My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


Albert dan Eva sampai ditempat tujuan, yaitu rumah tempat Mikaela ditempatkan.


"Bert, jangan marah. Mereka juga tidak ingin ini semua terjadi, anak buahmu juga manusia biasa. Superman saja bisa gagal dalam misinya, apalagi. Mereka semua manusia normal." Eva terus mengoceh, begitu sampai. Dan melihat, anak buah Albert berdiri didepan rumah dalam keadaan takut.


"Diam kau Eva..!" Albert bosan mendengar Eva terus mengoceh sepanjang perjalanan, mulutnya hanya diam. Jika dia sedang mengantuk, selebihnya. Mulutnya komat-kamit, ada saja yang dibicarakannya.


"Oke..oke, aku akan diam..!" Eva menempelkan jarinya didepan bibirnya.


Albert menarik kursi, dan meletakkan bokongnya. Kakinya disilangkan nya.


Sedangkan, anak buahnya yang bertugas menjaga Mikaela berdiri dengan menundukkan kepalanya.


"Siapa yang ingin mengatakan, apa yang terjadi? kenapa dia bisa melarikan diri dari dalam rumah ini..?" Albert menatap wajah anak buahnya yang menunduk.


"Maaf Boss, saat saya.." anak buahnya yang mendapatkan bagian menjaga Mikaela mulai angkat bicara, menceritakan semua apa yang terjadi.


"Saya hanya sebentar berada dalam kamar mandi, Jakun kembali dari membeli makanan. Dan ingin memberi makan kepadanya, saya masuk kedalam kamarnya. Saat itu baru kami tahu, wanita itu sudah tidak ada dalam kamar. Terlihat dari CCTV, tidak lama Jakun pergi. Wanita itu pergi melarikan diri." tutur anak buahnya.


"Bert, biarkan saja wanita itu pergi. Tidak tahu diuntung, mau dilindungi. Kabur, biar saja. Dia mati ditangan wanita gila satunya lagi," kata Eva, yang sedari tadi mendengar apa yang dituturkan oleh anak buah Albert.


'Lagi pula, Agra tidak akan mau mengabulkan apa permintaan wanita itu. Tenang saja," ucap Eva.


*


*


Albert sibuk mengurus masalah Agra, sedangkan orang yang mendapat masalah. Masih asik tidur bersama dengan sang istri, yang baru saja diberinya kenikmatan duniawi.


Agra membuka matanya, saat merasakan ada tangan yang menarik-narik hidungnya.


Agra melihat, tangan Jeanny memegang hidungnya dan menariknya.


"Hm..!" desah Agra, saat merasa terganggu dengan aktivitas tangan Jeanny di wajahnya.


"Kenapa dia menarik-narik hidungku? apa dia mimpi?" Agra melihat, mulut Jeanny bergerak. Seperti orang sedang mengunyah makanan.


"Apa dikiranya, hidungku ini makanan. Dalam keadaan tidur saja, dia bisa mimpi sedang makan. Untung saja, dia tidak mengigit hidungku." gumam Agra sambil tertawa.


"Kehadiranmu, memberi warna dalam hidupku. Semoga, kita selalu bersama." jemari Agra mengelus rambut Jeanny yang berantakan, dan menutupi sebagian wajahnya.


"Hah! sudah jam 6, pantas dia mimpi makan. Sejak siang, tadi. Perutku belum diisi makanan, Jeanny pasti lapar. Waktu di cafe tadi, dia tidak sempat menghabiskan makanannya. Karena lapar, dia sampai bermimpi makan. hehehe.." Agra tersadar, saat melihat jam yang ada didinding dalam kamar. Bahwa, perutnya belum terisi makanan.


Agra menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, dan mencari-cari bajunya yang entah dimana dia lemparkan tadi.


Mata Agra melihat, bajunya berada di atas sofa. Lalu dia mengambilnya dan membawanya kedalam kamar mandi, setelah membersihkan diri sebentar. Hanya dengan memakai handuk mandi, Agra keluar dari dalam kamar menuju dapur.


"Ada bahan apa yang bisa di masak? aku sudah lama tidak mengisi lemari pendingin."


Agra membuka lemari pendingin, dan isinya hanya ada roti gandum dan selai. Karena, Agra sangat jarang menempati apartemennya tersebut. Sehingga, dia tidak terlalu perduli dengan isi lemari pendingin. Untuk menyetok bahan makanan.


Agra mengambil roti gandum dan melihat expired roti tersebut.


"Hm! sudah tidak layak konsumsi lagi." Agra membuang roti kedalam tempat sampah.


"Tidak mungkin Jean aku beri makan yang sudah mau kadaluarsa." Agra kembali masuk kedalam kamarnya dan mengambil ponsel dan membawanya keluar.


"Apa-apaan Albert, menghubungiku puluhan kali? apa dia tidak ada waktu untuk diri sendiri. Pasti ada masalah dengan Mikaela, aku tidak perduli dengan wanita tersebut. Kau urus saja dia." Agra menulis pesan pada Albert, setelah membaca pesan yang dikirim Albert untuknya.


Agra memberi pesan pada Jerry, untuk mengirimkan makanan dan mengambil pakaiannya dan Jeanny di rumah.


Setelah, mengirimkan pesan kepada Jerry. Agra kembali masuk kedalam kamarnya.


"Sayang." Agra membangunkan Jeanny, dengan memberikan kecupan di sudut bibir Jeanny yang terbuka sedikit.


"Bangun."


"Bangun, sudah jam 6 sore ini. Kita melewatkan makan siang."


"Jean ngantuk Mama, mau tidur." Jeanny menepis tangan Agra yang membelai bibirnya.


"Mama? apa dikiranya dia berada di rumah, apa suaraku ini seperti suara Mama?" Agra menggelengkan kepalanya sembari tersenyum sendiri, melihat Jeanny.


"Sudah dewasa, tapi tidur masih seperti bocah." Agra melihat tidur Jeanny yang sudah melingkar, kepalanya tidak berada di atas bantal lagi.


"Begini rasanya, punya istri masih muda. Aku harus menyesuaikan diri dengannya." gumam Agra.


"Jean, bangun." bisik Agra ditelinga Jeanny.


"Hah..! aku telat, Mama! kenapa tidak bangunkan Jeanny?" Jeanny sontak bangun dan duduk, tangan menggaruk kepalanya. Rambutnya menutupi wajahnya.


"Hahaha..!" tawa Agra pecah, melihat tampang Jeanny yang jauh dari sempurna.


Mendengar tawa Agra, Jeanny menarik rambut yang menutupi matanya.


"Abang! kenapa di kamarku?" Jeanny belum sadar dari efek bangun tidur yang tiba-tiba.


"Buka mata, lihat. Di mana saat ini berada..?"


Mata Jeanny mengitari tempat di mana saat ini berada.


"Kenapa lupa." Jeanny nyengir, menunjukkan barisan rapi giginya.


"Sana mandi, Abang tunggu di luar. Atau, mau Abang mandikan? kita mandi bersama, ayo. Abang gendong." Agra mengulurkan tangannya, ingin mengangkat Jeanny.


"No! bisa mandi sendiri, dan bisa jalan sendiri. Tidak ada gendong masuk kedalam kamar mandi." Jeanny mendorong tangan Agra.


"Hih..! padahal, Abang mau romantis didalam kamar mandi. Berendam di dalam bathtub, saling menggosok punggung." tutur Agra.


"Romantis dalam kamar mandi? mana percaya, ujung-ujungnya. Abang main serang lagi, badanku saja masih lemas. No! Abang keluar..!" Jeanny menarik selimut dan memegang dengan erat di dadanya.


"Ayo, ini awal yang baik. Kita mandi bersama." bujuk Agra lagi.


"Tidak..!" Jeanny mengerucutkan bibirnya menatap Agra, yang berdiri di sisi ranjang.


Teng tong..


"Menganggu saja.!" gerutu Agra, saat mendengar suara bell.


"Tamu Bang," ujar Jeanny dengan ekspresi wajah senang.


"Tunggu di sini, jangan kemana-mana.!" titah Agra pada Jeanny.


"Iya, cepat Bang. lihat tamunya siapa," kata Jeanny.


Dengan langkah lebar, Agra keluar dari dalam kamar.


Jeanny langsung turun dari atas ranjang, dan berlari cepat menuju kamar mandi. Selimut, membuat pergerakannya sedikit terganggu.


Setelah berada didalam kamar mandi, Jeanny menutup pintu dan menguncinya.


"Selamat..!" gumam Jeanny.


Jeanny melepaskan selimut yang melilit tubuhnya didepan cermin yang ada didalam kamar mandi.


"A..a..a.h.h!!" pekik Jeanny, saat melihat bayangan tubuhnya didepan cermin.


Badannya penuh dengan tanda merah, terlihat. Badannya seperti disengat lebah.


"Leherku, Agar..agar..mesum..!" pekik Jeanny meluapkan kekesalannya, karena seluruh tubuhnya penuh dengan bercak kemerahan dan biru.


...***...


To be continued..