edgar masih diam, nafasnya memburu dengan detak jantung yang terdengar lebih kencang berdetak.


Edgar terdengar menghela nafas.


"Kamu mau pulang? kalau begitu ayok!" suara Edgar rendah, namun kembali terdengar lembut.


Rika sedikit menjauhkan pandangannya, dia mendonga untuk kembali menatap Edgar, yang masih memanglingkan pandangannya.


Rika meneliti wajah tampan itu, kemudian tersenyum samar.


Edgar menjengit, lalu memincingkan mata kearah istrinya.


"Paan sih, kagak jelas. Tadi ketakutan sampe mau nangis, sekarang malah sunyam-senyum!" cecar Edgar lalu memutar bola matanya.


"Jangan marah!" Rika merengek manja.


"Dih ... cepetan kalo mau pulang!" ucap Edgar ketus.


Rika terus menatap wajah itu dengan seksama, perlahan kakinya mulai berjinjit kemudian.


Cup!


Satu kecupan basah Rika berikan tepat di bibir Edgar.


"Udah dong marahnya, aku tau kamu pusing, mana dari sore lagi!" kata Rika kepada suaminya.


Sementara Edgar membisu, dia cukup terkejut dengan apa yang Rika lakukan.


"Hhh ... masih marah ya, yaudah deh ayok," Rika mulai melepaskan kedua tangannya yang melingkar.


Menaklukan kemarah Edgar memang sedikit susah, pikir Rika.


Namun sebelum kedua tangan itu terlepas, Edgar terlebih dulu meraup pinggang istrinya.


Edgar menusuk, sampai kening keduanya menempel.


Sesaat hening, hembusan nafas hangat keduanya bersahutan, menyapu kulit wajah, hingga membuat Rika memejamkan matanya.


Mata Rika terpejam, perlahan mulai membalas permainan Edgar, dengan kedua tangan yang mulai berpindah, sampai kini memeluk bahu Edgar dengan erat.


Tangan Edgar meraup tubuh Rika, mengangkatnya lalu berjalan kearah ranjang tanpa melepaskan permainan mereka.


Tubuh Rika kini sudah benar-benar berbaring, lalu Edgar melepaskan tautan bibirnya.


Mata Rika terbuka, dia menatap Edgar yang sedang menarik kaos polosnya. Tubuh yang sedikit dihiasi otot-otot, juga berkulit putih, sungguh membuat Rika terpeson.


Pria itu tersenyum, mulai menindih tubuh Rika, kemudian melanjutkan cumbuannya.


Bibir itu terus mengecup singkat bibir ranum milik Rika, beralih ke pipi, lalu turun ke tulang rahang, dan berakhir di leher.


"Mmmhhh!" suara Rika tertahan, saat rasa geli mulai menjalar keseluruh tubuh hingga bulu kuduknya terasa berdiri.


Tangan Edgar mulai mengusap paha Rika, menyingkap gaun panjang yang saat ini prempuan itu kenakan.


"Ah .. ayank!" Rika memekik, matanya sudah kembali terpejam, dengan dada yang juga sedikit membusung, manahan desiran yang terus meningkat.


Edgar menyeringai.


"Disini aman, mau berteriakpun tidak akan ada yang mendengar."


Pri itu berbisik tepat di daun telinga Rika.


Edgar mulai menggeser gaun itu lebih keatas, lalu menariknya hingga terlepas, menyisakan kain merah berenda yang membuat Rika tampak menantang malam ini.


Gadis itu sudah terlihat pasrah, setiap sentuhan yang Edgar berikan membuatnya terbuai, hingga melupakan rasa takut dan malunya tadi.


Tangan Edgar menelusup kebelakang, mencari pengait br* yang Rika kenakan.


"Aku tidak sempat melihat yang ini tadi!" Edgar merancau, mempermainkannya sesaat lalu meraup dan meny*sapinya gemas.


"Emmhh ... Ayank!" Rika menggigit bibinya kencang, dengan tangan yang juga sudah meremat rambut Edgar.


Edgar kembali bergarak, melepaskan semua pakaian yang masih tersisanya, lalu beralih menarik kain segitiga dan melemparnya entah kemana.


Cup!


Edgar mencium bibir Rika.


"Sayang, buka matanya .. lihat aku dan jangan panik!" Edgar mengusap pipi Rika.


Prempuan itu menurut, mulai membuka matanya yang sudah terlihat sayu, karena sudah dipenuhi kabur gairah.


Edgar menarik paha Rika agar lebih mendekat, lalu mengarahkan senjata miliknya kearah gerbang surga dunia yang sudah terlihat menggiurkan.


Jemari prempuan itu meremat lengan Edgar, menahan sesuatu yang sudah mulai mendesak masuk.


Rika menjengit, mulutnya mulai terbuka dengan cengkraman yang terasa mulai mengencang.


Edgar sedikit meringis.


Sesaat Edgar berhenti, ia mengusap kening Rika yang mulai di penuhi keringat.


"Kamu bisa tahan sebentar?" ucap Edgar, lalu menghujani wajah Rika dengan kecupan.


Rika mengangguk, dengan bibir yang memperlihatkan senyum samar.


"Kita bisa ... jadi ayok lakukan!" jawab Rika dengan suara lirih.


Edgar terlihat tidak tega.


"Ayank .. kenapa? ayok!"


Pria itu mengangguk, kembali mencumbu Rika, lalu mendorong punggungnya kuat sampai terasa merobek sesuatu.


Rika menjerit kencang.


"Ohh ini sulit sekali!" Edgar menempelkan keningnya di atas kening Rika, lalu keduanya tersenyum dengan nafas yang saling memburu.


Dengan sangat pelan dan hati-hati Edgar mulai bergerak di atas tubuh Rika.


"Shhhh ... Ayank perih!" Rika merintih.


"Tidak akan lama, semuanya akan berumah menjadi rasa yang belum pernah kamu rasakan."


"Ngghhh!" tubuh Rika terus menggeliat tidak beraturan.


Semakin lama kegiatan mereka semakin memanas, suara erotis dan de*Sahan saling bersahutan, hingga Edgar sudah tidak bisa menahannya lagi.


Hentakan itu semakin tidak beraturan, bahkan Edgar terlihat memejamkan mata dengan geraman yang terus keluar dari mulutnya.


"I'm done baby!" Edgar menggeram.


"Mmmhh ... Ayank ... ahh aku ...


"Owh ****!" Edgar merancau.


Akhirnya mereka selesai, Edgar ambruk diatas tubuh Rika.


"Ayank? bisa pindah nggak? kamu berat!" Rika berbicara pelan, tenaganya benar-benar terkuras habis.


Edgar bangkit, melepaskan tautannya, lalu menatap Rika.


"Terimakasih untuk semuanya sayang!" Edgar tersenyum.


"Kamu harus membayar darah perawanku sayang!" Rika menatap seprai putih itu.


Edgar melemparkan tubuhnya di samping Rika.


"Bilang saja kamu mau apa!"


Rika memiringkan tubuhnya, lalu memeluk Edgar dan bersandar di dada milik Edgar.


"Aku mencintaimu Erika!" katanya lalu mencium kening Rika.


"Aku juga mencintai bapak Edgar!" Rika terkekeh pelan.


Mata keduanya terpejam, lalu terlelap setelah beberapa saat.


...••••••...


Kalian emang seneng sama eps seblak!


Please jangan lupa di klik favorite, like, Komen, dan hadiah kalo ada.


Dukung author biar jadi fames dongs😌 jadi apa sih bubuk rangginang ini tanpa kalian : )


~Selamat bobo, mimpi basah ya .. eh mimpi indah, ish othor keseleo deh ah gara-gara kelakuan Rika sama Edgar~