
Selalu tekan tombol like ya kakak-kakak reader 🙏
...Happy reading...
...***...
"Apa tidur Pa, coba buka saja," ujar sang istri.
Papa Yulia memegang kenop pintu dan membukanya, tidak terlihat keberadaan Yulia didalam kamar.
"Tidak ada Ma," ujar Darmawan.
"kamar mandi mungkin," ucap Darti, Mama Yulia.
Darti melangkah menuju kamar mandi, dan mengetuk pintunya.
"Yulia! Lia..!" Panggil Mamanya, dibarengi dengan ketukan. Tetapi, tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi.
Darti membuka pintu kamar mandi, dan lagi-lagi keberadaan Yulia tidak ada.
Polisi yang berdiri dibibir pintu kamar, saling pandang.
"Sepertinya, dia kabur." Beritahu polisi wanita kepada rekannya dengan berbisik.
Rekannya tersebut, lalu bergegas menuju rekannya yang lain.
"Pak, Nona Yulia tidak ada didalam kamarnya. Di perkirakan, kedatangan kita sudah membuatnya melarikan diri." Lapor polisi tersebut.
"Apalagi yang ditunggu, cepat cari. Pasti belum jauh.."
Kedua orangtuanya Yulia lari menuju ruang tamu, diikuti oleh polisi wanita.
"Pak, tolong. Jangan apa-apakan putri saya, dia sedang mengandung Pak," ujar Darti, Mama Yulia.
"Kami tidak akan melakukan tindakan keras, jika putri ibu tidak melakukan perlawanan," kata polisi .
Polisi melakukan pencarian disekitar rumah Yulia.
"Pa, bagaimana dengan anak kita? Mama takut, polisi akan menembak Yulia." Darti Mama Yulia terduduk lemas.
"Ma, tidak mungkin polisi menembak putri kita. Yulia, anak itu. Kenapa dia lari? apa dia ada melakukan tindakan kriminal?" tanya Darmawan Papa istrinya.
"Mama tidak tahu Pa, Yulia terus membuat masalah. Entah apa yang ada dalam otaknya," ucap Mama Yulia, sambil memijat keningnya.
Sedangkan, Yulia. Bersembunyi tidak jauh dibelakang rumahnya.
Saat polisi datang, Yulia sedang keluar dari dalam kamar mandi, dan dari jendela kamarnya. Yulia melihat polisi, dan Yulia teringat dengan mimpinya. Dalam mimpinya, Yulia dikejar-kejar polisi.
"Mimpiku menjadi kenyataan, Andi. kau mengadukan aku." gumam Yulia.
"Apa yang harus aku lakukan?" Yulia bersembunyi dibalik tanaman pagar, dibelakang rumahnya.
"Apa aku hubungi Yudha? ah.. tidak boleh! dia akan melaporkan ku, dan kemudian. Dia pasti akan menceraikan ku, karena dia tahu. Aku telah berani mengusik kehidupan kekasihnya."
Yulia merasa ada yang bergerak di atas kepalanya, saat kepalanya mendongak. Yulia melihat, ular warna hijau kecil panjang menggantung didepan wajahnya.
"Aaarhg...!" pekik Yulia sembari keluar dari persembunyiannya dan berlari menuju depan rumahnya.
"Tolong! ada ular..!" teriak Yulia.
Polisi yang masih ada berjaga di rumah Yulia, tersentak. Mereka berlari menuju halaman belakang, dan dipertengahan, mereka bertemu dengan Yulia yang berteriak minta tolong.
"Tolong..! tolong! ada ular.." pada ujung kalimat, suara Yulia pelan. Karena melihat polisi tepat berada didepannya.
Langkah Yulia terhenti.
"Ular sialan! gara-garanya, aku ketahuan." dalam benak Yulia.
"Nona, menyerah. Jangan melakukan hal-hal yang akan merugikan anda sendiri, nantinya," ucap polisi sembari melangkah mendekati Yulia yang berdiri terpaku.
"Saya tidak bersalah Pak, kenapa bapak ingin menangkap saya?" Yulia berkilah, bahwa dia tidak ada melakukan kesalahan yang melanggar hukum.
"Ma..! Pa..!" panggil Yulia, saat melihat kedua orangtuanya datang berlari tergopoh-gopoh menuju tempatnya.
"Lia! apa yang kau lakukan? sehingga polisi mencarimu..?" tanya Mama Yulia dengan air mata sudah mengucur deras dikedua belah bola matanya.
"Yulia tidak melakukan apapun! polisi salah orang, Pa. Percayalah..!" mohon Yulia dengan berlinang air mata, seperti sang Mama.
Darmawan bergeming, dia terpaku didepan Yulia. Sorot matanya terlihat sangat kecewa terhadap putrinya satu-satunya tersebut.
"Pak, kami akan membawa Yulia kekantor." beritahu polisi pada Darmawan, Papa Yulia.
Darmawan, hanya menganggukkan kepalanya. Lidahnya kelu, mulutnya berat untuk mengucapkan kata-kata.
Polisi membawa Yulia, tetapi Yulia tidak mau bergerak dari tempat dia berdiri.
"Tidak..! aku tidak mau..! aku tidak bersalah! Papa..!" pekik Yulia dengan suara yang keras.
"Mama! tolong Yulia..!" kali ini, Yulia minta pertolongan Mamanya.
"Tolong, Pak. Jangan bawa anak saya." mohon Mama Yulia.
"Maaf Bu, putri anda akan kami bawa ke kantor polisi. Untuk di mintai keterangannya," kata polisi.
Setelah tidak berhasil memohon kepada polisi, Darti melihat kearah sang suami.
"Pa, bicaralah! kenapa Papa diam saja, anak kita di bawa polisi. Pa..!" seru Darti, dengan menggoncang lengan sang suami yang masih terpaku ditempatnya.
Matanya hanya melihat Yulia, yang sudah dibawa polisi, dengan memegang kedua tangannya. Dua polisi terpaksa menarik Yulia, karena Yulia meronta dan menendang polisi yang memeganginya.
Di depan rumah Yulia, sudah terdengar suara orang yang menonton pertunjukan drama yang dilakoni oleh Yulia. Teriakan Yulia dan beberapa polisi yang berada di rumahnya , mengundang para tetangga melihat. Dan kedatangan Pak RT, semakin orang lewat dan tetangga berkerumun di depan rumah Yulia.
"Kenapa kalian berkumpul di sini? bubar sana..!" perintah Pak RT.
"Bapak nyuruh kami bubar, bapak sendiri di sini nonton." celetuk salah satu sumber suara, yang tidak diketahui asal mulutnya.
Pak RT sontak memutar badannya, untuk mencari mulut siapa yang berkata. Tetapi, semua orang yang berkumpul. Pura-pura tidak ngeh dengan asal suara.
"Mulut siapa itu tadi?" tanya Pak RT, kepada warganya yang sebagian dikenalnya. Dan ada yang bukan warganya, dan tidak dikenalinya.
"Mulut burung Pak, hanya melintas," jawab seorang ibu yang berdiri didepan Pak RT.
"Saya di sini, karena di panggil oleh bapak polisi. Bukan mau nonton, kalian ini. Yang nonton, seperti mau nonton layar tancap saja. Ini lagi, nonton bawa piring," ucap Pak RT pada warganya yang datang dengan membawa piring.
"Tadi saya lagi sarapan Pak, saya lihat banyak orang berlari dari depan rumah. Saya ikut juga, lupa Pak. Piring saya bawa juga." tutur warga yang membawa piring tersebut.
"Pulang sana, nanti istrinya kehilangan piring. Bukan kehilangan suami, piring yang di cariin." gurau Pak RT.
Orang-orang yang mendengar gurauan Pak RT tertawa.
Tertawaan mereka terhenti, saat melihat. Yulia digiring polisi, untuk dimasukkan kedalam mobil polisi.
"Nona sombong.." teriak seorang ibu, menyebutkan Yulia sebagai Nona sombong. Karena, tidak pernah bergaul dengan para tetangga.
Yulia yang tadinya ingin masuk kedalam mobil polisi, berhenti. Yulia memalingkan wajahnya, menatap wanita yang menyebutnya 'Nona sombong'.
"Lepas! aku akan memberi pelajaran pada wanita gendut itu..!" Yulia menghentakkan tangan polisi yang memeganginya.
"Nona, jaga tingkah laku anda. Jangan sampai tuntutan yang akan anda terima akan semakin banyak.." ingatkan polisi wanita yang memeganginya.
Yulia berhenti meronta, matanya melototi orang orang yang menatapnya dengan tertawa, dan ada yang mencibir padanya.
"Awas kalian! aku akan mengingat wajah-wajah kalian semua..!" ancam Yulia, sebelum masuk kedalam mobil polisi.
Akhirnya, atas batuan ular daun. Polisi berhasil menangkap Yulia, dan membawa Yulia ke rumah sakit terlebih dahulu. Polisi membawa Yulia untuk memeriksakan kehamilannya di rumah sakit polisi.
Papa dan Mama Yulia tidak melihat, Yulia dibawa pergi, kedua menangis berpelukan.
......***......
To be continued