My Ex Husband

My Ex Husband
Lantai 6 blok 7F.



...•••••...


Hari merangkak semakin siang, begitupun dengan cahaya matahari yang terasa semakin terik, saat jam sudah menunjukan pukul 11:46 siang.


Namun Syaif belum juga menemukan sosok gadis yang saat ini sudah menjadi partner kerjanya datang.


Beberapa kali Syaif menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dengan perasaan bersalah yang terus memenuhi kepalanya, sampai ia tidak bisa fokus bekerja.


Pria itu bangkit, menutup laptop kerjanya, lalu keluar dari ruang kerja Anna dan segera menyambar kunci mobil.


Dengan cepat dia keluar dari rumah itu, menutup pintunya rapat-rapat dan tidak lupa untuk menguncinya.


Syaif terlihat berlari ke arah gerbang, membukanya sedikit kencang sampai pagar besi itu menghantam tembok cukup keras.


"E-eh .. Sorry-sorry!" Syaif bergumam.


...••••••...


Sekitar dua puluh menit Syaif memacu kendaraan roda empat milik Anna, akhirnya dia sampai dan memarkirkan mobil di halaman depan rumah Sisil.


Syaif turun, dia berjalan kearah pintu dapur yang terbuka lebar.


"Sudah mau ambil barang? padahal ini belum selesai lho!" Faiqa berdiri di ambang pintu untuk menyambutnya dengan raut wajah berbinar.


Seketika langkah kakinya terhenti.


Gua harus ngomong apa yah? gimana kalo Bu Ningsih marah, anaknya gua bentak-bentat kemaren!


"Aip? ih malah bengong disana, sini bantuin lah biar cepet beres!" Faiqa berteriak sambil melambaikan tangan kearahnya.


"Oh, iya iya." Syaif mengangguk, kemudian ia berjalan masuk, dengan hati berdebar dan rasa takut yang mulai mendominasi.


"Selamat siang!?" pria itu tersenyum canggung.


Apalagi saat melihat pungung Bu Ningsih, tubuhnya terasa bergetar dan lemas.


"Eh, Syaif? tumben udah dateng, bisanya kirim pesanan agak sorean." wanita paruh baya itu menyambutnya dengan senyum hangat.


"Masuk-masuk, jangan berdiri di ambang pintu, pamali ... kalo kata orang tua jaman dulu mah!" Bu Ningsih menimpali.


Pria itu mengangguk, lagi-lagi dia tampak tersenyum kaku.


"Orderan hari ini gimana?"Anis bertanya.


"Udah ada ... besok kita kirim 200 pcs!" jelas Syaif.


"Berapa orang itu?" Anis kembali bertanya.


"Gua lupa, entar deh! sorean gua periksa lagi list nya."


"Bu?" Syaif beralih kepada sosok yang terus sibuk berdiri di depan meja kompor.


Bu Ningsih menoleh, lalu menatap Syaif.


"Kenapa?"


"Sisil kemana? kok nggak masuk, padahal dia udah jadi partner kerja saya sekarang. Di tungguin dari tadi kok nggak dateng-dateng!?"


"Memangnya dia tidak bilang, kalo hari ini Sisil di panggil Bu Anna."


Deg!


Syaif diam, menatap Bu Ningsih penuh tanya, bahkan dia terlihat linglung dan bingung.


Mati gue, Sisil ngadu! mau ngomong apa nanti sama Bu Anna. Anjir, kan bisa dibomongin baik-baik, sebelum ngadu ke bos!


Dia membatin.


"Yaudah, ngerjain ini dulu aja! bungkus yang bener juga, biar lu bisa cepet ngasih ke jasa pengiriman!" tukas Anis kepada teman pria nya.


Syaif mengangguk, lalu membantu Anis dan Faiqa membungkus toples berisi sambal itu sedemikian rupa, agar tidak tumpah apalagi pecah saat sampai di tangan konsumen.


"Kalo mas Syaif butuh bantuan ngerjain sesuatu disana (rumah Anna), ajak aja mbak Faiqa atau mbak Anis, packing biar saya yang handle!" kata Ratmi.


Syaif tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.


"Sudah selesai sih mbak, jadi saya kesini saja. Disana juga bosen nggak ada temen, sama mau nanyain Sisil kemana kok nggak datang?!"


Ratmit mengangguk. "Yasudah kalau begitu!" ucap Ratmi.


...•••••...


Sementara itu disisi lain. Sisil terlihat diam, memperhatikan Balqis yang tengah asik bermain dengan Boneka Barbienya di ruang tengah.


"Sisil?" Anna terdengar memanggil, dan terlihatlah Anna yang sedang berjalan kearahnya.


"Iya Bu?" gadis itu menjawab.


"Kamu mau ikut nanti malem ke undangan Rika? kalo ikut ada bajunya nggak?" Anna duduk tepat di samping putrinya Balqis.


"Memangnya tidak apa-apa saya ikut? kan nggak ada undangan pribadi buat saya Bu?!"


"Kalo mau ... ya ikut saja! Rika tau kamu siapa kok."


"Emangnya kita mau kemana, Mam?" Balqis meletakan boneka Barbie miliknya, dan beralih lebih mendekat kepada Anna.


Anna menatap wajah putrinya, dia tersenyum sambil mengusap rambut panjang gadis kecil itu yang terurai.


"Nikah?" Balqis mengulangi kata-katanya.


Anna mengangguk.


"Nikah itu apa Mam?"


"Nikah itu seperti Mama dan Papa, sayang!" Anna menjelaskan.


Balqis memincingkan mata, lalu beralih menatap Sisil.


"Teteh mau nikah? biar samaan kaya Mama sama Onti Rika!"


Sisil tertegung, seraya membulatkan mata saat Balqis menanyakan itu kepada dirinya.


"Ish ... udah ah! anak kecil kok bahas nikah-nikah." Anna mencubit pipi Balqis.


"Sakit Mama!" Balqis memekik.


Anna hanya tersenyum.


"Mama boleh pinjem teteh nya sebentar nggak?" Anna menatap Balqis.


"Kenapa memangnya?" Balqis kembali meraih Barbie miliknya.


"Hanya sebentar, antar undangan dari Onti Rika saja, buat om Al." jelas Anna.


"Kenapa tadi Mama nggak titip Papah aja? kan om Al di kantor sama Papa?!"


"Om Al belum masuk kerja, jadi Mama nggak bisa titip ke Papah. Jadi pinjemin teteh bentar yah?"


Akhinya Balqis pun mengangguk.


"Oke, tunggu sebentar!" kata Anna, lalu dia beranjak menuju kamar.


Sesampainya di dalam kamar, Anna membuka laci nakas, mengeluarkan kartu undangan yang beberapa hari lalu Rika kirimkan menggunakan jasa pengiriman ke rumahnya saat ini.


"Dia sombong sekarang, kirim undangan saja pake jasa orang!" cicit Anna namun bibirnya tersenyum.


Anna keluar kamarnya dengan segera, untuk memberikan kartu undangan itu kepada Sisil.


"Ini, kamu mau di antar pak supir atau pakai motor? antar ke apartemennya, kamu tau kan? apartemen Alvaro dimana?"


"Saya cuma tau orangnya, nggak tau tempat tinggalnya Bu!" ucap Sisil.


"Lho, waktu itu saya kesana sama siapa yah?" Anna bingung.


"Saya nggak tau Bu!"


"Antar ke The Mozia, lantai 6 unit 7F yah!" jelas Anna yang langsung di jawab angguka oleh Sisil.


"Aku mau ikut!" Balqis berteriak.


"Tunggu saja sama Mama disini, teteh cuma sebentar!"


"Ih mau ikut ah!" gadis kecil itu langsung memeluk tubuh Sisil.


"Yasudah, kalau Aqis mau ikut di antar pak supir berarti!" jelas Anna.


Sisil mengangguk.


"Kami berangkat dulu kalau begitu!" Sisil berpamitan, lalu meraih tangan balita itu dan segera berjalan kearah pintu luar.


Balqis menggenggam tangan Sisil erat, berjalan bersamaan menuju seseorang yang sedang asik berbincang di pos security.


"Pak, boleh antar kami ke The Mozia?" Sisil bertanya.


"Siap mbak!" pria tua itu tersenyum ramah, lalu berjalan kearah garasi mobil setelah membawa kunci mobil yang terletak di laci pos security sana.


"Mau kemana Aqis cantik? tumben nggak sama Mama?" pak Yasir berseru sambil membukakan pintu gerbang.


"Mau ke apartemen om Al." Balqis menjawab.


Tidak lama setelah itu sebuah mobil Alphard datang, dan berhenti tepat dihadapan Sisil.


"Kami pamit pak Yasir." Sisil tersenyum.


"Iya iya, hati-hati!"


"Papay .. pak Yasir jelek!" Balqis melambaikan tangan.


"Hush! nggak boleh iseng!" kata Sisil lalu mereka masuk, dan segera menutup pintu mobil itu.


Sementara Pak Yasir hanya menggelengkan kepala dengan bibir yang juga ikut tersenyum.


"Lucu sekali." katanya, lalu kembali kedalam pos.


...•••••...


Jangan lupa like, komen, dan hadiahnya. Klik favorite juga jangan lupa, agar notifikasinya berbunyi saat othor update eps terbaru.


follow juga ig othor @_anggika15.


~Cuyung kalian~