
...••••••...
Tangis David semakin pecah, dekatapannya kepada Anna pun semakin erat, juga kecupan di kening prempuan itu yang terus-menerus David berikan saat suara teriakan bayi kecil menggema memenuhi ruangan.
"Anak kita sudah lahir!" ucap pria itu lirih.
Anna hanya menganggukan kepala sambil tersenyum, saat David menatapnya dengan air mata yang sudah menggenang di sudut mata.
"It's a girl, cantik seperti Mamanya!" seorang Dokter mengangkat bayi itu, hingga David bisa melihatnya dengan sangat jelas.
David tersenyum di antara tangisannya, bagaimana tidak, bayi yang selalu bergerak-gerak saat ia menyentuh perut Anna kini ada di hadapannya.
"Dia mirip dengan mu sekarang," David berbisik. "Tapi hidungnya tetap mirip dengan ku!" ucapnya kembali di iringi tawa pelan.
...••••••...
Sekian lama David berada di ruang operasi, akhirnya pria itu keluar, dengan raut wajah bahagia, namun terlihat sembab karena dia terus-menerus menangisi keadaan Anna yang lemah dan tidak bisa melakukan apapun.
"Bagaimana?" Rosa menghampiri putranya yang masih berada di dekat pintu.
"Semuanya baik, dan berjalan dengan lancar." jelas David.
"Bagaimana keadaan menantu ku?!" Daniel bangkit di bantu tongkatnya seperti biasa.
"Sebentar lagi dia keluar, dan akan segera menempati ruang rawat inap." David menjelaskan.
Pandangan David meneliti sekitar.
Deg!
"Bu! Balqis!" David panik.
"Dia dibawa Al, Sisil meminta membawa Balqis, prempuan itu mengkhawatirkan keadaan putri asuhnya, Dav!" Daniel menjelaskan.
David menghenal nafasnya pelan, lalu mengusap dadanya lega.
Di lain tempat.
Al berjalan menyusuri lorong sebuah apartemen yang tampak sepi saat dia keluar dari lift dengan tangan yang terus menuntun Balqis berjalan di sampinnya.
Plip ... klek!
Alvaro mendorong pintu apartemen miliknya menggunakan sikutnya.
"Masuklah." kata Al kepada Balqis.
"Hey, kalian sampai!?" Sisil datang menghampiri, wajahnya dia buat secerai mungkin agar Balqis melupakan rasa khawatirnya kepada sang ibu.
Sisil membungkukan tubuh, kemudian memeluk Balqis dan memberinya beberapa kecupan di kening dan pipi.
"Sudah makan?" Sisil menatap Balqis dan suaminya bergantian.
Dua orang yang baru saja tiba menjawab dengan gelengan kepala.
"Baiklah, ayok kita makan mie kuah. Sepertinya enak!" Sisil segera menarik tangan Balqis kearah dapur.
"Sepertinya yang masak aku saja, nanti kamu lelah!" ucap Alvaro kepada istrinya.
"Kayanya kebalik, kamu yang baru pulang kerja, jadi seharusnya kamu yang lelah, bukan aku."
Sisil menarik satu kursi meja makan, lalu membantu Balqis duduk disana.
"Teh, ada susu?" akhirnya gadis itu mulai berbicara.
Sisil menoleh, kemudian menganggukan kepalanya.
"Full cream, coklat ... atau vanila juga ada." jelas Sisil.
"Full cream aja, pakein es batu!"
"Oke, mie rebusnya mau rasa apa? ayam bawang, soto atau kari?" Alvaro ikut bertanya.
"Ish, ... om sama Teteh bawel!" Balqis menggerutu. "Aku kangen Mama lagi tahu!" sambung Balqis kembali.
"Bikin soto saja semua." pinta Sisil kepada suaminya.
Alvaro mengacungkan dua ibu jarinya sekaligus, kemudian membuka salah satu laci dan mengeluarkan beberapa bungkus mie yang akan segera dia masak.
Begitupun dengan Sisil, dia membawa beberapa gelas, lalu berjalan kearah lemari es untuk membawa satu kotak besar susu full cream dan meletakkannya di atas meja makan.
Pandangan prempuan itu meneliti wajah Balqis, gurat kekhawatiran jelas terlihat, sampai dia terus menatap kosong sesutu di hadapannya.
Sisil menarik satu kursi di samping Balqis.
"Gimana sekolahnya? sudah punya teman baru?" Sisil merentangkan tangan sebelah kanannya, kemudian mengusap bahu Balqis.
"Oh, .. iya! aku baru ingat. Teteh tau Seo kan? yang kita ketemu di puncak! nah dia satu sekolahan sama aku sekarang!"
Seketika wajah muram itu berubah menjadi berbinar.
"Oh ya? terus bagaimana?" Sisil kembali bertanya dengan antusias.
"Kami duduk satu meja." Balqis tersenyum.
"Seo tampan yah?!" ujar Sisil yang langsung di jawab anggukan oleh Balqis.
Sisil segera membuka tutup kotak susu itu, lalu menuangkannya kedalam gelas.
"Nah, diminum dulu. Jangan sedih, Mama kamu pasti baik-baik saja!"
"Aku kaget, Mama tiba-tiba teriak pas kita ada di taman belakang."
"Yang penting sekarang udah ada Dokter yang akan membantu, nanti setelah makan dan Aqis tenang ... kita kerumah sakit lihat adik bayi."
Balqis mengangguk.
"Ini untuk Balqis, dan ini untuk Mamanya Junior!" ucapnya sambil tersenyum.
"Terimakasih, om!"
"Terimakasih Papah!"
Mereka berbicara secara bersamaan.
"It's okey, hanya mie instan." Alvaro pun duduk di samping Sisil.
Balqis meraih mangkuk yang berada sedikit jauh dari jangkauanya, kemudian matanya membulat, dengan raut wajah berbinar.
"Huwah, soto." dia berucap.
"Hemm, makanlah ... atau mau tambah nasi?" Sisil bertanya.
"Tidak, ini sudah banyak." sahutnya seraya meniup mie yang sudah Balqis lilit menggunakan garpu.
Keadaan pun menjadi hening, saat tiga orang itu fokus dengan makanan mereka masing-masing.
"Selesai." Balqis menggeser mangkuk itu agar lebih menjauh, kemudian meraih tissue dan mengusap kedua sudut bibirnya.
"Kenapa tidak di habiskan?" Sisil menatap Balqis.
"Kenyang." katanya, dengan tangan yang juga mengusap-usap perut.
Sisil tidak menjawab lagi, prempuan itu hanya tersenyum, lalu menyandarkan punggung sampai membuat perut besarnya semakin membulat.
"Kenapa? dia bergerak?" Al mengusap perut Sisil.
"Iya, seperti biasa ... kalau kenyang dan lapar dia selalu bergerak-gerak." Sisil terkekeh.
"Adik bayinya kapan lahir, kaya adik bayi punya aku?" Balqis menatap perut prempuan di sampinnya.
"Satu bulan lagi!" jawab Sisil.
"Oh, dia pasti temenan kan sama adik bayi? kaya Aqis sama Seo, kemana-mana mau bersama!"
"Seo? Seo itu siapa? aku dengar dari tadi tapi bingung Seo itu saha!"
"Mungkin kamu bisa menyebutnya cinta pertama." Sisil tertawa, sementara Balqis bingung saat Sisil mengatakan kata-kata yang baru saja Sisil lontarkan.
"Sudah selesai? kalau sudah bagaimana kalau kita ke rumah sakit?"
Balqis mengangguk, kini dia tampak lebih semangat.
"Simpan saja di washtafel, nanti aku yang cuci." tegas Al kepada istrinya.
"Baiklah." Sisil tersenyum. "Kamu semakin manis saja!" sambung prempuan itu.
"Cepat ganti pakaian mu, tidak mungkin ke rumah sakit hanya memakai gaun pendek."
"Iya iya, tunggu sebentar. Aku tidak bisa jalan cepat tahu!" cicit Sisil, kemudian prempuan itu berjalan meninggalkan Al dan Balqis yang masih duduk di kursi meja makan.
...•••••...
Klek!
Pintu ruangan itu terbuka, kemudian munculah Balqis, disusul Alvaro dan Sisil yang berjalan di belakangnya.
"Kaka!" Anna tersenyum.
"Selamat sore, maaf telat mengantar Balqis, jalanan sedikit macet." kata Sisil, dia tersenyum kepada setiap anggota keluarga David yang berada di sana.
"Perut mu sudah besar, kapan dia akan lahir?" Rosa mendekat, kemudian mengusap perut besar milik Sisil.
"Masih bulan depan, Bu." Alvaro menjawab.
"Sebentar lagi kau akan menjadi ayah Al!" ucap Daniel.
"Iya pak." Al mengangguk.
"Terimakasih sudah menjaga Balqis, untuk desain tadi, kita kerjakan saja besok Al." ujar David.
"Baik pak."
Pandangan Sisil beralih kepada satu box yang berada di samping tempat tidur Anna. Bibirnya tersenyum bahagia saat melihat bayi mungil yang tertidur dengan sangat tenang.
"Sudah ada nama? cantik sekali, persis Balqis." ucap Sisil saa dia berada di samping box bayi tersebut.
Anna mengangguk.
"Bianca Marta Julian." ucap Anna dengan suara pelan.
"Nama yang cantik."
Sisil bersalin menatap suaminya, kemudian tersenyum.
Mereka pun berbincang-bincang, membicarakan banyak hal, sampai membuat ruangan itu sedikit ramai.
Namun bayi yang baru saja Anna lahirkan tetap terlelap, walau beberapa kali David tertawa kencang, saat mereka saling melontarkan candaan.
...•••••...
Jangan lupa di like, sama komen ...
~Sayang kalian, Papayo~
Follow Ig othor yah, informasi tentang judul baru othor kasih tau disana.
@_anggika15