
...•••••...
"Sekretaris?"
— ....... —
"Tapi saya bisa melakukan semuanya untuk saat ini dan beberapa bulan kedepan, jadi saya rasa tidak perlu."
— ...... —
"Kalau soal itu masih saya pikirkan, mungkin nanti kalau bapak sudah benar-benar senggang."
— ...... —
"Baik pak, sayang berangkat ke kantor sekarang.
Alvaro terlihat mengangguk-anggukan kepala, kemudian meletakan ponselnya kembali ke atas nakas setelah sambungan telfon itu terputus.
Pandangannya kini beralih, menatap prempuan yang sudah telan*ang bulat di bawah Kungkungan tubuhnya.
Alvaro tersenyum, dia sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu meraup bibir itu dan kembali memangutnya untuk beberapa saat.
"Maaf, aku harus berangkat kerja sekarang. Kita lanjut nanti malam saja yah?" Alvaro menatap wajah istrinya lekat.
Sisil diam, raut wajahnya terlihat muram. Saat hasrat yang sudah melambung tinggi, kini kembali padam ketika Alvaro menerima panggilan telfon yang sudah beberapa kali masuk.
"Hey, kenapa melamun? apa kita harus ...
"Tidak usah, Abang bersiap saja! aku akan siapkan roti isi untuk sarapan Abang." katanya, lalu dia mendorong dada suaminya.
Namun Alvaro menahan pergelangan tangan Sisil yang hendak berdiri.
"Kamu marah?" pria itu tersenyum.
"Nggak, aku cuma kesel. Katanya kamu mau meliburkan diri ... terus mengunjungi rumah Mama dan Papah, tapi malah kerja juga!" Sisil cemberut.
Alvaro menarik tangan Sisil pelan, membawanya mendekat kemudian mendekap tubuh istrinya erat.
"Sebaiknya kamu juga kerumah Bu Anna. Kasian Balqis, pasti sedih dan kesepian!"
Sisil mendorong bahu Alvaro, dia mendongat lalu menatap wajah pria itu dari jarak yang sangat dekat.
"Kenapa?"
"Bu Anna masuk IGD karena mengalami pendarahan, dan untuk beberapa hari kedepan Pak David tidak bisa masuk, termasuk hari ini ... ya mau tidak mau aku harus mengerjakan semuanya." Alvaro mengukir wajah di hadapannya, menyingkirkan beberapa helai rambut dan menyalipkannya di daun telinga seperti biasa.
Cup!
"Abang janji, ... setelah Bu Anna membaik, pak David masuk kantor, kita akan berlibur." ucapnya setelah mencium bibir Sisil terlebih dulu.
Sisil mengangguk, dia tersenyum.
"Kalo gitu Sisil mandi duluan yah?"
Alvaro mengukir senyum, seraya menganggukan kepalanya pelan.
"Apa tidak mau mencium suaminya dulu, sebelum pergi!?"
Sisil menoleh, dia melihat suaminya yang menepuk pipi sebelak kanannya.
"Baiklah!"
Sisil kembali berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang dan meraih tengkuk suaminya, memangut bibir Alvaro cukup lama.
"Morning kiss?" Sisil menyeringai.
Pandangan mata Al terlihat sayu, saat hasratnya kembali bangkit.
"Aku mandi yah." dia berlari memasuki kamar mandi dan menutupnya rapat-rapat.
Alvaro menjatuhkan tubuhnya kembali, mengusap wajahnya kasar lalu menggeram.
"Akhhhh ... andai saja hari ini aku benar-benar berlibur, pasti akan ku buat dia merintih dan memohon agar aku berhenti." cicit Al pelan.
Dia mengusap rambutnya frustasi.
.
.
Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan pagi.
Sisil dan Alvaro terlihat baru saja menyelesaikan sarapannya.
Alvaro meraih segelas air putih dingin yang di sediakan Sisil, meneguknya cepat sampai tandas.
"Kamu selesai?" pria itu menatap Sisil yang sedang membersihkan kedua sudut bibirnya menggunakan tissue.
"Sudah, tinggal bersih ini dulu sedikit .. sama cuci gelas dan pisaunya."
Alvaro bangkit, dia berjalan mendekat dan segera meraih tangan Sisil.
"Nanti saja, aku terlambat." katanya sambil menarik tangan Sisil beranjak dari sana.
"Abang duluan aja, aku bisa pakai taksi atau ojol!"
"Mau kemana?" Alvaro menoleh sekilas.
Sisil menjengit.
"Kerja, kenapa Abang nanya lagi?" Sisil terlihat bingung.
Tiba-tiba saja langkah kaki Al terhenti, kemudian berbalik badan sampai tatapan keduanya beradu.
Sisil diam, saat melihat gelagat Alvaro yang tampak sedikit cemburu.
"Abang mau aku kemana?" Sisil memincingkan mata, lalu tersenyum jahil kearah pria itu.
Alvaro mendekat satu langkah, meraih pinggang Sisil dan menarik hingga mereka tidak berjarak.
"Kau senang sekali menantang ku sekarang!" dia berbisik penuh ancaman, bahkan tatapan mata pria itu kini terasa lebih menusuk.
Sisil mematung.
"Aku bercanda Ayank ... eh Abang! jangan terlalu serius kenapa sih? jangan lihat aku kaya gitu, kamu nyeremin kaya lagi mau makan orang bulet-bulet." tukas Sisil sambil menepuk-nepuk dada suaminya.
"Tunggulah sampai pekerjaan ku selesai, setelah itu aku akan menghabisi mu. Tapi ku peringatkan ... jangan berteriak meminta ampun kepada ku!" Alvaro menyeringai.
Deg!
Dada Sisil berdebar, saat hembusan nafas hangat milik pria itu menyapu wajah Sisil.
Mata Sisil mengerjap beberapa kali.
Cup!
Satu kecupan Al berikan di kening Sisil.
"Ambilah tas mu, ayok aku antar ke rumah pak Daniel." Alvaro melepaskan lilitan tangan di pinggang Sisil, dan membiarkan prempuan itu beranjak kearah pintu kamar.
...••••••...
Sekitar 45 menit menempuh perjalanan, akhirnya sepasang manusia yang baru saja merasakan indahnya bahtera rumah tangga itu sampai di depan gerbang rumah besar milik kedua orang tua bos mereka.
Sisil langsung membuka seatbelt yang masih melilit di tubuhnya.
"Nanti pulang sendiri tidak apa-apa?" pria itu bertanya.
Prempuan itu langsung menatap suaminya.
"Abang nggak turun?"
Alvaro hanya tersenyum, lalu meraih telapak tangan milik istrinya.
Cup!
"Abang harus cepat, agar nanti pulang tidak terlalu larut."
Sisil mengangguk.
Tok .. tok ..
Seorang pria tinggi berseragam tampak membungkuk dan melihat kearah dalam.
"Selamat siang Pak Yasir?" Al menyapa saat kaca mobil itu terbuka.
"Masuk pak Al?" katanya.
"Tidak, hanya mengantar istri saya!" pria itu tersenyum.
Namun raut wajah pak Yasir langsung terlihat berubah, dia terkejut saat mendengar penuturan seorang pria yang bekerja sebagai asisten pribadi dari putra semata wajang pemilik rumah itu.
Pak Yasir dan Sisil saling menatap.
"Encus nikah? sama pak Al?" pak Yasir bertanya.
Sisil mengangguk pelan, dia bingung lalu memanglingkan pandanganya kearah Al.
"Sudah hampir sebulan pak, hanya saja kita menggelarnya dengan keluarga terdeka."
Pak Yasir mengangguk.
"Kalau bapak tidak mau masuk, pintu gerbangnya tidak saya buka."
"Tidak usah pak." Al tersenyum.
Pria itu tersenyum, lalu kembali berjalan kearah pos.
"Masuklah, aku harus berangkat." Al tersenyum ke arah Sisil.
"Yaudah, Sisil masuk ya ... Abang hati-hati! jangan ngebut yah." Sisil mencium punggung tangannya, kemudian meraih handle pintu mobil tersebut.
Sementara Alvaro mematung, dengan mata yang terus memperhatikan Sisil yang mulai berjalan memasuki gerbang rumah milik Daniel.
"Papayo Abang!" dia berteriak, lalu melambaikan tangan.
Pim!
Al menekan klakson untuk menjawab.
Astaga! aku ingin berlibur saja rasanya.
Alvaro mengusap wajahnya pelan, dia memejamkan matanya sesaat dengan bibir yang tampak mengulas senyum.
"Hhh .. dia menggemaskan sekali!" Alvaro bermonolog.
Mobil hitam itu kembali melaju, meninggalkan kediaman David dengan kecepatan sedang.
...•••••••...
Jangan lupa! like, komen, hadiahnya dongs..
Klik favorite juga jangan lupa!!