My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


Benny tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Agra.


"Lisa putriku! dia harus tahu, aku orang ayah kandungnya," ujar Benny.


"Benny, apa kau tidak bisa berpikir sedikitpun demi kepentingan Lisa. Anak itu masih kecil Ben, dia tidak akan mengerti. Jika tiba-tiba dia tidak tinggal bersama dengan keluarganya yang sekarang, tiba-tiba dia harus memanggil orang yang masih asing sebagai Papa! pikirkan itu, kau jangan egois. Sudah bagus Tuan Agra mau mengizinkan kau untuk bertemu dengan Lisa." tutur Erica.


"Tapi aku ingin dipanggil Papa juga, Lisa anakku," ucap Benny.


"Tidak dipungkiri, Lisa anakmu. Ben, darah dagingmu. Tapi, dia masih kecil. Dia belum mengerti, kenapa dia harus memanggilmu Papa. Bersabarlah, ada waktunya. Dia akan memanggilmu Papa."


Benny diam, dia mencoba memahami apa yang dikatakan oleh Erica.


"Apa aku akan mendapatkan kesempatan itu, suatu saat dia akan memanggilku Papa?" suara Benny lirih terdengar.


"Pasti, tunggu dia mengerti. Tuan Barend pasti mengizinkan Lisa untuk memanggilmu Papa, bersabarlah," kata Erica.


*


*


Benny duduk dengan tidak tenang, hari ini. Dia akan bertemu dengan Lisa untuk pertama sekalinya, dulu. Saat dia sering bertemu dengan Malika, Lisa tidak pernah dibawa oleh Malika. Mungkin, Malika takut. Benny mengenali Lisa sebagai darah dagingnya.


"Ca, apa aku sudah rapi?" Benny berdiri didepan Erica yang sibuk dengan gadgetnya.


Erica tidak mendengar apa yang ditanyakan oleh Benny.


"Ca.." Benny menarik gadget dari tangan Erica.


"Ben, apa-apaan kau ini. Aku sudah mau menang tadi..!" seru Erica kesal, yang sedang asik main game di gadgetnya.


"Game itu bisa nanti, lihat dulu aku. Apa bajuku bagus, sudah rapi? apa nanti Lisa nanti suka melihatku?" pertanyaan beruntun meluncur dari dalam mulut Benny


Erica menggelengkan kepalanya, menatap Benny yang sibuk membenahi bajunya. Lengannya digulung, lalu. Benny merasa kurang bagus, gulungan lengan bajunya dilepaskannya kembali.


"Ben, kau itu mau bertemu dengan anak berumur 5 tahun. Bukan ingin bertemu dengan gadis, kau ini seperti ingin mengajak kencan anak gadis orang saja." ledek Erica


"Ben, lihat. Mereka datang," ujar Erica.


"Mana?" Benny langsung berdiri dan menatap ke arah pintu masuk restoran. Wajahnya terlihat gugup.


"Hahaha..!" Erica cekikikan, karena menipu Benny.


"Erica! kau menipuku..!" Benny sadar, telah di tipu Erica.


"Biar kau tidak gugup, Ben. Santai, rileks," kata Erica.


"Sialan..!" umpat Benny sambil duduk kembali, dan memunggungi Erica yang menertawakannya.


"Aku gugup, dia mengerjai aku." dumel Benny.


"Ben, mereka datang," ujar Erica.


"Sudah, Ca. Jangan kau tipu aku terus, aku kirim kau kembali ke Belanda." umpat Benny dengan kesal.


"Ben.." ujar Erica lagi.


"Kau tipu aku lagi, dengan mengatakan mereka datang. Awas kau, Ca. Aku tidak akan mau berteman denganmu lagi," ucap Benny dengan ketus.


"Om..!"


Degh...


Suara kecil yang memanggilnya Om, membuat jantung Benny seakan ingin berhenti berdetak. Sontak Benny berdiri dan memutar badannya dengan cepat.


Mata Benny melebar, saat melihat gadis kecil tersenyum kearahnya.


"Aku tidak bohong, kan," ujar Erica.


"Apa kabar Tuan Benny?" sapa Jeanny, sedangkan Agra hanya diam. Matanya menatap ke arah Benny, lalu beralih kearah gadis kecilnya. Lisa.


To be continued