My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Mencari



Happy reading 😍


...🌹🌹🌹...


Agra marah, karena hanya gambar punggung seorang wanita yang terlihat.


"Damn..!" Umpat Agra kesal, karena rupa wanita tersebut tidak terlihat sama sekali.


"Siapa wanita ini?" gumam Agra, keningnya berkerut.


"Kau tidak ada petunjuk, siapa orang yang menaruh dendam dengan keluarga Barend. Apa musuh Om, Tante atau mungkin Oma Gracia?" tanya Michael.


"Otakku buntu, aku tidak ada petunjuk apapun juga," ucap Agra.


"Apa kau tidak tahu, wanita ini seorang wanita tua atau wanita muda?" tanya Albert pada Amir.


"Dari nada bicara orang itu, sepertinya. Orang itu wanita yang setengah tua, tapi saya tidak bisa menebak usia wanita itu. Dia memakai kacamata, sehingga saya tidak bisa melihat matanya," kata Amir.


"Apa dia tidak mengatakan, kenapa dia dendam dengan keluarga Barend?" tanya Agra.


"Saya pernah sekali menanyakannya Tuan, tapi dia tidak mau menjawab pertanyaan saya. Dia mengatakan saya tidak perlu tahu, saya cukup mengikuti apa yang diperintahkan olehnya," kata Amir.


"Berapa nominal yang dibayarnya kepadamu?" tanya Michael.


"Sekali melakukan apa yang diperintahkan, saya dibayar 10jt Tuan," jawab Amir.


"Tuan, bisakah penutup mata saya dibuka?" tanya Amir.


"Jika kau tidak ingin hidup lagi, kami akan membuka penutup mata itu. Bagaimana? apa kau sudah bosan hidup," kata Albert.


Amir terdiam, dia menunduk.


"10k, pantas kau meninggalkan pekerjaanmu sebagai petugas keamanan. Bayaran yang cukup menggiurkan, sehingga kau mau melakukan kejahatan," kata Michael.


"Sudah berapa kali kau melakukan apa yang diperintahkan oleh wanita itu?" tanya Agra.


"Baru sekali itu Tuan, dan Senin depan lagi. Tapi, dia belum mengatakan apa yang harus saya lakukan," kata Amir.


"Bagaimana dia jika ingin menemui mu?" tanya Albert.


"Dia yang mendatangi saya," jawab Amir.


Ketempat kerja?" tanya Agra.


"Iya Tuan, saya kan bertugas sebagai petugas keamanan di pintu gerbang utama."


Ponsel Agra bergetar didalam saku jaketnya, Agra memberikan ponsel Amir yang dipegangnya kepada Albert. Dan Agra menjauh untuk menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya.


"Mama." gumam Agra, saat melihat nama orang yang menghubunginya.


"Ya, Ma," jawab Agra.


..."Lisa sakit." beritahu Alma....


"Sakit apa Ma?" dari nada suara Agra, terdengar Agra cemas. Mendapatkan kabar, putrinya sakit.


"Flu dan radang tenggorokan, menurut dokter tidak apa-apa. Jangan khawatir," kata Mamanya, Alma.


"Agra akan segera balik," ucap Agra.


"Jika masih disibukan dengan pekerjaan, tidak perlu pulang. Lisa juga tidak apa-apa menurut dokter," kata Alma pada putranya, Agra Barend.


"Agra segera balik, pekerjaan Agra sudah selesai di sini." lalu kemudian memutuskan sambungan teleponnya dengan Mamanya. Alma.


Agra berjalan dengan langkah lebar, kembali ketempat Michael dan Albert berada.


"Aku harus balik," ujar Agra begitu tiba didekat kedua temannya.


"Kenapa?" tanya Michael, saat melihat wajah Agra terlihat cemas.


"Lisa sakit," jawab Agra.


"Aku balik, kalian saja yang menanyai orang itu," ucap Agra dengan suara yang pelan, karena takut. Amir mengetahui siapa dia sebenarnya.


"Lalu, kita apakan orang itu?" tanya Michael.


"Kita biarkan dia bebas, tapi. Kita tetap harus memantaunya, besar kemungkinannya. Mereka akan bertemu lagi," kata Albert.


"Apa mungkin wanita itu akan menemuinya? bisa jadi, wanita itu sudah mengetahui bahwa orang suruhannya sudah tertangkap oleh kita," kata Michael.


"Kita sudah sangat hati-hati, wanita itu tidak akan tahu," kata Albert.


Albert memerintahkan anak buahnya untuk membawa Amir pergi. Dan terus mengawasinya.


"Kalian tetap awasi orang itu, mungkin dia akan bertemu dengan orang yang membayarnya," kata Albert kepada anak buahnya.


"Orang itu terselamatkan, karena kita masih membutuhkannya. Kalau kita tidak membutuhkannya tadi, aku ingin melemparkan orang itu kedalam kandang buaya," kata Michael.


"Aku belum puas dengan apa yang dikatakannya, sepertinya. Dia ada merahasiakan sesuatu yang penting," kata Albert.


"Aku kira kau akan menghabisinya setelah tidak membutuhkannya lagi, tampang mu untuk menjadi seorang pembunuh ada," ledek Michael.


Albert dan Michael saling ledek, sedangkan Agra hanya diam. Pikirannya terfokus dengan keadaan putrinya yang sedang sakit.


"Agra, tenanglah. Lisa tidak akan apa-apa, bukannya ada Tante dan Omanya yang berada disisinya," kata Michael, karena Agra terus diam dan memandangi ponselnya.


"Walaupun ada Mama dan Oma, aku tetap mencemaskannya."


"Lisa tidak pernah sakit, sejak ditinggal Malika. Baru ini dia sakit." sambung Agra.


"Dia sudah mulai sekolah, mungkin saja ada teman-teman sekelasnya yang sakit. Virus itu cepat menyebar," kata Albert.


"Apa anak buahmu tetap kau suruh untuk mengawasi Amir?" tanya Agra.


"iya, aku tidak terlalu mempercayai apa yang dikatakannya tadi. Mungkin saja dia berbohong, semoga dia menemui wanita yang dikatakannya itu," kata Albert.


🌹🌹


Di rumah sakit, Alma baru saja berhasil bicara dengan Abraham. Sang suami.


"Agra bagaimana?" tanya Mama mertuanya.


"Baru berhasil Alma hubungi Ma," kata Alma.


"Apa dia bisa kembali?" tanya Gracia.


"Agra katakan, akan kembali secepatnya.  Alma sudah bilang, bahwa. Lisa tidak apa-apa, hanya demam karena radang tenggorokan. tapi Agra tetap ingin kembali," kata Alma.


"Mungkin Agra tidak tenang, jika tidak melihatnya sendiri kondisi Lisa. biarlah," kata Gracia.


"Apa Mama besok jadi kesekolah untuk menemui Jeanny?" tanya Alma.


"Jadilah, Mama ingin tanyakan. Kenapa dia tidak menjadi guru Lisa lagi? apa karena kebijakan sekolah, atau ada hal lain," ucap Gracia, Mama mertua Alma.


"Semoga karena kebijakan sekolah ya ma, tapi kenapa tiba-tiba. Ma, apa waktu Agra mengantarkan Jeanny pulang, terjadi sesuatu antara mereka berdua? waktu itu Agra kan menolak untuk mengantarkan Jeanny pulang. Tapi, karena ancaman Mama baru dia menyanggupi untuk mengantar Jeanny pulang."


"Apa Agra marah dengan Jeanny, hingga membuat Jeanny tidak ingin dekat dengan Lisa," kata Gracia.


"Itu yang Alma pikiran Ma, mungkin Jeanny marah dengan Agra." timpal Alma.


"Apa Agra tahu, kita ingin menjodohkan dia dengan Jeanny?" Gracia menatap wajah Alma.


"Sudah pasti Ma, sejak dia sendiri lagi. Kita sudah mengenalkan dia dengan beberapa wanita, dia pasti tahu. Sebelum kita mengatakannya," kata Alma.


"Agra..! jika ini semua adalah akibat perbuatanmu, aku tidak akan tinggal diam," ucap Gracia dengan geram.


"Ma, apa yang kita kira mungkin saja tidak. Mama jangan marah dulu, saat Agra tiba nanti." ingatkan Alma pada Mama mertuanya, yang terlihat dari raut wajahnya yang marah.


"Pasti betul, anak itu tidak bisa menjaga kata dan wajahnya. Pasti dia menunjukkan raut wajah tidak sukanya pada Jeanny, atau mungkin saja dia mengatakan kata-kata yang membuat Jeanny tidak ingin terlalu dekat dengan Lisa." Gracia ngedumel panjang lebar.


Pintu terbuka dari luar dengan kedatangan Abraham Barend yang membuat mulut Gracia berhenti berkata-kata.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung...