My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Ancaman



Happy reading ๐Ÿ˜


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


Tangan Agra mengepal, saat membaca tulisan yang berada di tembok.


Petugas keamanan yang mengikuti Agra hanya diam mematung, perasaan mereka tidak tenang. Karena mereka sebagai petugas keamanan telah lalai dalam bertugas, sehingga orang bisa masuk dan mencoret-coret dinding perusahaan.


Rahang Agra mengeras, wajahnya terlihat merah. Saat membaca tulisan yang ditulis dengan cat berwarna merah. "KELUARGA BAREND BRENGSEK!! KALIAN PANTAS MATI" yangย ditulis dengan huruf besar.


"Siapa yang ingin bermain-main dengan keluarga Barend?"


"Tuan, lihatlah." Jerry menunjukkan gambar keluarga Barend yang sudah di gunting kecil-kecil, disebar didekat tulisan tersebut.


"Jerry, coba kau periksa. Beberapa tahun belakangan ini, apa ada proyek kita yang bermasalah dengan masyarakat lokal. Apa proyek tambang timah kita ada masalah dengan lingkungan sekitarnya."


"Tidak ada laporan yang masuk Tuan," ujar Jerry.


"Mungkin saja mereka tidak melaporkan kejadian apa yang terjadi di daerah ke pusat, mungkin saja teror ini ada hubungannya dengan perusahaan," kata Agra.


"Apa di sini tidak ada cctv-nya?" tanya Agra.


"Ada Tuan, tapi. Beberapa hari ini rusak," jawab seorang petugas keamanan.


Agra tertawa sinis, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sudah tahu rusak! Kenapa tidak dilakukan perbaikan." Agra memicingkan matanya menatap wajah-wajah para petugas keamanan yang mengikutinya tadi.


Para petugas keamanan menunduk, mereka takut melihat Agra. Agra tidak marah dengan memaki para kerja, tetapi hanya dengan tatapan mata saja. Para pekerja sudah ciut menghadapi Agra yang baru saja mengambil alih kekuasaan perusahan dari tangan Abraham Barend.


"Jerry, urus semua pegawai yang bagian keamanan. Jika ada yang tidak becus dalam bekerja pecat saja, Perusahaan tidak membutuhkan orang yang malas dan tidak tanggap pada pekerjaannya" titah Agra pada Jerry.


"Baik Tuan," sahut Jerry.


"Hapus tulisan itu semua, dan perbaiki CCTV sekarang jua. Jangan sampai hal ini terjadi kembali." Arga pergi, setelah selesai memberi perintah kepada bagian keamanan untuk membersihkan tulisan tersebut.


"Pak Jerry, apakah kami akan dipecat?" tanya petugas keamanan.


"Jika kalian tidak bisa menjaga keamanan gedung ini, dan apa yang terjadi hari ini terjadi kembali. Jangan harap kalian bisa kerja di sini lagi," kata Jerry.


"Pak Jerry, bagaimana jika ada orang dalam yang melakukan ini semua? selama ini CCTV tidak pernah rusak, tapi kenapa sekarang ini. CCTV rusak?" seorang pekerja mengutarakan kecurigaannya, adanya orang dalam yang terlibat.


"Apa ada orang yang kau curigai?" tanya Jerry.


"Sebenarnya saya tidak ingin mencurigai nya Pak, tapi sudah beberapa hari ini ini dia tidak masuk kerja. Tapi kemarin malam dia datang, ketika para pekerja sudah pulang semua. Saya bertanya kenapa dia datang, padahal dia tidak jaga shift malam. Dan dia menjawab ada barangnya ketinggalan," kata petugas keamanan pada Jerry.


"Siapa yang kau curigai Man?" tanya rekannya sesama petugas keamanan.


"Amir," sahut Salma.


"Amir? bawa data-datanya, saya tunggu di ruangan." titah Jerry kepada kepala bagian keamanan.


"Baik Pak."


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


Mobil Agra tiba di depan kantor pengacara Albert Sasmita SH & Partners. Agra turun dari dalam mobilnya, kemudian masuk kedalam. Agra melangkah menuju bagian resepsionis.


"Saya ada janji bertemu dengan Albert Sasmita," kata Agra kepada pria yang berada di bagian resepsionis.


"Dengan bapak siapa?"


"Agra Barend," jawab Agra.


"Bapak sudah ditunggu Pak Albert, bapak naik ke lantai 7. Sekretaris Pak Albert sudah menunggu bapak," ucap pria tersebut kepada Agra.


"Terima kasih," ucap Agra.


"Sama-sama Pak."


Agra naik ke lantai 7, seperti yang dikatakan oleh pria yang di bagian resepsionis. Sampai di lantai 7, Agra dibawa ke ruangan Albert.


"Silakan pak," ucap pria yang diketahui oleh Agra adalah sekretaris Albert.


Agra masuk, dan disambut dengan ledekan Albert. Karena raut wajah kesal Agra masih menghiasi wajahnya.


"jika kau mau bingkisan itu, aku akan menyerahkannya kepada mu dengan senang hati." balas Agra.


"Terima kasih bro, cukup kau saja menerima bingkisan itu." balas Albert sembari tertawa.


"Duduklah, kau ingin minum apa? kopi atau Vodka ?" tanya Albert.


"Aku ke sini bukan untuk minum, apa sudah ada hasil. Siapa yang memberikan ancaman kepadaku?" tanya Agra.


"Ini baru terjadi." Agra menunjukkan guntingan gambar, dan tulisan yang berupa ancaman kepada Albert.


"Jika dilihat dari tulisan ini, kebenciannya bukan padamu saja. Ini musuh keluarga Barend," kata Albert.


"Orang yang mengirim surat ancaman itu sangat cerdik, tapi ada satu petunjuk. Surat ini dikirim dari luar negeri," kata Albert.


"Luar negeri! tapi siapa?" Agra kaget dengan temuan Albert, yang mengatakan surat ancaman tersebut dari luar negeri.


"Itu yang masih aku selidiki, apa apa ada orang yang tersinggung kau buat? saat kau masih tinggal di Belanda?" tanya Albert.


"Aku tidak punya musuh, tapi. Tunggu dulu, apa mungkin ini ada hubungannya dengan perusahaan di Malaysia," kata Agra kepada Albert, yang tiba-tiba teringat dengan perusahaan cabang yang ditutup oleh Abraham Barend. Karena korupsi yang dilakukan Pak Malik sebagai kepala keuangan PT Star dan manager perusahaan PT Star Pak Zulham Zamrun.


"Apa mereka ditahan?" tanya Albert.


"Papa tidak melanjutkan kasusnya, karena Papa kasihan kepada Pak Malik. Karena Pak Malik sakit, sedangkan Zulham Zamrun melarikan diri. Sampai sekarang, tidak diketahui keberadaannya," kata Agra.


"Besar kemungkinannya, Zulham Zamrun yang bermain. Apa dia orang Indonesia?" tanya Albert.


"Siapa?" tanya Agra.


"Malik dan Zulham Zamrun?"


"Iya, keduanya termasuk pegawai lama di perusahaan," kata Agra.


"Beri padaku informasi mengenai kedua orang itu" kata Albert.


...๐ŸŒน๐ŸŒน...


"Jean, bangun," ujar Amira, Mamanya.


"Pusing Ma," sahut Jeanny tanpa membuka matanya.


"Makan Jean, biar makan obat. Tadi siang tidak makan banyak, kapan sembuh begini. Jika tidak banyak makan," ucap Mamanya.


"Tidak selera Ma, mulut Jean pahit."


"Mama sudah masak kan bubur, Mama beri gula. Ayo bangkit, cuci muka dulu." titah Mamanya.


Dengan malas, Jean berusaha untuk bangkit dari ranjang. Dan duduk dipinggir ranjang, karena Jean merasa pandangan matanya berkunang-kunang.


"Pusing Ma," ujar Jeanny dengan menutup kedua matanya, karena saat matanya terbuka. Jeanny merasa pusing.


"Ayo, Mama bantu untuk kekamar mandi."


Amira, Mama Jeanny merasa. Beban pikiran yang membuat Jeanny tumbang, selama ini. Tubuh Jeanny tahan banting, dan tidak pernah sakit.


Setelah selesai mandi, Jeanny duduk di kursi yang ada didekat jendela kamarnya.


"Makan di sini saja ya, biar mama bawa ke sini bubur ya," kata Amira, Mamanya.


"Jean tidak lapar Ma, nanti saja makannya."


"Jean, jangan tunjukan kau itu lemah!" seru Amira pada putrinya.


Jeanny tidak bisa menahan lagi, air matanya kini meluncur.


"Jean sudah berusaha Ma, tapi. Di sini dan sini, dia terus ada."


Jeanny menunjuk kepalanya dan dadanya, sosok Yudha tidak bisa hilang.


Amira memeluk Jeanny yang menangis tersedu-sedu, tangan mengusap punggung Jeanny.


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


...Bersambung...