
...🍂🍂🍂🍂...
Seperti Jeanny, Agra juga dikerjain oleh ketiga temannya.
"Agra, kau sudah menikah kedua kalinya. Albert dan Michael, sekali saja belum." Ledek Eva.
"Kau itu bagaimana? Jangan bilang kami, kau itu wanita. Laki-laki tidak apa-apa lama menikah, kau Nona. Jangan sampai nanti kau tidak bisa melahirkan anak untuk suamimu, karena sudah tidak bisa produksi lagi." Balas Michael.
"Sadisnya mulutmu Micky, aku doain kau melajang seumur hidup..!" Balas Eva sembari melempar tisu yang dipegangnya.
"Sudah! Kita di sini untuk merayakan Agra melepaskan masa dudanya, jangan ribut." Titah Albert.
"Dia dulu yang memulai." Eva mengerucut bibirnya dengan jutek menatap Michael.
"Agra, apa kau tidak ingin diam-diam masuk kedalam kamar calon istrimu? Sepertinya akan seru, jika tiba-tiba kau muncul di atas balkon kamar calon istrimu dengan membawa bunga," ujar Michael.
"Apa kau ingin Agra mati sebelum menikah? Apa kau tidak lihat, kita ini berada di lantai berapa?" Ucap Eva.
"Hehehe..aku lupa," ujar Michael.
"Bro, aku tidak beri kado yang mahal padamu. Tapi kado ini sangat bermanfaat untukmu menyenangkan istrimu pada malam pertama kalian." Michael memberikan paper bag kepada Agra.
Agra menerima paper bag yang diberikan oleh Michael.
"Apa isinya?" Agra curiga dengan apa yang diberikan oleh Michael, karena Agra tahu. Tingkat keisengan teman-temannya terkadang melewati batas.
"Buka ." titah Michael.
Agra mengambil kotak yang ada didalam paper bag dan membuka isi kotak tersebut. Agra melihat isi kotak tersebut, berupa satu botol obat kuat untuk stamina para pria.
"Aku tidak membutuhkannya, kau yang butuh..!" Agra melemparkan botol obat kuat tersebut kepada Michael.
Dengan sigap, tangan Michael menangkap lemparan botol obat dan mendarat ditangan Michael dengan tepat.
"Kau butuh itu Agra, biar anak kedua segera launching." ledek Michael.
"Tidak ada anak kedua, hanya ada Lisa." tegaskan Agra, bahwa dia tidak ingin mempunyai anak dengan Jeanny.
"Baiklah, tenang Bro. Aku hanya bercanda," ucap Michael, setelah melihat suara Agra yang sedikit keras ketika diungkit masalah anak.
"Aku akan memberikan kado pada istrimu, untuk malam pengantin kalian. Untukmu, nanti saja," kata Eva.
"Dan ini, dari aku. Paket honeymoon." Albert menerima dua tiket honeymoon menuju Hawai.
Agra menerima tiket dari Albert, dan meletakkannya tanpa melihat tiket tersebut.
"Bert, aku mau kau beri tiket honeymoon ke Hawaii," kata Eva.
"Kau cari pria yang ingin kau nikahi Va, nanti akan aku beri tiket honeymoon ke pulau komodo," ujar Albert seraya tertawa.
"Bushet..!" umpat Eva kesal.
"Agra, kau sudah mantapkan untuk menikah besok? jangan sampai besok, kau melarikan diri. Terpaksa aku yang menggantikan mu sebagai pengganti laki-laki, aku mau saja. Siapa yang bisa menolak menikah dengan Jeanny," kata Albert dengan bergurau.
Agra hanya diam, tangannya memegang satu gelas wine yang tinggal sedikit. Agra meneguknya, dan ingin mengisinya kembali.
Tetapi.
"Cukup Bro, jangan sampai besok kau mabuk dan tidak bisa bangun." cegah Michael, dan menjauhkan botol wine dari jangkauan tangan Agra.
"Aku mau tidur." Agra masuk kedalam kamarnya, dan merebahkan tubuhnya.
"Kenapa dia?" tanya Michael.
"Dia galau, mungkin mengingat istrinya," kata Eva.
"Semoga pernikahannya ini sampai ke Jannah." sambung Eva.
"Hus...! jangan sebut-sebut hal," ujar Albert.
"Apa kau mau Agra tahu, dan mencari keberadaan orang itu. Agra itu belum bisa move on dari wanita itu." Michael menimpali ucapan Albert.
"Sorry, aku penasaran saja dengan sosok itu. siapa dia? apa ada hubungan saudara dengan wanita itu?" tanya Eva.
"Jangan bahas di sini, ada perkembangan baru. Selesai pernikahan Agra, kita bahas," kata Albert.
Dalam kamar
Agra merebahkan tubuhnya, tapi matanya tidak terpejam. Ditangannya, tergenggam gambar Malika.
Agra melekatkan gambar Malika di dadanya.
"Maaf sayang, aku terpaksa mengkhianati cinta suci kita. Besok, aku akan menikah. Tapi jangan sedih sayang, aku tidak mencintainya. Cintaku hanya untukmu, tidak akan ada cinta untuk gadis itu. Hanya namamu yang terukir di jantung ini Malika." Agra berbicara sembari menekan gambar Malika di dadanya.
Dalam kamar Jeanny.
Setelah kedua temannya masuk kedalam mimpi, Jeanny bangkit dan turun dari ranjang. Jeanny melangkahkan kakinya menuju kaca, dari kaca tersebut. Jeanny melihat cahaya kelap-kelip lampu yang menghiasi malam. dan langit juga bertaburkan bintang, yang menambah keindahan di waktu malam.
Tapi.
Hati Jeanny tidak seindah malam yang dilihatnya, hatinya gelap. Tidak ada cahaya yang bisa menerangi hatinya.
"Besok, statusku sudah menjadi istri orang. Apakah keputusan yang aku ambil keputusan yang terbaik untukku." gumamnya.
"Agra duda, Yudha juga akan menceraikan perempuan itu. Bukannya mereka sama-sama duda, apa aku menunggu Yudha menjadi duda saja?" pikiran Jeanny benar-benar galau, sehingga pikiran yang aneh hinggap didalam otaknya.
"Tidak! Yudha telah mengkhianati ku, walaupun nantinya terbukti anak itu bukan anaknya. Tapi, dia telah pernah tidur dengan wanita itu. Aku tidak bisa menerimanya."
Tepukan di pundaknya, membuat Jeanny menoleh ke arah belakangnya. Dan Jeanny melihat Bella yang menepuk pundaknya.
"Kenapa kau tidak tidur? apa kau mau besok matamu seperti mata panda? ada lingkaran hitam menghiasi matamu itu," ucap Bella.
"Kau sendiri, kenapa tidak tidur?" Jeanny balik bertanya.
"Aku mau ambil minum, dan melihat calon pengantin didepan kaca. Apa kau ingin loncat dari kaca ini? kau tahu, ketebalan kaca ini membuat kau tidak akan bisa memecahkannya. Jadi, jauhkan pikiranmu untuk loncat melalui kaca ini." tutur Bella.
"Kau kira aku sudah kehilangan akal sehat? aku masih punya agama, yang melarang untuk melakukan bunuh diri. Sesulit apapun masalah, jangan ada pikiran untuk menempuh jalan pendek. Dengan melakukan bunuh diri," kata Jean.
"Good girl," ucap Bella seraya merangkul pundak Jeanny.
"Bel, apa aku akan bahagia dengan pernikahan ini?"
"Aku belum begitu mengenalnya." sambung Jeanny kembali.
"Jean, menikah dengan orang yang baru kita kenal tidak begitu buruk. Banyak orang yang aku kenal, menikah dengan orang yang baru mereka temui tidak begitu lama. Ada juga, mereka menikah bertemu pada saat pernikahan terjadi. Mereka bahagia." tutur Bella.
"Apa ada kejadian seperti itu?" tanya Jeanny yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bella.
"Ada, kenalkan. Aku adalah produk hasil dari pernikahan yang Bertemu pada saat akad terjadi," kata Bella sembari tertawa kecil.
"Kau!"
"Iya aku. Bella Ayunda, Papa dan mamaku ditemukan pada saat akad terjadi. Lihatlah, mereka bahagia dan punya tiga anak dan punya dua cucu," kata Bella.
"Mereka beruntung, Apa aku akan seperti kedua orangtuamu?"
"Berdoa, jangan pesimis dulu. Jalani dengan ikhlas, kau akan bahagia. Dan lupa pria yang ada dalam sini, di tidak layak untuk mendapatkan temanku ini," ucap Bella.
...******...
...Next...