
TEKAN LIKE YA KAKAK-KAKAK READER 🙏
...***...
...HAPPY READING...
Dengan bergandengan tangan, Jeanny dan Lisa keluar dari dalam kamar.
"Let's go..!" seru Jeanny.
"Oke Mama, let's go," jawab Lisa dengan gembira.
Bi Anah yang melihat anak asuhnya dan Mama barunya turun dari lantai atas juga tersenyum, karena baru kali ini dia melihat wajah Lisa benar-benar gembira.
"Bi, kami mau pergi. Bibi, di rumah saja ya," ucap Jeanny pada Bi Anah.
"Baik Non.., Eh.. Nyonya, maksud saya." Bi Anah meralat panggilannya pada Jeanny.
"Tidak apa-apa Bi, terserah Bi Anah saja. Mau manggil saya, dengan panggilan apa. Asal jangan panggil Mas saja," ucap Jeanny dengan bergurau.
"Mas cantik ." balas Bi Anah.
"Kami pergi ya Bi." pamit Jeanny.
"Da..da da.. Bi." Lisa melambaikan tangannya.
"Iya, Nyah. Non Lisa, pergi dengan Mama jangan nakal ya." nasihat Bi Anah pada Lisa.
"Lisa nggak pernah nakal," ucap Lisa.
"Lisa, anak baik ya." puji Jeanny.
Lisa menganggukkan kepalanya.
Keduanya keluar dari dalam rumah, menuju pintu gerbang utama.
Ketika, pintu gerbang terbuka. Jeanny kaget, karena didepan pintu gerbang berdiri empat pria yang berbadan kekar dan wajah sangar.
Jeanny menarik Lisa kebelakang tubuhnya.
"Siapa kalian? jangan macam-macam, aku bisa menghancurkan tubuh kalian dengan sekali tendang." ancam Jeanny.
"Tenang nyonya, kami bukan orang jahat. Kami ditugaskan oleh Tuan Agra, untuk menjaga keluarganya," ujar pria yang berada tepat didepan Jeanny.
Jeanny kembali masuk kedalam rumah, dan menutup pintu gerbang kembali.
"Bi.. Bi Anah!" panggil Jeanny dengan berteriak.
Sehingga, Bi Anah datang dengan berjalan cepat, dan diikuti oleh BI Ain dibelakangnya.
"Ada apa Nyah?" tanya Bi Anah.
"Didepan gerbang ada beberapa orang pria, yang sangat sangar. Dan mereka mengatakan disuruh Agra untuk berjaga-jaga di rumah, apa Agra ada beri pesan kepada Bi Anah atau kepada Bi Ain?" tanya Jeanny.
"Tidak ada, Den Agra tidak ada mengatakan apapun." Bi Ain yang menjawab.
"Sama, saya juga tidak ada diberitahukan oleh Den Agra."
"Mungkin, Den Agra mengatakan pada Pak Madin. Biar saya tanya pada Pak Madin." Bi Ain bergegas menuju halaman samping, dan tak lama kemudian kembali bersama Pak Madin yang bertugas tukang kebun.
"Katakan pada Nyonya Jeanny, Pak Madin." titah Bi Ain.
"Semalam, sebelum pergi. Tuan Agra beritahu saya, bahwa. Mulai hari ini penjagaan di rumah diperketat, itu kata Tuan Agra," kata Pak Madin.
"Pagi tadi, beberapa pria sudah nongkrong didepan rumah." sambung Pak Madin.
"Penjagaan diperketat, seperti mau perang saja. Orangnya pada seram wajahnya." celetuk Jeanny kesal.
"Ain, ayo kita lihat." Bi Anah menarik tangan Bi Ain, dia penasaran dengan para bodyguard yang berada didepan rumah majikannya.
Keduanya mengintai dari pintu kecil yang ada disebelah gerbang utama.
"Hih..serem!" Bi Anah bergidik, melihat beberapa pria tinggi besar dan ada tatto ditangannya. Semua memakai baju hitam.
"Kenapa Den Agra mengambil penjaga tampangnya menyeramkan begitu?" tanya Bi Ain pada Bi Anah.
"Untuk nakut-nakutin penjahat, tampang seram seperti itu yang dibutuhkan," jawab Bi Anah.
"Betul juga," sahut Bi Ain.
Keduanya kembali mendekati Jeanny dan Lisa yang sedang duduk di bangku taman.
"Tidak ada, yang ada hanya pria kekar dan sangat," jawab Bi Anah.
"Nyah, Den Agra juga bilang. Nyonya dan Non Lisa jika ingin pergi, harus memakai sopir. Tidak boleh bawa mobil sendiri." Pak Madin menyampaikan pesan Agra kembali, yang membuat Jeanny kesal.
"Apa!? aku harus bersama dengan pria-pria seram itu didalam satu mobil? Oh..no!" seru Jeanny dengan mata bulat.
"Dan satu lagi, ini pada Pak Madin. Bi Anah dan Bi Ain, tolong. Jangan panggil saya Nyonya, saya masih muda. Jika di panggil nyonya, saya merasa sudah seperti Oma."
Ketiganya saling bertukar pandangan, bingung dengan permintaan Jeanny.
"Tapi, nanti Den Agra marah," ujar Pak Madin.
"Jangan takut! saya juga lagi mau marah besar ini, bisa-bisanya dia membuat kebijakan seperti ini. Tanpa mengadakan perundingan lebih dahulu..!" seru Jeanny dengan suara yang menggebu-gebu, seraya berkacak pinggang menatap gerbang utama.
Ketiga pelayan bingung dengan apa yang dikatakan oleh Jeanny.
"Seharusnya, Agra itu mengadakan rapat keluarga. Jangan mengambil keputusan sendiri! ini namanya arogan! Tidak boleh dibiarkan, aku harus melakukan pemberontakan..!" Jeanny kembali mengeluarkan uneg-uneg yang ada didalam pikirannya.
"Pak Madin, bilang pada penjaga itu. Saya ingin kekantor Agra." titah Jeanny pada Pak Madin.
"Kantor Den Agra, saya tidak tahu kantor Den Agra," ucap Pak Madin.
"Saya tidak nyuruh bapak mengantar, panggil bodyguard Pak. Mereka pasti tahu kantor si Agar-agar itu."
"Hehehe..! baik Nyah." Pak Madin tertawa, dan berlari menuju pintu gerbang untuk memanggil bodyguard yang akan membawa Jeanny kekantor Agra.
Bi Anah dan Bi Ain tertawa dalam hati, mendengar Jeanny mempelesetkan nama Agra.
"Oh ya Bi, jangan panggil Nyonya ya. Saya akan potong sepuluh ribu, dari gaji bibik dan Pak Madin, setiap bibik dan Pak Madin manggil saya Nyonya," kata Jeanny.
"Lah.. Nyonya," ujar Bi Anah.
"Sepuluh ribu," ujar Jeanny dengan tertawa.
"Bangkrut bibik kalau begini." gumam Bi Anah.
"Makanya, panggil seperti semula saja. Biasakan panggil Jean saja, tidak usah pakai embel-embel Nyonya. Saya merasa seperti Nyonya meneer." tawa kecil menghiasi bibir Jeanny.
"Non Jean.. Non Jean.." Bi Anah dan Bi Ain mengucapkan nama Jeanny berulang kali, agar tidak mulutnya tidak salah sebut lagi.
***
Dalam mobil menuju kantor Agra.
"Lisa, kita kekantor Papa dulu ya," kata Jeanny.
"Hore..!" teriak Lisa seraya bertepuk tangan, dengan gembira.
"Lisa suka, kita kekantor Papa?" tanya Jeanny.
"Suka, Lisa ingin lihat kantor Papa. Tapi, Papa tidak izinkan. Dulu, Lisa suka ikut kekantor Papa. Waktu masih tinggal di Belanda," ucap Lisa.
"Bagaimana, suka tinggal di Belanda atau di sini?" tanya Jeanny.
"Di sini, kalau di sana. Lisa lebih sering berdua saja dengan Bi Anah, Lisa bosan. Tidak ada teman."
"Di sekolah ada teman kan?"
"Hanya di sekolah, itu juga tidak banyak. Tidak seperti di sini." cerita Lisa.
"Di sini ada Oma, Obut, Opa dan sekarang. Ada Mama..!" Lisa menjatuhkan kepalanya dipangkuan Jeanny.
"Papa tidak disebutkan?" tanya Jeanny, karena Agra tidak disebutkan oleh Lisa.
"Hehehe.. lupa." tawa Lisa.
"Pak, apa masih jauh kantornya?" tanya Jeanny, karena sudah hampir satu jam. Mobil belum sampai kekantor Agra.
"Sebenarnya dekat nyonya, tapi. Tadi saya memutar-mutar dulu, karena saya merasa ada.." bodyguard yang merangkap sebagai sopir, tidak melanjutkan perkataannya. Dia melirik Jeanny melalui kaca spion mobil.
Jeanny tahu apa yang ingin dikatakan oleh sang bodyguard, kepalanya langsung menoleh kearah belakang. Untuk melihat apa yang dikatakan oleh sang bodyguard.
"Sekarang, mereka sudah tidak mengikuti kita lagi, Nyonya," ucap bodyguard.
"Kenapa menegangkan begini." gumam Jeanny.
...***...
To be continued