My Ex Husband

My Ex Husband
Diam-diam suka.



...••••••...


"Emmhh .... Astagaa!" dia memekik.


Kedua tangan Sisil meremat kuat bantal yang ada di hadapannya saat Al menghujam dari arah belakang.


Mata Sisil terpejam, dengan kening menjengit kuat sampai kedua alisnya hampir bertemu.


"Dasar koala nakal! kamu pikir bisa lolos begitu saja, hemmm?" pria itu menggeram, suaranya juga terdengar sangat rendah, namun, ... seksi.


Sisil menggigit bibirnya kuat, dia berusaha menahan des*Han saat pria di belakangnya mulai bergerak.


Awalnya Alvaro masih bisa bergerak perlahan, namun seiringnya waktu, hentakan yang ia berikan semakin meningkat, hingga membuat mata Sisil membelalak diiringi des*han yang semakin kencang.


"Emm... this is f*cking awesome!" ucapnya dengan suara rendah, namun masih bisa Sisil dengan meski suara itu hampir tenggelam akibat suaranya sendiri.


Beberapa kali Alvaro tampak memukul b*k*ng Sisil kencang, sampai menyisakan bekas kemerahan di area sana.


Begitupun dengan Sisil yang juga berteriak dan merintih secara bersamaan, hingga membuat pria itu mengeraskan rahang, ya .. dia gemas dengan prempuan yang terus merancau di hadapannya.


Al menjauhkan diri, kemudian dia membalikan tubuh Sisil sampai dia terlengtang pasrah tanpa perlawanan sedikit pun.


Alvaro menyeringai saat melihat rambut Sisil yang sudah terlihat tak karuan, begitupun dengan wajah pucat dengan bibir yang sangat memerah akibat prempuan itu yang terus mengigitnya.


Untuk beberapa saat keduanya saling menatap, mengagumi satu sama lain.


Kemudian pria itu menekuk paha istrinya, dan mulai membenamkannya perlahan.


Mata Sisil kembali terpajang, saat sesuatu terasa kembali memenuhi inti tubuhnya.


Cup!


Al meraih bibir merah itu, mencium sesaat dan kembali menjauhkan pandangan agar bisa kembali menatap wajah cantik itu.


Tangan nakal pria itu mulai menggerayang, menyetuh setiap inci tubuh Sisil dengan gemas.


"Nghh!" leguhan Sisil terdengar, saat Alvaro meremat buah dadanya cukup kencang.


Sementara pria itu hanya tersenyum, tanpa bergerak sedikitpun, dan itu membuat Sisil heran sampai membuat kedua bola matanya kembali terbuka.


Pria itu tersenyum, kembali mendekat dan mencumbu istrinya dengan sangat menggebu-gebu.


Begitupun dengan Sisil, prempuan itu kini memeluk erat bahu suaminya dan membalas ciuman itu bahkan lebih bersemangat.


Suara decapan mulai mengudara, bersahutan dengan suara geraman dan rintihan saat Alvaro mulai menggerakan pinggulnya.


Pautan bibir mereka terlepas, lagi-lagi Al menatap wanita yang berada di bawah Kungkungan tubuhnya.


Kening Sisil menjengit, matanya tertutup dengan mulut yang terbuka, dan itu membuat hasrat Alvaro kian menanjak.


"Oh Naisilla!" Alvaro mendongak dengan mata yang terpejam. "Kenapa kau cantik sekali." katanya lagi, lalu meraih rambut Sisil dan sedikit menariknya sampai membuat Sisil kembali merintih kencang.


"Argghhh ... Abang."


Dia benar-benar berteriak, saat hentakan pria di atasnya mulai tidak terkendali.


Lansung saja Sisil menahan perut suaminya. Dan pria itu berhenti, mata Alvaro tampak sayu, dan menatap Sisil penuh tanya.


"Pelan-pelan, atau Junior akan protes lagi!" Sisil memperingati.


Alvaro mendengus kesal, lalu menggerakkan rahang.


Pria itu terlihat kesal.


"Berapa kali aku harus menjelaskan? aku tidak bisa pelan jika kita sudah melakukannya!" ucapnya pelan, kemudian menyeringai.


"Ta—"


Suara Sisil tercekat saat Al kembali membungkam dengan mulutnya.


"Biarkan aku menyelesaikannya dengan cepat, ... sekarang berteriaklah semau mu!


merintih kencang sesuka mu .. jangan menghentikan aku, kau bisa?"


Sisil mengangguk pelan, sungguh pandangan menusuk mata elang itu membuatnya takut.


Al kembali bergerak, memacunya sesuai ritme, namun semakin lama semakin tak terkendali.


"Get ready Babe, I'll lose control, ... arggh!" ucap Al seraya menahan geraman yang terus keluar dari mulutnya.


"Ohh.. I'm done Babe, faster please!" Sisil ikut berteriak, saat hujaman itu semakin kencang.


Rintihan dan geraman keduanya saling bersahutan. Dan suara itu lenyap, berganti dengan deru nafas yang terdengar tersenggal-senggal.


Setelah puluhan menih berlalu, akhirnya mereka menyelesaikan hasrat yang kian menanjak pada hampir pagi.


"So sorry!" Al mengusap perut Sisil.


"Abang nyeremin kalau lagi kaya gitu, tatapannya kaya mau bunuh aku, tau nggak!" prempuan itu menggerutu.


Dia membenarkan posisi, menyelimuti tubuhnya saat Alvaro melepaskan pautan tubuh mereka dan bangkit.


Alvaro berbaring tepat di samping Sisil, dia menarik prempuan itu, sampai mendekat dan menjadikan lengan sebagai tumpuan kepalanya.


Cup!


Alvaro mencium puncak kepala Sisil.


"Oh tuhan, aku sangat mencintai wanita ini! kenapa kau baru memberikannya sekarang, itupun karena aku hilang kendali."


"Tidur, Abang!"


"Astaga, aku menyayangimu." ungkapnya seraya mengeratkan pelukan.


"Ish, kamu lebay!"


"Kamu terlalu sudah di gapai tau! padahal aku terus berusaha mendekati mu, tapi kamu menghindari aku terus menerus! sampai aku memilih jalan pintas agar bisa mendapat kan kamu, ... eh!" pria itu langsung mengatupkan mulutnya.


Sisil yang masih sadar pun tentu mendengar pernyataan suaminya dengan sangat jelas.


"Jalan pintas?" dia mendongak.


Alvaro diam.


"Jadi, .. Abang tidak mabuk?" tanya Sisil lagi.


"Ma-mabuk kok .. mabuk suwer!" dia berusaha membela diri.


Sisil diam, dia menatap lekat mata suaminya.


"Sayang, jangan marah!" Al menempelkan kening kedunya.


Dia masih membisu.


"Sayang?"


"Kenapa harus dengan cara seperti itu?" Sisil tampak menyesal.


"Karena kamu sangat sulit aku dekati. Aku tidak tau harus bagaimana lagi, jadi maafkan aku ... jangan marah!" pintanya dengan suara lirih.


"Sikap mu memperlihatkan seolah kamu sangat terpukul atas kepergian Bu Dira, ah maksud ku Mika." dia meralat ucapannya.


"Aku memang kehilangan, tapi tidak seperah itu, karena sudah sejak lama prempuan lugu dan polos di hadapan ku ini menyembuhkannya .. aku sudah move on tau! pak David yang terlalu berlebihan, menyangka aku tidak mempunyai pacar karena terus mengingat dia, dan sampailah dimana dia berusaha mendekatkan aku padamu ... gadis polos yang sangat susah ku gapai." dia menyentuh pipi Sisil, mengusapnya dengan punggung tangan dengan sangat lembut.


Sementara Sisil seolah terpaku atas pengakuan pria di hadapannya.


"Jadi kamu jomblo bukan gagal move on? tapi memang sedang berusaha mendekati ku?" Sisil merancau.


Al mengangguk.


"Tapi kamu buta. Malah mengharapkan pria yang bahkan tidak menginginkan mu waktu itu! sementara aku terus menunggu, dan berusaha mendekat, ... ya walau agak susah."


"Kau ingat waktu aku menawarkan eskrim kepada Balqis saat kau mengantarkan undangan? itu adalah salah satu caraku, tapi lagi-lagi gagal."


Wajahnya terasa memanas, jantungnya berdebar lebih kencang lagi. Untung saja keadaan kamar itu gelap, kalau tidak. Alvaro pasti sudah melihat pipi Sisil yang memerah dengan sangat jelas.


"Aku senggan tau sama kamu. Asisten pribadi seorang David Julian masa mau punya pacar kaya aku ... kejauhan, nanti dikatain halu pulak sama orang-orang." kata Sisil, dia tertawa pelan dengan telunjuk tangan yang terus bermain di dada suaminya.


"Jadi dulu kamu suka sama aku, hemm?" hati Al berdebar kencang.


Alvaro tersenyum.


"Tidak, biasa saja." letetuknya polos, sampai membuat senyuman di bibir pria itu memudar.


"Kamu merusak momentum yang bagus!" dia mendegus kesal, dan mencebikan bibirnya.


"Cie yang diam-diam suka, ngambekan banget!" Sisil menarik hidung mancung Al untuk menggodanya.


"Ah aku kesal jika mengingat cinta pertama mu adalah anak bau kencur itu!" Alvaro berujar.


Sisil menepuk bahu suaminya.


"Jangan kesal, harusnya kamu senang. Karena Abang yang membuka segel pabrik, dan merasakan bagaimana indahnya merobek selaput dara!"


"Ya .. itu indah sekali, apalagi teriakan memohon mu itu! Astaga .. aku ingin mengulanginya."


Sisil segera menjauh, bahkan dia hampir bangkit untuk pergi dari sisi pria yang masih terlihat kelaparan. Namun tangan kekar itu sudah lebih dulu meraih pinggangnya dan membuat Sisil kembali terhempas dalam keadaan terlentang.


"Abang nanti Junior ngambek." Sisil menahan tubuh itu, yang kini mulai mengungkungnya kembali.


"Tidak akan, aku Papanya .. mana berani dia marah."


Leguhan Sisil pun terdengar, saat sesuatu kembali menerobos dan memenuhi inti tubuhnya dengan sekali hentakan.


Dan ronde kedua ini hanya ada dalam pikiran kalian ...


...•••••...


~Selamat pagi~


Astogeh .. musim hujan membuat pikiran othor oleng mulu!


Like .. komen .. sama hadiahnya dong .. malak ini!!