My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...****...


"Hei, kenapa melamun?" tanya Agra, saat pertanyaannya tidak ditanggapi Jeanny.


"Aku salut dengan Pak Jerry, dia sanggup bekerja menjadi dokter dan sekaligus menjadi sekretaris," kata Jeanny.


Deg..


"Kenapa aku lupa, Jerry dulu menyamar jadi dokter." batin Agra.


"Pak Jerry hebat," Ujar Jeanny memuji Jerry.


"Apa hebatnya, semua orang juga bisa." kesal Agra, karena Jeanny memuji Jerry didepannya.


"Jerry hanya berpura-pura menjadi dokter, jika kau tahu. Dia hanya dokter abal-abal, untuk mengelabuhi mu. Mungkin saja, sekarang ini. Mulutmu akan mengeluarkan umpatan kepada Jerry." suara hati Agra yang kesal.


"Jean tidak bisa, abang juga pasti juga tidak akan sanggup. Hanya otak jenius seperti Pak Jerry yang mampu," ujar Jeanny membanggakan Jerry.


"Jerry itu, menjadi dokter karena iseng saja."


"Hah! menjadi dokter karena iseng?" heran Jeanny dengan perkataan Agra.


"UPS! kenapa aku keceplosan." batin Agra.


"Maksudnya, Jerry tidak suka menjadi dokter. Tapi, karena keinginan orangtuanya, dia menjadi dokter. Sebenarnya, dia lebih suka bekerja di kantor. Menjadi sekretaris. Dan, sekarang. Cukup, kita membahas Jerry, kita mau kemana sekarang ?"


"Kami ke sini mau protes," kata Jeanny, yang ingat dengan niat awalnya datang menemui Agra.


"Protes apa?"


"Kenapa sekarang kami harus dikawal? kami bukan selebritis, kemana-mana harus dalam pengawalan. Pengawalnya seram semua tampangnya..!"


"Oh.. mengenai itu, nanti aku katakan. Lisa, apa yang ingin Lisa lakukan sekarang ini?" tanya Agra pada putrinya.


"Lisa ingin makan eskrim, boleh?"


"Boleh, ayo." Agra menggandeng Lisa, dan tangan satunya melingkar di pinggang Jeanny.


"Ih..! lepaskan..!" Jeanny menepis tangan Agra yang melingkar di pinggangnya.


"Kenapa jalannya begini, kita seperti kembar dempet." protes Jeanny, karena pelukan tangan Agra di pinggangnya. Membuat keduanya tidak ada jarak, mengakibatkan Jeanny merasa jengah.


Agra bukan melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Jeanny, tangan tersebut makin ketat mencengkram pinggang Jeanny.


"Bang, lepasin. Sulit jalan begini." Jeanny berusaha mengelak, tapi cengkraman tangan Agra di pinggangnya. Tangan Agra seperti tangan-tangan gurita. Sulit untuk dilepaskan.


Perasaan Jeanny tidak nyaman dengan tatapan mata yang terarah padanya.


"Tadi waktu datang kekantor Agra, aku merasa aman. Sekarang, mata karyawan Agra melotot melihatku, ih.. Boss mereka ini. Tangannya seperti tangan gurita." batin Jeanny yang tidak nyaman, dengan pandangan mata karyawan wanita yang melihat kebersamaannya dengan Agra.


"Tenanglah, banyak karyawan yang melihat kearah kita." bisik Agra, saat keluar dari dalam lift. Karyawan sedang berlalu-lalang, melihat kearah Boss mereka yang untuk pertama sekali membawa istri dan anaknya kekantor.


"Karena mata karyawan itu, aku tidak nyaman. Mereka seperti ingin menguliti tubuhku." gumam Jeanny.


Tiba-tiba langkah Jeanny melambat, saat melihat pria yang sedang masuk kedalam lobby perusahaan.


"Mas Yudha." batin Jeanny.


"Jeanny." gumam Yudha, saat melihat keberadaan sang mantan kekasih. Yang berjalan beberapa langkah didepannya.


"Ini yang aku takutkan, aku tidak bisa melupakannya. Melihat kebersamaannya dengan Tuan Agra Barend." dalam benak Yudha.


Dengan langkah lebar, Yudha berbelok arah. Agar tidak berpapasan dengan Jeanny, tidak tidak sanggup melihat tangan Agra yang melingkar di pinggang Jeanny.


Merasakan langkah Jeanny yang melambat, Agra melirik Jeanny.


"Abaikan saja." Agra mengira, langkah Jeanny melambat. Di karena kan, tatapan mata para karyawan menatap mereka.


"Mata para karyawan yang melihat kearah kita," sahut Agra.


"Oh.." gumam Jeanny.


"Syukur, Agra tidak tahu. Tapi, untuk apa aku takut. Aku tidak ada hubungan lagi dengan Yudha, Yudha bekerja di sini. Istrinya juga bekerja di sini, semoga aku tidak bertemu dengannya." dalam pikiran Jeanny.


Mata karyawan yang melihat Agra menggandeng dan memeluk tubuh istrinya dengan erat, membuat bahan ghibah mulut para karyawan.


"Lihat, betapa posesifnya Tuan Agra. Tangannya terus berada di pinggang ramping sang istri."


"Benar, Tuan Agra Barend sangat cocok. Walaupun Tuan Agra Barend sudah ada buntutnya, tapi. Dia cocok bersama dengan istrinya yang masih sangat muda terlihat.


"Iya, Tuan Agra Barend sungguh beruntung. Katanya, istrinya itu seorang pendidik, pasti nantinya. Anak-anak mereka akan memiliki akhlak yang baik."


Perbincangan mengenai Agra terus saling bersambung antara para pekerja, sampai orang yang menjadi bahan cerita hilang masuk kedalam mobil.


Yudha, melihat dari balik kaca lobby. Hatinya benar-benar hancur.


"Begini rasa Jeanny, saat aku mengatakan akan menikah dengan Yulia" ucap Yudha.


"Sangat sakit..!" Yudha memegang dadanya, yang berdetak kencang.


...****...


Papa dan Mama Yulia tiba di kantor polisi satu jam kemudian, dia datang dengan membawa seorang pengacara.


"Nyonya Yulia belum tiba di kantor polisi." Beritahu sang pengacara, setelah bertanya pada polisi yang bertugas.


"Belum tiba, kenapa?" tanya Mama Yulia.


"Menurut informasi, Nyonya Yulia dibawa ke rumah sakit terlebih dahulu. Untuk melakukan pemeriksaan pada kandungannya," jawab pengacara.


"Pak Sam, apa Yulia bisa diberi jaminan. Agar bisa keluar, dia sedang hamil Pak?" Tanya Papa Yulia pada pengacara.


"Sebenarnya, jika tadi Nyonya Yulia koorperatif dan tidak melarikan diri. kemungkinan besar bisa Pak Darmawan, tapi. Nyonya Yulia tidak kooperatif, sehingga. Polisi takut, nanti nyonya Yulia melarikan diri lagi." Terangkan pengacara pada papa dan mama Yulia.


"Yulia belum tentu bersalah Pak," ujar Mama Yulia.


"Kita tunggu, apa yang akan dikatakan oleh pihak kepolisian Bu," kata pengacara.


Tidak lama kemudian, Yulia tiba. Dan langsung dibawa masuk kedalam ruang pemeriksaan.


Dalam ruang pemeriksaan, Andi sedang dilakukan pemeriksaan lanjutan. Begitu melihat keberadaan Andi, Yulia tidak dapat menahan amarahnya.


Dia langsung menjambak rambut dan mencakar wajah Andi.


"Kau..! kau yang membuat aku terjebak di sini! kurang ajar kau Andi! aku akan melenyapkan kau sekarang juga..!" Yulia spontan menarik rambut Andi dan menendang dengan membabi-buta, tanpa sempat di cegah oleh polisi yang mengiringinya.


Polisi berusaha memisahkan Yulia yang menjambak rambut Andi.


"Lepaskan Nyonya, ini kantor polisi. Bukan ring tinju, apa anda mau langsung tidur di dalam sel..!" ancam polisi yang sudah sangat kesal dengan kelakuan Yulia.


Yulia melepaskan jambakan jemarinya pada rambut Andi.


"Hei..! wanita gila! kau yang membuat aku berurusan dengan polisi, kalau tidak karena ingin membantumu. Aku tidak akan berada di sini..!" balas Andi.


"Kau! aku akan melaporkan mu, karena telah memperkosa aku." balas Yulia.


"Hahaha! perkosaan, mana buktinya? kita melakukannya atas dasar suka sama suka, Yulia. Masih segar dalam ingatan ku, Yulia. Saat kau mende-sah dan meliuk-liuk seperti ular minta aku agar membuat kau puas, karena suamimu tidak pernah menyentuhmu..!" Andi membeberkan apa yang mereka lakukan, keduanya lupa. Di mana saat ini berada.


Polisi yang ada didalam ruang tersebut, hanya menonton.


...***...


To be continued