
...Happy reading...
...***...
'Kena penyakit kulit, bawa ke dokter kulit. Gitu saja repot, apa gunanya dokter spesialis kulit." balas Jeanny.
"Mulai membantah suami ya." Agra menggelitik perut Jeanny, sehingga Jeanny tertawa kegelian.
"Sedikit membantah, tidak apa-apa kan." Jeanny mencebikkan bibirnya.
"Bang, Jean boleh kerja lagi kan?"
"Kerja, jadi guru TK?" tanya Agra.
"Iya, jadi guru TK. Jadi guru TK itu sangat mengasyikkan Bang, melihat tingkah lucu anak-anak kecil membuat hari-hari kita penuh warna," kata Jeanny dengan mata yang berbinar, saat menceritakan keseharian bersama dengan anak-anak.
"Apa begitu bahagianya, bersama dengan anak-anak kecil? mereka pasti sering menangis kan?" tanya Agra.
"Iya, ada yang menangis setiap sampai di sekolah. Ada yang sampai sekolah, buang air besar. Tapi, suka saja. Kumpul dengan anak-anak kecil sangat mengasyikkan, Bang. bolehkan, untuk mengajar lagi?"
"Berapa gaji ngajar TK?" tanya Agra.
"Abang tanya gaji guru TK, gaji tidak seberapa. Lebih besar lagi gaji cleaning servis di kantor," jawab Jeanny.
"Terus, untuk apa menjadi guru TK? jika gajinya tidak seberapa, buat capek saja," kata Agra.
"Bang, Jean suka kerja yang berhubungan dengan anak kecil."
"Nanti, Abang pikirkan. Sekarang, tidur. Besok kita berangkat lebih pagi, karena ada bertemu klien pagi-pagi," kata Agra.
"Jean ikut lagi ke kantor?" tanya Jeanny.
"Iya, temani suami kerja," kata Agra.
"Ahh..malas! bosan..!" seru Jeanny.
"Temani suami kerja, membuat suami semangat mencari uang," kata Agra.
"Bang, Jean ada proyek ini. Tapi, proyek ini tidak menguntungkan," kata Jean.
"Proyek tidak menguntungkan, untuk apa dilakukan? proyek itu harus menguntungkan," kata Agra.
"Ini proyek amal Bang, boleh ya. Kalau proyek ini dilakukan, Jean mau ikut kekantor setiap hari."
"Proyek apa?" tanya Agra.
Jeanny menceritakan, apa yang dilihatnya di kantin perusahaan. Banyak pegawai yang membawa anak ketempat kerja, dan menitipkannya ke kantin.
'Mereka menitipkan anaknya ke kantin! apa mereka tidak berpikir, jika terjadi kecelakaan. Perusahaan yang akan menanggung kerugian, ini tidak bisa dibiarkan. Pengelola kantin harus di copot..!"
"Abang, jangan main pecat saja. Memang, apa yang pengelola kantin lakukan sangat berbahaya. Tapi, dia tidak pilihan lain. Para pekerja juga sangat membutuhkan bantuan, karena tidak ada yang menjaga anak mereka pada saat mereka sedang bekerja." tutur Jeanny.
"Pilih salah satu, jaga anak di rumah atau bekerja," kata Agra.
"Bang, mungkin saja. Mereka singel parents, atau juga. Keduanya sama-sama bekerja."
"Ok, jadinya Jean mau Abang buat apa?" tanya Agra.
"Bagaimana, jika Abang buat satu tempat khusus. Untuk para karyawan yang membawa anaknya kekantor," kata Jeanny.
"Satu tempat, gratis ?" tanya Agra.
"Jika mereka mau bayar, Alhamdulillah. Kalau pun gratis, Abang tidak akan jatuh miskin," kata Jeanny.
"Siapa yang akan menjaga anak-anak itu nantinya, tidak mungkin kan. Anak itu dibiarkan sendirian," kata Agra.
"Serahkan pada ahlinya, jadinya. Jean ikut Abang kekantor, ada kesibukan." Jeanny menunjuk kearah dirinya.
"Baiklah, besok Abang akan suruh Jerry mencari satu ruangan yang kosong. Yang bisa digunakan untuk tempat penitipan anak."
"Terima kasih..!"
Cup..
Jeanny mendaratkan kecupan di pipi Agra, karena gembira.
"Hanya pipi?" protes Agra, karena Jeanny hanya mencium pipinya saja.
"Abang mau yang mana lagi?"
"Ini." Agra memonyongkan bibirnya kearah Jeanny, minta di cium.
"Baiklah..!"
Muachhh...
Jeanny mengecup bibir Agra sekilas.
"Abang ini, protes saja. Tidur, Jean ngantuk." Jeanny merebahkan tubuhnya, dan memunggungi Agra.
"Hei! tidak boleh membelakangi suami." Agra membalikkan badan Jeanny menghadapnya.
"Mau tidur saja ribet..!"
"Biar tidak ribet, kasih jatah malam ini."
Tanpa menunggu penolakan dari Jeanny, Agra langsung menindih tubuh Jeanny dan menyatukan kedua bibir. Jeanny tidak sempat berkata untuk melakukan penolakan, karena Agra langsung melu-mat bibir Jeanny. Dan tangan Agra sudah merayap meraba apa yang bisa dirabanya.
Bibir main di atas, sedangkan tangan Agra bermain di bawah. Jemarinya sangat terampil meloloskan baju tidur yang melekat ditubuhnya Jeanny, sehingga keduanya sudah polos.
Dan apa yang seharusnya terjadi, terjadi lagi. Dua anak manusia bergumul dalam gairah yang menggebu-gebu, cucuran keringat saling bercampur. Keduanya saling berbagi saliva, saat lidah Agra mengabsen gigi Jeanny dan menyapu rongga mulut Jeanny.
"Sayang, I love you." bisik Agra, saat keduanya sudah tepar dalam keadaan lemah. Setelah selesai mengarungi lautan gairah cinta. Tubuh Agra masih berada di atas tubuh Jeanny.
Mata Jeanny sontak terbuka lebar, saat mendengar kalimat keramat menurut Jeanny.
"Abang, apa Abang sadar dengan apa yang Abang katakan tadi?" tanya Jeanny, yang tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Agra. Mengenai pernyataan cinta yang keluar dari mulut sang suami.
Agra mengangkat kepalanya yang berada didekat telinga Jeanny.
"Apa?" tanya Agra.
"Abang bilang cinta? apa Abang sadar, apa itu Abang ucapkan untuk Jean ? Abang bukan membayangkan Malika, istri pertama Abang kan?" tanya Jeanny.
Agra menangkup wajah Jeanny, dan menatap mata Jeanny dengan lekat.
"Aku mencintaimu, kata itu untukmu nyonya Barend. Mungkin, orang akan mengatakan. Aku sebagai pria yang tidak setia, karena terlalu cepat jatuh cinta padamu. Tapi, hati ini tidak bisa berbohong lagi. Aku benar-benar jatuh cinta pada Jeanny Anastasya, seorang guru TK yang suka semaunya. Yang keras kepala." tutur Agra seraya menatap wajah Jeanny dengan lekat.
Jeanny hanya terdiam, dia tidak tahu apa yang ingin dikatakannya.
"Abang akan menunggu, sampai Jeanny membuka hati untuk Abang. Abang tidak akan bosan menunggu, sampai hari itu tiba. Sekarang, tidur." Agra mencium kening Jeanny dan kemudian, merengkuh tubuh Jeanny kedalam pelukannya.
"
"
Benny duduk di apartemennya dengan perasaan kesal, karena. Erica, datang mengikutinya sampai ke Indonesia.
"Kau, pulanglah. Untuk apa kau mengikutimu."
"Aku mengikutimu, untuk mencegah kau melakukan kesalahan," ujar Erica.
"Kesalahan? Kesalahan apa?" Benny menatap Ryan Abdul dengan tatapan mata yang tajam.
"Ryan tidak salah, aku yang mendesaknya untuk mengatakan padaku. Kenapa, kau tergesa-gesa kembali ke Indonesia."
"Kalau kau sudah tahu, apa yang mau aku lakukan pulang ke Indonesia. Sekarang, pergilah. Aku tidak ingin kau ikut campur dengan apa yang akan aku lakukan." Benny mengusir Erica.
"Ben, kau harus pikirkan matang-matang. Apa yang ingin kau lakukan, jangan kau nanti membuat psikis anak itu terganggu. Jika kau sayang dengan putrimu, biarkan dia dengan orang yang telah merawatnya dari kecil. Yang dianggapnya sebagai Papa kandungannya."
"Tapi aku Papa kandungannya..!" Benny marah mendengar apa yang dikatakan oleh Erica.
"Kau Papa biologisnya, tidak dapat dipungkiri. Tapi, dia tidak mengenalmu Ben. Dia masih 5 tahun, apa kau mau merenggutnya dari keluarga yang dikenalnya. Itu sangat kejam Ben..!" seru Erica.
"Cukup! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi." Benny meraih kruk untuk menopang dia berjalan, lalu kemudian melangkah menuju kamar. Meninggalkan Erica.
"Maaf Ryan, gara-gara aku. Kau kena marah Benny," kata Erica.
"Tidak apa-apa Nona Erica, kita harus menyadarkan Tuan. Agar tidak melakukan kesalahan," ucap Benny.
"Kapan Benny akan menemui putrinya?" Tanya Erica.
"Besok Nona," jawab Ryan Abdul.
"Ryan, di mana Benny akan menemui putrinya?" Tanya Erica.
"Di kantor Nona, Tuan akan menemui Agra Barend terlebih dahulu.
"Semoga, Benny mengurungkan niatnya untuk mengambil putrinya tersebut. Wanita itu membuat kacau kehidupan Benny, apa hebatnya wanita itu. Sehingga, membuat dua pria bertekuk lutut di bawah kendalinya." Tutur Erica.
"Cinta, jika sudah dibutakan oleh cinta. Pria melupakan pengkhianatan," jawab Ryan.
"Baiklah, Ryan. Aku pulang, kau jaga pria bodoh itu. Jangan sampai dia bertindak bodoh."
"Apa Nona, tidak tinggal di sini?" tanya Ryan.
"Apa kau lupa, aku punya keluarga di sini. Jika sampai Mama ku tahu aku berada di Indonesian, tidak mengunjunginya. Aku akan di coret dari kartu keluarga." Tutur Erica dengan tertawa.
Ryan juga turut tertawa.
"Bye, Ryan." Erica melambaikan tangannya, lalu. keluar dari dalam apartemen Benny.
....