My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


"Lisa." panggil Jeanny.


Lisa dan temannya melihat kearah Jeanny.


"Miss Jeanny..!" seru teman Lisa, saat melihat Jeanny.


"Maura." balas Jeanny, pada muridnya tersebut.


Jeanny melangkah menuju ketempat Lisa dan Maura, kemudian memberikan pelukan pada muridnya tersebut.


"Maura dengan siapa ke sini?" tanya Jeanny, karena dia tahu. Maura seorang anak yatim-piatu, dan hanya tinggal dengan kakek dan Neneknya.


"Dengan Papa Bagas, itu. Di belakang Miss Jeanny." Maura menunjuk jemarinya kearah belakang tubuh Jeanny.


"Papa Bagas." gumam Jeanny.


Jeanny memutar tumitnya, dan melihat. Bagas pria yang baru dikenalnya tadi.


"Maura, keponakanku. Anak Mas ku, Tapi, Maura sejak kecil memanggilku Papa Bagas." terangkan Bagas, mengenai hubungannya dengan Maura.


"Oh, saya tidak tahu. Karena, yang menjemput Maura. Hanya Neneknya, terkadang kakek Maura," kata Jeanny.


"Saya kerja di luar kota, dan baru sebulan ini. Pindah ke kota ini," kata Bagas.


"Mama, Lisa ketemu Maura saat lihat bangau."


"Mama, Miss Jeanny Mama Lisa?" tanya Maura.


"Iya, Mama baru Lisa," ujar Lisa dan memeluk Jeanny.


Terlihat rasa cemburu dari raut wajah Maura.


"Lisa, bolehkah. Miss Jeanny menjadi Mama Maura juga. Maura tidak punya Mama, Maura hanya punya Papa Bagas." mohon Maura pada Lisa, dengan raut wajah yang sedih.


"Mama, apakah Mama mau menjadi Mama Maura juga. Maura seperti Lisa juga, tidak punya Mama. Tapi, sekarang. Lisa sudah punya Mama, Lisa tidak sedih lagi. Tapi, Maura belum punya Mama." tutur Lisa kepada Jeanny dengan raut wajah yang sedih, karena. Dia pernah berada di posisi Maura, yang tidak pernah merasakan punya Mama.


"Maura, tidak boleh begitu. Miss Jeanny Mama Lisa." Bagas membujuk keponakannya, yang tidak pernah merasakan memiliki seorang Mama dan Papa sejak masih bayi. Karena, kedua orangtuanya Maura meninggal kecelakaan. Saat Maura masih baby.


Bagas, sebagai adik dari Papa Maura yang menggantikan peran Papa. Sedangkan peran Mama tidak ada, karena Bagas belum menikah.


"Duh.. kenapa semua ingin menjadikan aku sebagai Mamanya.' dalam pikiran Jeanny.


"Miss Jeanny, jangan pikirkan apa yang dikatakan oleh Maura. Dia hanya iri dengan temannya yang memiliki seorang Mama." Bagas tahu, Jeanny bingung dengan permintaan konyol Maura dan Lisa.


"Mama menikah dengan Papa Maura saja, agar Mama bisa menjadi Mama Maura juga. Seperti Papa menikah dengan Mama, sekarang. Mama menjadi Mama Lisa." usul Lisa membuat dua orang dewasa yang berada diantara anak kecil tersebut terkejut.


"Hah..!" mulut dan mata Jeanny bulat, saat mendengar perkataan Lisa.


Bagas hanya dapat menggaruk tengkuknya, dan bibirnya menampilkan senyum tipis.


"Hore..! Papa Bagas akan menikah dengan Miss Jeanny, Maura akan punya Mama..!" seru Maura dengan bertepuk tangan.


"Kita akan punya Mama yang sama Maura," ujar Lisa senang, dengan ide yang baru dikatakannya.


"Anak-anak, Mama.." Jeanny bingung, apa yang harus dikatakannya.


"Aduh..! apa yang harus aku katakan, belum sebulan sudah menikah dua kali. Anak-anak ini membuat aku melakukan poliandri." dalam benak Jeanny.


Bagas tahu, Jeanny bingung.


"Anak-anak, Miss Jeanny sudah menikah. Tidak mungkin menikah lagi dengan Papa Bagas," kata Bagas pada Lisa dan Maura.


Wajah Maura langsung berubah sedih, karena harapannya untuk mempunyai Mama sudah pupus. Wajahnya menunduk, tangannya memilin ujung bajunya.


"Tapi Maura masih bisa memanggil Miss Jeanny Mama, tanpa Miss Jeanny harus menikah dengan Papa Bagas," kata Jeanny.


"Apakah betul? Miss Jeanny akan menjadi Mama Maura juga?" tanya Maura dengan raut wajah yang gembira, raut wajah yang sedih kini sudah sirna. Yang ada raut wajah gembira.


'Iya, Miss Jeanny akan menjadi Mama Lisa dan Maura. Sini anak Mama, biar Mama peluk." Jeanny merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Lisa dan Maura.


"Mama..!" seru Lisa dan Maura secara bersamaan.


"Semoga hanya dua anak saja yang meminta aku menjadi Mamanya." suara hati Jeanny, seraya memeluk Lisa dan Maura.


Bagas sangat terharu, melihat Maura. Keponakannya yang senang, hanya diizinkan untuk memanggil Jeanny Mama.


Bagas memalingkan wajahnya, jemarinya menyentuh ujung bola matanya. Karena, ujung kedua bola matanya tiba-tiba mengeluarkan air bening.


"Sekarang, kita lihat burung bangau. Jangan ada sedih lagi ya." Jeanny mengurai pelukannya pada Lisa dan Maura, dan membawanya ke area kolam yang banyak burung bangau yang sedang mencari makan.


Bagas mengikutinya dari belakang, dia mengeluarkan ponselnya. Dan, berkali-kali membidikkan kamera ponselnya kearah keponakannya dan juga Jeanny dan Lisa.


"Papa, Maura mau foto dengan Mama Jeanny dan Lisa..!" seru Maura, saat melihat Bagas membidikkan kearah burung.


"Ayo, biar Papa ambil gambar dengan latar belakang burung bangau," kata Bagas.


"Ayo Ma." Maura menarik tangan Jeanny yang ingin berlalu.


"Kalian saja, kalau Mama ikut didalam gambar itu. Akan terlihat jelek, Mama tidak pandai bergaya didepan kamera." tolak Jeanny.


"Mama..!" Lisa mengerucutkan bibirnya, begitu juga dengan Maura.


"Ayolah, Miss Jeanny. Jangan kecewakan anak-anak." Bagas turut membujuk Jeanny.


"Ahh.. baiklah, tapi. Hanya sekali saja." akhirnya, Jeanny menyerah. Karena tidak tega melihat wajah Lisa dan Maura yang manyun.


Ternyata, bukan hanya sekali Jeanny foto dengan Lisa dan Maura. Di tempat yang cukup bagus untuk mengambil objek gambar, ketiganya bergaya seperti artis sedang melakukan photo shoot diarea terbuka.


Ketika Bagas sedang mengambil gambar ketiganya, sepasang suami istri melintas didepannya. Saat melihat Bagas mengambil gambar. Mereka menawarkan diri untuk membantu mengambil gambar Bagas.


"Pak, sini saya bantu ambil gambar bapak dan keluarga. Kalau bapak yang mengambil gambar, bapak tidak akan ikut dalam moment kebersamaan itu," kata pria tersebut.


"Hah!" Bagas kaget, karena pasangan suami istri itu. Pasti sudah salah paham, karena mengira bahwa Bagas sedang mengabadikan istri bersama kedua anaknya.


"Tidak usah Pak, saya tidak ingin di foto." tolak Bagas.


"Bagaimana tidak ingin di foto Pak, selagi mereka masih kecil. Ambil kesempatan foto bersama keluarga Pak, jika mereka sudah besar. Moment seperti sekarang ini akan sulit untuk di cari lagi, anak-anak kita akan sulit untuk di ajak foto bersama. Seperti kami ini, pasangan tua. Sekarang, hanya berdua. Anak-anak, lebih suka bepergian dengan teman-temannya." tutur pria tersebut.


Bagas bingung, mau mengatakan bahwa mereka bukan satu keluarga. Nantinya, akan membuat pasangan suami istri tersebut malu. Karena, sudah salah menebak.


"Papa, ayo. Maura mau foto dengan Papa juga." panggil Maura.


Jeanny tahu, Bagas bingung.


"Mas Bagas, ayo. Kita ambil gambar," ucap Jeanny.


Bagas melihat kearah Jeanny, dan melihat Jeanny menganggukkan kepalanya.


"Tolong, ambilkan gambar kami ya Pak." Bagas memberikan kameranya, pada pria tersebut.


Akhirnya, mereka mengambil gambar berempat. Tingkah lucu dilakukan mereka berempat, Bagas menggendong Maura. Begitu juga dengan Jeanny, Jeanny menggendong Lisa.


"Pak, ganti anak. Jangan kelihatan bapak dan ibu pilih kasih," ucap istri pria tersebut.


Jeanny dan Bagas saling pandang, ada tawa di bibir keduanya.


Akhirnya, Jeanny menggendong Maura. Begitu juga sebaliknya, Bagas menggendong Lisa. Tawa keempatnya, dalam foto. Tidak terlihat pada wajah Agra yang berdiri tidak jauh dari tempat Jeanny dan Lisa mengambil gambar.


Karena sudah lama Jeanny dan Lisa pergi. Agra mencari keduanya.


...****...


To be continued