
Happy reading 😍
...🌹🌹🌹🌹...
"Saya bukan teman Jean Tante, saya calon suaminya," ucap Agra langsung.
"Hah...!" sontak mata dan mulut Amira, Mama Jeanny bulat sempurna.
"Kau...!" jari telunjuk Jeanny mengacung kearah wajah Agra.
"Aku akan mewujudkan keinginanmu, seperti yang kau katakan pada Lisa." dalam benak Agra.
Agra mendengar apa yang dikatakan oleh Jeanny, pada Lisa. Untuk menjadi Mama Lisa, Jeanny harus menikah dengan Papa Lisa. Dan Agra mengira, Jeanny membujuk Lisa.
"Calon suami? Jean." Amira, Mama Jeanny menatap wajah putrinya meminta klarifikasi atas perkataan pria yang baru ditemuinya.
"Ma, jangan dengarkan apa yang dikatakannya. Dia pria yang tidak waras..!" Jeanny melotot menatap Agra. Agra membalas tatapan Jeanny dengan tatapan yang datar.
"Jean! Mama tidak mengajarimu bicara seperti itu dengan tamu.!" tegur Amira, karena mengganggap cara Jeanny bicara yang tidak sopan kepada Agra.
"Ma, jangan dengarkan apa katanya. Jeanny baru bertemu dengannya dan tidak begitu mengenalnya Ma."
"Maaf Tante, Jeanny sudah beberapa kali datang ke rumah saya. Dia juga sudah akrab dengan putri, Oma dan Mama saya," kata Agra.
"Masuk, kita bicara didalam." titah Mama Jeanny.
"Ma, jangan undang dia masuk. Jeanny tidak ada hubungan dengannya." Jeanny berusaha mencegah Agra untuk masuk kedalam rumahnya.
"Jean." ucap Mamanya.
Jeanny menutup mulutnya, tapi. Hatinya penuh dengan kemarahan, jika tidak ada mama ya tadi. Mungkin saja, mulutnya sudah mengeluarkan umpatan-umpatan kepada Agra.
"Mari." Amira, Mama Jeanny. Mempersilakan Agra masuk.
Jeanny berdiri dengan kesal, menatap Agra. Terlihat sekali dari wajah. Jeanny ingin mencabik-cabik Agra.
Ketika ingin masuk ke dalam rumah, Agra berhenti di depan jennie dan berkata.
"Kau tidak akan bisa melawan aku Miss Jeanny, lihatlah. Aku akan menjadikanmu teman di atas ranjang. Dan aku tidak akan menjadi duda kesepian lagi, seperti yang kau katakan." tutur Agra.
"Dasar duda mesum..!" geram Jeanny, tangan ingin mencakar punggung Agra yang berjalan masuk kedalam rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap Agra, saat tiba didepan pintu rumah Jeanny.
"Sok sopan." gerutu Jeanny yang berdiri dibelakang Agra.
"Waalaikumusalam," sahut Amira, dari dalam.
"Ayo masuk, Jean. Kenapa tidak disuruh masuk tamunya jeanny," ucap mamanya.
"Dia bukan tamu, dia itu perampok..!" kata jenny dengan ketus.
"Ini anak, kemasukan roh apa?"
Saking kesal dengan tingkah Jeanny yang kekanak-kanakan, menurut Mamanya. Mamanya mencubit lengan putrinya tersebut.
"Mama! kenapa Jeanny yang dicubit? seharusnya, Mama memukul tamu kita itu..!"
"Dia sudah mencium bibirku Ma." yang hanya bisa Jeanny katakan dalam benaknya.
"Ayo silakan duduk," ucap Mama Jeanny.
"Terima kasih Tante."
"Temani tamunya, Mama ambil minum dulu," ucap Mamanya.
"Tidak usah duduk, berdiri saja," ucap Jeanny dengan suara yang sangat pelan, karena takut didengar oleh mamanya.
"Bagaimana, jika kau duduk di pangkuanku?" balas Agra.
"Dasar pria mesum." Jeanny melengos meninggalkan Agra sendiri di ruang tamu.
"Kenapa kesini? temani tamunya," ucap Amira.
"Mama temani orang itu, biar Jeanny yang buat minum," kata Jeanny.
Amira melihat Jeanny.
"Jangan buat yang memalukan didikan Mama Jean, hormati tamu. Tapi, Mama suka lihatnya. Sopan." tutur Mamanya Jeanny.
"What..! sopan..!" tertawa Jeanny, mendengar penilaian Mamanya terhadap Agra. Yang menurut Mamanya, Agra pemuda yang sangat sopan.
"Bawa minuman ini." titah Mamanya, dan menyerahkan nampan kepada Jeanny.
"Jangan, begitu. Cepat sana bawa, jangan tinggalkan tamu sendiri terlalu lama," ucap Mama Jeanny.
Dengan terpaksa Jeanny membawa minuman.
"Ingin rasanya, minuman ini aku beri obat pencahar. Biar tahu rasa dia." gumam Jeanny.
"Hei, apa yang kau lihat?" Jeanny melihat Agra melihat-lihat album foto keluarganya.
"Kau sangat jelek sewaktu kecil, gendut dan hitam. Kenapa sekarang kau lumayan? apa kau suntik pemutih dan operasi?"
"Kau..!" Jeanny mengulurkan kedua tangannya, ingin mencekik leher Agra.
"Kenapa kau marah? aku mengatakan yang sebenarnya," ujar Agra.
"Berikan! jangan kau lihat, jika kau anggap aku jelek." Jeanny mengambil album foto yang pegang Agra.
Terjadi rebutan album foto, Agra mempertahankan dan Jeanny menariknya.
"Jeanny..!"
Suara Mamanya, membuat keduanya kaget. Agra melepaskan album dari tangannya, sehingga Jeanny jatuh terduduk di karpet.
"Aduh..bokongku..!" seru Jeanny.
"Ada apa dengan kalian berdua? apa yang jadi rebutan kalian berdua?" Mama Jeanny menatap wajah Jeanny, lalu beralih menatap Agra.
"Maaf Tante," ujar Agra.
"Ini Ma, dia mengejek Jeanny gendut dan hitam," ucap Jeanny kesal.
Mamanya meletakkan roti yang dibawanya ke atas meja.
"Marah?" tanya Mamanya pada Jeanny.
"Ya, marahlah Ma," sahut Jeanny seraya bangkit, dan duduk di samping Mamanya.
"Kenapa marah? itu kenyataan, Jeanny dulu gendut dan hitam Nak Agra. Apa tidak hitam, kerjanya main dengan anak laki-laki di sungai. Kecilnya dulu, Jeanny nakal. Temannya semua laki-laki, Tante takut dia dulu berubah jadi laki-laki." tutur Mama Jeanny.
"Mama! kenapa mama menjelekkan Jeanny?" bibir Jeanny manyun, karena sang Mama menceritakan kejelekannya semasa kecil.
"Mama harus menceritakan kejelekan mu pada Nak Agra, begitu mendengar kejelekan mu. Apa dia masih mau menjadikanmu sebagai istri."
"Mama! Jean, tidak ada hubungan dengan laki-laki itu...!"
"Apa pun kejelekannya Tante, saya tetap ingin mempersunting Jeanny Tante," ucap Agra.
"Mempersunting.. mempersunting! sana, sunting Nensih saja. Cocok..!" seru Jeanny.
"Nensih? Nak Agra sudah punya calon istri, kenapa masih mau melamar Jeanny...?" tanya Mama Jeanny.
"Rasain! dasar duda playboy. Kena aku kerjain." dalam benak Jeanny yang senang.
"Tante, saya belum punya calon istri. Sejak istri saya meninggal, saya tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. Gadis yang bernama Nensih, saya tidak kenal," kata Agra.
"Bohong Ma, dia menjalin hubungan dengan Nensih. Dia itu cocok berjodoh dengan Nensih," kata Jeanny.
"Katakan Jean, orang mana Nensih?" tanya Agra, karena dia tidak pernah merasa mengenal nama yang dikatakan oleh Jeanny.
"Orang alam gaib," sahut Jeanny.
"Jeanny." Mamanya mendelik menatap Jeanny.
"Baiklah, Nensih adalah singkatan Nenek sihir," ucap Jeanny.
"Jeanny! kami serius, kau main-main," ujar Mama Jeanny.
"Nak Agra, apa Nak Agra serius dengan apa yang Nak Agra katakan tadi? mempersunting putri Tante Jeanny?"
"Mama! Jean tidak ada hubungan dengannya, Jean tidak pacaran dengannya. Kenapa Mama tidak percaya juga, apa Mama tidak lihat. Jean tidak suka dengannya, dia itu manusia arogan dalam dunia ini." tutur Jeanny.
"Katakan apa yang ingin kau katakan Jean, kau akan tetap menikah denganku." terlihat senyum tipis disudut bibirnya.
"Sepertinya, Jeanny cocoknya dengan Agra. Walaupun dia sudah duda, tetapi tidak apa-apa. Duda karena kematian, bukan karena perceraian." batin Mama Jeanny.
"Ma, jangan dengarkan apa yang dikatakan. Sumpah Ma, Jeanny tidak ada hubungan dengannya."
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...