
Happy reading 😍
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
"Aku juga tidak begitu percaya, mungkin ini sudah garis tanganmu Jean. Menikah dengan duda," kata Valerie.
"Ini sudah jaman modern, masih percaya dengan sumpah begitu? Percaya dengan Tuhan saja, jodohmu. Duda," kata Bella.
"Tapi aku tidak mencintainya..!" Jeanny duduk dan memukuli guling yang ada di pangkuannya.
"Cinta akan datang dengan seiring waktu, percayalah," kata Valerie.
Jeanny dan Bella memandang Valerie yang bicara dengan bijak, tidak biasanya Valerie bicara begitu.
"Apa kau Valerie?" tanya Bella seraya mencubit lengan Valerie.
"Aduh..!" Valerie mengelus tangannya yang di cubit Bella.
"Kenapa kalian memandangku seperti itu? apa ada yang aneh?" Valerie menatap kedua temannya yang memandangnya dengan tatapan aneh menurutnya.
"Sejak kapan kau bicara dewasa begitu?" ujar Bella.
Valerie menarik napasnya.
"Hei! ada apa?" tanya Jeanny.
"Apa kau akan kembali melanjutkan sekolah?" tanya Bella, karena Valerie sekolah di luar dan di suruh kembali. Karena Neneknya sedang sakit.
"Aku akan di jodohkan...!" seru Valerie sembari menangis.
"Di jodohkan? jaman Siti Nurbaya masih ada ?" Jeanny dan Bella saling pandang.
"Dengan siapa? apa orang yang kau kenal?" tanya Bella.
"Tidak, aku tidak kenal. Yang aku tahu, laki-laki itu tinggal di kampung. Tidak bisa aku bayangkan, Valerie Sandra tinggal di hutan? berteman dengan ular dan kawan-kawannya." tutur Valerie dengan wajah yang basah karena air mata.
"Nasib kita kenapa sesial ini?" gumam Jeanny.
"Sudah girls, jangan nangis dulu. Val, kamu belum pasti nikah dengan laki-laki kampung itu. Dan, Jeanny. Terima saja, mungkin kau tercipta dari tulang tulang rusuk pria yang sudah duda." tutur Bella.
"Ini salah Mama dan Papa ini, kenapa waktu pembagian tulang rusuk mereka terlambat datang. Aku kebagian sisa-sisa." gerutu Jeanny.
"Bukan salah orang tua Jean, sudah garis takdir yang di ciptakan Tuhan untukmu. Bagaimana kita mengelak, nangis-nangis. Tapi, sudah Tuhan berkehendak. Tidak ada yang bisa kita lakukan." tutur Bella.
"Kau sudah cocok jadi ustadzah Bella." celetuk Jeanny.
"Hehehe..guna juga suka ikut bedah buku," ujar Bella.
🍁
🍁
Albert melakukan penyelidikan mengenai orang yang mirip dengan Malika, seperti yang dikatakan oleh Eva.
"Tuan Albert, ini CCTV yang kami dapatkan dari bandara.' Anak buah Albert memberikan video CCTV kepada Albert.
Albert langsung melihat rekaman CCTV tersebut dari komputer.
"Ini dia Tuan, wanita ini sangat mirip dengan gambar yang Tuan kirim pada kami. Tapi, wajahnya hanya ini yang terlihat dari CCTV. Seterusnya, wajahnya tidak terlihat.
"Apa hanya ini, diluar bandara tidak ada?" Tanya Albert.
"Tidak ada terlihat Tuan, wanita itu tidak terlihat dalam CCTV diluar bandara," jawab anak buahnya.
"Siapa kau? Apa kau Malika? Tidak mungkin, kau sudah meninggal.Tudak mungkin bisa hidup, Lokasi terjadinya kecelakaan sangat mengerikan." Gumam Albert.
"Pembunuhan Amir, bagaimana? Apa sudah ada titik terang?" Tanya Albert.
"Masih nihil Tuan, polisi juga kesulitan untuk menyelidiki kasus kematian Amir. Karena bukti-bukti tidak indikasi adanya pembunuhan, lokasi bersih."
"Siapa sebenarnya musuh Agra?" gumam Albert.
🍁🍁🍁
Di pinggiran kota, seorang gadis sedang berada didalam kamarnya. Sesekali dia berjalan menuju jendela, dan melihat keluar jendela. Seperti sedang menunggu sesuatu.
"Kemana orang itu? setiap hari pergi, aku ditinggalkan di rumah. Yang sudah hampir roboh."
Mika keluar dari dalam kamarnya.
"Bi, kemana dia pergi?" tanya Mika pada pelayan yang sudah sepuh, tapi masih menjajakan tenaganya untuk melayani Maharani. Orang yang sangat dibenci oleh Mikaela.
"Nyonya pergi Non," ucap pelayan yang ditanyai Mika mengenai keberadaan Maharani.
"Sebenarnya, ini kesempatan aku untuk melarikan diri. kembali ke Belanda. Tapi, tawaran dari Nenek tua itu tidak bisa ditolak." gumam Mikaela seraya tertawa sinis, ditangannya tergenggam apel yang baru digigitnya.
"Argha...!" tiba-tiba, Mikaela memegangi kepalanya seraya berteriak kesakitan.
"Non..! Kenapa?"
"Bi Salmi, tolong! ambilkan obatku didalam kamar." titah Mikaela.
"Baik Non." Pelayan yang bernama Bi Salmi, gegas berlari.
"Ini Non." Bi Salmi memberikan botol obat kepada Mikaela.
Tanpa menggunakan air, Mikaela menelan dua butir obat penghilang rasa nyeri yang menyerang kepalanya dan sebagian tubuhnya.
"Ini air Non."
Sekali teguk, obat masuk kedalam lambungnya bersama dengan air minum yang diberikan oleh BI Salmi.
"Terima kasih Bi."
Mikaela meninggalkan Bi Salmi yang menatapnya dengan lekat.
🍁🍁🍁
Obut dan Lisa sedang duduk di salah satu restoran menunggu Alma yang membeli buah tangan untuk di bawa mengunjungi keluarga Jeanny.
"Obut, apakah benar. Miss Jeanny akan menjadi Mama Lisa?" tanya Lisa pada Gracia.
"Iya, apa Lisa senang?" tanya Gracia.
"Senang," jawab Lisa sembari menampilkan senyuman di bibirnya.
"Hanya senang? tidak senang sekali?" tanya Gracia pada Lisa.
"Sangat..sangat senang, senang Lisa sepanjang ini." Lisa merentangkan kedua tangannya.
"Wah..! panjang sekali ya..!" seru Gracia.
Keduanya tertawa senang, karena apa yang mereka inginkan akhirnya akan terwujud.
"Kalau Allah sudah berkehendak, tidak akan ada manusia yang dapat menghentikannya." Dalam benak Gracia.
Tiba-tiba..
"Selamat sore Nyonya Gracia Barend, apa kau mengenal aku?" tanya wanita yang berdiri di samping meja tempat Gracia dan Lisa duduk.
"Aku tetap mengingatmu, karena kau wanita yang tidak tahu malu. Karena ingin masuk kedalam keluarga Barend dengan cara tidak jujur." Tutur Gracia, pada wanita yang sebaya dengannya.
"Suamimu yang menggoda aku, bukan aku yang menggodanya."
"Kau wanita yang mendapatkan perhatian, langsung merasa di cintai." sindir Gracia.
Mata Maharani menatap Lisa dengan lekat, raut wajahnya berubah.
Gracia tidak suka, saat Maharani menatap wajah Lisa.
"Jaga tatapan matamu itu..!" ingatkan Gracia pada Maharani.
"Sampai kapan kau menjauhkan dia dariku?" geram Maharani.
"Ingat, kau mendekati keluargaku.Belangmu dan cucumu itu akan aku buka, bagaimana tanggapan Arga. Jika tahu..." Gracia tidak melanjutkan ucapannya, saat melihat Alma sudah kembali dengan membawa barang belanjaan.
"Ma, ada apa?" tanya Alma, karena dari kejauhan dia melihat Mama mertuanya sedang tidak baik-baik saja dengan orang yang berdiri di dekatnya.
"Siapa Ma?" tanya Alma.
"Tidak ada apa-apa, dia hanya kenalan lama yang sudah lama tidak bertemu," ujar Gracia.
"Pergi, jangan ganggu keluargaku." Gracia mencengkram lengan Maharani, sehingga Maharani meringis.
Maharani gegas meninggalkan Gracia, walaupun hatinya belum puas bertemu dengan Gracia. Orang yang telah membuat dirinya terbuang dari perusahaan keluarga Barend, padahal keluarganya sudah mengabdi begitu lama di keluarga Barend. Karena, Maharani tidak bisa menjaga hati dan pandangan matanya. Yang membuat Gracia kehilangan anak pertamanya.
"Ma, siapa orang tadi?" tanya Alma kembali, karena dia merasa sang mertua menyimpan rahasia.
"Baiklah, Mama akan cerita. Tapi tidak di sini," kata Gracia.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung...
Hai kakak-kakak, jangan lupa untuk menekan tombol like ya 😍🙏